
Dengan perasaan enggan aku bersama semua murid di kelas mengikuti langkah Wendy yang sangat cepat menuju ke sebuah ruangan yang di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa meja dengan dua gelas berukuran kecil yang terisi cairan berwarna. Yang satu berwarna merah dan yang satunya berwarna hijau.
Di dalam ruangan yang berukuran cukup besar tersebut, juga ada tiga orang yang selalu bertugas di dalam klinik. Dengan aba-aba tangannya Wendy menyuruh kami untuk mengambil posisi di setiap meja.
Seperti biasanya aku dan Cleve selalu memilih untuk berdekatan. Dia berdiri di meja sebelah kananku sedangkan Marchi yang kakinya sudah membaik berada di sebelah kiriku.
Selama aku di kurung di ruangan gelap semua murid di kelasku belajar cara membaca dan tampaknya mereka semua sudah bisa membaca. Hal itu membuatku sedikit senang karena aku tidak akan merasa bosan lagi memperhatikan mereka belajar membaca.
Namun entah kenapa aku merasa kalau yang akan kami pelajari kali ini bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi kehadiran para medis yang biasa bertugas di klinik.
“Sebelum materi cara membunuh ataupun membela diri, di tingkat awal ini kalian akan di beri latihan khusus untuk kekebalan tubuh,” ujar Wendy. “Kalian lihat cairan yang ada di hadapan kalian? Pertama-tama kalian akan minum cairan berwarna merah dan ingat, setelah kalian minum, kalian harus mendengarkan perkataanku dan melakukannya. Setelah satu menit kalian harus segera meminum cairan yang berwarna hijau.”
“Apa cairan ini?” Tanya Cleve. Seperti biasanya Cleve selalu bertanya di tiap latihan, sepertinya begitulah sifatnya.
“Kalian akan tahu ketika kalian minum,” jawab Wendy tersenyum.
Aku dan Cleve saling tatap. Perasaanku tidak enak dan merasa ada yang aneh di sini.
“Kalian siap? Dengar kan perkataanku jika tidak kalian akan menyesal.” lanjut Wendy.
Wendy memperhatikan jam tangan yang di pakainya untuk melihat waktu sebelum kami meminum cairan berwarna merah. Aku menelan air liurku dan mencoba berkonsentrasi karena naluriku merasa kalau kali ini adalah hal yang serius. Aku harus mendengarkan perkataan Wendy, karena itu aku harus tetap berkonsentrasi.
“Bersiap-siaplah, pada hitungan ketiga kalian harus minum cairan berwarna merah,” seru Wendy. “Satu, dua.... tiga. Minum cairan berwarna merah sekarang.”
Kami semua segera meminum cairan berwarna merah yang ada di hadapan kami. Ketika cairan itu masuk ke tenggorokanku, aku merasa kerongkonganku sangat panas. Aku merasa tercekik hingga sulit untuk bernapas.
Aku menoleh ke arah Cleve yang menatapku, tanpa aku sadari air mata menetes. Aku sulit bernapas namun sepertinya Cleve tidak sepertiku.
Lalu apa yang salah? Semua anak yang lainnya terlihat sulit bernapas sepertiku. Rasanya aku akan mati karena napasku sangat berat. Cairan apa kah yang kami minum?
“Itu adalah racun,” ucap Wendy. “Sekarang dengarkan aku, kalian pasti sulit bernapas kan? Tarik napas dan tahan napas kalian, jangan biarkan mata kalian tertutup. Tegangkan otot-otot kalian, dan usahakan agar racun tersebut tidak menyerang persendian. Kalian masih memiliki waktu dua puluh detik untuk minum penawarnya dan aku harap kalian tetap bertahan.”
Tiba-tiba Marchi terjatuh dan dari mulutnya keluar busa, dua orang tim medis menghampirinya. Tidak lama kemudian seorang anak lagi jatuh dan mengeluarkan busa dari mulutnya.
