
Seluruh pasukan manusia mulai menyusup ke dalam portal, mereka berbondong-bondong menginvasi Alfheim dengan tujuan untuk mencuri buah suci yang ada di sana.
"Ayo semuanya semangat!!!"
"Kita ambil buah suci itu!!!"
Mereka berlari dengan sangat kencang sehingga suara hentakan kaki mereka terdengar menggelegar ke seluruh tempat.
"Hmmm..."
"Hiaaaa!!!"
Para peri yang berada di sekeliling altar tiba-tiba terkejut, mereka mendengar suara-suara bising yang seketika muncul begitu saja.
"Saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman!"
"Ada apa ini?"
Tidak lama kemudian mereka melihat burung-burung terbang berhamburan dari arah selatan, hewan-hewan lain seperti rusa dan antelop juga ikut berlarian seakan mereka menjauh dari sesuatu.
"Maju!!!"
Suara itu semakin lama terdengar semakin keras, tanah pun ikut bergetar cukup kuat seperti gempa bumi.
"Ghhhhh....."
"Lihat, Para Guardians!"
Tiba-tiba dua bintik cahaya biru memancar dari bongkahan batu besar yang ada di depan para peri, batu itu pun mulai bergerak dari tempat asalnya membuat getaran kecil di sekelilingnya, perlahan tampak wujud sebuah makhluk besar yang berdiri tegak yang menyerupai manusia, golem itu memiliki sebuah permata kecil di tengah dadanya yang memancarkan cahaya terang.
Tidak lama kemudian sebuah tunggul pohon ikut bergerak, akar-akar yang menancap ke dalam tanah terangkat ke atas, sulur-sulur yang membalut tunggul tersebut tumbuh dengan sangat cepat, akar-akar tersebut mulai membentuk sebuah organ tubuh, di atas kepalanya tumbuh sebuah bibit pohon kecil yang memancarkan cahaya hijau terang, dengan ujung lengan yang runcing menjadikannya tampak seperti kuku yang tajam.
Para guardians tersebut terbangun dari tidur mereka, menatap tajam ke arah sumber suara yang mendekat ke arah mereka.
"Ini gawat!!"
"Ada penyusup!!"
Semua peri yang ada di sana pun mengerti alasan bangkitnya para guardians, mereka mempunyai firasat buruk tentang hal itu.
"Semuanya bersiap!!"
"Segera lindungi pohon kehidupan!!"
Fiuit~
Para peri pun segera membubarkan diri, beberapa diantara beriul dengan keras seakan mencoba memanggil seseorang.
Dari arah lain mulai berdatangan hewan mamalia dengan berbondong-bondong menanggapi panggilan tersebut, sebagian besar dari mereka adalah hewan karnivora seperti singa, harimau, dan macan tutul, sedangkan yang lain adalah hewan-hewan bertubuh besar seperti gajah dan badak.
Para hewan tersebut membentuk sebuah pasukan besar yang berbaris di belakang para guardians, mereka melindungi pohon kehidupan dari bahaya yang datang.
Dari kejauhan mulai tampak sebuah pasukan manusia dengan jumlah yang sangat besar sedang mendekat, tidak salah lagi mereka adalah para penyusup yang ingin menginvasi Alfheim.
"Para manusia itu tidak pernah menyesal!"
"Jangan biarkan para manusia itu mencuri buah suci!!"
"Dan lindungilah yang mulia!!"
Tujuan para manusia menyusup ke Negeri Peri adalah karena mereka ingin mencuri buah suci, yang dipercaya dapat memberikan kekuatan yang sangat dahsyat.
Manusia selalu berkeinginan untuk menjadi yang terkuat, maka dari itu mereka akan melakukan segala cara untuk bisa meraihnya.
"Serang!!!"
"Bunuh semua orang yang menghalangi jalan kita!!"
"Hiaaa!!!"
