Happily Ever After

Happily Ever After
Maaf.


Dor..Dor..Dor..Dor..


Suara gedoran pintu apartemen nya begitu sangat mengganggu.


Wanita yang tengah asik menonton film sambil merebah kan tubuh nya di sofa pun beranjak pergi menuju pintu .


-Ceklek...


"Zaydan ?!" Ucap Irma lirih, tubuh nya seolah mematung ketika melihat pria yang sangat ia cintai berdiri di hadapan nya .


Tampa basa-basi Zaydan lansung mendorong tubuh Irma ke dalam lalu menutup pintu apartemen milik wanita di hadapan nya .


" Zaydan ! apa-apaan ini ?" Tanya Irma yang terlihat sedikit kesal atas perlakuan Zaydan terhadap nya .


" Apa sekarang kau menghindar, hemm?" Bisik Zaydan pada Irma , dengan wajah sedikit menunduk dan menatap mata Irma tajam .


" Tidak , bukankah kamu yang menghindar sampai meninggal kan ku ke luar negri ?!" Tegas Irma , kepala nya mendongkat netra nya pun meneliti wajah pria yang berada di hadapan nya .


" Duduklah , aku akan membuat kan minum ,"Wanita itu menghela nafas , lalu Irma menarik tangan Zaydan ke arah sofa .


" Tunggu sebentar ," Irma langsung meninggal kan Zaydan yang sudah duduk di hadapan tv yang menyala .


Mata Zaydan melihat sekeliling ruangan kecil namun terlihat begitu rapih , beberapa foto terpajang di dinding berwarna putih .


Hingga setelah menunggu beberapa detik , akhir nya Irma datang dengan segelas kopi susu yang sudah di letakan di atas meja .


" Ada keperluan apa ?" Tanya Irma yang berusaha tenang dengan senyum di bibir nya .


" Kenapa tinggal sendiri ?" Bukan nya menjawab ,Zaydan justru balik bertanya .


" Aku tidak mungkin tinggal bersama pria yang belum menikahi ku ," Jelas Irma .


Zaydan kembali menatap Irma tajam .


" Kenapa menatap ku seperti itu ?" Tanya Irma santai .


" Kenapa tidak tinggal bersama ibu ?"Zaydan menatap Irma.


Wanita di samping Zaydan pun lagi-lagi menghela nafas nya kasar , lalu tersenyum miris ke arah Zaydan.


" Ibu sudah tiga tahun meninggal , dan aku tinggal sendiri karena sudah tidak punya siapa-saiapa lagi ! bahkan pria yang ku tunggu sampai sepuluh tahun saja pergi dengan wanita baru nya ," Ucap Irma sambil menatap Zaydan seraya tersenyum getir.


" Maaf ," Kata-kata itu lansung terdengar di telinga Irma .


" Tidak , aku yang harus meminta maaf atas perbuatan ibu dulu , "


" Irma !!" Panggil Zaydan .


" Saya Dara , Irma sudah mati dengan semua perasaan bodoh nya ! cepat habis kan kopi mu ,dan pulanglah ini sudah malam ," Kini wajah Irma sudah memerah , manik nya pun terlihat berkaca-kaca .


" Kau mengusir ku ?" Kata Zaydan dengan tatapan sendu .


" Tidak , hanya saja ini akan menjadi masalah besar kalau pacar mu tahu,"


" Aku tidak peduli ," Tegas Zaydan .


Irma pun terdiam sesat , kepala nya menunduk dengan jemari tangan yang mulai meremas rambut nya pelan .


" Zaydan boleh kan aku menyampai kan sesuatu?"


" Tentu saja ," Sahut Zaydan sambil meletakan gelas kopi nya kembali ke atas meja setelah meminum nya .


" Maaf kan aku , aku tidak bisa mengubah keputusan ibuku dulu, aku selalu berharap kau segera pulang dan menemui aku , aku hanya ingin mengatakan ,Maafkan kesalahan ibuku , dan ayo kita perbaiki semua nya.Jangan salah paham , itu dulu ! sekarang tidak lagi," Mata Zaydan terus menatap nya , melihat kesedihan namun Irma terlalu tegar untuk menagis di hadapan pria yang duduk bersama nya .


" Apa sekarang aku boleh menikahi mu?" Suara nya lirih .


" Tidak , nikahi saja kekasih mu ! dia sangat mencintai mu Zaydan , biarkan aku seperti ini , kau tidak usah merasa bersalah , demi allah saya akan baik-baik saja,"


Rasa bersalah Zaydan kepada Irma pun semakin menyeruak .


