Istriku Mahasiswiku

Istriku Mahasiswiku
Memilih menyerah


Skala menggelengkan kepalanya melihat Devia meletakkan Alvin dan Albian di kasur. Padahal dia sudah mempersiapkan kamar untuk kedua putra kembarnya.


"Sayang, kenapa anak kita tidak tidur di kamar sebelah , hmm? " tanya Skala duduk di bibir ranjang.Devia menoleh pada suaminya .


"Gak,aku mau tidur bareng mereka berdua . Kamu aja yang tidur di kamar sebelah, iyakan sayang? " ujar Devia mencium pipi Alvin.


"Kamu gak kangen sama aku, sudah beberapa hari aku tidur gak peluk kamu " ujar Skala dengan wajah yang penuh harapan.


"Kamu ini kenapa sih? Gak bosen apa tidur peluk aku terus " gerutu Devia sambil meletakkan guling di sebelah Albian. Skala menghela napas panjang,sekarang Devia lebih memperhatikan dua putranya ketimbang dirinya. Pria itu bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Devia memperhatikan suaminya,yang langsung keluar kamar.


"Masa gitu aja marah, Papah kamu ngambekan ya" ujar Devia mengajak bicara pada kedua putranya. Albian tersenyum menatap Devia lain lagi dengan Alvin yang menatap datar pada Mamahnya tersebut.


Skala menuruni tangga dan duduk di sofa ruang tamu . Dia menyalakan televisi setidaknya bisa menghibur dirinya. Lebih parahnya lagi Skala menonton film horor. Dia hanya menatap datar pada film yang saat itu menampilkan sosok hantu yang tiba-tiba muncul.


Brakk


Pria itu langsung kaget melihat Devia menghempaskan makanan ringan atau snack di meja di hadapannya . Gadis itu duduk di sebelah suaminya dengan cemilan yang ada di tangannya.


"Kamu kenapa kesini? Nanti kalau si Al dan Bian nangis gimana? " tanya Skala menoleh menatap Devia yang mengunyah makanannya.


"Si kembar sudah tidur, kamu juga tadi tiba-tiba langsung pergi . Makanya setelah aku tidurin mereka, aku langsung kesini. Kamu marah sama aku gara-gara itu ya? " tanya Devia. Skala mengangkat satu alisnya mendengar pertanyaan Devia yang gagal dia pahami.


"Itu apa maksud kamu, aku gak paham " ujar Skala.


"Itu katanya mau tidur peluk aku. Nanti si kembar aku pindahin ke kamar sebelah. Jangan ngambek lagi, kamu harus sadar umur sudah tua juga, masih ngambekan" ujar Devia.


"Mau " tawar Devia pada cemilan yang sedang dia makan. Skala memakan cemilan yang di tawarkan istrinya. Gadis itu menggeser tubuhnya mendekat pada Skala dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


"Kamu kenapa harus nonton film horor sih, aku takut " ujar Devia menutup matanya, sesekali dia membuka matanya dan kembali menutupnya.


"Kalau takut sini, aku peluk" goda Skala. Devia langsung memukul lengan suaminya karna kesal.


"Ini aku sudah peluk kamu " ujar Devia mendongak menatap suaminya. Skala hanya tersenyum dan memeluk tubuh kecil istrinya.


********


Dafa berdiri di depan pintu kontrakan Fira. Dia sudah mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada jawaban atau pintu terbuka. Pria itu memutar gagang pintu, dia tersenyum ketika pintu terbuka karena Fira tidak mengunci pintunya. Tapi dia merasa kesal dengan gadis itu yang teledor bisa saja ada orang jahat yang masuk kedalam rumah ini karna tidak mengunci rumah ini .


Dafa sengaja datang pagi-pagi hanya ingin menemui Fira dan juga anaknya. Dia juga membawa belanjaan untuk Fira dan juga perlengkapan untuk El. Dafa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Fira, matanya menyapu keseluruh ruangan yang terlihat kecil dan juga pengap ada rasa sedih dan bersalah di hati Dafa melihat kontrakan yang menjadi tempat tinggal Fira .Andai semua ini tidak terjadi Fira tidak akan tinggal disini dan mungkin dia sudah menikah dengan Fira.Dafa berjalan menuju dapur mencari keberadaan gadis itu tapi tidak ada. Pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.



Dafa berjalan mendekati El dan meletakkan belanjaannya . Dia mengusap kepala putranya lembut membuat bayi itu mendongak menatap Dafa. Sebuah senyuman muncul di wajah El, bayi itu meletakkan mainannya dan merentangkan tangannya pada Dafa. Pria itu mengangkat tubuh El dalam gendongannya . Sejauh apapun mereka terpisahkan namun ikatan batin antara seorang ayah dan anak tidak akan putus. Karna itu El langsung diam saat dalam gendongan Dafa karna dia bisa merasakan ikatan batin yang begitu kuat .


"Bunda kamu kemana, nak? " tanya Dafa mengusap kepala El. Seakan mengerti El menunjuk pintu keluar, seakan mengatakan bahwa Fira sedang keluar. Sebutir kristal bening jatuh dari pelupuk mata Dafa.Dia mendekap tubuh putranya erat dan menciumi seluruh wajah El.


