
"Dave."Ella menatap tajam David.
"Anu, entu Ell."gagap David.
"Apa?"Ella mengeluarkan aura yang begitu mengerikan.
"Begini, jadi gue pan udah anggep lo adek. Jadi gue nyimpen poto elu sebagai kenang-kenangan begitu."David tersenyum kaku.
"Hanya itu?"Ella bersidekap dada sembari menatap dalam manik mata David.
"Em, iya."David berusaha menghindari tatapan Ella.
"Kau tau aku paling tidak suka di bohongi."marah Ella.
"Gua kagak bohong kok Ell, hooh serius dah."cengir David.
"Ikut aku."perintah Ella dingin.
"Dan kamu Del, tunggu disini."Ella melirik Dela sekilas.
"Iya, Ell."
Ella pun melangkah pergi menuju kesebuah ruangan dengan diikuti oleh David. Cukup lama mereka berada di ruangan itu, entah apa yang sedang mereka bicarakan, sampai Dela yang menunggu di sopa merasa bosan.
"Ingat, kau berada dalam pengawasan ku."Ella menatap tajam David setelah mereka keluar dari ruangan itu.
"Iya Ell, gua kagak sejahat itu. Gua janji kagak bakal macem, yang ada gua pengen ngelindungi elu. Suer dah."David mengacungkan kedua jarinya.
"Aku pegang kata-kata mu, jika kau melanggarnya. Kau tau kan apa akibatanya."ancam Ella.
"Hooh Ell, gue tau kok."
Mereka pun berjalan untuk menghampiri Dela, kemudian mereka pergi menuju keruangan bawah tanah untuk menemui Yuda. Disana terlihat Yuda tengah tersenyum tulus kepada mereka saat melihat kehadiran mereka. Sementara Rafly yang berada di sel sebelah kanan, menatap mereka dengan kilatan amarah.
"Hay."sapa Ella.
"Hay Ell, hay juga Dela."sapa Yuda kembali.
"Hay Yud, apa kabar?"tanya Dela.
"Baik."Yuda tersenyum tipis.
"Hari ini aku akan membebaskan mu Yud, kau bisa menjalani kehidupan mu seperti biasanya."ucap Ella.
"Apa kamu yakin akan membebaskan ku? apa kamu tidak takut jika aku akan kembali menjahati mu?"Yuda menatap lekat Ella.
"Memangnya kau tega menyakiti ku kembali?"Ella bersidekap dada.
"Tidak, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku ingin memperbaiki diri, aku ingin menjadi orang yang berguna, bukan meresahkan."ujar Yuda.
"Baguslah, sekarang kau boleh keluar."Ella membuka gembok sel Yuda.
"Terimakasih Ell, aku janji, aku tidak akan mengganggu kehidupan kamu lagi."Yuda keluar dari sel itu dengan tersenyum tulus.
"Dave, suruh salah satu anggota untuk mengantarkannya."perintah Ella.
"Ok, ayok ikut gue."David melirik Yuda.
Yuda pun berjalan mengikuti David setelah dia berpamitan dengan Ella. Setelah Yuda pergi, Ella pun berjalan mendekati sel Rafly. Dia menatap Rafly dengan senyuman mengejek. Rafly kali ini tidak marah-marah seperti biasanya. Dia hanya diam saja tapi raut wajahnya memancarkan amarah yang begitu besar.
"Gimana Rafia? kamu masih betah tinggal disini?"tanya Ella sembari menyandar di sel Rafly.
"Apa kelaman tinggal disini membuat mu bisu."ucap Ella karna Rafly tidak merespon ucapannya.
"Hais, sia-sia saja berbicara dengan orang bisu. Buang-buang waktuku saja."Ella berbalik menghampiri Dela kembali.
"Ayo Del kita pergi."ajak Ella.
Merekapun berjalan ber iringan pergi meninggalkan ruangan itu, Dela awalnya sedikit terkejut saat melihat perubahan dari sahabat polosnya itu, menjadi mengerikan hanya dengan aura yang di keluarkannya saja. Apalagi kalau melihat Ella bertarung, pastilah Dela akan menganga.
"Dave, gue balik."ucap Ella yang sedikit agak songong sembari melangkah keluar bersama Dela.
"Cepet amat."ujar David.
"Kalo kelamaan disini gue takut elu baper."cebik Ella yang bicaranya sudah tidak bersahabat lagi kepada David.
"Hati-hati."hanya itu yang bisa David ucapkan pada Ella yang sudah menaiki mobilnya dan berlalu pergi dari area markas.
"Ini semua gara-gara elu."David memukul dadanya sendiri.
