
Rendi duduk di gubuk dengan Rara yang sedang melakukan panggilan video dengan Dilla. Rara tampak sumringah saat mendengar dan melihat wajah saudarinya yang kini mulai terlihat berisi.
"Sayang, kamu tahu. Seharian kemarin suamiku pulang larut sekali. Ada seseorang yang meninggalkan pekerjaannya yang banyak pada suamiku," ucap Dilla mengadukan Rendi yang saat ini terlihat acuh tanpa menghiraukan ucapan Dilla.
"Haha, sayang. Jika Ken tidak bekerja siapa yang akan memberimu uang pakaian dan sepatu yang kau impikan itu?" Ucap Rara membela suaminya dan menekan Dilla hingga ia terdiam dan berpikiran lama.
"Hmm, iya juga ya, berarti ada banyak bonus dong setiap lemburnya dia?" Tanya Dilla.
"Sebaiknya kamu pastikan dulu pada suamimu itu,karena dia yang mengaturnya," cetus Rendi malas.
"Apakah benar suamiku?" Teriak Dilla bertanya pada suaminy yang sedang sibuk dengan berkas yang ia bawa ke rumah. Tapi Ken hanya mengangguk.
"Sudahlah, kamu kapan pulang sayang?" Tanya Dilla.
"Aku cuman sehari sayang, besok juga sudah pulang," jawab Rara.
Dilla mengangguk dan menutup panggilan videonya dan kembali mendekati suaminya yang masih sibuk dengan berkas dan pekerjaan yang masih banyak.
Dilla berjalan ke arah suaminya dengan langkah laun dengan gerakan yang selangkah-selangkah.
Ia tersenyum saat melihat suaminya serius bekerja dengan kacamata yang terpasang di kedua matanya.
"Ken, aku mau gado-gado yang sangat pedas saat ini," ucap Dilla.
Ken mendongakan pandangannya beralih pada istrinya yang akan duduk di sampingnya. Ia memapah istrinya untuk duduk perlahan.
"Gado-gado dimana?" Tanya Ken.
" Dimana aja, yang penting aku maunya pedas banget ya" jawab Dilla.
"Baiklah sebentar ya," jawab Ken.
Ken mengambil handponenya dan mencari di gogle tentang orang berjualan gado-gado. Dilla mengerutkan dahinya melihat suaminya yang malah asik dengan handponenya dan tidak segera pergi membeli apa yang ia minta.
"Apa yang sedang kamu lakukan Ken?" Tanya Dilla.
"Aku sedang mencari penjual gado-gado dengan ekspresi serius Ken mencari penjual gado-gado.
"Kau ini. Mana ada penjual gado-gado dan akan ada setelah kamu mencarinya di gogle, sana pergi keluar cari tukang gado-gado yang enak ingat, harus kamu yang membelinya," tegas Dilla.
Ken terlihat Datar saat mendengar omelan istrinya yang memarahinya yang baginya tanpa alasan.
"Memang apa salahnya jika mencari di gogle?" Ucap Ken.
Ia berdiri dan bersiap untuk mencari apa yang di inginkan istrinya. Dilla melihat punggung suaminya yang kini berjalan ke luar dengan sigap dan pergi menaiki kendaraannya mencari sesuatu yang di inginkan istrinya.
Ken menelusuri jalanan kota dengan menggunakan kendaraannya dan tidak mencoba pada anak buahnya yang setiap hari makanannya gado-gado.
Ia lebih memilih mencarinya sendiri,ketimbang bertanya pada anak buahnya.
Karena Ken enggan untuk bertanya dan turun mencarinya, ia lebih memilih sebuah Restoran dan menanyakan di setiap tempat tentang makanan yang bernama gado - gado. Ken bahkan belum pernah memaknnya walau ia sudah tinggal di Indonesia mengikuti tuannya bertahun-tahun. Ken selalu memperhatikan asupan untuk dirinya terutama tuannya.
Karena Ken yang hanya berkunjung ke setiap Restoran dan tidak mencari ke setiap pasar apalagi mencoba bertanya pada orang-orang sekitar. Ia lebih memilih menelusuri setiap Restoran yang ada. Sempat ada yang menyarankannya untuk bertanya ke sebuah Warteg tapi Ken belum mau untuk mencari orang yang namanya Warteg.
"Aku pikir yang di inginkan istriku semudah pekerjaanku, kenapa ini terasa sulit," gumam Ken.
