DRUCLESS [SUDAH TERBIT]

DRUCLESS [SUDAH TERBIT]
Brotherhood


~We are the devil in some person's story, but it's okay.~


♥♥♥


Seorang pria tampan sedang memperhatikan tubuh lemah pria yang terbaring tak sadarkan di depannya, itu adalah Raefal. Tubuh Raefal diletakkan diatas meja makan. Pria itu mendecih kesal. Tidak lain dan tidak bukan, dia adalah Daeriel.


Pria itu mengepalkan tangannya geram, "Seharusnya dari awal gua jadi anak tunggal, Raef."


Daeriel mengibaskan jubah merahnya kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Kedua matanya yang sayu tertutup.


"Gua gak suka lihat lo punya sesuatu yang gak gua punya. Gua benci ngeliat lo mendapatkan apa yang gak bisa gua dapet. Padahal jelas, gua kakak lo yang seharusnya punya lebih banyak dari lo." Daeriel membuka matanya dan menatap lurus.


"Kenapa juga waktu itu lo gak mati?"


Seseorang mengetuk pintu rumah besar itu. Perhatian Daeriel teralihkan ke pintu. Pria itu mendengus kesal karena ada yang berani mengganggunya disaat seperti itu.


"Manusia atau bukan, ya? Kalo manusia, gua bunuh aja." Daeriel beranjak dari kursi dan menarik knop pintu dengan kasar.


Pria itu mengerutkan keningnya melihat keberadaan gadis asing yang datang ke rumahnya. Gadis itu adalah Trissya. Dia menunduk dalam karena takut melihat Daeriel.


Pria itu menatap Trissya dengan tatapan tak terbaca. Kedua kaki gadis itu gemetar. Daeriel bisa menyadarinya.


"Lo siapa?" Tanya Daeriel. Gadis itu terhenyak dengan pertanyaan Daeriel yang setengah membentak. Trissya menunduk dalam.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Trissya membuat gadis itu mundur. Daeriel menatap Trissya dengan tajam, "Gua mencium bau Raefal."


Tiba-tiba seseorang memukul kepala pria itu dari belakang. Raefal yang melakukannya. Daeriel jatuh tidak sadarkan diri. Raefal membuang asal kayu itu. Mereka berdua segera memasuki rumah tersebut. Trissya dan Raefal menemukan tubuh Raefal yang terbaring di atas meja.


Trissya melihat pria itu memasukkan diamond itu ke mulut Raefal yang terbaring.


Gadis itu mengalihkan pandangannya sambil menutup mulut menahan mual. Raefal tersedot ke dalam tubuh itu. Trissya mendekat untuk memastikan jika Raefal baik-baik saja.


Gadis itu terlonjak karena tiba-tiba Raefal memegang pergelangan tangannya.


"Kamu udah ngerasa baikan?" Tanya Trissya. Raefal membuka matanya. Gadis itu melihat manik biru gelap milik Raefal yang sedikit bergetar. Trissya melihat cermin di samping meja. Kali ini dia melihat pantulan tubuh Raefal. Gadis itu bisa menghela napas lega.


Sementara Raefal merasakan kepalanya seolah-olah berputar. Banyak ingatan yang muncul. Semuanya terlihat seperti potongan film.


"Daeriel adalah pangeran mahkota yang akan segera dinobatkan menjadi raja baru," kata sang raja. Di depannya ada Raefal dan Daeriel yang berdiri tegak. Ibu suri menghampiri sang raja, "Yang mulia, aku khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya. Daeriel memiliki kekuatan yang besar dan berbahaya. Drucless akan ketakutan padanya. Kenapa kau tidak menjadikan Raefal saja sebagai raja?"


Daeriel menautkan alisnya dan menatap tajam kearah Raefal. Sementara Raefal tetap pada posisi.


"Elleanor, kedua pria itu adalah putramu. Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini? Akan lebih bagus jika para drucless merasa takut pada Daeriel. Kekuasaanku akan semakin besar!" Bentak raja.


Elleanor berjalan ke depan raja, "Raja Baltazar, aku ingin kau mempertimbangkan ini."


