
Yudha pulang dengan tergesa, ia sangat ingin bertemu dengan Kinayu. Tadi setelah urusannya dengan Satria selesai, Yudha segera mencari Kinayu di kelas tapi ia tidak menemukannya. Ingin segera pulang tapi ia tak bisa karena pekerjaan di kantor dan ada klien penting telah menunggunya.
Yudha berlari masuk kerumah setelah memarkirkan mobil dengan rapi. Bibi yang akan pulang sempat heran melihat majikannya yang begitu tergesa hingga nampak buliran keringat seperti di kejar sesuatu yang menakutkan.
"Bi, Kinayu sudah pulang?"
"Sudah tuan, sejak tadi siang tapi belum kunjung keluar dan makan siang. Mungkin Non Kinayu tidur tuan."
Yudha tak menjawab, ia segera menaiki ank tangga dan mencari keberadaan Kinayu di kamarnya.
Sempat mengetuk pintu tapi tak kunjung ada yang menyahut dan membuka dari dalam. Terpaksa Yudha mendobrak karena ia begitu tak sabar ingin melihat keadaan Kinayu yang sejak tadi membuat pikiran.
"Kinayu!"
Yudha tak menemukan Kinayu di setiap sudut kamar, kemudian ia mencari ke ruangan ganti tak juga menemukan keberadaan istrinya. Langkahnya terhenti, tapi matanya menatap kamar mandi yang tertutup rapat. Segera memutar handle pintu tapi nahas, pintu terkunci dari dalam. Beberapa pemikiran buruk menyerang membuat pikirannya tak karuan.
Masih ada sisa tenaga di dirinya yang akan di keluarkan untuk mendobrak pintu yang kedua kalinya.
Yudha nampak panik melihat apa yang terjadi, pikirannya semakin buruk saat Yudha melihat tubuh Kinayu tergeletak di lantai kamar mandi dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
"Kinayu!"
"Kinayu kamu kenapa?"
Panik, itu lah yang Yudha rasakan, ia segera mengangkat tubuh Kinayu dan membawanya ke rumah sakit.
Yudha bolak balik dengan wajah pucat dan jantung berdebar kencang. Ntah apa yang terjadi dengan Kinayu tadi hingga ia pingsan dengan begitu banyak darah. Yudha pun menyesalkan karena dirinya lebih memilih pekerjaan dari pada hatinya yang sejak siang tadi gelisah.
"Bagaimana istri saya Dok?"
Dokter menghela nafas panjang, ia membuka kaca matanya dan menatap Yudha dengan tatapan sulit di artikan.
"Hampir saja janinnya gugur. Benturan keras membuatnya pendarahan. Dan stress juga berakibat buruk untuk kesehatan ibu dan bayinya. Apa lagi umur kandungan beliau masih sangat muda, baru 4 Minggu dan sangat rentan mengalami keguguran."
deg
"Ma...maksud dokter istri saya hamil?"
Dokter mengernyitkan dahi menatap Yudha yang tampak terkejut. Kemudian Ia paham jika pasangan itu belum tau ada janin yang sedang tumbuh di dalam perut istrinya.
"Iya, istri anda hamil 4 Minggu, apa anda tidak tau jika istri anda tengah mengandung?"
Yudha menggelengkan kepala, otaknya seketika korslet dan ngeblank. "Tapi, usia pernikahan kami belum genap satu bulan dok!"
Dokter kembali menghela nafas panjang, ini lah ketidakpahaman yang akan menimbulkan kesalahpahaman. Sebagian orang menghitung usia kandungan di mulai dari pertama kali ia telat datang bulan. Padahal perhitungan pertama itu dari Hari pertama haid terakhir yang di sebut HPHT.
"Coba di ingat lagi Pak, saat malam pertama menembus selaput dara atau tidak?" pertanyaan yang terkesan konyol dari seorang dokter. Tapi beliau tau sebenarnya lawan bicaranya ini paham karena ia mengenal betul sosok Yudha yang terkenal pintar dan jangan lupakan kabar terakhir yang ia dapatkan adalah Yudha mengajar di kampus milik keluarganya. Dan rumah sakit ini di bawah naungan keluarga Prasetya.
"Damar loe kalo ngasih info yang bener!" sentak Yudha, ia tak terima dengan pertanyaan yang mengarah urusan ranjang.
"Maaf anda bisa sopan, panggil saya Dokter Damar!"