Ken memarkirkan kendaraannyadi pinggir jalan dan menutup kedua matanya dengan kepala bersender ke belakang kursi kemudinya.
Baginya lebih mudah menangani sebuah proyek di bandingkan harus mencari sebungkus gado - gado.
Ia tampak terdalam pikirannya dengan semua bayangannya mengenai sebuah gado-gado.
Ken membuka kedua matanya dan melihat seorang ibu separuh baya sedang menggendong bawaannya dengan raut wajah yang penuh lelah. Ken mengerutkan keningnya.
"Kenapa terlalu banyak orang-orang yang membiarkan ibunya untuk memikul bawaan yang begitu berat," ucap Ken.
Ia membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampir ibu separuh baya tersebut. Ia membantu ibu itu membawakan bawaan yang membuat ibu itu kesusahan berjalannya.
Ibu separuh baya itu mengerutkan dahinya dengan banyak nya pertanyaan.
"Ada apa dengan pemuda ini,aku sedang berjualan kenapa dia malah membawa daganganku," batin ibu itu.
Ken mengajak ibu itu duduk dan membawa dagangannya. Ibu itu tersenyum dengan niat baik Ken yang membawakan dagangannya.
Mereka kini duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan. Ibu itu tersenyum dengan mengusap keringat di pelipisnya.
"Terimakasih Nak, sepertinya kamu baru ya di kota ini?" Ucap Ibu itu.
"Tidak Bu, saya sudah lama di kota ini," jawab Ken.
"Sudah lama? Lalu kenapa kamu membantu saya?" Tanya ibu itu.
"Karena bawaan ibu terlihat berat Bu," jawab Ken.
Ibu itu tersenyum dengan niat baiknya. Selama ia berjualan tidak ada satu orangpun yang perduli tentang beratnya bawaan yang berada di punggungnya. Jangankan orang lain, ketiga anaknyapun tidak ada yang perduli tentang keberadaannya apalagi peduli apa yang sedang ia lakukan.
"Jika kamu sudah lama kenapa kamu tidak tahu tentang saya?" Tanya Ibu itu.
"Kenapa saya harus tahu anda Bu?" Tanya Ken.
"Karena saya hanya tukang berjualan dan itupun saya sudah terbiasa," jawab Ibu itu tersenyum.
Ken mengerutkan dahinya mendengarnperkataan ibu itu bahwa ia sedang berjualan.
"Anda berjualan? Berjualan apa?" Tanya Ken.
"Tentu saja ini jualan saya," jawab Ibu itu menunjukan bakul yang tadi ia gendong dan Ken membawanya.
Ken mengerutkan dahinya dan berulang kali melihat seorang wsnita paruh baya berjualan dengan bawaan yang berat begitu.
"Apa kamu baik-baik saja Nak?" Tanya ibu itu.
"Tidak. Saya hanya heran kemana anak-anak Anda hingga membiarkan Anda berjualan dengan bawaan seberat itu," ucap Ken.
"Mereka semua pergi merantau hingga tidak mungkin bagi mereka bisa kembali secepatnya dan apalagi harus membantu saya," jelas Ibu itu.
Ken mengerutkan dahinya dan mengangguk memahami ucapan ibu itu.
"Boleh saya tahu, apa yang Anda jual ini Bu?" Tanya Ken.
"Ini adalah gado-gado Nak," jawab Ibu itu.
"Apa ...." teriak Ken terkejut.
"Iya, kenapa?" Tanya Ibu itu.
"Bu, saya mencari makanan itu dari tadi siang Bu dan tidak ada yang menjual hal itu," ucap Ken.
"Hahaha, kamu ini bercanda Nak, tukang gado - gado itu bertebaran dimana-mana," ucap ibu itu tertawa.
"Benarkah, lalu kenapa aku sangat susah menemukannya?" Ucap Ken.
"Haha, memang kamu mencarinya kemana Nak?" Tanya Ibu itu.
"Saya mencarinya di semua Restoran Bu," jawab Ken.
"Hmmm, mana mungkin ada di sana Nak, makanan sederhana ini hanya akan terdapat di pinggiran saja Nak," ucap Ibu itu.
"Benarkah? Pantasan saja saya tidak dapat menemukannya," ucap Ken.
"Heh, memang untuk siapa kamu mencarinya Nak?" Tanya Ibu itu.
"Mari Ibu buatkan untuk anak istrimu jangan biarkan dia menunggu lama," ucap Ibu itu.