Raja Baltazar menatap istrinya dengan serius, "Keputusanku sudah bulat, Daeriel akan menjadi raja setelah aku!"


Elleanor menggeleng pelan. Raja Baltazar menatap Raefal, "Aku sudah menemukan pendamping yang baik untuk Daeriel. Tidak boleh ada yang menghalangiku."


Raefal mengerutkan keningnya. Daeriel tersenyum sinis sambil berlalu menyusul sang ayah. Elleanor menatap sendu putranya.


Trissya memiringkan kepalanya menatap Raefal yang terhenyak dari lamunannya. Kedua mata pria itu kembali normal.


"Aku udah bantuin kamu. Aku mau pulang, kita gak usah ketemu lagi, ya. Aku bakalan ngelupain kejadian ini, kok."


Setelah mengatakan itu, Trissya berlalu. Raefal menatap punggung Trissya yang semakin menjauh. Pria itu turun dari meja. Namun dia tersungkur jatuh, karena badannya masih lemah. Trissya menoleh dan terkejut melihat Raefal di lantai. Dia melihat Daeriel yang masih belum sadar. Trissya kebingungan, antara membantu orang lain, atau meninggalkan demi keamanannya sendiri.


Namun, Trissya tidak tega juga. Dia menghampiri Raefal dan membantunya bangkit, "Setelah ini, selesai, oke?"


♥♥♥


 


 


Raefal menatap wanita cantik yang berada di bawahnya dengan tatapan sendu. Wanita itu tersenyum sayu, "Aku bisa mengantisipasi kekuatan Daeriel. Percayalah, aku akan menjaganya dengan baik."


"Lalu bagaimana denganku? Kamu bakalan ninggalin aku?" Tanya Raefal. Wanita itu menangkup wajah tampan Raefal, "Demi kerajaan Zeroun. Raja Baltazar, ayahmu, telah memilihku sebagai calon istri untuk kakakmu."


Sejenak mereka saling menatap satu sama lain. Wanita itu mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang polos. Raefal mencegah tangan itu, "Aku lebih menyukainya seperti ini."


Wanita itu tersenyum nakal. Raefal mendekatkan wajahnya mengecup lembut bibir wanita itu.


"Hanya aku yang bisa ngendaliin Daeriel," bisik wanita itu lirih.


"Apa yang bisa aku lakukan kalo kamu udah jadi milik Daeriel?"


"Kita bisa melakukan hal yang sama kapan saja."


Wajah mereka mendekat untuk menyalurkan hasrat masing-masing.


Kedua mata Raefal terbuka lebar ketika dia tersadar dari mimpinya. Pria itu melihat keberadaan Trissya yang terlelap di sofa. Raefal menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia masih begitu lemah karena terlalu lama tinggal di dunia manusia.


"Gua butuh pelepasan buat kepulihan gue. Di dunia drucless gua tinggal mandi dan minum di sungai sumber air suci. Sekarang gua di dunia manusia, apa yang harus gue lakuin?" gumam Raefal.


"Kamu harus melakukan hubungan dengan makhluk dari jenis tempat kau berada untuk mendapatkan kembali kekuatanmu. Dengan begitu, kau bisa beradaptasi dengan baik di tempat tersebut."


Tatapan Raefal tertuju pada Trissya. Pria itu menyadari betapa pedulinya Trissya terhadapnya. Padahal mereka tidak terikat apa pun, bahkan mereka baru bertemu untuk pertama kalinya.


Dada Raefal terasa nyeri. Dia menyentuhnya, "Meskipun diamond ini ada di badan gue, tetep aja gue bisa mati karena kehabisan energi kehidupan."


Raefal melangkah mendekati Trissya. Pria itu menatap lekat gadis yang sudah membantunya itu. Tangan Raefal terulur menangkup wajah Trissya. Pria itu bisa merasakan energinya sedikit bertambah.


"Apa gue boleh nyentuh lo? Boleh, ya." Raefal mendekatkan wajahnya. Namun...


seseorang mengetuk pintu. Raefal terkejut dan menoleh. Trissya bergulir dan bangun karena mendengar suara itu. Dia menoleh sesaat pada Raefal yang sudah bangun. Gadis itu berlalu sambil sempoyongan menuju pintu. Ternyata ibu Heni, pemilik kontrakan.


