Intrik Cinta Di Takhta De Greyson

Intrik Cinta Di Takhta De Greyson
Bab 30: Drama dan Kejutan di Istana


Olivia menyaksikan dari kejauhan percakapan antara Lady Jasmine dan Alexander. Meskipun dia mencoba untuk menyembunyikan perasaannya, rasa cemburu tetap menggelitik hatinya. Dia berjalan dengan langkah mantap menuju tempat mereka berdua berdiri, tetapi dengan sengaja, dia merasa perlu untuk memberikan pelajaran kepada mereka.


"Dengar-dengar, apa yang sedang dibicarakan di sini? Semoga topiknya menarik," ucap Olivia dengan senyum manis di wajahnya, namun tatapan matanya memancarkan sinar tajam yang menusuk.


Alexander memalingkan wajahnya dari Lady Jasmine dan berusaha untuk tetap tenang. "Kami hanya berbicara tentang beberapa hal mengenai kebijakan kerajaan, sayang."


"Tentu saja, kebijakan kerajaan. Bagaimana rasanya membicarakan kebijakan dengan Lady Jasmine, Pangeran?" sahut Olivia dengan nada santai, sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Apakah kamu menemukan pandangannya yang cerah dan cemerlang dalam hal ini?"


Alexander tersenyum tipis, menyadari bahwa istrinya mencoba untuk menyindir mereka. "Lady Jasmine memiliki pandangan yang berharga, seperti anggota kerajaan lainnya. Kita harus menghargai setiap pendapat yang disampaikan."


Lady Jasmine mencoba untuk tetap tenang, meskipun hatinya sedikit tersinggung oleh komentar Olivia. "Tentu saja, setiap pendapat memiliki nilai, tak peduli dari siapa itu berasal."


Namun, Olivia tidak berhenti di situ. Dia merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang lebih menonjol agar Lady Jasmine mengerti bahwa Alexander adalah miliknya.


"Mari kita bermain permainan," ujar Olivia, tiba-tiba berpaling ke arah pura yang berdiri di samping mereka. "Pura, apakah kamu ingin bermain permainan dengan kami?"


Pura yang selama ini mencoba untuk menjadi netral, merasa sedikit terkejut oleh ajakan Olivia. Dia mengangguk dengan hati-hati, "Tentu, Ratu Olivia. Saya senang untuk bergabung dengan permainan ini."


Olivia mengeluarkan sebuah gelang emas dari sakunya dan memberikannya pada Pura. "Permainannya sederhana. Setiap kali kamu mendengar kata 'cinta', kamu harus memberikan gelang ini pada seseorang yang berada di dekatmu. Jadi, apakah kamu siap?"


Pura mengangguk dan menerima gelang emas tersebut. Percakapan pun berlanjut, dan Olivia dengan cerdik menyisipkan kata-kata "cinta" dalam setiap kesempatan yang dia dapatkan. Setiap kali dia mengucapkan kata itu, Pura memberikan gelang emas pada Lady Jasmine, dan Lady Jasmine memberikannya pada Alexander.


Beberapa kali, Olivia juga sengaja menyebutkan kata "cinta" ketika berbicara dengan Alexander, dan dia dengan senang hati memberikan gelang emas tersebut pada suaminya. Tindakan ini membuat Alexander tersenyum bahagia, karena dia tahu bahwa istrinya sedang mencoba untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang kocak dan menyenangkan.


Di tengah-tengah permainan ini, Lady Jasmine merasa semakin terganggu dengan tindakan Olivia. Dia merasa bahwa Olivia sedang berusaha untuk mengintimidasi dan menyindirnya dengan cara halus. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum terpaksa dan mencoba untuk tetap tenang.


Setelah beberapa saat bermain, Olivia akhirnya memberi isyarat kepada Pura untuk berhenti. "Baiklah, permainan sudah cukup. Terima kasih, Pura, telah bermain dengan kami."


Pura mengangguk dan kembali meletakkan gelang emas itu ke dalam sakunya. Dia merasa sedikit lega bahwa permainan tersebut berakhir, karena dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit.


Saat mereka berdua berjalan pergi, Alexander tersenyum pada Olivia. "Kamu tahu, sayang, aku tahu bahwa kamu sedang mencoba untuk menyindir Lady Jasmine. Tapi, aku juga tahu bahwa kamu hanya bermain-main dengan caraku."


Olivia tersenyum dan mencium pipi Alexander. "Tentu saja, Pangeran. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa hatiku adalah milikmu sepenuhnya."


Alexander menggenggam tangan Olivia erat-erat. "Dan hatiku adalah milikmu juga, Ratu Olivia. Tak ada yang akan menggoyahkan cinta kita."


Mereka berdua berjalan pergi dengan tawa dan kebahagiaan dalam hati. Olivia merasa senang bahwa dia telah berhasil menyampaikan pesannya kepada Lady Jasmine, meskipun dalam cara yang agak aneh. Dia merasa semakin percaya diri dalam cinta mereka dan siap untuk menghadapi segala masalah dan drama yang ada di istana.


Di lain pihak, Lady Jasmine menyadari bahwa dia telah menjadi sasaran permainan halus Olivia. Dia merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa cintanya untuk Alexander adalah yang sejati. Namun, dia juga menyadari bahwa Alexander telah menemukan cinta sejatinya dalam diri Olivia.


Dalam kebersamaan, kepercayaan, dan cinta yang mendalam, Olivia dan Alexander bersiap untuk menjalani masa depan yang tak terduga dan penuh dengan kejutan di istana kerajaan. Mereka tahu bahwa cinta sejati tidak selalu mudah, tetapi mereka siap menghadapi setiap tantangan bersama-sama dalam suka dan duka.