"Loe mau gue pecat?"
"Loe yang bakal gue pecat dari daftar sahabat! ngapa nikah lagi nggak ngabarin gue? loe mau gue cekek?"
"Berani loe sama gue? sekarang nggak penting gue ngabarin loe atau nggak! yang terpenting itu istri gue!"
"Cantik!" jawaban konyol yang memancing emosi Yudha.
"Berisik loe! pindahin istri gue ke tempat VVIP!"
"Baik Pak Yudha, tapi apakah anda menikah lagi di ketahui istri pertama?" jawabnya mengulum senyum.
.
.
.
Yudha masuk di sambut dengan tatapan mata sayu dari Kinayu yang baru saja sadar. Dia melangkah mendekat dengan senyum hangat.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Aku kenapa?" tanyanya lirih, Kinayu masih sangat lemah. Dia pun belum tau dengan keadaannya saat ini. Terakhir yang ia ingat sebelum kejadian adalah dirinya yang ingin mandi setelah menyelesaikan tangisnya.
"Kamu terpeleset di kamar mandi...."
Seketika ingatan akan darah kembali melayang di pikirannya. "Darah..."
"Untung anak kita selamat!"
deg
"A...anak?"
"Ya," Yudha ingin marah akan keteledoran Kinayu tapi ia tak tega saat wajah pucat itu pun tak taumenau dengan kondisinya. Yudha mengusap perut rata Kinayu dengan hati bergetar.
"Di sini ada anakku, anak kita."
Air mata Kinayu meleleh, dia ikut mengusap perutnya dengan tangan bergetar. "Anak kita Bee? aku hamil?" tanyanya dengan suara yang tak kalah bergetar. Kinayu tak menyangka ia akan di berikan kepercayaan secepat ini, padahal dirinya sempat meragu dan takut jika mendapat amuk dari mertuanya.
Yudha menganggukkan kepala, dia pun tak kalah terharu dengan kabar dan mimpi yang ia inginkan selama ini. "Tapi....."
"Tapi apa?" tanya Kinayu dengan hati bergemuruh, apa lagi melihat wajah Yudha yang tiba-tiba berubah sendu.
"Dia lemah sekarang, karena masih terlalu kecil dan hampir saja tak tertolong akibat ketidakhati-hatian ibunya." Yudha menundukkan kepala, hal pertama yang tak pernah Kinayu dapati selama ia mengenal Yudha.
Hatinya hancur berucap seperti itu, tapi ia ingin Kinayu lebih berhati-hati lagi. Meskipun ia sadar jika Kinayu pun tak mungkin teledor jika tau di perutnya ada nyawa.
"Maaf....aku ceroboh."
Yudha mengeratkan genggaman tangannya, ia terluka mendengar penyesalan Kinayu. Kemudian mendongakkan kepala melihat wajah polos tak bersalah mengurai air mata. Yudha beranjak dan segera memeluk tubuh ringkih itu dengan dada begitu sesak.
"Maaf...." batin Yudha.
"Untuk sementara kamu bed rest dulu ya, biar dia benar-benar kuat. Dan jangan banyak pikiran hingga membuatmu stress karena bisa mempengaruhi kesehatan kamu dan anak kita."
Kinayu menganggukkan kepala, ia paham akan hal itu. Dia pun akan menjaga bayinya dengan sekuat tenaga. Tak ingin hal yang sama terulang lagi apa lagi akan membahayakan janin yang baru akan berkembang.
"Untuk masalah Satria, aku minta jangan di pikirkan. Biar itu menjadi urusanku!"
"Kamu tau?"
"Hmm ....bahkan ingin rasanya aku membunuhnya! apa masih ada hati untuk dia?" tanya Yudha karena ia tadi sempat melihat mata Kinayu sembab ketika pertama kali menemukannya tergeletak di kamar mandi.
"Rasa pasti masih ada walaupun tak sebesar dulu, karena hubungan kami awalnya tak ada masalah. Tapi sekarang ada hati yang harus aku jaga. Dan berhak akan diriku dan hidupku. Apa lagi dia sudah mau sedikit menerimaku dengan baik dan mulai menunjukkan rasa sayangnya. Walaupun aku belum tau dia mencintaiku atau tidak."
Yudha mengulum senyum, kemudian beranjak dari duduknya dan mengecup kening Kinayu begitu dalam.
.
.
.
Ngomong apa bang jangan senyam-senyum doank.