
Rumi duduk di sebelah sang istri yang sedang menggaruk tangannya.
"Jangan digaruk, Dek."
"Gatel... Nyamuknya banyak, kamu sih kelamaan di luar. Nelfon siapa sih?" Debby bersungut.
"Jimmy, tadi dia cerita soal mau ngelamar seorang akhwat."
"OOO...." Jawab Debby, ia masih fokus menggaruk tangannya.
"Di bilang jangan digaruk, sini pakai minyak kayu putih dulu." Diraihnya tangan sang istri lantas menyapuh bekas gigitan nyamuk yang menimbulkan bentol merah di lengan menggunakan kayu putih.
Debby tertawa jail, membuat Rumi melirik.
"Kenapa?"
"Cieee, yang tambah perhatian sama Bumil?"
"Nggak mau?"
"Mau lah– Lagi, kalau bisa ini sekalian," Debby membuka selimutnya menunjukkan Kedua kaki yang di luruskan lalu menepuk-nepuk. "Pegel."
Rumi mendengus sembari mendorong kaki Debby dengan kedua tangannya.
"Hemmmm, sopannya." kata dia lantas merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan ia jadikan bantalan lalu menindih kedua kaki Debby dengan kakinya sendiri. "Kamu tuh yang seharusnya pijit kaki aku."
"Ih... Kok jadi aku."
"Surga seorang istri itu di mana?"
"Suami."
"Itu tahu, sekarang pijitin nih, cape loh habis nyapu sama ngepel rumah dua lantai."
"Ya ampun calon bapak satu ini ya," runtuk Debby, Rumi pun hanya tersenyum melihat istrinya yang mulai menyentuh kakinya. "tahu gini mending nggak usah minta pijit kalau ujung-ujungnya jadi aku."
Debby tetap melakukannya walaupun dengan asal-asalan, karena banyak mainnya seperti saat ini bukannya memijat malah menarik-narik bulu kaki Rumi.
"Aaaa... Astagfirullah al'azim, sakit." Rumi mengusap-usap kakinya, sementara si pelaku hanya tertawa puas, saat mendapati satu helai bulu kaki lalu memamerkannya pada Rumi.
"Dapet loh, ini..."
"Ya Allah... Bisa-bisanya nyabut beneran kamu, Dek?" Rumi masih mengusap kakinya yang terasa pedas.
"Hahahaha. Demi Allah perut ku sampai sakit."
Rumi menarik pipinya. "Seneng...? Puas kamu ya?"
"Seneng dong... puas! Habis bulu kaki lebat banget. Sini aku waxing." Ledek Debora sembari melepaskan tangan Rumi dan kembali tertawa.
"Jangan macam-macam, ini tuh aset berharga, tanda laki-laki Maco. Yang ada nanti kamu ku habisi. Semalaman penuh. Mau?"
"Hahaha... Jangan dong. Kasian Dedenya." Mengusap-usap perut, padahal masih rata namun Debby terus saja melakukan itu. Entah berapa kali dalam satu hari, juga mengajaknya mengobrol baik ketika Dia hendak makan, minum susu dan sebagainya. Rumi beranjak duduk lalu menyentuhnya sembari tersenyum. "Kak, dengar nggak dia ngomong sesuatu?"
"Ngarangnya," Rumi geleng-geleng kepala.
"Eh... Serius. Nih dengerin? Abi... Aku mau makan es durian, ayo ajak Umma makan es durian. Tuh kan?" Kata Debby dengan logat meniru suara anak-anak.
Rumi terkekeh, "bisaan kamu ya... Itu sih kamunya aja."
"Ih... Aku tuh ngidam, bawaan bayi ini."
"Bawaan bayi apa Ummanya? Udah malam jam sembilan ini, jangan minta yang aneh-aneh."
"Nggak yang aneh-aneh, walaupun aslinya aku tuh pengen makan nasi goreng sambil naik kereta, habis itu makan rujak di puncak monas malam ini juga."
"astagfirullah al'azim... ya Allah, Dek." Rumi tergelak.
"Ayo... mumpung belum terlalu malam, Abi." Debby mengedip-ngedipkan matanya, sembari menoel pinggang Rumi.
"Apaan sih, itu?"
