Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
20. Daniel Di Rumah Orang Tua Karen


Diam-diam hati Karen mengagumi wajah tampan dan badan tinggi Daniel.


Pria itu kembali lagi pada makanannya.


Karen melirik Daniel yang tak kunjung bicara. "Niel?"


"Ya?"


"Ehm ... kamu udah lama kerja di rumah sakit Keluarga Bahagia?"


"Iya."


"Enak nggak kerja di sana?"


"Enak," jawab Daniel tanpa melihat lawan bicaranya itu.


Duh Gusti, ngomong apa lagi aku ya? (Karen).


"Jadi dokter gajinya berapa sih?" Karen mulai menanyakan hal yang memprovokasi.


Kenapa tanya gaji? (Daniel).


Daniel mendongak dan memandang Karen.


Yes berhasil, ayo jawab. (Karen).


"It's not proper to talk about salary."


Hah, sialan! Tapi aku kan calon istrimu, harusnya boleh kan nanya gaji? Ayo Ren, putar otak lagi, tanya apa yang bisa bikin dia ngomong panjang lebar. (Karen).


"Ehm, boleh tahu nggak, kenapa kamu mau dijodohin sama aku?"


"Karena ... keluargaku minta aku menikah."


"Terus, kenapa kamu milih aku? Kan ada dua kandidatnya?"


"Nggak tahu."


Apa aku salah pilih? Dia kayaknya nggak ada ketertarikan sama aku. Jangan-jangan dia milih aku pakai metode ngitungin kancing baju. (Karen).


Tidak lama kemudian, Daniel berkemas dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit kagi karena jam sudah menunjukkan pukul 12.45. "Maaf, aku ke rumah sakit dulu," kata Daniel sambil berlalu.


"Iya, hati-ha-" Belum sempat Karen menyelesaikan kalimat, Daniel sudah jauh "-ti calon suamiku ...."


Karen juga kembali ke kantornya. Dalam perjalanan dia terus gelisah memikirkan calon suaminya itu.


Seharusnya aku mau menikah itu jadi sesuatu yang membahagiakan kan? Kenapa baru ketemu calon suami aja rasanya kayak neraka gini ya? (Karen).


Sampai di kantor, Karen langsung mendatangi Inda. "Cat Woman, aku mau tanya sesuatu."


"Apa, Bos Black Widow? Serius banget kayaknya."


Karen memikirkan bagaimana agar dia bisa bertanya tanpa ketahuan oleh Inda. "Ehm, dokter-dokter yang kita lihat waktu makan nasi bakar itu, kamu tahu nggak orangnya kayak gimana sifatnya?"


"Emangnya kenapa, Bos?"


"Nggak apa-apa, penasaran aja. Yang berkacamata itu gimana orangnya?"


"Oh Dokter Dion, dia itu orangnya usil dan jahil. Aku diceritain sama temen kosku dulu." Inda menatap Karen. "Bos suka sama Dokter Dion? Jangan lhoh, Bos, dia udah punya istri."


"Enggak kok. Kalau satunya? Dokter Nathan, yang suaminya temen kamu?"


"Kalau dia itu orangnya agak ngeselin kayaknya. Eh, Bos, beneran lho, jangan jadi pelakor lho."


"Ya ampun, ini benar-benar cuma riset sosiologi dan psikologi, jangan mikir yang aneh-aneh gitu deh. Satunya lagi gimana orangnya?"


"Dokter Daniel? Nah itu aku nggak tahu."


Kecoak buntung! Mubazir nanya-nanya, mana udah dikatain pelakor pula! (Karen).


"Soni atau temen kosmu dulu nggak pernah cerita soal dia?"


Inda menggeleng.


Tiba-tiba ponsel Karen berbunyi. Mami Seli menelpon.


"Cat Woman, you out frame! Ada telpon penting."


"Siap, Bos Black Widow!"


📞"Halo Tante."


📞"Karen, tadi gimana makan siangnya? Kalian ngobrol banyak?"


📞"I-iya, Tante. Kami ngobrol banyak."


Bohong, aku doang yang ngomong. Anak Tante kayak tembok. Ya, aku tadi makan siang sama tembok! (Karen).


📞"Syukurlaaah ya Tuhan."


📞"Anu Tante, ini Karen, bukan Tuhan."


📞"Wahahah, bisa aja kamu, Ren. Tante itu khawatir soalnya Daniel itu pendiam sekali, tapi baguslah kalau dia mau ngobrol sama kamu."


📞"Hehehem, iya Tante."


Mami Seli menutup telponnya.


Fyuh, nasibku kenapa begini. Dulu aku kesusahan dapat jodoh. Sekarang udah ada di depan mata, eh calonnya cuek, diem begitu. (Karen).


Karen memegangi kepalanya dan membentur-benturkan di atas meja dengan pelan.


Di luar ruangan, Inda sudah mulai gelisah karena bosnya tidak kunjung menyuruhnya masuk. Dia mengetuk pintu. Beberapa kali diketuk, tidak ada jawaban. Inda pun masuk.


