Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
In the plane


Setelah Andrew membawa Marry dari panti asuhan mereka semua langsung berangkat menuju bandara untuk segera kembali ke California.


Padahal mereka baru tiba di Inggris beberapa jam yang lalu tapi mereka memutuskan untuk langsung kembali ke California tanpa menikmati kota Inggris yang indah.


Alice bahkan tidak bisa berpamitan dengan aunty Clara dan anak-anak yang berada dipanti asuhan secara langsung, dia hanya bisa berpamitan dengan aunty Clara lewat telephone.


Tapi dia harus melakukannya karena dia harus kembali dengan orang-orang yang menerimanya dengan hangat tentu dengan orang yang dia cintai walaupun nanti dia tidak tahu harus kembali kemana karena dia tidak punya rumah lagi.


Alice dan Marry sedang berada didalam kamar saat itu, dia sedang berbicara dengan Marry untuk meyakinkannya sedangkan Jacob sedang diluar sana berbicara dengan Andrew, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.


Untunglah keluarga Jacob datang dengan pesawat besar yang difasilitasi beberapa kamar, pesawat itu memiliki dua lantai dan memang digunakan mereka sekeluarga jika hendak bepergian.


"Mommy, Marry masih takut untuk pulang." Marry melihat kearah Alice, dia memang belum berani untuk kembali sampai sekarang.


Alice mengusap kepala Marry dengan lembut, dia tahu Marry masih takut untuk kembali karena dia belum berhasil membujuk Marry sampai saat ini tapi dia akan meyakinkan Marry bahwa tidak akan ada lagi yang menculiknya disana.


"Marry dengarkan mommy, bukankah sudah aku katakan jika tidak akan ada lagi yang mengganggu kita disana? Jadi percayalah pada mommy."


"Tapi mom, Marry masih takut."


"Tenang saja sayang, kita tidak akan kembali kerumah lagi, okey?"


"Jadi kita mau kemana mom?"


Alice berpikir sejenak, dia juga tidak tahu tapi sepertinya setelah kembali dia harus mencari tempat tinggal.


"Entahlah, mommy juga tidak tahu. Tapi mommy akan mencari tempat tinggal yang nyaman untuk kita."


"Tapi mom, uncle menakutkan itu apa akan menggangu kita lagi?"


"Marry sayang, uncle jahat sudah ditangkap oleh polisi, oke. Setelah kembali aku akan mengajarimu taekwondo supaya Marry bisa jaga diri, bagaimana?"


"Mommy serius?"


"Yes."


"Baiklah, aku akan menendang uncle jahat yang berani mengganggu mommy dan aku." ujar Marry dengan penuh semangat.


"Itu bagus, jadi tidurlah karena perjalanan masih panjang dan setelah kita pulang maukah Marry menjenguk kakek dan nenek?"


"Tentu mom, Marry sudah rindu dengan daddy and mommy."


"Itu bagus, ayo kita tidur."


Marry mengangguk dan memeluk Alice sedangkan Alice menarik selimut untuk menutupi tubuh Marry. Dia tampak senang akhirnya Marry mau percaya dan mendengarkannya.


Alice menemani Marry sampai gadis itu tertidur, ini sudah jam 10 malam waktu Inggris, dan perjalan mereka masih lama karena waktu di Inggris lebih cepat 8 jam dari pada waktu di California sedangkan perjalan mereka memakan waktu kurang lebih sembilan jam.


Saat Alice tertidur Jacob masuk kedalam kamar itu diam-diam, dia tersenyum melihat Alice dan Marry berada diatas ranjang.


Jacob berjalan mendekati ranjang dan duduk disisinya, dengan pelan dia membelai kepala Alice sampai Alice terbangun dari tidurnya.


"Jac?"


"Sttttss..." Jacob meletakkan jari telunjuk dibibirnya sebagai isyarat supaya Alice tidak berisik kalau tidak Marry akan terbangun dari tidurnya.


"Ayo ikut denganku." bisiknya.


"Kemana?"


"Kita bicara, okey."


Alice mengangguk, dengan pelan-pelan dia menyingkirkan tangan Marry yang sedang memeluknya.


"Gendong." pintanya dengan manja sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Jacob.


"Oh my." Jacob segera bangkit berdiri dan menggendong Alice sambil terkekeh, dia sangat senang Alice masih manja padanya seperti dulu.


