Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
62


"Pras, kirim ini ke Nanda!" Yang Ti menyerahkan setumpuk uang senilai 10 juta ke depan Pras yang sedang duduk di meja makan. Pria itu terkejut dan menoleh.


Ucapan Yang Ti sontak membuat Lestari dan Yuna juga ikut menoleh. Kedua wanita itu heran mendengar keputusan Yang Ti yang agak aneh mengingat Yang Ti sangat perhitungan.


Yuna lebih kaget, sampai dia berhenti menyuapi anaknya. Dia kesal.


Pras mengerutkan kening. "Untuk apa, Buk? Nanda kan udah nikah? Udah punya suami, udah ada yang kasih nafkah—"


"Kalau suaminya Diwa, iya ... Ibuk ndak bakal kuatir apalagi mikir!" Yang Ti menukas seraya duduk di sebelah kanan Pras. Wajahnya terlihat kesal, sejak pengakuan Nuga waktu itu dan Pras menyetujui begitu saja pernikahan cucunya. "Anak e Puji itu emang bisa opo kasih nafkah sebanding Diwa? Jelas hanya dosen ... gajinya sama aja kaya guru sekolah kan?"


Pras menghela napas. "Buk ... Mas Puji kan punya usaha, Nuga itu dosen yang juga nerusin usaha Mas Puji selama Mas Puji di Australi. Ditambah, sekarang Nanda udah jadi mantu Mas Puji, jadi Nanda udah nggak perlu lagi uang dari kita."


"Kamu percaya begitu saja apa kata Puji, Pras?" Yang Ti tidak terima. "Kamu hanya lihat dari luar, hanya dikasih janji kalau Nanda bakal dijatah uang bulanan sama Puji? Usaha opo sih kok sampe seenak iku si Puji?"


"Ya elah, Yang Ti kuper banget!" Celetuk Yuna. "Jaman sekarang cukup lihat hape, urusan beres. Uang masuk tanpa henti walau kita tidur."


Yang Ti mendelik kesal. "Lah opo kamu kerja sama setan? Aku tau hape bisa hasilkan uang, tapi kan ndak tiba-tiba uang itu datang, toh? Tetap usaha dan kerja, lah si Puji ini loh ... udah empat tahun di sana, ndak balik-balik, apa usahanya ndak bangkrut? Apa uangnya ndak di tilep?"


"Ya itu kalau yang punya usaha Yang Ti ... yang perhitungan sama buruhnya, galak, dan cerewet!" Yuna menggeser tubuhnya sedikit memunggungi Yang Ti yang semakin marah. "Kalau Pak De Puji, ya jelas banyak yang loyal. Orang Pak De Puji itu baik kok."


"Kamu itu kalau ndak ngerti mending diem, Yuna! Yang Ti perhitungan dan cerewet itu karena mereka kalau ndak dikasih tahu, bakal semena-mena kerjanya!" Yang Ti meradang. "Pekerja di sini kalau ndak diawasi dengan benar, kita bakal bangkrut! Mau kamu kalau kita jatuh miskin? Mau makan apa kamu sama anak kamu yang makan aja ribet! Tiap hari maunya kentaki, berger, spageti, dan makanan keluaran pabrik terus, sementara kamu pengangguran di rumah!"


Yuna seketika membisu. Benar ... Rachel memang sedikit cerewet sebab sejak kecil terbiasa makan makanan resto. Ya karena mereka berdua sama-sama sibuk. Bahkan suaminya baru pulang dari Lebanon beberapa bulan lalu kemudian menggugat cerai dirinya. Dia juga diberhentikan karena kinerja yang buruk, dan yah, dia memang tidak berkembang selama bekerja. Terlalu sibuk membelanjakan gaji, tanpa ingat mengupgrade kemampuan.


"Sudah, toh ... kok malah jadi ribut." Pras menengahi. Di depan anak kecil, seharusnya semua menahan diri. Dari Yuna, pandangan Pras berpindah ke Yang Ti yang masih menatap marah punggung Yuna. "Uangnya Ibuk pegang saja. Nanda biar jadi urusan saya."


Yang Ti mengubah posisi duduk menghadap Pras, saat itu dia melihat Lestari yang menunduk tanpa melanjutkan pekerjaannya.


"Bapak kamu dulu juga pasti mikir kalau sama Puji nasibmu bakal buruk, to, Les ... makanya sampai kamu diungsikan ke Padang, biar Puji ndak terus-terusan ngejar kamu?!"


"Buk ... sudah!" Pras langsung menukas. "Itu masa lalu, dan ndak perlu dibahas lagi."


Pras mencuri pandang ke arah Lestari yang terus menunduk. Jelas dia tau apa yang istrinya itu pikir kan. Bukan soal dipisahkan dari Puji, tapi Lestari sudah mengingatkan kalau semua akan rumit saat dirinya menyetujui perjodohan anak mereka.