Pemimpin kesatria itu menarik pedang miliknya dari dalam sarung dan mengarahkannya ke depan, dengan suara yang lantang, ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang.
"Grrrraaa!!!"
Para guardians pun sudah siap menyerang, kemudian golem batu tersebut memukul tanah dengan sangat kuat menciptakan retakan tanah yang menjalar dengan sangat cepat.
"Ghhaaa....."
Tiba-tiba di depan para pasukan manusia muncul gundukan-gundukan batu yang runcing dari dalam tanah, batu-batu tersebut pun menusuk satu per satu manusia yang berada di atasnya.
Hiihhhaaa.......
"Jangan lengah!!"
"Tetap pertahankan posisi kalian!!"
Si pemimpin kesatria dengan cepat menarik tali pengendali kuda miliknya dengan kuat yang membuat kuda tersebut melompat tinggi sehingga ia bisa terhindar dari tusukan batu yang ada di bawahnya.
"Hiiaaa....!!"
Ia bergerak dengan lincah menghindari batu-batu runcing itu tanpa terluka sedikitpun, saat tiba-tiba datang serangan dari arah depan, si pemimpin kesatria itu memiringkan kepalanya sesaat sebelum batu runcing itu menyentuh wajahnya, ia pun memotong batu-batu tersebut dengan pedang miliknya hingga hancur berkwping-keping.
"Horaa!!!"
Para pasukan manusia yang berhasil menghindari serangan batu runcing itu pun kembali membentuk formasi serangan mereka dan bergerak menuju ke arah pasukan peri.
"Semuanya serang!!"
Pasukan peri pun memerintahkan golem kayu untuk maju, diikuti oleh pasukan predator di belakangnya.
Pertemburan besar pun terjadi, kedua belah pihak saling menyerang satu sama lain demi mencapai tujuan mereka masing-masing.
Di dalam ruangan yang sangat rahasia, Elena menggenggam buah suci itu dengan kedua tangannya, ia menatap ke arah buah yang bercahaya itu dengan penuh rasa kagum.
Kemudian perlahan Elena mendekatkan buah itu ke wajahnya sembari membuka mulutnya, ia pun memakan buah suci tersebut, saat Elena menggigitnya, seketika sari-sari buah itu menyembur ke dalam mulut Elena, hal itu membuat ia merasa sangat menikmatinya.
"Bagaimana rasanya yang mulia?"
"Rasanya sangat manis!"
Elena belum pernah memakan buah seenak ini sebelumnya, tampak sangat jelas ekspresinya yang sangat gembira.
"Ahh...."
"Sensasi apa ini?"
Tidak lama kemudian Elena merasakan sesuatu yang mengalir di dalam dirinya, suhu tubuhnya seketika meningkat, seakan darah di dalam nadinya mengalir dengan sangat deras.
"Tidak apa-apa yang mulia, jangan khawatir!"
Seorang peri yang ikut menemani Elena pun mengatakan seauatu kepadanya, ia menyuruh Elena agar tidak perlu cemas.
Perlahan sekumpulan bintik cahaya berwarna hijau, biru, dan jingga menyelimuti tubuh Elena, kemudian di kedua lengan miliknya mulai membentuk sebuah kain.
Bintik-bintik cahaya itu terus berputar-putar di sekeliling Elena dan menciptakan sebuah gaun dengan motif yang sangat indah.
Enam sayap kupu-kupu yang sangat besar juga perlahan tumbuh dari balik punggung Elena, sayap-sayap itu pun berkepak dengan sangat anggun seperti mahkota bunga yang baru saja mekar menghasilkan hembusan udara yang menyejukkan.
"Gaunku?"
"Ini adalah wujud peri milik anda yang mulia!"
"Begitu indah dan anggun!"
Elena pun memandangi tubuhnya dengan ekspresi kebingungan, ia tidak percaya denga apa yang baru saja terjadi padanya.