Bagai mana tidak , Zaydan meninggal kan Irma tampa memberi tahu nya terlebih dulu , bahkan semua akses nya ia blokir begitu saja , hanya karena ia merasa kecewa atas penolakan almarhumah ibu dari Irma dulu .


" Pulanglah , ini sudah malam ! tidak baik berduan begini malam-malam , ini akan menimbul kan fitnah ," Irma pun melepaskan paksa genggaman tangan Zaydan .


" Irma aku mencintai mu ," Jelas nya .


" Kamu tidak mencintai ku , kamu hanya merasa bersalah Zaydan , biarkan saja. Luka akan sembuh dengan sendiri nya ," Cicit Irma sambil tersenyum.


" Demi allah rasa ini masih sama ," Kata Zaydan kembali .


" Aku pikir tidak ! kalau kamu masih cinta sama aku , nggak munking dengan gampang nya kamu menempat kan wanita lain di hati kamu , pulanglah Zaydan ! jangan membuat semua nya semakin sulit," Suara Irma pun bergetar , menahan sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapan Zaydan .


Namun nihil , Irma tetaplah seorang wanita yang tidak bisa setegar laki-laki yang mampu menyembunyikan air mata nya , hingga cairan bening itu lolos begitu saja di pipi nya .


" Jangan nangis !" Zaydan berkata , tangan nya mulai terulur untuk menghapus air mata Irma , tapi Irma menepis nya .


" Stop Zaydan , biarkan aku melanjutkan kehidupan ku ! cukup sepuluh tahun aku bertahan dengan kekosongan ini," Sahut Irma.


" Irma kumohon , kita perbaiki semua nya sama-sama !"


" Tidak ada yang harus di perbaiki Zaydan , bahkan kita belum pernah menjalin hubungan apapun ," Tegas Irma . " Pulanglah , aku sudah mengantuk ini sudah malam ," Irma menunjuk pintu apartemen nya .


" Oke aku pulang , tapi inget satu hal ! aku tidak akan membiarkan kamu nikah sama siapapun kecuali aku !!" Cecar nya lalu meninggal kan Irma yang hanya terdiam tampa membalas perkataan nya .


Ceklek...


Brakk..


Zaydan pun membanting pintu apartemen milik Irma cukup kencang .


Tangisan Irma pun pecah setelah Zaydan keluar dari tempat tinggal nya .


Wanita itu benar-benar sudah tidak kuat dengan ke adaan hatinya , rasa rindu yang begitu besar namun harus ia kubur dalam-dalam, mengingat sekarang Zaydan telah di miliki wanita lain .


" Irma , kenapa kamu cengeng sekali ? bisakah sekali saja tidak usah menangis ketika sudah bertemu dengan nya ?!" Ucap Irma yang kesal pada suasana hati nya sendiri .


" Ini nggak adil , aku menunggu nya tapi dia mengantikan posisi ku begitu saja , tapi dengan gampang nya laki-laki itu berbicara tentang hubungan kita dan pernikahan , umur nya sudah dua puluh sembilah tahun , tapi kenapa dia belum dewasa dalam bersikap ," Lirih Irma , ia benar-benar di buat Zaydan tidak karuan .


Tok..


Tok..


" Ibu ?!"


Suara Sri terdengar di balik pintu , memanggil Irma agar segera membuka kan pintu .


" Masuk aja Sri , nggak di kunci !!" Sahut Irma sedikit berteriak dengan suara yang sudah terdengar bindeng.


Ceklek..


Sri menbuka pintu , perlahan ia berjalan menuju sofa , tempat Irma saat ini berada .


Mata nya melihat ke adaan bos nya yang sedikit acak-acakan , lalu beralih menatap segelas kopi yang masih tersisa setengah .


" Omo !!" Sri terkejut ketika melihat mata Irma yang sudah bengkak dan hidung yang sangat merah .


" Ibu kenapa ?" Tanya Sri yang lansung duduk di sebelah Irma .


" Saya lagi patah hati Sri ," Jawab nya jujur .


Sri pun mengangguk , lalu kembali mengingat perkataan Nur dan Fina yang berbicara soal pria yang meminta alamat rumah Irma .


" Sri , saya tidak akan menanyakan pendapatan toko hari ini , tapi bisakah kamu menginap malam ini saja ?" Cicit Irma pelan sambil menatap Sri .


" I-iya bu , Sri nginep malam ini ," Sahut nya sambil tersenyum .


Kalau aku bilang tidak , bagai mana kalau bu Dara bunuh diri ?! banyak yang bunuh diri gara-gara patah hati bukan ?. Pikir nya sambil bergidik ngeri .


Bersambung ...


AUTHOT GAK BAKALAN CAPE NIH BUAT INGETIN LIKE ,VOTE SAMA KOMEN NYA YAH 🄰.