
"Kamu lihat saja nanti ! dan gajih kamu bulan ini tidak akan cair “ kata Derya kesal karena Anton lebih percaya Naya daripada dirinya
Anton hanya diam saja, karena melihat emosi bosnya saat ini sepertinya Aydin memang benar terluka dan mungkin itu parah. Masalah gajih nanti bisa diurus pikirnya.
“Bos, jika anda khwatir dengan Aydin kenapa Bos tidak memeriksa cctv yang ada dirumah bos ?” kata Anton saat melihat bosnya yang gelisah didalam mobil menuju bandara
“Ah iya, kamu benar juga ton” kata Derya langsung membuka Handphonye untuk memeriksa rekaman cctv
“Hm,,, ternyata bos sangat menyayangi Aydin. Tapi menurtuku cara bos menyayangi Aydin kurang tepat, sehingga Aydin merasa terkekang” batin Anton sambil melirik Derya yang sibuk dengan ponselnya
“Shiitt !!!! Kenapa wanita itu masih belum keluar dari rumahku…” Umpat Derya saat melihat Naya yang tidur dengan Aydin
“Ada apa bos ? “ kata Anton kaget
“Itu, wanita yang kamu rekomendasikan untuk menjaga Aydin dia masih belum keluar dari rumah saya. Padahal dialah orang yang membuat Aydin terluka,,,,” kata Derya esmosi
“Naya ?” kata Anton memastikan
“Iya… dan kamu tau dia kurang ajar sekali bahkan dia tidur dikamar anak saya…” kata Derya semakin geram
“Bos,,, tahan dulu emosinya… jika ada yang melihat bos marah-marah dibandara bos akan viral” kata Anton mengingatkan bosnya karena kini sudah tiba di bandara
“Hm,,,” kata Derya menormalkan emosinya kembali
Penerbanganpun berjalan dengan lancar dan Derya tiba di kota B tepat pada pukul 03.00 dini Iari, tanpa membuang waktu Derya segera meluncur kerumahnya dengan kecepatan tinggi.
“Tiiittt,,,tiiitttt…” Klakson mobil Derya berbunyi nyaring membangunkan sang satpam yang baru terlelap sebentar
“Selamat pagi tuan” sapa Pak Udin setelah membukakan gerbang
Derya tanpa menjawab langsung melajukan mobilnya dia sudah sangat ingin mengeluarkan Naya dari rumahnya…
Tanpa menunggu lama karena Derya mempunyai kunci cadangan rumahnya sendiri, Derya langsung masuk kedalam kamar Aydin.
“Hey kamu ! Bangun !!!” kata Derya agak berbisik sambil menarik tangan Naya untuk bangun
“Astagfirullah,,, mana jilbab aku, dimana ya ???” Naya yang sadar ada nonmahram di kamar tersebut langsung bergegas menjari jilbabnya.
“Cepat,,, saya tidak ingin anak saya sampai bangun ya gara-gara kamu” tarik Derya saat Naya sudah menemukan jilbabnya
“Jangan pegang Pak ! bukan mahram…” kata Naya sambil melepaskan cengkraman Derya dilengannya
“Kamu kenapa masih dirumah saya… saya bilang kamu keluar dari rumah saya… !!!” kata Derya tegas
“Iya pak, saya segera keluar. Tapi jangan pakai jalur hukum ya Pak” kata Naya yang merasa sia-sia untuk menjelaskan didepan bos yang keras kepala ini, dia hanya ingin kesalahannya ini tidak diproses hukum.
“Tidak bisa, kamu sudah mencelakai anak saya…” jawab Derya
“Pak, saya tidak berniat mencelakai Aydin. Itu hanya kecelakaan yang diluar kendali saya pak” kata Naya membela diri
“Jika kamu tidak membawa Aydin ke taman ini tidak akan terjadi. Sudahlah saya tidak akan membawa ini ke jalur hukum, asalkan kamu jangan pernah menemui anak saya lagi…” kata Derya akhirnya
“Jika kamu tidak meninggalkan Aydin saya akan membawa ini kejalur hukum” ancar Derya serius
“Hummffff,,, baiklah. Tapi ijinkan saya untuk berpamitan dengan Aydin dulu pak” pinta Naya
“Tidak bisa ! sekarang juga kamu harus kelur dari rumah saya” tegas Derya
“Pak ini baru jam 04.00 pagi pak, masa saya keluar sekarang. Lagipula tidak ada salahnya jika saya bepamitan dengan Aydin” kata Naya membujuk Derya
“Saya tidak peduli, itu tas kamu dan sekarang juga kamu keluar. Pintu keluar ada disana !“ tunjuk derya ke sebuah pintu yang sudah terbuka, terlihat disana sudah ada bi Ira yang merasa tidak enak mendengar perdebatan mereka berdua.
“Tapi,,,” kata Naya masih berusaha
“Tidak ada tapi-tapian, sekrang juga kamu keluar !” kata Derya kemudian berlalu meninggalkan Naya yang masih tidak tega keluar dari rumah ini jika tidak berpamitan dengan Aydin
“Akhhh, tuh orang keras kepala banget sih” batin Naya
“Bi Ira,,, syut….” Kata Naya memanggil bi Ira pelan agar tidak terdengar Derya
“Bi Ira, Naya boleh minta tolong gak ?” kata Naya saat bi Ira sudah berada didekatnya
“Apa neng ? kalau bisa bibi bantu bibi pasti mau” kata bi Ira penasaran
“Naya mau pamitan sebentar dengan Aydin, bibi tolong amankan kondisi ya. Jika ada Pak Derya ingin keluar atau menuju kamar Aydin segera beritahu Naya, oke bi ?” kata Naya menjelaskan rencananya
“Oke Neng siap…” kata bi Ira, sebenarnya Bi Ira sangat senang jika ada Naya dirumah karena Aden muda dirumah ini alias Aydin nampak bahagia dan ceria saat berada didekat Naya.
“Siiipp,, makasih banyak bi” kata Naya sambil mengacungkan jempolnya
“Iya neng sama-sama. Bibi mah senang kalau ada neng dirumah ini, den Aydin jadi lebih ceria” kata bi Ira jujur
“Bibi berjaga ya, Naya mau keatas dulu” kata Naya setelah merespon ucapan bibi tadi dengan jempolnya.
Nayapun berjalan pelan kearah kamar Aydin, karena kamar Derya dan Aydin berdekatan sehingga Naya harus berjalan dengan hati-hati, khawatir jika suara langkah kakinya terdengar. Saat sudah berada didepan pintu Aydin, Nayapun segera memegang handel pintu dan menekannya. Namun,,,
“Cekleekk…” bunyi handel pintu ditekan
.
.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~