
"Hallo manis," sapa Dominic tersenyum manis, kedua bibirnya melengkung secara sempurna, membentuk bulan sabit yang sangat menyilaukan. Ia menjulurkan tangannya, seakan menyapa ramah tamah. Ia menatap penampilan Bella yang sederhana, polesan di wajahnya yang tidak berlebihan, memancarkan sinar matahari di setiap sudut tubuhnya.
Bella menatap tangan putih itu dan kekar itu, di lihat kulitnya pun terasa sangat lembut.
"Dominic jangan mengganggunya,"
Tuan Alexander tak suka jika ada yang mengganggu Bella, tanpa ijin dirinya siapa pun tak boleh menyentuh Bella dan itu berlaku untuk putranya.
Dominic menarik kembali tangannya. Dia sengaja menggeser kursinya ke samping Bella, merapatkan kursi itu.
"Dominic!"
Bella merasa risih, ia tersenyum sekilas dan menatap tuan Alexander.
"Aku hanya ingin dekat, Om. Apa salahnya?" tanya Dominic dengan santai sambil menaikkan sebelah alisnya. Melihat Bella, ia selalu teringat dengan mendiang istrinya yang sederhana, namun sayang, cintanya padanya tidak tulus
Tuan Alexander menatap tajam, "Dia tidak tahu masalah mu, jadi jangan mengganggunya."
Dominic tersenyum, ia mengambil sebuah jus di depannya, lalu meneguknya. Karena malam ini ia tidak ingin mabuk. "Begitu ya, tapi aku suka dengan Bella."
"Ya aku menyukainya,"
Bella menatap Dominic dengan bingung, semenjak kapan suka? padahal hanya sekali ia bertemu dan ini yang kedua kalinya.
"Dominic!"
"Om jangan marah, aku datang kesini hanya menyapa Om, masalah masa lalu tidak ada sangkut pautnya dengan Om."
"Bagaimana kabar Om?" imbuh Dominic. Dia mengambil steak daging di depannya, lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil.
"Aku rasa om baik," jawabnya, padahal tuan Alexander mengabaikannya.
Dia menusukkan garpu ke steak daging yang di potong itu, lalu menyuapi ke dalam mulutnya. "Bagaimana kabar Jhonatan? aku rasa dia lupa pada sahabat atau temannya? Oh iya, bagaimana dengan Gladies? apa mereka sudah di karuniai anak?"
Bella meneguk jus di depannya dengan cepat, dadanya berdenyut, sesak dari luar dan dalam. Seakan ia tenggelam dan tak mampu bernafas lagi. Pertanyaan Dominic bagaikan ombang yang menerjangnya. Apa lagi menyangkut anak, benar, anaknya tidak akan di akui.
"Dominic, aku tidak ingin membahas manusia itu," ucap tuan Alexander. Ia melirik ke arah Bella yang terasa tak nyaman. "Kalau kau mau makan, makanlah dan jangan mengganggu."
"Oh, baik," ucap Dominic dengan patuh. Dia melirik ke arah Bella yang menunduk dan tersenyum.
Akhirnya makan malam itu berlangsung nikmat kembali, meskipun Bella merasa tidak nyaman, namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.
"O iya, aku memberikan mu kartu nama, tapi kenapa tidak menghubungi ku? oh, jangan bilang kau takut jatuh cinta pada ku, kan?" ucap Dominic sedikit menggoda, dia terkekeh seperti ada hal yang lucu, wajah Bella yang menggemaskan, ingin sekali ia mencubit hidungnya.
"Bella kau bertemu dengan Dominic?" tanya tuan Alexander, ia kesal dengan penyelidikan Theo yang melewati pertemuan keduanya. Bagaimana kalau Dominic berencana mencelakai Bella?
Dominic selalu tersenyum, cukup mengesankan, tuan Alexander cepat tanggap.
"Iya tuan, saya permisi dulu," ucap Bella berlalu pergi. Padahal ia belum menjawab, sudah di suruh pergi.
Kini tinggal lah Dominic dan tuan Alexander. Keduanya langsung memasang ekspresi serius, ruangan itu semakin panas. Seakan keduanya telah siap berperang dan saling mengeluarkan aura panas.
"Apa mau mu?"
"Aku mau Bella,"
"Dominic, jangan pernah menyentuh Bella, dia tidak ada sangkut pautnya dengan mu."
"Benar, hidupnya di buat menderita oleh putra mu, kan?"
"Kau menyelidikinya?"
"Jauh sebelum anda datang kesini, aku merasa penasaran dengan kehidupan Jhonatan yang telah menghancurkan pernikahan ku, ternyata dia memang laki-laki bajingan," ucap Dominic. Dia begitu lancar menjawab setiap pertanyaan tuan Alexander, baginya sudah hal biasa menghadapi tuan Alexander, namun kali ini benar-benar menarik. Tuan Alexander benar-benar melindungi Bella.
"Apa keistimewaan Bella? padahal mereka sama-sama dari rakyat biasa?"
"Jaga bicara mu, aku hanya menyukai menantu ku yang satu ini dan aku berniat akan membawa dia pergi dari kehidupan Jhonatan. Masalah masa lalu mu, aku tidak berniat membela Jhonatan, tapi tidak sepenuhnya salah Jhonatan, karena Jhonatan tidak menyukai istri mu, hanya istri mu lah yang memendam cinta."
"Maka dari itu aku akan merebut Bella, serahkan Bella pada ku, aku akan membahagiakannya."
Tuan Alexander menggeleng, ia tidak berani mengungkapkan kehamilan Bella karena Bella belum berada di pengawasan yang ketat, meskipun ia menyuruh 1000 pengawal untuk menjaga Bella, karena bahaya bisa datang dari mana saja.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkan Bella pada siapa pun. Dia bukan barang dan alat untuk balas dendam."
Tuan Alexander berdiri. "Selesaikan urusan mu dengan Jhonatan, kalian berteman. Kalau Jhonatan memiliki niat buruk, ia pasti membawa istri mu, tapi ia tidak, baginya hanya Gladies, dan sudah terbukti, Bella hanya di permainkan. Jadi aku anggap, pertemuan kali ini yang terakhir. Kalau kau mencoba menyakiti Bella, aku tidak akan tinggal diam. Sekalipun kau kabur ke ujung dunia, aku akan menemukan mu."
Dominic menggeram kesal, ia frustasi. Bagaimana caranya ia menembus pertahan kakek tua itu? tuan Alexander sangat susah dan mudah di tebak. Bisa-bisa ia jatuh ke perangkap sendiri.
"Aku hanya kasihan, kenapa dia bisa melahirkan anak brengsek seperti Jhonatan? Ah, aku harus memikirkan bagaimana caranya meyakinkan tuan Alexander."
###
"Silahkan masuk tuan," ucap Bella. Dia turun kembali dari mobil hitam itu untuk melayani tuan Alexander.
"Tidak perlu seperti ini, aku bisa sendiri. Memangnya kau pikir aku sudah tua rentan," ucap tuan Alexander.
Bella terkekeh, "Tidak, justru tuan bisa di katakan sama seperti Jhonatan, ah maaf, maksudnya tuan Jhonatan," ucap Bella meralat ucapannya.
Pintu mobil itu pun di tutup rapat dan siap membelah keramain jalan di Ibu Kota. Tuan Alexander menoleh. "Bersiaplah, besok kita akan meninggalkan kediaman Jhonatan."