Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan
Chapter 110


"Itu punya kamu Sutejo. Memang benar punya kamu."


Seorang lelaki tua berdiri di depan pintu. Tentu saja semua orang terkejut. Kecuali Hary. Karena memang Harus lah yang telah merencanakan ini semua.


"Silahkan masuk om." Hary menyambut kedatangan laki-laki tersebut dengan hormat.


"Terima kasih."


Dengan langkah mantab laki-laki itu masuk ke rumah dan kemudian duduk di kursi kosong di ruang tamu tersebut.


"Ayah..Apa kabar." Yanto segera bangkit dari duduknya dan menyalami lelaki tua itu.


Sedangkan Sutejo hanya menunduk. Dia tidak berani memandang wajah lelaki itu. Dia tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya.


"Aku baik Nak. Kamu sendiri bagaimana? Sudah sepuluh tahun tidak ada satupun dari kalian yang mengunjungi lelaki tua ini."


"Maafkan kami ayah." Sutejo dan Yanto berkata bersamaan.


"Akung.. apa kabar."


Arin mendekat dan menyalami sang lelaki yang ternyata adalah kakeknya. Semua orang yang ada di ruangan tersebut bergantian menyalami sang kakek tua.


"Kabar Akung baik cu. Kamu sudah sebesar ini. Kenapa tidak pernah berkunjung ke rumah Akung."


"Maafkan Arin. Arin tidak tahu rumah Akung yang sekarang."


"Baiklah.. baiklah. ini salah orang tua kalian. Tidak pernah mau berkunjung ke rumah orang tua ini."


"Maafkan aku Ayah. Kenapa Ayah kesini. Harusnya istirahat saja di rumah."


"Ayah kemari karena mendengar pertikaian kalian yang tak ada ujungnya. Dan sekalian ingin menghukum kalian karena tidak pernah mau mengunjungi orang tua ini."


Sang kakek yang ternyata orang tua dari Yanto itu, memukul satu persatu kepala orang yang ada di situ.


"Eh Om. Kenapa aku ikut dipukul. Aku kan tidak ikut bertikai."


" Hary.. Kamu juga bersalah. Kenapa tidak berusaha untuk melerai."


"Aku baru bertemu mereka belum lama ini. Bertemu Yanto baru satu bulan yang lalu. Bagaimana aku bisa menyatukan mereka."


"Baiklah.. baiklah. Semuanya biar lebih jelas biar orang tua ini yang menjelaskan."


Semua orang menyimak apa yang akan diucapkan oleh sang kakek. Termasuk Arin dan Bara. Arin mengambil kursi tambahan karena kursi yang ada diruang tamu kurang untuk mereka semua.


"Baiklah dengarkan secara seksama ya. Uhuk.. uhuk.."


Arin buru-buru mengambilkan minum buat sang kakek.


"Akung minum dulu."


"Terima kasih cu. Eh .. ini siapa? Calon kamu ya cu."


Sang kakek bertanya saat melihat Bara. Mendengar pertanyaan kakek semua orang saling pandang. Arin terbatuk-batuk.


"Benar Om.. dia calon cucu kamu. Dia Bara putra bungsuku."


"Eh.. bukan akung. Bukan. . dia dokter yang menolong Arin." Arin menjawab dengan gugup. Dia sangat terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Hary.


Bara hanya tersenyum mendengar jawaban Arin. Dia mengerti sekarang kalau dia memang tidak diinginkan oleh Arin. Begitu juga dengan Hary. Namun mereka hanya diam.


"Anak kamu sudah dewasa ya. Cocok memang jadi cucu menantuku."


",Apaan Akung ikh.. " Arin menjawab malu-malu.


"Bukan kah itu bagus, jika kalian memang berjodoh benarkah nak Bara?"


"Iya Akung." Bara menjawab sambil tersenyum.


"Hm baiklah itu urusan nanti. Sekarang aku akan menjelaskan sesuatu pada kalian semua. Yanto.. Tejo. Biar Ayah jelaskan semuanya. Agar kalian yang disini tau yang sebenarnya."


Orang yang dipanggil Akung oleh Arin itu mengambil nafas panjang. Sebenarnya dia sudah terlalu lelah untuk mengurusi hal itu. Namun karena dia harus menjelaskan yang sebenarnya, makanya dia sengaja datang ke rumah Arin. Atas pemberitahuan dari Hary, Akung tau apa yang terjadi dengan anak-anaknya yang bertikai. Hari ini dia sempatkan untuk datang, untuk menjelaskan semuanya. dan menengahi pertikaian itu.