Sekarang Elena mengenakan sebuah gaun pendek setinggi lutut berwarna hijau muda dengan ornamen permata biru dan jingga yang sangat berkilau, lalu enam sayap kupu-kupu yang sangat besar dengan kombinasi warna hijau zamrud, biru safir, dan oranye citrine yang melekat di punggunya.
Rambut coklat panjang miliknya teruntai dengan sangat rapih oleh sulur kecil yang dihiasi bunga berwarna-warni, hal itu menambah kesan mempesona pada dirinya.
"Hmm?"
"Ada apa tuan?"
Di saat semua orang sedang berfokus pada Elena, tiba-tiba saja Sang Dewa Naga membalikkan pandanganya ke arah lain, tatapan matanya menjadi sangat tajam, Elena yang melihat hal itu pun merasa penasaran.
"Sesuatu hal yang buruk terjadi di luar sana!"
"Eh benarkah?"
Elena dan peri lainnya pun terkejut, tidak ada satupun yang menyadari hal ini sebelumnya.
"Kita harus pergi!"
"Baik!!"
Akhirnya mereka pun pergi dari ruangan tersebut, perlahan pun sebuah suara-suara teriakan mulai terdengar di telinga mereka, hal itu semakin membuat Elena penasaran.
"Apa yang terjadi?"
"Entahlah, tapi sepertinya ada sebuah pertarungan yang sedang terjadi!!"
Mereka hampir sampai di luar pintu kastil, dan suara teriakan tersebut kini terdengar semakin jelas, ada juga suara lain yang bergema seperti suara hewan.
"Yang mulia!!"
"Gawat, kita sedang diserang!!"
Tiba-tiba seorang peri datang kepada mereka dengan tergesa-gesa, peri itu membawa sebuah kabar yang sangat mengejutkan.
"Diserang?"
"Tapi siapa yang melakukannya?"
"Manusia!"
Saat semua orang menanyakan siapa pelakunya, tiba-tiba sang dewa naga menjawabnya dengan sangat tegas, nada bicaranya tampak penuh kebencian.
"Huh?"
"Elena ambilah ini!"
Kemudian sang dewa naga membuat sebuah pedang merah menggunakan darah miliknya dan memberikannya kepada Elena.
"Baik!"
Elena pun menerima pedang tersebut, melihat wajah sang dewa naga yang penuh dengan amarah membuat Elena merasa sedikit ketakutan.
"Wahai serpihan jiwaku!"
"Datanglah, aku memanggilmu!"
Sang dewa naga pun membalikkan badan, dengan suara yang lantang, beliau mencoba memanggil seseorang.
Tidak lama kemudian darah mulai mengalir di bawah kaki sang dewa naga dengan sangat banyak, darah tersebut perlahan menggumpal dan membentuk sesosok naga raksasa dengan sembilan kepala, kedua matanya pun memancarkan cahaya merah terang.
"Grrrraaaa....."
Setelah seluruh tubuhnya terbentuk dengan sempurna, naga itu mengaum dengan sangat keras hingga bergema di udara. Naga itu pun tunduk di hadapan beliau, kemudian sang dewa naga perlahan berjalan mendekatinya.
"Ada hal yang harus aku selesaikan!"
"Maka tunggulah di sini!"
"Tapi jika engkau memaksa untuk tetap ikut, maka aku tidak akan melarangmu!"
Sang dewa naga pun menaiki naga tersebut, kemudian beliau menyampaikan sesuatu kepada Elena, sang dewa naga menatap wajah Elena yang tampak cemas, namun Elena selalu berusaha menyembunyikannya dari beliau.
"Ayo pergi!!"
"Grrraaa....."
Kemudian Hydra membentangkan kedua sayapnya dan mengepakkannya dengan sangat kuat, hal itu membuat angin berhembus sangat kencang, Elena yang terkena hembusan tersebut mencoba menutupi wajanya dengan salah satu tangan, dan saat membuka kembali wajahnya sang dewa naga telah terbang menjauh.