Mereka berdua berbincang sebentar. Raefal menatap tubuh mungil Trissya dari belakang. Ibu Heni melirikkan matanya ke dalam dan terkejut melihat keberadaan Raefal. Sementara pria itu segera bersembunyi dibalik dinding.


"Trissya, kamu ngebiarin cowok nginep di kontrakan Ibu?" Tanya wanita itu setengah menggerutu. Trissya terkejut dengan pertanyaan wanita itu. Dia menoleh ke belakang, "Cowok? Cowok dimana, Bu?"


Dengan penuh rasa curiga, ibu Heni memasuki rumah tersebut dan menggeledah seisi ruangan. Trissya tengah menyembunyikan kepanikannya dalam diam. Wanita itu tidak menemukan siapa-siapa.


Ibu Heni menggaruk lengannya, "Sepertinya Ibu salah lihat, deh. Ya udah, Ibu balik ke rumah, ya."


Trissya mengangguk dan menutup pintu. Namun, ibu Heni menahan pintunya. Trissya mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.


"Kamu gak kerja?"


Trissya menggeleng, "Saya lagi gak enak badan, hehe."


Ibu kontrakan mengusap bahu Trissya, "Cepet sembuh, ya."


Gadis itu mengangguk hormat kemudian menutup pintu sambil menghela napas lega. Ketika berbalik, Trissya tersentak kaget dengan keberadaan Raefal yang sudah berada di belakangnya.


"Kamu itu kenapa, sih? Ngagetin terus!" Gerutu Trissya sambil berlalu melewati Raefal. Pria itu tampak salah tingkah. Dia mengikuti Trissya.


"Kamu udah sembuh, kan? Kamu bisa pulang, kan?" Tanya Trissya tanpa menoleh pada Raefal. Pria itu memikirkan sesuatu sambil mendengarkan ucapan Trissya.


"Abad ke-21 mana ada kejadian seperti ini. Aku anggap ini gak terjadi. Kirain kemaren aku mimpi buruk," gumam Trissya sambil berbalik menatap Raefal.


"Bisakan gue tinggal beberapa hari lagi disini? Gue mohon gadis kecil, gua butuh banyak tenaga buat balik ke dunia drucless." Ucapan Raefal terdengar menyayat hati. Trissya mengusap kasar rambutnya.


Gadis itu membuang napas kasar. Raefal memanggil Trissya, "Gadis kecil?"


"Please, kamu udah tahu nama aku. Jangan panggil aku gadis kecil terus," gerutu Trissya. Raefal melirik tubuh Trissya dari bawah ke atas membuat gadis itu gugup.


"Ya, lo emang masih kecil."


"Raefal, aku seumuran sama kamu. Usiaku 22 tahun, tahu!" Gerutu Trissya.


"Usia gue 137 tahun, Natrissya."


Sontak kedua mata gadis itu terbelalak lebar, "A-apa?"


Raefal melipat kedua tangannya di depan dada, "Ya, gue tahu, gue keliatan muda. Karena drucless bisa mencapai usia ribuan tahun."


Trissya menjerit dalam hati, jangan penasaran, Trissya. Lo gak perlu nanya lagi. Dia pria menakutkan yang berasal dari dunia gaib.


"Kamu gak bahaya, kan?" Trissya tetap bertanya karena penasaran.


"Kamu gak bakalan berubah jadi makhluk aneh, kan?"


"Kamu gak bakalan makan aku, kan?"


"Kamu gak bakalan jahatin aku, kan?"


Rentetan pertanyaan dari kepala Trissya keluar semua. Raefal hanya diam.


Hening.


Raefal menghela napas panjang, "Drucless gak makan manusia. Mereka punya kekuatan luar biasa yang terlahir dengan tubuh mereka. Diamond adalah nyawa mereka. Beberapa jam di dunia manusia adalah beberapa hari di dunia drucless."


Trissya mendengarkan dengan baik, "Kekuatan luar biasa?"