"Kamu Jo.. kamu memang jahat sekali. Sama saudara sendiri begitu. Apakah kamu tau perjuangan kakak kamu ini. Walaupun dia bukan saudara kandung kamu tapi dia sangat menyayangi kamu. Dia tidak protes sedikitpun saat kamu fitnah. Dia tidak membalas sedikitpun ketika kamu maki, ketika kamu sakiti. Heeh..."


"Ayah sudah. Kita tidak apa-apa. Kami tau siapa kita. Ayah sudah jangan diteruskan lagi."


Bunda mengambilkan minum. Ayah mertuanya terlihat sangat lelah. Nafasnya sudah terlihat berat.


"Tidak Nak. Ini semua harus diluruskan. Sungguh sangat sakit hatiku saat aku tahu putraku diperlakukan seperti itu."


"Tidak apa-apa ayah. Kami tidak apa-apa." Bunda masih saja bersikap baik walaupun sudah diperlakukan tidak adil


"Jo, dengar itu. Kakak ipar kamu masih membela kamu walaupun sudah kamu perlakukan dengan tidak adil."


Sutejo dan Maria hanya menunduk. Memang benar selama ini keluarga Yanto tidak sedikitpun membalas perlakuan kasar mereka.


",Maafkan kami Ayah, maafkan kami mas Yanto dan mbak Ida. Maafkan atas semua yang telah kami lakukan."


Sutejo berkata masih sambil menunduk. Tak sedikitpun mereka berdua berani mengangkat wajahnya.


"Sudah Jo, jangan bersimpuh seperti ini. Kami memaafkan semua kesalahan kalian. Bangunlah."


Yanto membimbing Sutejo bangun. Sedangkan Ida membantu Maria.


"Kami tidak apa-apa. Itu semua memang harta kamu. Tanpa kamu fitnahpun aku akan mengembalikan semua saat waktunya tiba. Namun kamu tidak sabar. Aku hanya berpikir mungkin tugasku sudah selesai saat itu."


"Merasa tugas sudah selesai tapi masih juga ikut mengelola perusahaan itu. Benarkan Yanto."


Yanto terkejut mendengar perkataan Hary.


"Eh kata siapa. Dari mana kamu tau Hary."


"Jangan anggap enteng seorang Hary. Aku tahu semuanya. Kaki tangan yang kamu tempatkan di perusahaan itu aku tahu semua. Walaupun aku tahu aku hanya diam. Karena semua bertujuan baik. Hehehe.."


Semua orang terkejut mendengar perkataan Hary.


"Benar itu mas?"


"Benar dan Alhamdulillah perusahaan itu bisa berkembang pesat menjadi seperti saat ini."


"Jadi selama ini aku telah berprasangka buruk padamu Mas. Maafkan aku. Dosaku sangat besar padamu."


Sutejo kembali bersimpuh di kaki Yanto. Dia menyadari selama ini yang dia lakukan adalah salah besar. Sedangkan Maria hanya sesenggukan. Dia tidak bisa berkata-kata. Dia merasa sangat malu. Apalagi cacian dan makian yang keluar dari mulutnya sangat kejam.


"Hiks... hiks... hiks.. maaf.. maaf.. maaf."


"Sudah jeng sudah. Tidak apa-apa. Jangan begini. Jangan bersedih lagi. Semuanya sudah terjadi mari kita perbaiki semuanya. Mari kita mulai dari awal lagi."


"Ayah, jadi selama ini Ayah bukan kuli bangunan?" Arin menyela. Selama ini yang dia tahu ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan.


"Ayah memang kuli bangunan Arin. Ayah hanya memantau perusahaan itu dari jauh."


"Kenapa ayah tidak bercerita kepada Arin?"


"Karena memang belum saatnya kamu tahu Nak."


Semua yang menyimak hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tidak ada yang menyangka kalau kenyataannya demikian."


"Semua sudah terbongkar sekarang. Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui." Sang Kakek tiba-tiba berbicara setelah tad hanya menyimak.


Semua orang memandang ke arah lelaki tua itu.


"Ada apa lagi om."


"Sebenarnya kamu, Yanto. Kamu adalah anak kandungku juga. Kamu adalah anak dari istri pertamaku. Dulu aku menikahi ibumu diam-diam karena tidak mendapatkan restu. Dan setelah ibumu meninggal, kamu aku bawa ke rumah sebagai anak angkat untuk mengelabui semua orang."


Semua orang saling pandang. Ternyata kenyataan yang ada tidak sesederhana yang mereka pikirkan.


"Kamu tahu darimana To?"