"Apakah boleh Bu, dia memintanya untuk sangat pedas," ucap Ken.
Ibu itu mengangguk dan bergegas membuat gado - gado yang di pesan Ken dengan cabai yang cukup untuk porsi ibu hamil. Karena ia sudah tahu apa keinginan seorang ibu hamil.
Ken tersenyum tipis melihat ibu yang tadinya berkeringat dengan berjalan kesusahan . Kini sedang tersenyum cerah hanya untuk membuat sebungkus gado - gado.
"Apa ibu sudah lama berjualan?" Tanya Ken.
"Ibu sudah cukup lama berjualan tapi semakin kesini semakin sepi karena banyaknya pedagang yang semakin di drpan dengan peralatan modern mereka dan bagi saya yang penjual keliling hanya bisa mengandalkan keberuntungan untuk sebungkus gado-gado saja," ucap Ibu itu.
"Benarkah? Kenapa seperti itu?" Tanya Ken.
"Ya ... karena mereka lebih banyak modal di bandingkan ibu yang sama sekali tidak punya modal dan hanya mengandalkan keberuntungan saja," jelas Ibu itu.
Ken mengangguk dengan kekaguman dalam dirinya. Seorang wanita paruh baya saja dengan getirnya ia berusaha untuk mencari nafkah yang menurutnya baik untuknya.
Setelah mendapatkan sebungkus gafo-gado dari ibu tersebut. Ken memaksa mengantar ibu itu untuk pulang bersamanya sampai di sebuah rumah kecil yang sepetak kontrakan.
Dari awal naik kendaraan mewah. Membuat ibu itu tersenyum tanpa henti dari tadi. Apalagi saat ini ia sudah sampai di rumahnya dengn selamat. Walau jualannya tidak ada banyak pembeli hari ini. Tapi ia sudah bersyukur bisa pulang dengan cepat.
"Mari Nak, kamu mau masuk?" Ajak Ibu itu.
Ken memasuki rumah yang hanya terdapat satu ruangan dengan peralatan dapur yang berada di mana-mana.
"Maaf berantakan, mari ibu ambilkan minum dulu ya," ucap Ibu itu.
Ken mengangguk, sebenarnya ia tidak haus, tapi ia tidak mau menolak penawaran ibu itu agar tidak tersinggung dan terlihat pemilih dalam hal itu.
Tidak lama dari itu ibu tua itu berjalan kembali dengan membawanampan berisi air minum.
"Bu, bolehkah saya tahu nama Anda?" Tanya Ken.
"Haha, ternyata kita dari tadi tidak saling tahu nama kita ya Nak," jawab ibu itu.
Ken mengangguk dengan setiap ucapaj ibu itu.
"Saya Anah, biasanya dulu saya selalu di panggil ibu An. Tapi seiring berjalannya waktu dan usia tidak ada yang memanggil saya seperti itu lagi, melainkan si Mak gado, hehh," ucap Ibu Anah.
"Nama saya Ken. Bu An, tidak ada yang menemani?" Tanya Ken.
"Ada, anak angkat ibu laki-laki dia bernama Bram, tapi saat ini dia sedang sekolah tapi belum pulang juga mungkin sedang bermain," ucap ibu Anah.
"Hmm, berapa gado-gadonya Bu?" Tanya Ken.
"Tidak apa, karena Nak Ken, itu untuk istri nak Ken saja, ibu sudah di antar pulang saja Alhamdulillaah terimakasih," ucal ibu Anah.
Ken mengangguk tersenyum. Ia memahami seorang wanita yang saling mengerti. Ken melihat-lihat setiap sudut ruangan rumah petak yang isinya hanya barang-barang bekas dan tidak ada yang berguna sama sekali.
Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah usang dan melihat jarum jamnya.
Ia terkejut dan membualtkan kedua matanya. Mengingat hari sudah semakin sore dan istrinya sedang si rumah sendirian.
"Saya permisi untuk pulang dulu Bu, saya berterimakasih atas gado - gado ibu," ucap Ken.
"Tidak apa-apa ayo segera pulang jangan biarkan wanita hamil menunggu lama," ucap ibu Anah.
Ken mengangguk dan berpamitan pada ibu Anah yang kini telah mengantarnya sampai di luar rumahnya.
Ken bergegas untuk memasuki kendaraannya dan pergi berpamitan pada ibu Anah yang kini sedng tersenyum padanya.
