Kabur Ku Yang Berujung Pernikahan

Kabur Ku Yang Berujung Pernikahan
Penjelasan


Jam menunjukkan pukul 2 siang, Zephyr dan Vaola masih berada dalam mimpi. Namun, sepertinya Zephyr sudah terbangun. Hal yang pertama kali ia lihat adalah pundak Vaola yang begitu indah, namun ada beberapa tanda kemerahan di sana.


Zephyr tersenyum dan mengecup pundak tersebut hingga membuat sang empunya terusik, bisa Zephyr dengar suara ringisan Vaola.


"Apa sakit?" Tanya Zephyr dengan suara seraknya.


"Tentu saja bodoh!! kau lupa bahwa kau bergerak terlalu cepat?" Kesal Vaola dengan merentangkan kedua tangannya.


Zephyr yang mendengar itu hanya terkekeh, di peluknya Vaola dengan mesra dan kembali di cium nya pipi Vaola.


"Mau mandi?" Tawar Zephyr yang di balas anggukan oleh Vaola.


Dengan cepat Zephyr bangun, namun saat bangun Vaola tak sengaja melihat belalai milik Zephyr hingga membuat Vaola tersenyum kecil.


"Apa yang kau lihat hmm?" Tanya Zephyr dengan mengangkat tubuh polos Vaola.


"Entah." Santai Vaola, dia sebenarnya terkejut karena melihat luka cakar dan luka bekas gigitannya di leher dan pundak Zephyr. Apakah dia sebrutal itu?


••••


Lolita diam, begitupun dengan Romy. Saat ini mereka berada di hadapan kakek, setengah jam yang lalu Lolita datang karena ingin bertemu dengan Vaola dan Romy pun datang kembali karena mau meminta tanda tangan Zephyr untuk dokumen penting nya.


"Jadi, mereka belum keluar sejak pagi?" Tanya Lolita yang kesekian kali nya.


"Ya, wajar saja. Mereka sudah berpisah selama itu..." Balas sang kakek dengan santai.


Saat mereka asik berbincang, muncullah sosok yang mereka bicarakan itu. Zephyr dengan pakaian santai nya, dan Vaola yang memakai hoody oversize dengan sepatu sneaker nya.


Tak lupa rambutnya ia gerai dan ia pakai topi juga, terlihat sangat cantik dan sempurna.


"Aku pikir kau lupa jalan keluar La." Sindir Lolita yang langsung mendapatkan cengiran dari Vaola.


"Maafkan aku, ayo kita pergi. Kakek aku pergi dulu, Zephyr yang akan menemani mu disini." Pamit Vaola namun tidak membuat Lolita pergi, mereka bertiga diam membisu saat melihat Zephyr yang duduk.


Perhatian mereka terfokuskan pada semua luka yang ada pada Zephyr, jika orang dewasa yang melihat mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi, tapi jika anak-anak yang melihat, mereka bisa beranggapan bahwa Zephyr baru saja di aniaya.


"Ayo!!" Paksa Vaola pada Lolita dengan menarik tangannya untuk segera pergi dari sana.


Di dalam mobil Lolita terus memperhatikan Vaola yang asik dengan ponselnya,dia sangat penasaran dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Namun dia tidak berani untuk menanyakan nya karena itu tidak sopan!


"Kenapa kau terus melihat ku?" Heran Vaola dengan menatap Lolita yang hanya menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, bukankah kau yang lebih tahu tentang apa yang terjadi padaku? awalnya aku tidak ingin keluar hari ini namun aku ingat jika Theo akan datang..." Ucap Vaola dengan lemas.


"K-kau? kau sudah kembali bersama nya?" Kaget Lolita.


"Entahlah, yang jelas disini pun aku yang salah. Apa menurut mu aku sangat kekanak-kanakan?" Tanya Vaola.


"Ishh kau ini! kau tahu? kemarin malam Zephyr menjelaskan tentang surat perceraian itu, dia tidak pernah menandatangani nya. Itu semua nenek yang melakukan nya karena dalam waktu satu bulan jika aku tidak kembali, nenek pikir aku sudah tidak mau lagi ke sana. Begitu pun dengan Zephyr, dia tidak tahu menahu karena saat itu dia hanya fokus pada terapi nya." Jelas Vaola.


