Dewa

Dewa
Dewa Dan Aiya


Dewa dan kelompoknya telah sampai di kota Caruban, masih di wilayah kerajaan Shirokyuu. Karena mereka sampai di kota Caruban pada malam hari, mereka memutuskan menyewa penginapan.


Keesokan harinya.....


Aiya :


Selamat pagi Dewa.


Dewa :


Kamu sudah bangun ya, Aiya.


Aiya :


Iya, kalau Yui dan mbak Lina masih tertidur di kamar. Kamu tampak rapi Dewa, kamu ingin pergi kemana ?


Dewa :


Aku ingin pergi melihat-lihat barang yang dijual di pasar di kota Caruban ini.


Aiya :


Aku ingin ikut !


Dewa :


Tetapi kamu adalah putri Raja, berbahaya kalau pergi keluar. Jadi tunggulah dengan tenang disini.


Aiya :


Pokoknya aku ingin ikut !


Pakaian yang kau berikan bukannya mengurangi kesan bahwa aku ini putri Raja. Kau juga bisa melindungiku agar aku aman, aku bosan berdiam diri terus.


Dewa :


Baiklah, kali ini aku turuti keinginanmu.


Dewa dan Aiya pergi berjalan-jalan di pasar kota Caruban.


Dewa :


Aku tidak menemukan sebuah perbedaan barang yang dijual disini dengan barang yang dijual di kota Tower.


Pertama-tama aku akan membeli makanan terlebih dahulu untuk Yui dan Lina yang ditinggal di penginapan.


Aiya :


Dewa, lihat itu ada toko senjata. Kalau di sebelah sana ada toko pakaian. Dewa, ayo kita lihat pakaian-pakaian yang ada di sana.


Dewa :


Hei, jangan berlarian.


( Aku merasakan banyak tatapan orang yang melihat ke arah Aiya. Apa aku seharusnya tidak membawanya ikut bersamaku ? . Untuk saat ini agar tidak terlihat mencolok, aku akan mengawasi keadaan sekitar. )


Aiya :


Dewa, maukah kau memegang tanganku ?


Dewa :


Apa !?


Ini bukanlah kencan loh.


Aiya :


Lagipula siapa yang ingin kencan dengan seorang Dewa Iblis. Tetapi, ada banyak orang disini, aku takut kita akan terpisah jika tidak berpegangan tangan.


Dewa :


Baiklah, tapi ini aku lakukan karena dikerumunan banyak orang seperti ini kita mudah terpisah. Jadi repot kalau kau sampai hilang.


Orang-orang yang menatapi Aiya :


Cih, dia bersama laki-laki yah......


Dewa :


( Sekarang aku mengerti mengapa mereka dari tadi melirik Aiya. Memang benar sih, untuk ukuran seorang putri Raja, dia sangat cantik karena dari kecil terawat dengan baik. )


Aiya :


Dewa :


Baik tuan Putri.


Dewa pun membelikan buah-buahan yang diminta Aiya.


Aiya :


Apakah terjadi sesuatu ?


Dewa :


Tidak, sudah saatnya kita harus pulang.


Aiya :


Baik !


Dewa :


Eh ? ada apa dengan kerumunan orang-orang ini ?


Aiya :


Sepertinya itu perkelahian antara sesama petualang.


Dewa :


Konyol sekali, hal semacam ini tidak usah diperdulikan. Aiya, ayo kita pergi ?


Aiya :


Baiklah.


Pria botak gendut :


Hei kamu !


Kamu manis sekali. Maukah kamu pergi bersenang-senang denganku ?


Tinggalkan saja laki-laki yang terlihat lemah itu lalu bersenang-senang denganku.


Dewa :


( Kali ini orang idiot. Sudah aku duga, seharusnya aku tidak membawa Aiya pergi bersamaku. Lagi-lagi aku terlibat dengan hal yang merepotkan. )


Aiya :


Dewa, kamu dibilang manis sama orang aneh ini. Jangan-jangan om botak ini homo ?


Pria botak gendut :


Bukan !!!!!


Dewa :


Sepertinya kamu telah salah paham.


Aiya :


Eh ?


Dewa :


Dia membicarakan tentang dirimu, Aiya.


Aiya :


Eh, aku ?


Pria botak gendut :


Tinggalkan saja laki-laki dengan ekspresi yang mengerikan itu, mungkin dia seorang Iblis. Dan pergilah bersamaku, mau kan ?


Aiya :


Tidak mau, kau terlihat menjijikan. Jika di dunia ini hanya ada dua pria, yaitu kau si botak dan Dewa, tentu saja aku memilih Dewa.


Dewa :


Mengapa kau membawa-bawa diriku dalam perumpamaan itu ?