Ken melajukan kendaraannya dengan pikiran yang bahagia. Masih banyak orang yang dengan sikap ramah dan baiknya pada orang seperti Ken. Biasanya orang-orang berlomba untuk mendapatkan simpatinya. Dengan segala taktik dan memanfaatkan situasi.
Ken melihat ke arah sebuah dupermarket. Ia memarkirkan kendaraannya dan keluar berjalan memasuki super market tersebut.
Ia membeli banyak barang belanjaan yang berisikan sembako dan juga beberapa makanan yang berjumlah banyak.
Ken keluar dengan bingkisan belanjaan yang di tenteng oleh kedua tangannya.
Ia berjala dengan senyum tipis di wajahnya.
Ia berjalan memasuki kendaraannya dan berbalik putar arah.
Ken kembali ke sebuah rumah yang baru saja ia tinggalkan tadi.
Ia berjalan dengan bingkisan di tangannya. I mengucap salam pad pemilik rumah tapi tidak ada jawaban dari pemilik rumahnya.
"Kamu cari siapa Pak?" Tanya seorang ibu yang lewat.
"Saya sedang mencari ibu Anah yang tinggal disini." Jawab Ken.
"Oh, mereka baru saja pergi dari sini, itu karena mereka tidak bayar kontrakan, katanya sudah sebulan lebih nunggak jadi memang sudah jauh hari akan di udir sama pemilik kontrakan ini," jelas Ibu itu.
Ken terkejut dengan apa yang ia dengar seorang paruh baya dengan satu putranya.
"Siapa pemilik kontrakan ini?" Tanya Ken.
"Pemilik kontrakan ini yang di sebrang jalan sana, pemilik toko elektronik terbesar di daerah ini Pak," jawab Ibu itu.
"Hmm Terimakasih, apa Anda tahu kira'kira kemana ibu ini pergi?" Tanya Ken.
"Saya kurang tahu Pak," jawab Ibu itu tersenyum.
Ia senang berbincang dengan pria di hadapannya yang terlihat tampan dengan setelannya.
Ken bergegas pergi dan mengendarai mobilnya perlahan berharap bertemu ibu Anah yang ia cari.
Ken melewati toko Elektronik yang di maksud warga itu.
Ia mengerutkan dahinya melihat nama yang terpampang dengan jelas tertulis.
"Toko Bahrun elektro,"
Ken tersenyum dengan licik dan menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan sedang, ia juga menelpon salah satu Manager yang bertugas dalam perusahaan Elekttonik dan mencabut saham milik pengusaha yang bernama Bahrun. Baginya ini balasan yang belum setimpal di bandingkan dengankekesalan Ken yang tidak bisa menemui ibu Anah dengan belanjaan yang banyak di belakanh mobilnya.
Setelah mengendarai mobilnya dengan lama tanpa menghasilkan seseorang yang ia cari. Ken memilih untuk segera pulang dan melihat bingkisan gado-gado buatan ibu Anah yang sangat ia kagumi.
Ken memasuki Apartementnya dan melihat istrinya yang sedang menopang kepalanya tiduran menghadap ke arah televisi.
"Dilla .... ini gado-gado yang kamu mau," ucap Ken memberikan bingkisannya.
"Aku sudah tidak mau," cetus Dilla.
"Kenapa? Ini enak loh," ucap Ken datar dan tidak menyadari kesalahannya.
"Kau makan sendiri aku sudah tidak berselera," ucap Dilla.
"Kenapa seperti itu La, aku sudah mendapatkannya loh," ucap Ken.
Dilla pergi meninggalkan suaminya dan mengambil air minum di dalam pendinginnya.
Ken terdiam dan berjalan ke arah meja makan dan melihat istrinya yang sedang diamnya.
Ken membuka bingkisannya tanpa menyadari kesalahannya dan memakan gadi-gado yang terasa enak di kunyahnya. porsi pedasnyapun pas di lidahnya. Saat ia menikmatinya ia melihat sebuah piring bekas makan dan bingkisan yang sama percis seperti saat ini Ken makan.
"Heh, pantesan sudah tidak mau, ternyata kamu sudahmemakannya dan membelinya tanpa sepengetahuanku," gumam Ken tersenyum. Ia melanjutkan memakannya tanpa melihat ke arah Dilla yang kesal dengan perut yang sudah kenyang memakan gadi-gado yang anak buah Ken carikan untuknya.