"Saat aku tidak sengaja aku menemukan foto Ibu di lemari. Pas aku lihat di belakang foto itu ada sebuah alamat dan aku mencari alamat itu dan menemukan fakta bahwa ibu meninggal bukan karena sakit. Tapi karena keracunan makanan. Dan makanan itu yang memberi adalah ibunya Sutejo."


Semua orang terkejut. Satu fakta lagi terkuak


"Apa kamu bilang?!! Kenapa kamu tidak bercerita sama Ayah!!"


"Seandainya ayah tahu pasti ayah akan marah. Berbulan-bulan aku menahan semua. Mencoba menghilangkan rasa benciku pada Sutejo. Berbulan-bulan aku selalu menghindar dari Sutejo. Karena setiap melihat dia hatiku terasa sangat sakit."


Yanto menarik nafas panjang. Dia menahan emosinya yang muncuk saat mengenang hal tersebut. Kemudian dia meneruskan ceritanya.


"Namun aku bersyukur karena disaat aku terpuruk aku berjumpa dengan Ida. Dia selalu memberiku pengertian. Dia selalu menguatkan aku. Dia yang selalu bisa meredam amarahku."


Semua orang diam. Tak ada satupun yang berani memotong cerita Yanto. semua terbawa suasana. Sutejo semakin menunduk. Kenyataan yang baru dia dengar sangat menusuk hatinya. Ternyata ibunya pun telah berbuat jahat.


"Maafkan ayah ya Yanto. Seandainya ayah tidak menikahi Ibunya Sutejo semua tidak akan terjadi."


"Ini semua bukan salah ayah. Ayah jangan minta maaf. Ini semua adalah takdir. Kita hanya bisa menjalani."


"Nak, sungguh besar hatimu. Ayah bangga sekali padamu."


Akung mendekati Yanto dan memeluknya erat. Dia tidak menyangka anak yang dia sia-siakan dahulu menjadi anak yang sangat berbudi pekerti.


"Arin bantu bunda keluarkan kuenya. Banyak tamu tidak ada suguhannya."


"Iya bunda "


Semua orang masih terdiam. Maria sudah tidak menangis lagi. Namun sesekali masih terdengar isakannya. Sutejo masih duduk dengan menundukkan kepala. Sedangkan Hary terlihat berbisik-bisik dengan Bara.


Tak lama kemudian terdengar suara Akung memecah kesunyian.


"Jo, kamu sudah menyadari semua kesalahanmu kan. Ayah sangat berharap kalian berdua akur. Ayah sudah tua. Ayah ingin kalian meneruskan perusahaan yang Ayah dirikan."


",Iya Yah, Jo memang sangat merasa bersalah. Tidak ada pantas Jo mendapatkan pengampunan."


"Tidak begitu Jo. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Tapi bagaimana kita bisa merubah sikap kita atau tidak. Aku telah memaafkan semuanya."


"Dengar itu Jo, kakakmu telah memaafkan kesalahanmu. Ingat kamu harus benar-benar bertaubat."


"Iya Ayah."


Sutejo semakin menunduk. Begitupun Maria. Yanto benar-benar orang yang berhati mulia. Sudah banyak kesalahan Sutejo dan bahkan ibu Sutejo, namun dengan mudahnya bisa memaafkan kesalahan mereka.


"Jika boleh jujur, sebagai manusia aku pernah ingin membalas dendam. Pernah terpikir olehku ingin membalas setiap makian dan cacian yang keluar dari mulut kalian. Sekali lagi istriku ini selalu mengingatkan aku. Dia yang selalu menyadarkan aku, kalau balas dendam itu lebih besar dosanya. Karena kita pasti dipenuhi emosi."


"Bunda memang wanita terhebat."


Arin yang telah selesai menyajikan makanan ringan ikut berkomentar. Dia peluk sang bunda dengan penuh kasih sayang.


"Kamu berlebihan Rin, bunda hanya manusia biasa. Bunda hanya berpegang teguh pada ajaran agama. Bunda juga pernah berbuat salah. Bunda juga pernah marah saat bunda mendengar mereka menghina kita."


"Jeng Ida memang wanita hebat." Mama Bara ikut memuji. Sedari tadi dia hanya menyimak semua yang terjadi.


"Silahkan di icipin makanannya. Seadanya saja ya. Ini kue buatan kamu sendiri. Siapa tahu ada yang mau pesan."


"Dihh, bunda promosi."


"Hahaha... "


Semua orang tertawa. Maria hanya tersenyum. Dia merasa malu. Orang yang dia sakiti dengan mudahnya memaafkan semua kesalahannya.


"Jeng Maria, enak lho kuenya. Rugi kalau tidak mencoba."