"Tuan...."
Sebenarnya ia ingin ikut bersama beliau, namun kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya, Elena hanya bisa menatap beliau dari kejauhan tanpa mengatakan apapun.
Pertempuran sengit pun terjadi antara pasukan manusia dan pasukan peri, banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
Golem kayu meletakkan kedua tangannya di atas tanah, kemudian perlahan sulur-sulur berduri mulai tumbuh ke dalam tanah, sulur tersebut merambat di dalam tanah dan tiba-tiba muncul ke permukaan.
"Hiiihhaaa....."
Sulur-sulur tersebut pun menjerat siapapun yang ada di atasnya dengan sangat kuat, kuda milik si pemimpin kesatria tersebut terikat oleh sulur tersebut pada bagian kakinya sehingga kuda itu jatuh tersungkur.
"Hiaaa!!!"
Lalu dengan cepat si pemimpin kesatria tersebut melompat turun dari kuda miliknya, ia pun mengayunkan pedang miliknya dengan sangat kuat hingga memotong sulur-sulur yang mencoba menjeratnya.
"Cih!"
"Pengganggu!"
Dari arah samping datang seekor singa besar yang mencoba menerkamnya, namun segera pemimpin kesatria itu pun bangkit dan menghunuskan pedangnya menuju singa tersebut.
"Huuaaaa!!!"
"Khhhh....."
Namun tidak berhenti sampai di situ, dengan cepat golem kayu tersebut melancarkan serangannya kepada si pemimpin kesatria, melihat hal itu si pemimpin kesatria itu mencoba menangkisnya menggunakan pedang miliknya, namun pertahanannya tidak cukup kuat sehingga ia sedikit terlempar ke belakang.
"Menyebalkan!"
"Matilah kau!"
Si pemimpin kesatria itu pun merasa sedikit kesal dengan golem kayu tersebut, ia pun mengambil posisi siap, perlahan partikel cahaya merah mulai berkumpul pada bilah pedang miliknya.
Golem kayu itu pun kembali menyerangnya, ia mengerahkan sulur-sulur miliknya yang menjalar dengan sangat cepat menuju si pemimpin kesatria, kemudian golem tersebut pun berlari mendekat kearahnya.
"Inferno Fire!!"
Kemudian si oemimpin kesatria tersebut menhindari serangan milik golem itu dan mengayunkan pedang miliknya ke depan, pada bilah miliknya bersinar cahaya merah terang yang berkobar bagaikan api, ia pun memotong satu-persatu sulur yang mendekat kearahnya, sulur itu pun seketika terbakar dan hancur menjadi debu.
Namun serangan itu belum berakhir, setiap sulur yang terpotong akan tumbuh kembali dan bergerak, si pemimpin kesatria itu pun terus memotongnya dengan sengat cepat.
"Grrraaa!!"
"Cih!!"
Saat pandangannya terfokuskan oleh sulur-sulur yang menyerangnya, tiba-tiba golem kayu itu pun sudah berada di depannya, tangan miliknya perlahan mulai berubah bentuk menjadi runcing, ia pun mencoba menusuk si pemimpin kesatria itu pada bagian dadanya.
"Hiaaa!!"
Seketika si pemimpin kesatria itu pun menghindar dan melancarkan serangan balasan kepada golem itu, ia mengsyunkan pedang miliknya dengan sangat cepat dan menebas tangan golem tersebut hingga putus.
Kemudian golem kayu tersebut melancarkan serangan instan kepada si pemimpin kesatria menggunakan tangan kiri, namun dengan cepat si pemimpin kesatria itu mundur ke belakang sehingga serangan tersebut meleset.
Dari bekas potongan tersebut terdapat kobaran api yang membakar lengan milik golem kayu tersebut, api itu perlahan terus merambat ke lengan bagian atas, sebelum seluruh tubuhnya hangus terbakar, golem tersebut pun memutuskan pangkal lengan miliknya sehingga api tersebut tidak bisa menjangkau bagian tubuh yang lain.
