Istri Simpanan

Istri Simpanan
Persiapan Pernikahan


Pada saat sarapan pagi semua membicarakan obrolan mereka semalam tentang rencana lamaran terhadap Amira yang akan dilakukan tidak lama lagi.


"Ini pada ngomong apaan sih kok aku gak ngerti ya " Bintang tampak bingung.


"Iya, kalian ngobrolin apa sih ?" Dipa juga terlihat bingung.


"Semua mata menatap kearah Bintang dan Dipa membuat sepasang suami istri itu menjadi salah tingkah.


"Semalam kita membahas masalah rencana melamar Amira, salah siapa semalam kalian tidak ikutan. Jadinya ketinggalan info " tutur Dina setengah mencibir.


Bintang dan Dipa langsung saling lirik dan terdiam. Dipa takut mendapat sindiran yang lebih tajam dari mamanya.


"Jadinya kapan acara lamarannya Pah ?" Dipa mengarahkan tatapannya kepada mertuanya.


"Rencananya bulan depan, kamu bantuin ya Di..soalnya Papa tidak bisa sering-sering bolak balik Singapura-Jakarta " jawab Papa David.


"Siap Pah " jawab Dipa.


"Tunggu..tunggu..emangnya Amira nya mau ?" tanya Bintang ragu.


"Papa sudah bicarakan ini dengan orangtua Amira, mereka sudah setuju dan kabarnya Amira nya juga sudah setuju " jawab Papa David.


"Syukurlah kalau Amiranya sudah setuju " jawab Bintang lega.


"Kalau kalian nanti sudah menikah, Amira jangan disuruh berhenti kerja ya ! susah dapetin sekertaris seperti dia " Dipa terlihat ketakutan kehilangan sekertaris andalannya.


"Aku tidak akan melarang selagi dia betah kerja sama kamu " jawab Daniel membuat Dipa pun terlihat lega.


"Bunda.. Uncle Daniel mau menikah dengan kak Amira ?" tanya Bunga.


"Iya..doakan ya " jawab Bintang. Bunga pun mengangguk. Ia sudah cukup mengenal baik sekertaris Ayahnya itu dan ia ikut senang jika Uncle nya akan menikah dengan Amira.


"Bunda..kalau nanti Uncle Daniel menikah dengan kak Amira aku juga mau pake gaun yang pengantin yang bagus " pinta Bunga.


"Aku juga " timpal Lana.


"Kalian mau menikah juga ?" tanya Dina.


"Hust..kamu itu ngomongnya jangan sembarangan " omel Mama Niken.


"Habisnya mereka malah ikut-ikutan ingin pake gaun pengantin juga " jawab Dina sambil terkikik.


"Namanya juga anak-anak " ucap Mama Niken.


Beberapa hari kemudian Papa David tiba-tiba mengabari jika acara lamaran untuk Amira dibatalkan. Ayah Amira dan Papa David sepakat untuk langsung menikahkan mereka berdua tanpa ada acara lamaran.


Persiapan lamaran pun kini berubah menjadi persiapan acara pernikahan.


Mama Niken dan Bintang mulai sibuk belanja untuk membuat hampers juga membeli perhiasan untuk mas kawin. Sisanya sudah diurus oleh pihak Wedding organizer yang terpercaya.


Sedangkan Dina kebagian tugas menyiapkan pakaian seragam untuk keluarga. Dina juga membuatkan gaun pengantin mini untuk si centil Bunga dan Lana. Untuk Langit akan seragam dengan Ayahnya.


Menjelang hari pernikahan yang semakin dekat Amira masih masuk kerja seperti biasanya. Padahal Dipa sudah menyuruh Amira untuk cuti.


"Kamu itu mau nikah tapi kelihatannya santai banget ?" tanya Dipa ketika Amira masuk ke ruangannya untuk mengantarkan berkas yang Dipa minta.


"Ya habisnya mau ngerjain apa Pak, semua kan sudah ada yang urus.Jadi saya masih ada waktu untuk bekerja sebelum cuti " jawab Amira.


"Eh Mir..kamu mau kado apa dari aku ?" tanya Dipa membuat Amira yang hendak kembali ke mejanya sontak berhenti.


"Tidak usah Pak, bisa masuk menjadi keluarga Bapak saja itu adalah kado terindah untuk saya " jawab Amira.


"Kamu itu polos banget sih Mir, ini kesempatan buat kamu minta kado yang mahal sama adik ipar kamu " Felix mengompori Amira.


