
...~ KISAH MELI DAN REZA ~...
*
"Saya terima, nikah dan kawinnya Meliana Putri binti Anwar Sanusi. Dengan mas kawin tersebut, tunai,"
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah,"
"Sah."
"Alhamdulillah,"
Setetes air mata jatuh di ujung mata Pak Anwar kala keinginan terbesar nya sebelum dia pergi terpenuhi. Yaitu, menikahkan sang putri satu satunya dengan pria yang ditakdir oleh tuhan untuk menjadi pendamping hidup putrinya.
Meli meraih tangan Reza untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi pasangan suami istri, lalu mencium punggung tangan itu dengan takzim.
Reza sendiri membalas dengan satu kecupan dikening Meli dan hal itu mampu membuat tubuh Meli meremang dan menegang secara bersamaan.
Tidak ada dekorasi indah nan mewah, tidak ada cincin pernikahan yang di desain khusus untuk acara sakral itu dan tidak ada juga kebaya akad yang biasa dipakai oleh para mempelai wanita dalam menyambut hari bahagianya bersama dengan sang kekasih.
Malam itu, Meli dan Reza hanya mengenakan pakaian muslim couple yang itu pun dipinjamkan oleh salah satu tetangga nya untuk acara akad nikah dadakan itu.
Berhubung hari sudah malam. Maka pernikahan itu pun di adakan dengan persiapan seadanya. Namun meski begitu, acara sakral itu terlaksana dengan penuh kehikmatan.
Akhirnya Meli melepas masa lajang nya di penghujung nafas sang ayah. Dan satu jam setelah acara akad nikah itu berlangsung, Pak Anwar pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya didepan anak dan menantunya.
Tangis Meli pun pecah seketika tanpa bisa dibendung lagi. Bahkan wanita yang baru saja menyandang status istri itu berkali kali pingsan saat menyadari jika sang ayah telah berpulang ke Rahmatullah.
Reza pun begitu setia dan sigap membawa tubuh sang istri yang lagi lagi terkulai tak berdaya di pangkuan nya. Tidak ada kata lelah untuk pria itu, bahkan semalaman tidak tidur pun pria itu tetap menyambut para pelayat dengan senyum ramahnya saat pagi menyapa.
"Tabahlah,dengan kamu yang begini akan membuat Bapak pergi dengan tidak tenang. Ikhlaskan kepergian Bapak, agar Bapak bisa istirahat dengan tenang. Ada aku disini yang akan menggantikan beliau, kamu tidak sendirian sayang," ucapan lembut penuh dengan kasih sayang yang diucapkan oleh Reza seketika menyadarkan Meli dari keterpurukan nya.
Meli menatap manik mata yang juga kini tengah menatapnya penuh dengan kelembutan. Seketika itu juga, Meli langsung berhambur masuk kedalam pelukan pria yang sudah beberapa hari ini menjadi suami dan imam untuk nya.
"A_apa Bapak akan marah jika aku terus menangis Mas? Tapi sekarang aku sendirian Mas," lirih Meli yang akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya setelah beberapa hari ini terdiam namun tidak berhenti menangis.
"Ada Mas disini, kamu tidak sendirian. Sekarang kita sudah resmi menikah dan aku akan selalu ada untuk kamu," jawab Reza mengusap lembut kepala Meli hingga kepunggung Meli.
Dan itu mampu membuat Meli merasa tenang, isak tangis nya pun sudah mulai berhenti. Meli benar benar merasa nyaman berada didalam pelukan Reza.
Dia tidak menyangka, jika akan ada pelukan hangat lain nya setelah pelukan hangat sang ayah tidak akan lagi pernah dia rasakan setelah sang ayah pergi untuk selama lamanya.
.
***
.
"Malam ini, aku boleh kan istirahat disini? Diluar dingin jadi tidak bisa tidur," tanya Reza ragu ragu.
Sudah beberapa hari keduanya menikah namun Reza tidak berani tidur dikamar sang istri sebelum adanya ijin darinya.
Bahkan ini pertama kalinya Reza masuk kedalam ruang pribadi wanita itu. Itu pun setelah diminta salah satu tetangga yang kesulitan menenangkan Meli yang terus menangisi kepergian sang ayah.
"Ten_tentu saja boleh Mas. Maaf sudah banyak menyusahkan mu beberapa hari ini," jawab Meli tiba tiba merasa gugup.
"Tidak repot kok, Bapak kan sekarang Bapakku juga. Sudah kewajiban kita sebagai anak memberikan yang terbaik untuk beliau," jawab Reza santai.
Reza pun mulai melepas baju koko yang dia pakai, menyisakan kaos putih polos yang membuat tubuh atletisnya terlihat begitu mempesona.
Dan hal itu semakin membuat Meli gugup dengan detak jantung yang berdetak kian cepat. Tubuh Meli semakin dibuat menegang saat melihat Reza mulai berjalan mendekati ranjang yang tengah dia tempati saat ini.