Raefal mengangguk, "Misalnya gue, kekuatan gue adalah petir. Makanya pas lu nyimpen diamond itu di bak mandi, gue kesetrum."


Trissya cemberut karena secara tidak langsung, Raefal sedang menyalahkannya.


"Kamu bisa nunjukkin kekuatan kamu?" Tanya Trissya. Raefal mengarahkan telapak tangannya ke cermin. Terlihat kilatan petir dari pantulan cermin itu tanpa suara khas.


Trissya terhenyak, "Oke, oke, udah. Bisa-bisa kamu ngebakar rumah orang."


Raefal menggerakkan kepalanya seperti anggukan.


"Terus kakak kamu kekuatannya apa? Kelihatannya dia itu menakutkan. Apa dia berbahaya?" Tanya Trissya lagi.


"Dia terlahir dengan pengendalian api. Dia juga bisa ngendaliin pikiran siapa pun," jawab Daeriel.


Trissya bergidik ngeri membayangkan wajah Daeriel yang menakutkan, "Dia bisa ngendaliin pikiran manusia juga? Misalnya aku?"


"Asalkan lu gak lihat matanya, lu gak bakalan bisa dikendaliin sama dia," ucap Raefal.


"Itu sebabnya ayah gue menobatkan dia jadi raja. Gak bakalan ada yang berani sama dia," sambung Raefal.


Trissya menatap Raefal, "Kamu gak mau jadi raja?"


Raefal menggeleng, "Gue gak mau jadi raja. Tapi, gua gak terima kalo orang yang gue cintai di jadiin pendamping kakak gue."


"Kamu punya pacar? Siapa namanya?" Tanya Trissya dengan ekspresi kepo.


"Qwella," jawab Raefal.


"Qwella juga bisa mengendalikan pikiran orang kayak Daeriel. Jadi, itu alasan ayah biar Daeriel bisa terkendali dengan baik."


"Qwella pasti sangat cantik," gumam Trissya sambil membayangkan wajah wanita yang berada dalam hati Raefal. Pria itu memperhatikan wajah Trissya.


"Pengendali petir, kok lebay!"


Raefal membayangkan wajah cantik itu, "Qwella sangat cantik, Daeriel aja bisa jatuh cinta sama dia."


Trissya mengangguk mengerti, "Kalian pacaran udah lama? Ngapain aja?"


Raefal melirik Trissya dengan tatapan seolah bertanya, 'Kok, lu kepo?'. Trissya menunggu jawaban Raefal.


"Gua gak inget udah berapa lama sama dia. Soal ngapain aja... ya... lo ngertilah," jawab Raefal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Trissya mengangkat kedua alisnya karena jawaban Raefal yang ambigu.


"Kalian berhubungan badan?" Tanya Trissya dengan polosnya. Raefal mengalihkan pandangannya sambil bergumam pelan, "Gadis kecil ini, kenapa diperjelas?"


Trissya memukul lengan Raefal, "Kamu jahat banget! Qwella itu anak orang, kenapa kamu gak tanggung jawab?! Gimana kalo Qwella yang cantik itu hamil?"


Raefal memegang kedua tangan Trissya, "Berhenti mukulin gue! Ya, itu karena kita emang mau ngelakuinnya."


Trissya berhenti memukul Raefal lalu terkekeh, "Maaf, aku berlebihan, ya?"


Raefal memutar bola matanya. Trissya bangkit dari tempat duduknya dan berlalu, "Aku mau masak dulu, ya."


Raefal menatap punggung Trissya yang menjauh dan menghilang dibalik pintu.


Tiba-tiba Raefal menyentuh dadanya yang sakit, "Kayaknya gue bener-bener dalam fase terlemah. Gua harus mendapatkan energi."


♥♥♥


Istana Zeroun,


Daeriel sedang berada di ruangan pribadinya. Ada Geross yang berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.


"Siapa cewek itu? Ngapain juga si Raefal sama dia?"


Geross menggeleng, "Saya gak tahu, Pangeran."


"Tugas kamu itu di perbatasan antara dunia manusia dan dunia drucless. Mana mungkin kamu gak tahu. Dia juga pastinya datengin kamu dulu sebelum dia mukul kepalaku," kata Daeriel.