"Hei kau makin ringan saja." ujar Jacob saat Alice sudah berada didalam gendongannya.


"Jika aku makin berat berarti aku makin gemuk."


"Yah sebentar lagi aku akan menyengatmu dan membuatmu gemuk." godanya.


"Oh my kau, tunggu saja jika kita sudah menikah."


"Jadi kau akan bersabar sampai kita menikah?"


"Tentu saja sayang, lagi pula sebelum kita menikah selalu saja ada gangguan dan aku tidak mau berakhir dikamar mandi lagi."


"Thank you Jac, kau memang pria terbaik untukku."


"Aku memang pria terbaik untuk gadis bodoh sepertimu."


Senyum mengembang diwajah Alice, dia melingkarkan tangannya dileher Jacob dan menyembunyikan wajahnya disana, Jacob membawa Alice menuju kesebuah sofa yang ada dikamar itu.


Jacob merebahkan dirinya diatas sofa sedangkan Alice berada diatas tubuhnya.


"Alice sayang, coba ceritakan padaku kenapa kau bisa ada di Inggris dan kenapa kau tidak meminta bantuanku untuk menemukan Marry."


"Jac-Jac, aku bukannya tidak mau meminta bantuanmu tapi waktu itu kau sedang terluka sedangkan Marry sudah dalam bahaya."


"Jadi kau pergi menyelamatkan Marry sendirian?"


Alice menggeleng dalam pelukan kekasihnya sedangkan tangan Jacob terus membelai rambutnya.


Dia mulai menceritakan kepada Jacob siapa yang telah membantunya untuk menyelamatkan Marry, apa yang dialami oleh Marry dan bagaimana dia bisa ada di Inggris.


Alice juga menceritakan bahwa selama ini dia berada dipanti asuhan, menenangkan diri dan mengajari anak-anak piano disana.


"Alice sayang, maafkan aku telah lalai menjagamu dan Marry, maafkan aku." ujar Jacob saat dia telah selesai mendengar cerita Alice.


"Jac, semua bukan salahmu. Semua kesalahanku karena aku tidak pernah menuruti semua perkataanmu, semua salahku sampai membuat kita seperti ini."


"Aku sungguh menyesal Jac-Jac, tapi mulai sekarang aku akan mendengarkan semua perkataanmu. Apapun yang kau katakan akan aku ikuti."


"Apa itu benar?"


Jacob melihat Alice dengan serius sedangkan Alice mengangguk sambil tersenyum.


Dia akan mendengarkan semua yang Jacob katakan dan tidak akan mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya, tidak akan.


"Aku berjanji padamu Jac, kau memintaku berdiri maka aku akan berdiri, kau memintaku untuk diam maka aku akan diam.aku akan menuruti semua ucapanmu mulai saat ini."


"Oh my kau,vhabislah kau setelah ini."ujarnya gemas.


"Katakan apa yang kau ingin aku lakukan saat ini?" Alice bangkit dari tidurnya dan duduk diatas tubuh Jacob.


"Oh my, jangan mengujiku sayang."


"Tidak, aku bersungguh-sungguh."


"Sialan, jika bukan dipesawat maka habislah kau!" maki Jacob kesal.


Jika tidak ada keluarganya mungkin sudah dia terkam Alice saat itu juga tapi lebih baik mereka melakukan hal itu setelah mereka menikah karena dia tidak mau berakhir dikamar mandi, lebih baik jangan membangunkan ular yang sedang tidur.


"Jadi?" Alice masih melihat kearahnya.


"Oke baiklah, sebagai permulaan cium aku."


"Hanya itu?"


"Ya, bukankah sudah aku katakan, kita akan melakukannya setelah kita menikah."


"Thank you Jac-Jac."


Alice segera mendekatkan bibirnya dan menciumi bibir Jacob dengan lembut, dia juga berbisik disela-sela ciumannya.


"I love you Jac-Jac."


"I love you too my honey."


Mereka kembali berciuman dengan mesra dan saling me**mat bibir pasangan mereka. Jacob memeluk Alice dengan erat dan terus menciumi bibirnya, rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera menikahi Alice tapi sebelum itu dia akan memberikan kejutan untuk Alice.


Setelah mereka melepaskan bibir mereka, wajah Alice tampak dipenuhi dengan kebahagiaan begitu juga dengan wajah Jacob, mereka kembali berpelukan dan sepertiya malam itu mereka akan tidur diatas sofa berdua sambil berpelukan.