"Grraaaa......"
"Oh, kau masih ingin bertarung?"
Dengan hanya satu lengan tersisa, golem tersebut masih berdiri tegak di hadapan si pemimpin kesatria.
Perlah dari bagian lengan yang hilang mulai tumbuh akar-akar yang merambat membentuk sebuah lengan baru, seperti sebuah cabang pohon yang tumbuh di atas tunggul yang lapuk.
"Sesuai permintaanmu!"
"Aku akan menghabisimu di sini!!"
"Grraaaa....."
Si pemimpin kesatria itu mengangkat pedang miliknya ke atas, kobaran api yang ada di bilahnya menjadi semakin besar, hawa panas seketika menyebar ke segala arah membuat rumput-rumput di sekitarnya terbakar.
Api adalah penangkal alami bagi kayu, hal itu membuat pertarungan tersebut sangat menyulitkan untuk golem, karena setiap serangan yang dilancarkannya akan hangus terbakar oleh api yang berkobar.
Namun golem kayu tidak pernah menyerah dan tetap mencoba melindungi pohon kehidupan dari para manusia hina itu.
"Hei, lihatlah!!"
"Waah....."
Dari kejauhan tampak sebuab pasukan burung yang berbondong-bondong terbang memenuhi langit, seketika semua orang menoleh ke atas, mata mereka terbelalak menatap ke arah awan hitam yang menyelimuti langit.
"Awas!!!"
Tiba-tiba sebuah benda jatuh dari atas langit menghujani bumi, itu adalah batu yang dibawa oleh para burung, batu itu berjatuhan menghantam apapun yang ada di bawahnya.
"Khhhaaa......"
"Aaghhhh......"
Seketika semua orang berhamburan mencoba menghindar dari serangan tersebut, namun burung-burung itu terus berdatangan silih berganti menjatuhkan batu yang dibawanya ke arah pasukan manusia dengan brutal.
Satu persatu prajurit berjatuhan di tanah karena tertimpa batu yang mengenai kepala mereka hingga hancur.
"Sial!!"
"Rock Dome!!"
"Hiiaaa!!"
Saat si pemimpin kesatria itu menoleh ke atas, ia melihat batu yang berjatuhan menuju ke arahnya seketika si pemimpin kesatria itu pun mencoba menghindarinya, sesaat sebelum batu itu jatuh mengenainya, tiba-tiba seseorang datang kepadanya dengan membawa perisai yang sangat besar.
Kemudian orang itu menghentakkan perisai besarnya ke tanah dengan sangat kuat, seketika sebuah gundukan tanah menjulang ke atas langit membentuk sebauh kubah yang melindungi mereka dari batu-batu tersebut.
Setelah hujan batu itu berhenti, kubah yang menyelimuti mereka perlahan runtuh, mereka pun keluar dari tempat perlindungan tersebut dan kembali bersiap.
"Komandan, hati-hati!"
"Khhh....."
Saat si oemimpin kesatria itu sedang terfokus kepada golem kayu, tiba-tiba sebuah serangan datang dengan cepat dari arah samping, seketika si pemuda yang membawa perisai tersebut segera menangkisnya, serangan tersebut ternyata berasal daro golem batu yang dstang menyerang mereka.
Pemuda itu menahan dengan sekuat tenaga pukulan dari golem batu, dengan perisai yang berat ia harus melindungi si pemimpin kesatria dari serangan golem tersebut.
"Komandan, serahkan saja hal ini padaku!!"
"Baiklah!!"
Kemudian prajurit tersebut menghempaskan golem batu ke belakang hingga ia terpental cukup jauh, lalu prajurit itu pun meminta si pemimpin kesatria untuk terus melanjutkan pertarungannya, ia akan senantiasa membantunya dari belakang.