"Iya jeng.. "


Maria mengambil sepotong. Dia memakannya dengan perlahan. Menang enak. Dalam hati dia sangat bersyukur. Semua begitu mudah. Dia pikir tadi harus ada drama dahulu. Kakak iparnya memang sangat baik hati.


"Sebenarnya, aku mau menjodohkan Fian dengan Arin. Tapi karena mereka saudara kandung mereka tidak bisa menikah."


"Eh kata siapa mereka tidak bisa menikah. Mas Yanto dan kamu Mas Sutejo Ayah kalian berbeda."


Tiba-tiba terdengar suara Adam yang tahu-tahu sudah ada di depan pintu. Semua orang tidak menyadari kedatangannya.


Tentu saja semua orang terkejut mendengar perkataan Adam. Adam datang membawa seorang lelaki seumuran Akung.


"Kamu Sastro kan. Ada kepentingan apa kamu kemari?"


"Maafkan aku Kris, maafkan aku. Sebenarnya Sutejo adalah anak kandungku. Sebelum kamu menikahi Narti, sebenarnya dia telah mengandung anakku. Dia hanya menjebakmu."


"Kurang ajar. Bajingan kamu Sastro. Uhuk.. uhuk.. uhuk.."


"Akung.. "


Arin segera mendekati sang kakek yang terlihat memegang dadanya.


"Sudah Akung minum dulu. Akung jangan emosi. Tarik nafas.. hembuskan. Tarik lagi.. hembuskan."


Bara segera membantu Arin untuk menenangkan sang kakek. Dan syukur sang kakek terlihat baik-baik saja. Walaupun nafasnya terlihat ngos-ngosan.


"Maafkan aku Kris, sekali lagi maafkan aku."


Ternyata drama ini belum berakhir. Kenyataan yang terkuak satu persatu membuat hari Sutejo rapuh. Dia hanya menunduk. Dia tidak berani berkata apapun.


"Baiklah. Semua fakta sudah terbuka. Bagaimana semua bisa kan saling memaafkan?"


Hary mencoba menengahi semua. Sebenarnya dialah yang tidak sengaja menemukan fakta tersebut. Butuh waktu lama untuk membuktikan temuannya tersebut. Selama tiga tahun ini dia menyelidiki di bantu Adam dan juga Bima dan Bram.


"Aku memaafkan kesalahan mereka. Toh semua sudah terjadi. Semua sudah mendapatkan hukumannya masing-masing." Ucap Yanto diplomatis. Dia berhenti sejenak . Dia menarik nafas panjang. Tidak dipungkiri dia juga sangat terkejut dengan semua fakta yang ada. Kemudian dia melanjutkan ucapannya.


"Untuk menjodohkan Fian dengan Arin, Aku menolak."


Semua orang melihat ke arah Yanto. Tak terkecuali Sutejo. Walaupun dia yakin itu pasti terjadi.


"Karena dia anak kamu Jo."


Yanto diam lagi. Dia menarik nafas panjang kemudian memandang Arin. "Sini Nak mendekat. Ayah ingin tahu bagaimana pendapat kamu."


Arin terkejut. Dengan perlahan dia mendekati sang Ayah dan bergelayut manja di tangan sang ayah.


"Menurut kamu bagaimana Nak? Semua keputusan ayah serahkan pada kamu. Ayah dan bunda akan mendukung apapun keputusan yang kamu ambil." Yanto memandang Arin penuh kasih sayang.


Semua mata tertuju pada Arin. Tak ada satupun yang membuka mulut. Semua hanya menyimak interaksi sang ayah dengan anak gadisnya itu.


Arin memandang semua yang hadir di ruangan itu satu persatu. Dia tatap Maria, yang ditatap hanya menunduk lesu.


Arin menatap Sutejo. Ada rasa tak nyaman saat mata itu menusuk relung hati Sutejo. Sutejo semakin menunduk saat diperlakukan begitu.


Kemudian Arin memandang sang kakek. Akungnya itu hanya tersenyum dan mengangguk.


Kemudian Arin menatap Bara. Kali ini cukup lama dia melakukan itu. Tak ada senyum di wajah Arin. Namun Bara tetap tersenyum manis seolah memberitahu bahwa apapun keputusan Arin dia akan selalu mendukungnya.


Terakhir Arin menatap sang bunda dan ayahnya bergantian. Kali ini dengan senyum merekah.


Semua orang menunggu apa yang akan diucapkan Arin. Arin menarik nafas lagi. Dia sudah mengambil keputusan. Dan dia sudah siap dengan segala konsekwensinya.


Apa yang akan diucapkan Arin. Akankah dia menerima Fian atau memilih Bara.


Bersambung


Tunggu episode-episode terakhir. Terima kasih atas semua dukungannya ❤️❤️❤️