"Besok ya, jangan sekarang." Mengusap kepala Debby.
"Yaahh... Kalau besok ngidamnya udah lain lagi, setiap hari harus ganti menu."
"Allahu Rabbi," Rumi geleng-geleng kepala, lalu mereka kepalanya di atas pangkuan sang istri.
"Abi Rumi– ayo..."
"Besok sayang... Aku bilang besok ya besok. Sekarang itu bobo."
"Tapi Dedenya mau es durianya sekarang. Nanti kalau ileran gimana?"
"Gampang Abi lap nanti pake kerudungnya Umma," jawab Rumi sedikit beranjak dan memeluk tubuh sang istri membawanya untuk tidur. Menciumi wajah istrinya tanpa henti, dimana tawa lepas keduanya ketika Debby berusaha menahan serangan kecupan dari Rumi.
–––
Hingga tiga puluh menit kemudian. Keduanya sudah bersiap di dalam mobil, ketika Debby terus merengek meminta es durian.
"Yeaaay... Abi baik hati ya, Nak."
"Bisaan kamu mah." Rumi menyalakan mesin mobilnya. Sementara sang istri hanya terkekeh. Setelah membaca basmalah, mobil pun keluar dari halaman rumah, berjalan keluar kompleks perumahan hingga sampailah di jalan yang sudah tidak begitu ramai kendaraan. "Nggak janji harus ketemu ya, Dek. Kalau sudah tutup ya langsung pulang."
"Okay." Kesepakatan awal memang seperti itu. Namun lihat setelah tiba pada sebuah kafe yang tutup.
"Nah... Tutup kan? Kita pulang yuk."
"Coba sekali lagi, cari yang di daerah X. Ayo..."
"Tadi janjinya, apa?"
"Ayo Kak Rumi. Aku pengen banget." Memasang wajah imut, sembari memohon.
"Haduh... Ya sudah deh." Kembali Rumi mengatur gigi mobil lalu menginjak pedal gas. Mobil pun kembali melaju, dan sampailah ke tempat tujuan. Kafe tersebut memang masih buka, namun entahlah, yang di inginkan Debby masih ada atau tidak. "Aku saja yang turun untuk pesan ya. Kamu di sini saja."
"Iya, suami." Berbinar. Ia membiarkan Rumi turun lalu menunggu beberapa saat karena sepertinya es duriannya masih.
Tak lama Rumi kembali masuk kedalam mobil membawa satu cup pesanan Debby.
"Ini."
"Yeaaay..." Debby meraihnya, segera ia tusuk plastik penutupnya dengan sedotan besar, lalu mencicipi. Kecap-kecap bibirnya, ia pun kembali menyerahkan pada Rumi.
"Kenapa?"
"Rasanya lain, nggak seperti es durian di kafe yang tutup di sana."
"Wajar kalau beda Dek. Tapi yang penting kan bisa mengobati rasa ingin mu kan?"
"Nggak bisa gitu kak, tetap saja kurang. Kamu saja habisin lah. Duriannya juga nggak sebanyak yang di sana." Kata Debby bersungut.
"Dek, tahu arti menghargai usaha seseorang? Kalau kamu seperti ini, kamu menghargai aku nggak, namanya?" Tanya Rumi.
"Ya mau bagaimana, orang rasanya lain."
"Habisin..." Titah Rumi saat menyerahkan lagi cup es durian tersebut kepada Debby.
"Tapi?"
"Jangan mubasir sesuatu yang sudah kamu beli. Menghabiskan makanan dan minuman yang kamu beli itu sama saja dengan bersyukur. Kalau seperti ini? Sama saja kamu kufur. Jadi habiskan."
Perlahan tangan Debby meraihnya. Lalu meminumnya. Rumi pun tersenyum ia mengecup kening sang istri.
"Pintarnya kesayangan ku. Pulang sekarang ya?" Ajak Rumi, yang di balas dengan anggukan Debby pelan. "MashaAllah istri ku."
Rumi kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi dari tempat tersebut, kembali kerumah. Walaupun sepanjang jalan Debby banyak diam namun Rumi berusaha untuk diam saja, membiarkan sang istri yang sedikit jengkel itu hingga sampai di rumah mereka.
Bersambung...