"Itu memang benar, tuan besar pun tadi mengatakan nya. Dia bilang, kejadian masa lalu hanyalah salah paham. Mereka juga menyesal telah membuat mu pergi hingga mengakibatkan Zephyr sulit di atasi, kau sudah kan apa yang aku jelaskan tentang nya dulu?" Tanya Lolita.


"Ya, aku tahu. Aku pikir, dengan kepergian ku Zephyr akan senang dan bisa kembali seperti biasanya. Ternyata dugaan ku salah, bahkan foto pernikahan kami pun masih ada di dalam kamarnya." Senyum Vaola.


"La, lalu bagaimana jika Theo tahu bahwa kau sudah kembali pada nya? begitu pun dengan papa mu." Cemas Lolita.


"Untuk Theo, aku akan mengatakan nya. Bagaimana pun, aku masih berstatus sebagai istrinya Zephyr karena tidak ada kata cerai dari kami. Tapi untuk papa, aku sedikit cemas. Begitu pun dengan Zephyr, dia yang biasanya tidak pernah takut namun sekarang dia nampak gusar dan cemas. Aku hanya berharap, papa mau memaafkan aku." Vaola memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Kau.... Kau tidak menyukai Theo?" Tanya Lolita pelan.


"Suka, suka dalam artian yang berbeda. Seperti, aku yang suka padamu." Balas Vaola dengan tersenyum ke arah Lolita yang hanya diam, Vaola tahu apa yang Lolita rasakan. Meskipun dia lugu dan sedikit polos, namun dia tahu mengenai perasaan wanita.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan toko bunga nya, terlihat sebuah mobil sport hitam yang sudah terparkir di sana. Vaola maupun Lolita tahu siapa pemilik mobil tersebut, dengan cepat mereka segera bergegas untuk masuk.


"Akhirnya kau datang..." Senyum Theo dengan beranjak dari tempat duduknya.


"Sudah lama?" Tanya Vaola dengan duduk di depan Theo, untuk Lolita dia memilih untuk menjauh.


"Hanya menunggu satu jam lebih, tidak terlalu lama." Senyum nya.


Vaola yang melihat itu hanya menghela nafas, dia tidak tega membuat laki-laki di depannya tersakiti. Apa dia terlalu jahat? Tapi perasaan nya tidak bisa di paksakan, dia tidak memiliki rasa apapun selain rasa suka.


"Ini, kau pergi ke kediaman Volker lagi?" Tanya Theo dengan pelan.


"Kau melihatnya?" Tanya Vaola yang di balas anggukan oleh nya.


"Aku melihat mu di media, meskipun kau memakai masker dan juga kacamata namun aku sangat mengenali mu. Kau sudah baikan?"


"Sebenarnya, kita tidak pernah bertengkar. Kami hanya memiliki temperamen yang buruk, dia yang kasar dan aku yang keras kepala hingga membuat kami saling salah paham." Jelas Vaola.


"Tapi, bukankah dia tidak pernah menghubungi mu selama ini?"


"Itu memang benar karena aku menutup akses nya,dia sudah mencari ku kemana-mana. Aku tahu itu, aku pikir dia telah menyesal karena telah menceraikan aku tapi ternyata tidak, dia tidak tahu bahwa neneknya sudah mengirimkan surat cerai tersebut padaku." Ucap Vaola dengan meminum minuman nya.


"Intinya, kalian tidak berpisah?"


"Hm, kami memang tidak pernah berpisah. Kami hanya bertengkar dan pergi untuk menyembuhkan diri masing-masing, bukankah kau juga tahu bahwa dia lumpuh?"


"Itu, aku memang tahu karena dokter John adalah rekan ku juga di rumah sakit." Tunduk nya.


"Aku tahu aku kejam dan tidak berperasaan, namun bukankah sudah aku katakan sejak dulu? jangan berharap lebih padaku, entah kenapa aku tidak bisa lagi menyukai laki-laki lain selain dirinya. Mungkin karena dia orang pertama yang aku temui, hingga membuat ku sulit untuk melupakannya." Ucap Vaola dengan memejamkan matanya.


Theo hanya melihat ekspresi Vaola yang nampak lega, bahkan dia bisa melihat leher Vaola yang tertutup rambut namun masih memperlihatkan bekas kemerahan di sana. Bukankah wajar untuk mereka yang sudah menikah?