Yang Ti kemudian berdiri. "Kalau sampai cucuku hidupnya dibuat menderita dan dibuat sengsara sama anaknya Puji itu, kamu yang bakal Ibuk salahkan, Pras!"


Tangan Yang Ti melepaskan uang yang masih dipegangnya. "Berikan ini pada cucuku, biar dia ada pegangan dan ndak kesusahan."


"Ndak akan, Buk ... aku berani jamin!" Pras bersikukuh seraya menyerahkan uang itu kembali ke tangan Yang Ti. "Aku yakin Nanda ndak akan kekurangan apapun saat bersama Nuga. Nuga punya segalanya, termasuk kasih sayang, cinta, dan harta. Nanda butuh didengar, bukan dikasih uang. Nanda hanya mau dia menentukan pilihan untuk jalannya sendiri. Dan dengan ndak adanya kabar yang kurang baik, aku yakin, Nanda sudah berada di tangan yang benar."


Yang Ti terdiam. Kemudian tanpa berkata lagi, dia meninggalkan meja makan seraya membawa uang tunai itu. Dia kesal sekali. Jengkel dan rasanya ingin mendatangi rumah Puji untuk memastikan Nanda bahagia. Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana hidup Nanda ditangan duda beranak satu, dan gajinya pas-pasan.


Pras menyeruput kopi yang mulai dingin. Kemudian berdiri menghampiri Lestari. "Jangan dipikirkan omongan Ibuk, ya ... pokoknya percaya sama aku, kalau Nanda akan baik-baik saja selama bersama Nuga."


Lestari menoleh, seraya mengusap air matanya. Dia tampak muak dan lelah. "Mas, sejak awal aku itu ndak mau anak kita harus jadi pengganti. Baik untuk Diwa maupun Nuga! Yuna menolak Diwa dan Nuga, lalu setelah itu, Ibuk yang menyodorkan Nanda sebagai pilihan pada Diwa. Juga kamu sama Mas Puji, yang juga menyepakati Nanda sebagai ganti Yuna! Apa kamu punya anak hanya untuk kamu jadikan boneka?"


Yuna mendengar itu dan kembali kesal. Dia ingin menyela tapi dia sadar posisi saat ini. Dia menolak dua pria itu bukan karena apa-apa, hanya tidak mau disetir dan ikut apa mau neneknya. Hidup itu hanya sekali, menikah juga sekali, lebih baik dihabiskan dengan orang yang disukai. Ya, walau akhirnya, dia bercerai, tapi setidaknya dia lepas dari belenggu Yang Ti.


"Mas ... coba saja dulu kamu tegas menolak Ibuk! Kita ndak akan di posisi ini, kan? Nanda bukan onderdil pengganti, bukan spare part, apalagi pilihan kedua jika yang pertama menolak. Kamu tau ndak seberapa ndak berharganya anak kamu itu di mata mereka? Kita saja ndak menghargai anak kita sendiri, jadi kalau mereka semena-mena pada Nanda itu ndak masalah!" Lestari melanjutkan dengan perasaan kecewa dan menyesal.


"Kamu ndak kasihan sama anak kamu itu, Mas? Bagaimana nasibnya kelak? Hamil duluan, punya anak tiri, masih muda, dan belum punya pengalaman. Coba kasih tau aku bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau bayangan buruk itu terus muncul? Aku mikirin gimana nasib anak kita kelak, Mas!"


Pras langsung merengkuh Lestari dalam pelukan, seolah tahu betapa istrinya ini sangat memikirkan anaknya.


"Aku emang ndak bisa jamin, tapi aku yakin, Les ... Nuga bukan orang yang lepas tanggung jawab begitu saja. Dan hanya Nuga yang berani menantang Ibuk, tanpa rasa takut sedikitpun. Nuga sejauh ini adalah pria yang paling pas mendampingi Nanda. Apa kamu ndak ingat pas masih kecil, Nuga selalu momong Nanda?"


Lestari mendadak ingat, tetapi dia juga tidak terhibur. Itu sudah lama berlalu. Bukan patokan juga. Dan dia di sini hanya bisa menahan resah tanpa bisa berbuat apa-apa. Menggagalkan pernikahan juga bukan ide bagus. Bagaimana anak di perut Nanda nanti?


Pras tersenyum. Dia memang tidak memberi tahu soal kebohongan Nuga yang mengatakan Nanda hamil sampai dia dan Puji bertemu. Setidaknya, para wanita di sini mendapat keyakinan yang sama dengan dirinya soal kebahagiaan Nanda. Dia tahu Nanda pasti akan bahagia. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar.


*


*


*