Tidak ada jawaban dari Geross. Daeriel mendengus pelan, "Dari kecil dia deket sama kamu, Kakek Geross. Jadi, aku pikir kamu lebih pro sama dia."


"Tidak begitu, Pangeran. Aku tidak pernah membedakan Pangeran Daeriel dengan Pangeran Raefal," sanggah Geross.


Daeriel ingat ketika pertama kalinya dia bertemu dengan Trissya.


Seseorang mengetuk pintu rumah besar itu. Daeriel menoleh dan membukanya, ternyata Trissya.


"Lo siapa?" Tanya Daeriel. Gadis itu tampak takut mendengar pertanyaan Daeriel. Dia menunduk dalam.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Trissya membuat gadis itu mundur. Pria itu menatap Trissya dengan tajam, "Gua mencium bau Raefal."


Tiba-tiba seseorang memukul kepala pria itu dari belakang.


Ketika Daeriel tersadar, dia tidak menemukan tubuh Raefal di rumah itu. Daeriel bangkit sambil menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Ruangan tampak gelap. Dia menatap lilin yang berbenjer di meja. Tiba-tiba semua lilin itu menyala membuat seisi ruangan menjadi sedikit lebih terang. Daeriel yang mengendalikan api agar lilin-lilin di ruangan itu menyala.


"Cewek dari jenis manusia. Apa mungkin Raefal berniat tinggal di dunia manusia dan memanfaatkan tubuh gadis itu buat jadi sumber energinya? Dasar licik," Gumam Daeriel.


Geross tetap pada posisi.


"Mainannya manis juga," gumam Daeriel sambil membayangkan wajah Trissya.


Seorang wanita menghampiri pangeran mahkota. Daeriel menoleh, "Qwella."


Wanita cantik itu mendongkak menatap Daeriel. Rambut panjang berwarna hitam itu menjuntai memeluk tubuh rampingnya. Qwella memiliki sepasang mata sayu membuatnya terlihat begitu seksi. Hidung mancung dan bibirnya merah merekah membuat siapa pun yang melihatnya akan tergoda.


Geross berpamitan kepada mereka berdua lalu melenggang pergi.


"Kemarilah," ucap Daeriel. Qwella menurut. Dia melangkah mendekati Daeriel. Ketika wanita itu berdiri tepat di depannya, Daeriel menarik pinggang ramping Qwella membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Wanita itu merasa sedikit canggung. Dia menahan bahu Daeriel yang kini tengah menatap dirinya dengan seduktif.


Daeriel mendekatkan wajahnya dan mengecup leher Qwella dengan lembut, "Kamu cantik banget malam ini, tidurlah di kamarku."


Qwella menahan dada Daeriel, "Kita belum menikah, kenapa kamu selalu ingin aku melakukan ini?"


Daeriel mendecih karena pertanyaan Qwella, "Berapa kali kamu melakukannya sama Raefal? Kamu seharusnya merasa beruntung karena aku membiarkan ayah menjodohkanku dengan wanita yang sudah melakukan hubungan pertamanya dengan pria lain."


Qwella terluka karena ucapan Daeriel. Dia mengalihkan pandangannya. Pria itu menarik dagu Qwella, "Kamu gak bisa ngendaliin aku. Cuma aku yang bisa ngendaliin diriku sendiri. Kalo kamu gak secantik ini, aku lebih baik milih wanita lain."


Qwella akan bangkit dari pangkuan Daeriel. Namun, pria itu menahan pinggang Qwella. Sejenak mereka saling menatap.


"Kamu pikir aku gak tahu? Kamu berhasil mengendalikan pikiran Raefal biar dia suka sama kamu. Apa yang kamu inginkan dari dia?" Tanya Daeriel.


Qwella menautkan alisnya, "Aku sama Raefal saling mencintai. Aku gak ngendaliin pikiran dia!"


Daeriel mencibir, "Kamu yakin?"


Qwella beranjak dari pangkuan Daeriel dan berlalu. Pria itu tersenyum sinis, "Tenang saja, Raefal sudah bersama gadis lain dari dunia manusia."