"Diam Lu !" bentak Dipa kepada Felix. "Gue tau Lu iri ingin gue kasih hadiah pernikahan juga kan ?"


"Salah siapa Lu kerja sama gue nya setelah menikah, jadi gue kan ga tau waktu Lu nikah " jawab Dipa


"Tapi Kadonya bisa nyusul kan Bos " Felix ngarep.


"Iya deh bulan depan gaji Lu dobel. Anggap itu kado dari gue " jawab Dipa akhirnya membuat Felix girang.


Felix dan Amira yang sedang berada di ruangan Dipa langsung membubarkan diri begitu Bintang muncul.


"Loh..loh..kenapa bubar ?" Bintang menatap Amira dan Felix yang langsung pamit begitu ia datang.


"Sudah biarkan saja, ngapain ngurusin mereka. Bagus mereka pergi supaya tidak mengganggu kita " Dipa merangkum wajah Bintang kemudian melu mat bibirnya lembut.


"Kamu darimana Neng ?" tanya Dipa setelah mengakhiri ciumannya.


"Dari butik habis fiting baju kebaya untuk acara akad nikah " jawab Bintang.


"Ooh " jawab Dipa.


"Sini Neng duduk !" Dipa menepuk pahanya agar Bintang duduk disana dan Bintang pun menurut.


Dipa memeluk perut Bintang dan menyerukan kepalanya di bahu Bintang.


"Kamu kenapa Mas ?" Bintang merasa ada yang aneh pada diri Dipa. Bintang merasa jika Dipa sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Kamu sedang ada masalah ?" tanya Bintang sambil menatap dalam wajah tampan Dipa.


"Aku sedih karena tidak memberikan pernikahan yang layak untuk kamu. Kamu pasti memiliki pernikahan impian..dan pernikahan kita bukan pernikahan impian kamu "


"Ya ampuun Mas, kita itu sudah punya anak empat Mas masih juga mikir yang begituan. Tanpa pesta mewah pun nyatanya kita bahagia.. jadi kenapa harus sedih ?" jawab Bintang.


"Tapi Neng .."


"Sudahlah Mas..yang terpenting sekarang aku bahagia punya kamu dan anak-anak" potong Bintang seraya mencium bibir Dipa hingga kepala pria itu bersandar di kursi kebesarannya. Dipa pun menyambutnya.


Kedua sejoli itu tampak asik bercumbu dibelakang meja kerja Dipa. Alih-alih hanya ingin mampir nyatanya Bintang malah terperangkap masuk ke kandang singa lapar.


Dipa yang sudah sangat terbakar gairah mengajak Bintang pergi karena tidak ingin mengeksekusi istrinya di ruangan kerjanya.


"Kita mau kemana Yang..mmptthh." pertanyaan Bintang tidak dijawab karena di dalam lift Dipa merapatkan tubuh mereka dan melahap bibir Bintang dengan rakus.


"Yaaaaaangg..mmptthh..kita mau kemana ?"


"Ke hotel depan, salah siapa kamu datang pake rok pendek lagi " Dipa menyusupkan tangannya di balik rok Bintang.


"Isshh..kamu itu mesum sekali Mas " Bintang terkikik kegelian atas aksi nakal tangan Dipa dibalik roknya.


Dipa mengeluarkan tangannya dari balik rok Bintang ketika mereka telah sampai di lantai dasar.


Setelahnya mereka masuk kedalam mobil kemudian bergegas menuju ke hotel yang ada tidak jauh dari kantor Dipa.


"Kita ini seperti pasangan mesum saja Yang " Bintang menggelayut manja di lengan Dipa ketika mereka melakukan cek in. Dipa pun tertawa.


Siang itu Bintang dan Dipa menghabiskan waktu disana beberapa jam sampai menjelang waktunya pulang kantor.


"Untung tadi aku sempat pompa Asi cukup banyak hingga stok Asi untuk si kembar cukup di rumah " tutur Bintang sambil bersiap untuk menyusui bayi ketiganya.


"Seharusnya kamu juga pake botol susu saja Mas seperti si kembar " Bintang meledek Dipa sambil tertawa.


"Tidak mau Neng, aku lebih suka ambil dari sumber nya..lebih segar" jawab Dipa.


"Terserah kamu lah Sayang " jawab Bintang karena ia sendiri sangat menyukai menyusui ketiga bayi nya.