“Baik sekarang kalian boleh meminum penawarnya, cairan berwarna hijau.”
Dengan cepat aku menggapai cawan berisi cairan berwarna hijau di mejaku dan meminumnya.
Keadaanku sudah hampir membaik dan aku mulai bernapas secara teratur. Namun secara tanpa di duga seorang murid lagi terjatuh ke lantai dan mengeluarkan busa yang bercampur darah. Tim medis menghampiri anak itu.
Wendy memberi kami lima gelas air putih setiap murid dan menyuruh kami untuk menghabiskannya. Dia bilang jika kami minum banyak air putih maka racun yang ada di dalam tubuh kami akan segera keluar bersama air seni kami.
Wendy meninggalkan kelas karena harus mengurus Marchi dan dua anak perempuan lainnya di klinik. Kami semua merasa ketakutan pada apa yang kami alami tadi. Semua murid merasa kalau akan mati tadi begitu juga aku.
“Kau baik-baik saja kan, Bee?” Tanya Cleve menatapku.
Aku mengangguk. “Cleve, sepertinya kau tidak sulit bernapas tadi?” Aku balik menatap Cleve dengan perasaan penasaran karena Cleve dapat bertahan tanpa merasa sulit bernapas.
“Aku tidak meminumnya,” jawab Cleve dengan berbisik. “Aku tidak menelannya sampai Wendy menyuruh untuk meminum penawarnya. Sejak awal aku sudah mengira kalau cairan itu adalah racun karena itu aku tidak merasa sulit bernapas sepertimu,” lanjut Cleve. “Tapi sepertinya aku akan mendapat masalah karena aku yakin kalau Wendy tahu aku tidak mengikuti aba-abanya. Aku pasti akan mendapatkan hukuman.”
Anak perempuan yang jatuh setelah meminum penawar racun tidak dapat tertolong. Anak itu meninggal karena menurut Wendy, racun sudah menyebar ke seluruh tubuhnya dan memecahkan pembuluh darah karena itu busa yang keluar dari mulutnya bercampur dengan darah.
Kami semua merasa kasihan dengan anak itu. Anak yang namanya baru aku ketahui yaitu Sarah. Aku memang tidak mengetahui banyak nama di kelas namun aku selalu memperhatikan tiap gerak-gerik mereka dan Sarah sepertinya adalah anak perempuan yang cukup baik.
Aku pernah berpapasan di jalan dan dia tersenyum padaku. Semoga saja Sarah sudah bahagia sekarang ini hingga tidak perlu menghadapi hidup yang mengerikan di tempat seperti Deapectrum ini.
Kalau ingat tadi aku masih merasa takut, aku benar-benar merasa akan mati. Meminum racun adalah hal yang paling mengerikan bagiku namun sayangnya menurut informasi yang Wendy berikan kami akan meminum zat berbahaya tersebut setiap bulan agar tubuh kami terbiasa sehingga kebal dari segala racun di dunia ini.
Racun tersebut di buat dari campuran bisa ular dan tanaman-tanaman beracun yang mematikan. Setiap kali meminum racun tersebut waktu akan di tambah sebelum kami meminum penawarnya dan itu sangat menyakitkan bagiku. Aku selalu mencoba bertahan sebab tidak ingin mati karena meminum racun tersebut seperti Sarah. Aku harus tetap kuat agar mampu bertahan hidup.
Ibu memanggil Cleve ke ruangannya namun dia tidak mendapatkan hukuman atas kecurangan Cleve yang tidak meminum racun mengikuti aba-aba Wendy. Ibu hanya memperingatinya agar tidak mengulanginya karena jika Cleve berlaku curang lagi dia akan mendapatkan hukuman.
Tentunya Cleve tidak melakukannya lagi. Setelah mendengarkan aku mengenai ruang gelap Cleve merasa takut dan tidak ingin ke tempat itu karena itulah Cleve tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
...@cacing_al.aska...