Langkah Qwella terhenti. Kedua matanya membulat sempurna.


"Raefal udah gak butuh kamu lagi, Qwella. Gadis yang kemaren sama dia itu cukup cantik, meskipun ukurannya kecil. Tapi, mungkin saja Raefal tergila-gila karena gadis itu bisa membuatnya puas," ucap Daeriel. Kedua mata Qwella sudah berubah warna menjadi putih bening. Dia tidak senang mendengar kabar itu. Kemarahan sedang menguasainya.


Daeriel melangkah menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang. Pria itu berbisik lirih, "Kamu gak perlu khawatir lagi sama dia. Kita akan menikah secepatnya."


Qwella menautkan alisnya, "Secantik apa pun gadis itu, Raefal gak akan penah pergi ninggalin aku!"


Daeriel menjilat leher Qwella membuat gadis itu merinding. Pria itu juga mengecup cuping telinga Qwella, "Kamu gak tahu, apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Mungkin Raefal sedang melakukan sesuatu yang membuat gadis kecil itu menjerit-jerit."


Qwella mengepalkan tangannya karena Daeriel terus-menerus memanas-manasinya. Hati wanita itu seolah terbakar. Padahal apa yang dikatakan Daeriel belum tentu benar.


"Dia tidak mungkin melakukan itu di belakangku!" Geram Qwella. Daeriel tersenyum, "Mungkin saja, lagian kita juga sering melakukannya di belakang Raefal. Dia juga tahu apa saja yang udah kita lakuin."


Qwella melepaskan diri dari Daeriel. Tapi, pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mau melakukannya karena perintah ayah kamu!"


"Kalau begitu, sekarang kamu harus nurut sama aku."


Manik mata Daeriel berubah merah. Taringnya yang tajam mencuat muncul dari balik bibirnya dan mengigit leher Qwella. Wanita itu terbebalak dan berteriak kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri dari Daeriel.


"Aaarrgghh! Lepaskan!"


Pria itu melepaskan gigitannya dan menatap tajam kearah Qwella yang memegang luka di lehernya. Muncul segel berwarna hitam menyerupai tato dari bekas luka itu melilit lehernya. Qwella menatap tajam kearah Daeriel dan mengarahkan telapak tangannya. Air keluar dari telapak tangannya menyerang Daeriel. Pria itu segera menghindar dengan cepat.


Ruangan itu jadi dipenuhi dengan air yang terus menerus keluar dari telapak tangan Qwella. Gadis itu melihat ke sekelilingnya. Daeriel menghilang dari penglihatan Qwella. Hembusan api dari belakangnya membuat wanita itu menoleh. Daeriel adalah drucless pengendali api yang juga mempunyai kecepatan kilat seperti Raefal yang merupakan pengendali petir. Tidak ada siapa pun disana. Qwella mengepalkan tangannya. Dia bisa mengendalikan air dan memadamkan api milik Daeriel kapan saja.


Wanita itu jatuh terduduk sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku sudah memasang tanda kepemilikanku ke leher kamu. Mulai sekarang, kamu udah gak bisa bersentuhan dengan pria lain lagi. Kamu milikku seutuhnya, Qwella." Itu adalah suara Daeriel. Wanita itu memukul lantai tanpa berhenti menangis.


Tiba-tiba Daeriel berada di depannya. Qwella melayangkan tangannya yang dipenuhi air. Namun, tangan itu berhenti. Mata Daeriel yang kini berwarna merah tua menatap tajam kearah Qwella. Kedua mata Qwella juga berubah jadi serupa dengan Daeriel. Pria itu berdiri berbarengan dengan Qwella.


"Kamu tahu, kan, aku bukan drucless biasa. Aku lebih kuat dari kamu. Aku bisa mengendalikan pikiran kamu. Sekarang habiskan malam ini bersamaku," ucap Daeriel sambil mendekatkan wajahnya.


