
"Mas, buah udah abis !" ucap Shania di sela sela tegukan minumnya.
"Oke, sekalian nanti aja siangan beli, " jawab Arka.
"Bi Atun awas bi !" Shania melempar swetter yang sudah dia gulung gulung masuk tepat ke dalam mesin cuci yang terbuka.
"Yes ! 3 point for Shania !"
"Wuihhh neng sha hebat !" bi Atun bertepuk tangan.
"Terima kasih, terima kasih !!! tanda tangannya nanti ya say," Shania berkedip sebelah mata pada bi Atun seakan akan ia seorang idola. Arka menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Shania seraya masuk ke dalam kamar. Gadis itu mendekat ke arah mesin cuci.
"Mas !!! mana baju kotor mu mas, biar adinda cuci sekalian !" pinta Shania berteriak lalu tertawa dengan bi Atun yang masih tertawa tawa. Arka keluar dari kamar dengan membawa baju kotor tadi.
"Shot mas !" pinta Shania. Arka benar benar melempar bajunya bak bola basket.
"Pluk !" bukannya ditangkap dengan tangan Shania, tapi baju itu tepat mengenai kepala gadis itu, membuat bi Atun tertawa.
"Ishhh ! mas Kala payah deh ! masa kena muka aku !" Shania menurunkan pakaian Arka dari wajahnya.
"Kamu yang payah nangkapnya," jawab Arka duduk di kursi meja makan. Shania memasukkan kaos Arka dan mulai memijit tombol pada mesin cuci.
Seperti sudah terlatih, tangannya langsung terulur meraih laci buffet dan mengambil cangkir, membuat kopi untuk Arka dan susu coklat untuknya.
"Aku ikut belanja mas, bosen di rumah !" pinta Shania.
"Kamu tunggu saja di rumah, mas sekalian cek Route 78, sama.." Shania sudah mengangkat alisnya.
"Ikut !" tukasnya tak ingin terbantahkan.
"Oke, tapi bantu mas beresin halaman dulu, " jawab Arka menyeruput kopi buatan Shania.
"Ya udah buruan ! keburu aku males, " Shania meneguk susu coklatnya dalam sekali tegukan.
"Neng, ga sarapan dulu ?" tanya bi Atun. Shania berbalik lalu mengambil selembar roti dan memakannya.
"Sha, yang bener kalo makan. Bisa kan sambil duduk ?" pinta Arka.
"Iya mas, ah ! kelamaan, " ketusnya.
"Ga makan nasi neng, biasanya kan neng Shania suka sama nasi goreng ayam ?" tanya bi Atun.
"Lagi diet bi, " jawab Shania.
"Biar apa ?" tanya Arka.
"Biar ga makin gendut selama istirahat di rumah mas, jadi kalo balik ke lapangan ga keteteran, " jawab Shania.
"Kalo ga biasa yang ada badan kamu lemes, yang paling bener tuh makan, terus lemaknya di bakar, " terang Arka.
"Iya pa dokter," jawab Shania, bi Atun mengulum bibirnya mendengar jawaban Shania.
"Tapi dikit aja ya, soalnya barusan udah roti sama susu !" jelas Shania sambil menyendok nasi goreng dengan riang gembira.
"Mau banyak juga ga akan ada yang larang Sha, emangnya kamu seriusan mau jadi atlit pro ? ga pengen punya cita cita lain gitu ?" tanya Arka.
"Cita cita lain, apa ?" tanya nya.
"Bikin kesebelasan kek, atau berbakti gitu !" jawab Arka.
"Kesebelasan apa ? basket ? sepakbola? jadi pelatih gitu ?" Shania menggeleng. Demi apa ? gadis ini tak mengerti maksud Arka, beda halnya dengan bi Atun yang sudah ketawa tiwi.
"Anak, neng.. maksudnya," jelas bi Atun.
"Uhuukkk...uhuukkk !!" Shania langsung mengambil air dari poci dan meminumnya.
"Idihhh ! anak kecil disuruh bikin anak kecil, belum kepikiran nyampe situ bi, mas Kala nih !!!" gerutu Shania.