"Ngapa lu Vid? mukul diri sendiri begitu. Kagak waras lu ya?"ucap Ragil yang baru saja nongol.
"Lah terus lu kenapa mukulin diri sendiri?"
"Karna otak gue kurang setengah."David berlalu pergi dari hadapan Ragil.
"Bukannya kagak waras juga otaknya kurang setengah? berati bener dong yang gue bilang tadi. Kalo si David kagak waras."gumam Ragil kemudian dia masuk kedalam menyusul David.
**************
Kedua calon Mamah muda kini sedang berada di sebuah Mall, tadi mereka setelah keluar dari markas memutuskan untuk pergi ke Mall. Mereka ingin merefres otak sekaligus mencari baju modelan baru untuk mereka gunakan saat kuliah nanti. Mereka memilih baju yang agak longgar supaya perut membuncitnya tidak pengap.
"Dedel, coba lihat ini."Ella menunjukan sebuah linggrie menerawang berwarna merah.
"Buat apa kamu beli saringan Ell?"heran Dela.
"Ya amsong, ini bukan saringan Dedel. Ini tuh namanya linggrie."ujar Ella.
"Itu baju ya?"
"Hooh, ini baju buat tidur."
"Kok tipis begitu si Ell? nanti kalo masuk angin gimana. Terus bahannya nerawang gitu lagi, nanti semua aset ku keluatan dong kalo pake baju itu."ucap Dela sembari menatap baju itu dengan seksama.
"Ini kan di pakenya di kamar Dedel, jadi gak bakalan ada orang ih."cebik Ella.
"Memangnya Aa Galang setan begitu?"ucap Dela.
"Sape yang bilang dia setan."heran Ella.
"Kan tadi kamu bilang kalo di kamar gak ada orang. Nah itu Aa Galang kan ada di kamar, bukannya dia juga orang."ujar Dela.
"Hais, maksudku orang lain. Kamu ngapa jadi oon gini sih Del. Jadi keinget Ella yang telmi deh kalo gini."gerutu Ella.
"Kamu mah gitu, aku gak oon ya. Aku kan cuma nanya. Aku baru engeh kalo kamu yang di kampus sama di luaran kampus beda ih."Dela melirik kearah Ella.
"Sengaja, udah ah malah ngegibah. Ayok kita lanjut milih baju."ucap Ella.
"Kamu jadi beli saringan itu Ell?"
"Iya, satu buat aku dan satu lagi buat kamu."Ella menunjukan linggrie berwarna merah dan juga biru.
"Aku? pake itu. Ais, malu dong Ell. Mau ditaruh dimana muka aku nanti pas di depan Aa Galang."
"Taruh aja di bokkong, atau gak kantongin dulu gitu."
"Kamu pikir ini kepala ayam apa di kantongin."Dela mengerucutkan bibirnya.
Mereka pun lanjut berkeliling untuk mencari barang-barang lainnya, dari mulai tas, sepatu baju santai dll. Saat sedang asik berbelanja Ella berpapasan dengan sang Abang yang sedang berkeliling bersama dengan Dalina.
"Kadal, bangsat. Kalian ngapain disini?"Ella menghampiri Satria dan juga Dalina.
"Nyari undur-undur."ketus Satria.
"Napa sih bang? sewot bener kayaknya."tanya Ella.
"Tanya aja noh, ama cewek aneh itu."Satrua menunjuk Dalina dengan bibirnya.
"Si bangsat kenapa sih Kadal?"Ella menatap Dalina.
"Tadi aku bawa abang kamu kepasar, tapi disana dia malah di kerubutin sama emak-emak. Terus pipinya di cubitin. Kata mereka abang kamu mirip artis. Makannya abang kamu ngambek."ujar Dalina.
"Oh, abang lagi ngambek ceritanya. Ututu, jangan ngambek lagi ya, nanti aku kasih gulali mao? atau permen kaki? ama ciki asoy geboy dah. Mao?"Ella menjawil hidung sang abang kemudian dia mencubit kedua pipi Satria dan di goyang-goyangkannya.
"Lu pikir gue bocah."cebik Satria.
"Lah, pan yang suka ngambek emang bocah."
Jejak😘😘😘😘
Mampir juga ke karya temen otor ya.
Judul : The Ugly Duckling
Napen : Black Rose
Seorang gadis dengan tubuh yang gendut, jelek, dan hitam sedang berusaha merubah takdirnya menjadi cantik dan menarik.
Saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya, masih ada orang baik yang mau mengangkat derajatnya dan menjadikannya seorang putri. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah dia akan menemukan seorang pangeran tampan dan baik hati?