Guruku Ayah Anakku

Guruku Ayah Anakku
akhirnya


"mas bayi kita gimana?" tanya Anna, baru saja dirinya sadar, tapi yang ia ingat adalah bayinya.


"bayi kita aman, sekarang adek gak perlu hawatir" jawab Zidan, tangan-nya masih memegang erat tangan Anna.


"bak Eliza gimana?" tanya Anna, Zidan masih tak menyangka, padahal Eliza hampir saja merenggut nyawa putranya, namun Anna sangatlah baik hati, gadis cantik itu tak memperdulukan apa yang telah dilakukan Eliza padanya.


"dek berhenti mikirin Eliza, Eliza itu udah jahat sama kamu, bahkan dia hampir saja membuat bayi kita dalam bahaya" ujar Zidan kesal.


Anna mengusap tangan Zidan pelan, "mas, dengerin adek baik-baik, bak Eliza itu gak salah apa-apa, cuman dia hilap karna terpaksa, sebenernya dalam hal ini kita yang harusnya disalahkan, harusnya dari awal kita paham apa yang di inginkan bak Eliza, kalau aja kita paham kalau bak Eliza kesepian, mungkin kejadian ini gak bakalan terjadi" ujar Anna lembut.


sungguh baik dan murni hati Anna, gadis kecil itu membantu orang lain dengan ketulusan hatinya bukan karna ingin dipuji dan disanjung orang lain.



pria itu hanya bisa terduduk kaku, sambil menangkup kedua kakinya, Ardi menangis dalam sunyi.


kalau saja dirinya tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan, mungkin Eliza tidak akan melakukan hal segila itu.


rasa penyesalan itu sangat terasa, kenapa dirinya baru sadar kalau Eliza sangat membutuh dirinya, dirinya benar-benar gagal sebagai seorang suami,


"mas Ardi jangan sedih" suara lembut itu terdengar menyejukan hati, Ardi mengangkat kepalanya, dilihatnya Anna tengah tersenyum manis.


"aku ini pria berengsek, aku telah gagal menjadi seorang suami" ujar Ardi pada dirinya sendiri.


Zidan dan Anna tidak bisa melakukan apa-apa, saat ini ardi sedang ada dalam masa terpuruknya.


"tenang pak, ibu Eliza sudah bisa melewati masa keritisnya, namun keadaanya masih kurang stabil, tubuhnya sangat lemah, kami akan terus berusaha merawat bu Eliza dengan baik" ujar dokter itu, Ardi akhirnya bisa bernafas lega, dia tau istrinya itu bukan wanita lemah, Eliza tidak akan menyerah begitu saja.


"dan ada sebuah kabar baik" timpal dokter itu.


"apa itu dok?" tanya Anna penasaran.


"ukuran pisau buah itu tidak terlalu besar, dan tidak melukai organ pitalnya, dan yang harus paling disyukuri adalah, janin ibu Eliza tidak apa-apa, walaupun pisau itu menggores rahimnya, tapi janin ibu Eliza tidak terluka" ujar dokter itu.


"janin?" tanya Ardi tak mengerti.


"iya pak, janin ibu Eliza tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi" ujar dokter itu lalu melenggang pergi.


"selamat, bak Eliza hamil" seru Anna bahagia.


janin?, hamil?, Ardi masih tidak bisa berpikir jernih, apakah Eliza tengah mengandung?, sebuah senyuman terlukis jelas diwajahnya, setelah penantian-nya selama tiga tahun, terbayar sudah.


namun dalam senyum bahagianya, ada sebuah rasa bersalah yang sangat besar, harusnya dia menyadari sejak dulu, walaupun hubungan-nya dan Eliza kurang baik, tapi Eliza masih bersedia untuk menjadi ibu dari anaknya.


"apakah aku tidak salah dengar?" tanya Ardi masih tak percaya, "iya mas Ardi gak salah, bak Eliza beneran hamil, sebentar lagi kalian akan punya bayi" jawab Anna antusias.


tuhan tak pernah pilih kasih, tuhan telah bertindak adil, akhirnya kebahagiaan itu datang, bayi yang sudah ditunggu-tunggu sejak dari dulu akhirnya hadir.