"Ya udah, buruan bantu mas di depan !" Arka sudah menghabiskan sarapan dan kopinya.
"Bentar, aku jemur dulu kaos yang tadi !" Shania membawa baju bersih tapi masih basah ke halaman belakang untuk ia jemur.
"Sabar ya mas, neng Sha harus dibimbing, maklum pikirannya masih anak anak, " bi Atun membereskan meja makan.
"Iya bi, "
Arka menyirami noda kecoklatan bekas banjir tempo hari yang menghiasi sepanjang dinding parkiran membentuk pola abstrak, lalu menyikatnya.
"Pakai topimu Sha, " pinta Arka.
"Engga mas ah, " tolaknya. Shania memindahkan setiap pot bunga, dan merapikannya kembali, menyapukan halaman dan terakhir menyiramkan air bersih, agar rumput jepang terlihat bersih dan segar kembali.
"Pak Guru ! Neng Sha ! kerja bakti nih ?" tanya pak Hari yang melintas dengan motor maticnya.
"Iya pak, " jawab Arka.
"Neng, sudah sembuh ?" tanya pak Hari lagi.
"Alhamdulillah pak, " jawab Shania.
"Syukur kalo gitu, saya tinggal pak, neng !" Shania dan Arka mengangguk.
"Udah nih mas, udahan ya ! Sha mau mandi !" pekiknya ingin melengos ke dalam.
"Neng Sha, ponselnya bunyi nih !" ucap bi Atun.
"Siapa bi, tolong liatin dong !"
"Deni XI IPS neng, " bukan cuma Shania tapi Arka ikut menoleh. Ia bahkan segera menyelesaikan pekerjaannya demi mengekor masuk.
"Kapan Den, sekarang ?" Shania melirik ke arah belakang namun sudah ada Arka disana.
"Oke Den, tapi gue ijin dulu ya sama orang rumah, " ucapnya menggigit bibir bawahnya lalu menutup telfonnya.
"Mas, anu !" Shania masih menggenggam ponselnya.
"Siapa ?" tanya nya to the point.
"Deni, mas...ngajak ketemu anak anak kelas X nanti sore, udah lama ga ketemu !" jawab Shania hati hati.
"Deni yang anak nakal itu ?" tanya Arka.
"Terus?"
"Sha mau minta ijin nanti sore buat pergi," jawabnya menggigit bibir bawahnya.
"Yakin ga apa apa ? mas masih ada kerjaan soalnya,"
"Ga apa apa mas, barengan Melan. Nanti kalo emang masih belum di bolehin bawa motor sendiri, biar nebeng Melan, dianter pulangnya sampe rumah bunda, " jawab Shania.
"Ya udah, "
"Tapi sekarang jadi belanja kan mas ?" tanya Shania.
"Jadi, " jawabnya datar, ada rasa tak suka mendengar Shania ingin pergi bersama teman temannya, tapi tak mungkin Arka melarangnya, menginvasi kehidupan Shania seluruhnya, membuat istri nakalnya tak nyaman. Biarkan Shania belajar sendiri, hingga nanti gadis itu sendiri yang akan memilihnya dibanding teman temannya.
**************
"Biasanya ibu berbelanja di pasar tradisional, tapi karena list belanjaan yang dicantumkan bi Atun kesemuanya bahan bahan kering, mas memutuskan berbelanja di supermarket."
"Oke, " Shania memasang seatbeltnya. Arka jika sedang memakai stelan casualnya tidak terlihat seperti umur 33 tahun, malah gayanya seperti anak muda, ditambah wajahnya memanglah awet muda.
Arka memarkirkan mobilnya ke sebuah basemment sebuah mall.
Shania mengambil troli belanjaan,
"Kamu yang pilih, biar mas yang dorong !" Shania mengangguk dan mulai mencari barang yang tertera di daftar.
"Mas !" Shania datang menghampiri Arka dengan berbagai macam snack di tangannya dan memasukkannya ke dalam troli.
"Perasaan itu ga ada di daftar !" kekeh Arka.
"Ada ko mas, tapi listnya aku ! boleh ya mas ?!" pintanya.
"Ya udah, tapi potong uang jajan mu ?"
"Ish, pelit !" cebiknya kesal.
