
Dafa dengan tergesa menuju kamar dimana istrinya tengah berbaring meredam rasa perihnya. "dek kamu beneran sakit?" tanya Dafa
"em iya tapi udah aku kasih salep mas" ujar Dewi..
"ayo ikut mas kita periksa takutnya jadi luka serius sekalian mas mau ajakin kamu nengok orang tua mas" ajak Dafa
"loh bukannya orang tua mas mama Kinan ya? Kok jenguk orang tua mas" tanya Dewi bingung
"udah nanti juga kamu tau" ujar Dafa sambil keluar dari kamar. Dewi pun bangkit tak lupa ia mengambil tas selempang beserta ponsel miliknya. Kemudian menyusul Dafa yang duluan turun. Sampai di ruang tengah ia mendapati Andini tengah membaca buku disana. "mbaa aku keluar dulu ya mba mau nitip ngga?" tanya Dewi membuyarkan konsentrasi membaca Andini.
"loh mau kemana mba? Ngga deh mba Andini ngga pengen apa-apa" ujar Andini
"mau periksa mba sekalian mau jenguk orang tuanya mas Dafa yaudah Dewi pamit ya mba" ujar Dewi cipika cipiki.
"hati-hati ya mbaa" ujar Andini sambil berpikir, "jenguk orang tuanya Dafa emang siapa bukannya Dafa..." Andini menjeda monolognya ketika melihat mama Kinan datang dari ruang belakang. "ma darimana?" tanya Andini
"oh itu mama tadi abis marahin Dafa tu anak udah keluar belum?" ujar mama Kinan balik tanya
"udah barusan sama mba Dewi katanya mau jenguk orangtua nya Dafa. Emang Dafa punya orangtua lagi selain mama?" tanya Andini pada mama Kinan
"maafin Andini ya ma Andini ngga tau mama jadi sedih gini. " ujar Andini
"ngga papa emang gitu kejadian nya. Ke taman yuk mama pengen jenguk cucu mama" ajaknya pada Andini. Memang Andini sudah lebih tegar sekarang tidak selemah pasca keguguran, dia sudah ikhlas menerima kepergian sang anak. Maka dari itu mama Kinan berani mengajak Andini menengok pusara kecil cucu mungilnya yang tak berdosa itu.
...****************...
Sementara di sebuah tahanan di negara B nampak seorang wanita dengan tubuh yang mengenaskan, beberapa bagian tubuhnya robek dibagian wajah terdapat luka sayatan. Beberapa rambutnya rontok tak terurus tubuhnya kurus kering seperti nya dia jarang dikasih makan selama di tahanan. Tak jarang ia tertawa kadang menangis sendirian sepertinya dia mengalami gangguan kejiwaan. Tak berselang lama datang dua orang menjenguknya.
"nak, Rania sayang lihat ini mama nak, mama datang jenguk kamu ini mama bawain makanan kesukaan kamu" ujar mama Rania namun Rania tidak merespon.
Kemudian sang papa mendekatinya. Dipeluknya putri sulung nya itu penuh sayang merasa iba dengan kondisi putrinya saat ini namun apalah daya ini buah kesalahan putrinya sendiri. "nak makan yuk papa sama mama bawa makanan enak nanti abis makan kita jalan-jalan kamu makan dulu ya" ujarnya lembut kepada Rania.
"nggak aku nggak mau makan aku maunya Revan datang trus lamar aku jadiin aku istrinya hahaha senangnya jadi istrinya Revan pasti banyak duit bisa beli apapun sesuka hati aku hahaha" sahut Rania sambil tertawa.
"iya nanti Revan kesini kok, iya kan pa tadi udah janjian sama kita ya katanya mau jemput kamu sekarang makan dulu ya" ujar mama Rania
"oke aku mau makan kalau Revan datang aku udah kenyang tinggal belanja happy sama dia hahaha" ujar Rania