"Maafin ayah ya, nak. Sudah menyuruh bunda untuk mengugurkan kamu.Karna rasa kecewa dan cemburu , ayah tidak bisa berpikir jernih, dan hampir menghilangkan nyawa kamu. Beruntung bunda kamu tetap mempertahankan kamu . Andai bunda kamu benar-benar mengikuti kata ayah untuk menggugurkan kamu, mungkin sampai kapan pun ayah tidak akan tau kebenaran yang sesungguhnya" ujar Dafa kembali mencium wajah El. Bayi itu hanya diam, tangan mungkinnya menyentuh wajah Dafa.


"Lepaskan anak ku!! " teriak Fira yang berdiri di depan pintu kamar. Dia baru dari warung untuk membeli gula dan teh yang sudah habis.Dafa berbalik ke belakang dan menatap Fira yang terlihat marah padanya begitu nampak di guratan wajahnya.


"Aku kesini hanya ingin menemui El, dan membawa belanjaan perlengkapan anak kita " ujar Dafa lembut.Fira menatap belanjaan yang tergeletak di lantai, dia beralih menatap pria tersebut.


"Aku tidak butuh belanjaan kamu ini, lebih baik kamu bawa pulang atau berikan pada orang yang membutuhkan. Aku masih sanggup membeli perlengkapan El. Dan aku tekankan sekali lagi El itu anak aku bukan anak kamu!! Anak kamu sudah mati, dia sudah aku gugurkan!! " teriak Fira dengan napas terengah-engah.Dafa menggelengkan kepalanya pelan .


"El itu anak aku Fira, walau kamu bilang seperti itu aku tidak akan percaya. Jangan berbohong agar aku menjauhi El,anak kandung aku . Atau kamu mau aku tes DNA agar membuktikan bahwa El itu darah daging aku!Iya? " ujar Dafa.


Ueeeeekkkk


Bayi itu menangis cukup keras mendengarkan adu mulut kedua orang tuanya. Dafa menenangkan anaknya dan mengusap punggung putranya lembut.


"Fira, seharusnya kamu bisa menahan ego kamu, kamu datang dan langsung marah -marah dengan aku tanpa memikirkan El yang masih kecil dan harus melihat kita bertengkar " tegur Dafa. Fira terdiam mendengar ucapan pria tersebut.


"Aku tidak akan marah dan berteriak seperti ini kalau kamu tidak datang kesini dan langsung masuk ke rumah aku. Kami berdua sudah hidup tentram tanpa kehadiran kamu.Tapi saat kamu datang ?kamu membuat hidup aku tidak tenang. Aku mohon sama kamu, jangan datang kesini lagi dan jauhi aku dan juga El. Anggap saja kami berdua sudah mati, jujur aku tidak butuh tanggung jawab kamu . Cukup kamu pergi dari kehidupan aku, itu sudah membuat aku senang. " ujar Fira dengan suara yang di pelankan agar El tidak terganggu.


"Kenapa kamu menyuruh aku menjauh dari kalian berdua? Niat aku baik yaitu menikahi kamu untuk bisa mempertanggung jawabkan semuanya. Dan kamu tidak ada hak menyuruh aku untuk menjauhi El, karna dia anak kandung aku, Fira. Aku bisa saja membawa ini ke jalur hukum untuk masalah hak asuh El . Dan bila aku tidak bisa menikahi kamu El ikut aku ,dan aku yang akan merawatnya " ujar Dafa penuh penekanan.


"Kamu egois Dafa!!!. Aku yang mengandung dan berjuang melahirkan El tanpa ada kamu di sisi aku tapi kamu dengan tidak berperasaannya mau merebut El dari aku .Kamu tidak tau bagaimana perjuangan aku hiks.. Aku dihina, di caci maki dan dituduh wanita murahan karna hamil tanpa suami. Kamu tidak tau bagaimana jadi posisi aku , berjuang sendiri tanpa ada yang mendukung hanya hinaan yang aku dapat hiks... Itu sangat sakit hiks.... " lirih Fira dengan derai air mata. Tubuh gadis itu meluruh ke lantai, Fira menangis dengan keras menumpahkan seluruh kesedihannya dan hatinya sudah remuk dan hancur karna Dafa, membuat dia begitu sulit memaafkan pria tersebut.


Dafa terdiam memperhatikan Fira yang menangis dengan hebat dan air mata yang begitu deras. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam , rasa bersalah makin menjadi-jadi di lubuk hati paling dalam Dafa pada Fira . Pria itu mendekati Fira dan Berjongkok di hadapan Fira.


"Maafkan aku Fira, maafkan aku " lirih Dafa, tangannya terulur hendak menyentuh kepala Fira tapi dia urungkan.Fira mendongak menatap pria tersebut dengan mata yang memerah.


"Aku mohon pergi dari kehidupan aku, biarkan aku bahagia dengan El " ujar Fira menyatukan kedua tangannya di hadapan Dafa.Tanpa mengatakan apapun pria itu memberikan El pada Fira . Gadis itu langsung mendekap tubuh mungil putranya. Dafa bangkit dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun hanya tatapan kosong dan mata yang berembun.


"Apa kamu benar-benar ingin menjauh dari kehidupan aku, Dafa. Apa perjuangan kamu hanya sampai sini, aku benci kamu hiks... " tangisan Fira semakin kuat saat mendengar suara mesin mobil Dafa .