"Buruan, itu udah semua belum ?" tanya Arka.
"Yang ini belum, per kecapan !" jawab Shania, gadis itu mencari cari barang yang diinginkan sementara Arka mendorong dan mengekor di belakangnya.
"Eh, itu dia !" gumamnya, Shania membungkuk untuk meraihnya, tapi pendengarannya tiba tiba menangkap suara yang tak asing untuknya, salah satunya suara perempuan yang pernah ia dengar.
"Sumpah gue ga rela sebenernya. Tapi ya udah sii, cowok mah masih banyak. Ya walaupun ga seroyal Arka !"
"Yahhhh, ilang deh satu nama dari daftar calon suami idaman, Al.."
"Gampang lah kalo emang gue pengen balik, tinggal gue rayu rayu dikit pasti si bocil ditinggal ! apalagi kalo tau badan gue yang aduhai !"
Rasa penasaran Shania mengalahkan keinginan pungguk untuk bertemu bulan.
Ia berjalan mendekat demi melihat siapa wanita yang ada di balik rak samping.
Shania menemukan 2 sosok perempuan tak berjilbab dengan salah satunya berambut panjang dan dicat merah tampilannya pun sexy.
"Al, gue laper nih ! udah ini ke gerai depan yu !" ajak salah satunya.
Shania terkesiap, saat kedua wanita itu berbalik, wajahnya mirip dengan Alya mantan Arka. Tapi bukankah Alya berjilbab ? lalu kenapa yang ini. Di tengah keheranannya, Shania terkejut saat Arka menepuk pundaknya.
"Udah nemu ?" tanya Arka.
"Udah mas, yu balik !" ajak Shania.
Arka membayar belanjaannya di kasir.
"Mas, masa deh tadi aku liat ka Alya, tapi ko ga pake kerudung ya ! malahan pake baju sexy, terus rambutnya di cat merah !" ujar Shania, Arka tak terkejut dengan ucapan Shania, rupanya kini Alya sudah berani melepas jilbabnya, dan bisa se kebetulan ini mereka ada dalam satu ruangan, sungguh dunia hanya selebar daun kelor.
"Ya udah biarin, ini kan tempat umum, atau siapa tau kamu salah orang, " jawabnya datar.
"Ah masa sih aku salah liat, perasaan mata Sha masih normal deh,"
"Udah, ga usah terlalu dipikirin. Kalaupun itu Alya, bukan urusan kita, mau dia mengekspresikan dirinya seperti apapun, " jawab Arka diplomatis.
Tapi sejurus kemudian Shania menghentikan langkahnya.
"Itu mas, " tunjuk Shania di balik kaca sebuah gerai makanan cepat saji. Arka tak seterkejut Shania,
"Tuh kan mas, itu ka Alya kan ?!" seru Shania.
"Lalu ? kamu mau apa kalau tau itu Alya ?" tanya Arka.
"Ish, mas Kala...kaget kek atau apa kek, ga nyangka gitu, orang yang selama ini barengan, pakean jilbab terus sekarang dibuka, sexy pula ! masa ga kaget sih ! " jawab Shania mencebik.
"Wow !" jawabnya datar.
"Ish, jelek banget mas ! ga lucu !" omel Shania.
"Mas sebentar lagi mau cek cafe Sha, mas masih banyak kerjaan, persiapan launching Route 78 sama program magister, " jawab Arka seakan tak peduli dengan gerutuan Shania dan pemandangan yang ditunjuknya.
"Ya udah ayo deh, lagian ngalangin jalan orang juga !" tawa Shania, Arka yang membawa belanjaan menggunakan troli menggandeng Shania dan merangkul bahu gadis itu.
"Tak usah memikirkan orang lain, apalagi bisa menyakiti hati kamu, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang hanya ada kamu, mas, dan masa depan kita, "
"Kapan mas mulai kuliah ?" tanya Shania.
"Awal kamu semester 2, "
"Terus ngajarnya gimana ?"
"Jadwal mas kan cuma 1 sampe 2 jam itu pun pagi, masih bisa ngajar, kuliah..ngurus cafe mah gampang lah !" jawabnya.
.
.
.
.