"Bos Black Widow, astaga kenapa? Jangan benturin kepalanya nanti sakit," kata Inda sambil berlari mencegah bosnya membenturkan kepalanya lagi.


Si Bos kumat lagi. (Inda).


"Hey, aku ini Black Widow. Beginian nggak bakal bikin aku sakit!"


Tapi hatiku yang sakit :(. (Karen).


***


Karen tiba di rumah orang tuanya. Mobil Daniel sudah ada di sana. Sebelum menapakkan kaki memasuki rumah, Karen berdiri di depan pintu, memejamkan mata, mengumpulkan semua kemampuan acting untuk berpura-pura bahagia.


Setelah helaan napas panjang entah yang ke berapa, dia pun masuk. Karen terkejut karena hanya Daniel yang ada di sana. Lelaki itu sedang memandangi foto-foto keluarga Karen di dinding.


"Eh ... hai, Niel."


Daniel mengangkat alisnya.


"Mama sama Kendrik mana?"


Daniel menunjuk ke arah dalam.


"Di dapur?"


Daniel mengangguk.


Bisa nggak sih nih orang jawabnya kayak manusia pada umumnya? (Karen).


Karen langsung masuk ke dapur. "Mamaaa ...," sapa panjang Karen kepada Mama Puri.


"Sini, Ren, icipin masakan Mama!"


"Kok masak sendiri? Nggak beli aja, Ma?" tanya Karen sembari mencicipi masakan ibunya.


"Hari ini kan yang makan malam dengan calon menantu, harus Mama sendiri yang masak."


Mendengar kata 'calon menantu', telinga Karen serasa seperti dimasuki lalat. Dia langsung memutar bola mata ke atas sembari mengorek-orek telinganya dengan telunjuk. Mama Puri tidak menyadari hal itu karena putrinya sudah beringsut mundur dari depan kompor.


"Kendrik mana?"


"Tadi di kamar. Eh, sana, kamu bikin teh terus ngobrol dulu sama calon mantu kesayangan Mama, heheh."


"Kesayangan?"


"Iya dong, calon suami anak pertama yang bakal mempersunting kamu akan jadi mantu favorit."


Kini, kata 'mantu favorit' yang membuat telinga Karen gatal lagi. Dia menggosok-gosok telinganya.


"Kenapa, Ren?"


"Ga-gatal, Ma, ada nyamuk tadi."


Karen menuruti perintah sang ibu untuk membuat teh. Dia pun membawa teh itu ke ruang tamu. Didapatinya sang calon suami sedang mengobrol dengan adik lelakinya.


"Oh, jadi Kakak ini dokter?" Kendrik takjub dengan profesi Daniel.


Daniel mengangguk sembari tersenyum.


"Dulu kuliahnya di universitas mana?"


"Universitas Vanguard."


"Wah, sama, aku juga kuliah di sana. Tos, Kak!" Kendrik mengangkat tangan kanannya ke udara, disambut oleh tangan Daniel yang menepuk tangan Kendrik.


Melihat interaksi akrab itu Karen tersenyum. Sepertinya, adik lelaki kesayangannya menyukai calon kakak ipar.


Kendrik suka ya? Aku juga akan berusaha suka dan cinta sama Daniel. (Karen).


"Ini tehnya, Niel." Karen menyela keasyikan Kendrik dan Daniel.


Daniel mengangguk.


"Koreng, buat aku mana?"


"Bikin sendiri!"


Kendrik pun masuk ke dalam dengan raut wajah kesal. Di ruang tamu, tinggal Daniel dan Karen. Mereka terdiam beberapa saat.


Kayaknya kalau aku nggak ngomong duluan, dia nggak bakal ngomong deh. (Karen).


"Minum, Niel!"


Daniel meminum tehnya.


"Ehm, asyik banget tadi kamu ngobrol sama Ken."


Daniel mengangguk.


"Ngobrolin apa?"


"Banyak."


Karen menghela napas yang sangat panjang sembari menatap Daniel.


Kalau kamu mau batalin perjodohan ini juga nggak apa-apa, kamu kelihatan kesal sekarang. (Daniel).


Daniel pasrah saja karena sudah pernah dia alami. Menikah adalah sesuatu yang terlalu mewah untuknya dan terlalu jauh di luar jangkauannya. Dokter itu kemudian meraih album foto yang terletak di rak di bawah meja ruang tamu itu.


"Kok nggak ijin dulu mau lihat album foto?" Karen memprotes aksi Daniel.


Dokter itu menatap Karen merasa aneh. "Ini ada di ruang tamu berarti si pemilik rumah membolehkan siapa pun untuk melihat foto ini karena ruang tamu adalah ruang paling publik di sebuah bangunan rumah."


Karen takjub mendengar Daniel berbicara agak panjang untuk pertama kalinya.


Ha? Nggak salah denger? (Karen).


To be continued...


Jogja, April 20th 2021


***


hai readers, mohon bantuan untuk like, gift dan vote ya. dan jangan lupa komennya. terimakasih.


find me on Instagram: @titadewahasta


find me on YouTube: Tita Dewahasta