
Pagi ini adalah hari kedua ujian. Saal akan membangunkan istrinya. Namun lihatlah orangnya sudah tak ada di tempat. Saal bangun dan turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
Saat mata Saal membola karena Saidah menggunakan dress pendek di atas paha dengan rambut di kuncir ke atas. Pemandangan menggiurkan di mata Lelaki. Saal sudah menelan susah ludahnya sendiri melihat pemandangan estetik di hadapannya itu.
" Dek ... " lirihnya berat. Saidah menoleh dengan terkejut karena saal sudah berada di belakangnya.
" Astaghfirullah abang ... Ngagetin sih," ujarnya sambil menepuk pundah suaminya itu. Saal kemudian mendekati Saidah sampai tak berjarak. Dengan satu tarikan saidah sudah dalam pelukannya.
" Abang ingin ... Tidak bisa ini abang jika melihatmu selalu menggunakan baju seperti ini. Sengaja mau menguji iman abang," ujarnya sudah yang berkabut. Saidah jadi menelan ludah cepat.
" Bang ... Tadi Saidah buru-buru karena kesiangan. Maaf ya gak ada niat begitu bang," wajahnya ikut memelas. Khawatir di terkam detik ini oleh suaminya. Bisa bahaya karena hari ini ujian ibu dosen yang suka suaminya. Bisa di kasih D olehnya.
" Kiss ya sebentar dek!" serunya yang terlihat kasihan. Saidah mengangguk dan mengatakan hal yang membuat Saal terkekeh.
" Abang adek gak bisa menggapai terlalu jauh," ujarnya dengan lucu.
" Hahahah ... Kemarilah dek! Naiklah di kaki abang," jawabnya dengan mengeratkan pelukannya agar Saidah tidak jatuh. Gadis itu pun mengangguk setuju.
" Ah ... Abang Sakit!" teriaknya sedikit. Saal terkekeh jadinya. Dia melepaskan pelukannya dan mengatakan sesuatu yang membuat Saidah bersemburat merah.
" Lehermu sudah merah semua dek! Entah abang ketagihan atau kamu memang nagih dengan menggunakan baju sexy seperti ini. Yang jelas abang suka adek pakai baju ini saat tak ada siapapun di rumah kecuali abang," ujarnya kemudian pergi ke lantai dua. Saal tak menoleh lagi namun suaranya membuat Saidah bangun dari lamunan.
" Segeralah mandi! Jangab membayangkan yang tidak-tidak," tawa Saal membuat Saidah mencebik.
Setelah malam hari manis, pagi ini kembali di buat panas hawa dapur. Sungguh sikap Saal berubah 180 drajat. Ini adalah momen aneh sebelumnya Saal tak bisa menerima Saidah kini malah mereka begitu intens semenjak ciuman semalam yang mungkin berasa menagihkan bagi suaminya.
Sesampainya di kampus ...
Semua berjalan apa adanya dan wajar. Tak ada hal-hal yang menonjol. James pun tak lagi menanyakan hal apapun. Dia selalu berada di pojok untuk menetralisir hatinya sendiri. Dia tak ingin membuat hidupnya berantakan karena kata cinta. Saidah adalah cinta pertamanya mungkin berat bahkan sangat di luar dugaannya.
" Bisakah aku jadi suami keduamu saidah!!! Rasanya sakit jika terus menerus seperti ini. Aku ... Hatiku sakit sekali!" seru james sambil memukuli dadanya sendiri. Duduk di bawah di samping Saidah. Gadis itu jadi tidak enak pada james.
Tatapan elang sudah di luncurkan Saal saat dia keluar dari ruang yang langsung menyorot lokasi Saidah. Dia melihat james memohon pada istrinya. Pemandangan yang tak mengenakkan baginya. Namun dia menahan semuanya sebab ini bukan waktunya membuat kampus ramai. Saal hanya mencuri pandang bahwa Saidah menjelaskan sesuatu.
" James ... Satu saja membuatku berfikir bagaimana dua? Ayolah jangan seperti ini kan ku doakan mendapat gantinya. Tapi tidak dengan hal seperti ini james. Ini salah!" seru Saidah. Saidah kemudian pergi dari sana tanpa menunggu jawaban lagi.