♥♥♥


Keadaan Raefal semakin memburuk di kontrakan Trissya. Sudah beberapa hari pria itu berada disana. Trissya juga kebingungan harus bagaimana. Dia sudah mengetahui beberapa hal tentang drucless dari Raefal. Meskipun semua itu sulit diterima oleh akal sehatnya, Trissya tetap merawat Raefal dengan baik. Bahkan gadis itu rela tidak masuk kerja untuk Raefal yang sama sekali bukan orang yang terikat dengannya.


Ponsel Trissya berdering. Dia melihat layarnya yang tertera nama Bu Tari. Dengan ragu, gadis itu mengangkat panggilan dari pemilik mini market tempat dia bekerja.


"Selamat sore, Bu Tari?"


"Natrissya? Kamu baik-baik aja, kan?" Suara bu Tari dari seberang sana terdengar begitu cemas.


Trissya melirik Raefal yang masih terlelap dalam mimpinya, "Emm, saya sedikit gak enak badan, Bu. Maaf, saya gak masuk kerja. Saya udah nitip pesan sama Alma, Bu. Maaf, saya gak izin langsung sama Ibu. Saya takut ibu marah, hehe."


"Iya, saya udah denger dari Alma. Justru saya khawatir sama kamu. Saya mikir kamu kenapa-napa. Kalo sakitnya parah, kamu pergi ke dokter, ya."


"Ehehe, iya, Bu."


Setelah berbincang cukup lama, percakapan itu pun berakhir. Trissya menghela napas panjang. Gadis itu mendengar suara Raefal yang mengigau.


"Qwella, berhenti."


"Qwella, kita pergi saja."


"Qwella...."


Trissya mengerutkan keningnya. Dia mendekat dan menyentuh dahi Raefal yang panas. Tiba-tiba Raefal memegang tangannya dengan erat. Kedua matanya terbuka menatap Trissya.


"Natrissya," gumam Raefal pelan. Gadis itu mengangguk, "Kamu pengen ketemu sama Qwella, ya? Makanya kamu harus cepet sembuh. Qwella pasti nungguin kamu di dunia drucless."


Raefal menatap gadis itu dengan sendu, "Trissya, aku mohon aku butuh kamu sekarang." Trissya tampak bingung. Dia akan berbicara, namun ketukan pada pintu kontrakannya membuat gadis itu menoleh. Dia berlalu meninggalkan Raefal yang masih terbaring lemah.


"Aku benar-benar tidak kuat lagi. Aku membutuhkan energi dari tubuhmu, Trissya." Raefal menyentuh dadanya.


Pintu dibuka, ternyata Alma dan Chilla. Mereka berdua terlihat cemas. Trissya melirik ke belakang. Dia takut kedua temannya melihat keberadaan Raefal.


"Kak Trissya gapapa, kan?" Tanya Chilla. Alma juga mengangguk seolah menanyakan hal yang sama.


"Emm, kalian boleh masuk."


Mereka berdua memasuki rumah tersebut. Trissya terkejut mendapati Raefal yang sudah tidak ada di sofa. Alma dan Chilla duduk di sofa sambil memperhatikan Trissya yang masih berdiri.


"Duduk dong, Kak. Anggap aja rumah sendiri," ucap Chilla dengan polosnya. Trissya mendelik malas gadis itu. Alma menambahkan, "Iya, masa berdiri terus."


Trissya pun duduk, "Kalian yang bertamu, kalian juga yang nyuruh duduk."


"Tapi, ini bukan rumah Kakak, ini kontrakan. Makanya aku bilang, anggap aja rumah sendiri," kata Chilla sambil tertawa kecil. Alma juga tertawa. Trissya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Kamu keliatannya sehat-sehat aja, Trissya. Besok masuk kerja, kan?" Tanya Alma. Trissya tampak berpikir, "Emm, tergantung besok."


Mereka berbincang dengan santai sambil sesekali bercanda karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


Chilla menoleh kearah jendela, "Hari ini kita pulang sore banget. Kayaknya bentar lagi gelap, deh. Kak Alma, pulang sekarang, yuk."


Alma mengangguk, "Yuk."


Trissya mengantar mereka sampai ke depan. Dia kembali masuk ke rumah dan tidak menemukan Raefal dimana pun. Trissya mulai panik.


♥♥♥


19.40 : 16 September 2019


By Ucu Irna Marhamah