
Nadia bangun pagi-pagi sekali. Kemudian ia mencari baju yang bisa ia pakai untuk olahraga. Setelah menemukan ia pun memakainya.
Aurora merasa jika tubuh Nadia terlalu lemah. Dia harus melatih tubuh itu secara perlahan. Diawali dengan berlari pagi setiap hari.
Suasana rumah masih sepi. Bahkan Bi Salma dan Sania masih berada dalam kamar masing-masing.
Nadia berlari mengelilingi komplek. Meskipun masih pagi buta namun sudah banyak yang mulai beraktifitas. Khususnya para pedagang.
Belum juga satu putaran namun dia sudah kelelahan. Dia mendudukkan dirinya di bawah pohon pinggir jalan.
Nafasnya sudah terengah-engah. Jadi dia peduli meski harus duduk diatas tanah.
Setelah rasa lelahnya sudah berkurang ia kembali melanjutkan larinya. Ketika matahari mau bersinar ia kembali ke rumah.
Ternyata sang ayah sedang berlari di halaman rumah. Pantas tubuh Wahyu di usia empat puluh lima tahun masih terlihat gagah.
"Dari mana kamu?" tanya Wahyu saat Nadia sudah tiba di depannya.
"Dari jogging," jawab Nadia jujur.
"..."
Wahyu terdiam mendengar jawaban jujur Nadia. Sebenarnya dia sudah menduganya. Namun entah kenapa ia seperti terpanggil untuk memanggilnya.
Suasana mendadak canggung. Nadia pun izin kembali ke kamar.
"Aku mau ke kamar dulu," ucap Nadia dengan sopan. Wahyu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Wahyu menatap Nadia hingga hilang dari pandangannya. Kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Nadia keluar dari kamar lengkap dengan peralatan sekolahnya. Penampilannya tetap seperti kemarin.
Setelah sarapan dia langsung berangkat menggunakan motor butut seperti biasanya. Dia tidak menunggu Wahyu untuk sarapan bersama.
Setibanya di sekolah Nadia memarkirkan motornya di tempat kosong. Setelah itu ia melangkah menuju kelas.
Hari ini merupakan jam olahraga. Nadia sudah siap dengan baju olahraganya.
"Kira-kira hari ini kita olahraga apa ya Nad?" tanya Saskia yang dijawab gelengan kepala oleh Nadia.
Saskia merupakan teman sebangku Nadia. Sudah seminggu dia tidak masuk. Karena harus dirawat di rumah sakit.
Tadi pagi dia shock melihat penampilan nadia yang tidak seperti biasanya. Namun dia tidak berkomentar banyak.
Keduanya berjalan ke lapangan. Sudah banyak teman-temannya yang berkumpul. Semua sudah memakai pakaian olahraga masing-masing.
"Lihat tuh anak cupu!" ucap Friska sambil menatap tajam kearahnya.
"Kita akan buat anak itu malu semalu-malunya," kata Mella menimpali. Dia sangat geram melihat penampilan Nadia yang lebih cantik darinya.
Bukan tanpa alasan Mella membenci Nadia. Sejak kecil Ibunya selalu membandingkan dia dan Nadia. Itulah sebabnya ia selalu mencari cara untuk membullynya.
Suara peluit menandakan agar para siswa segera berkumpul di lapangan. Pak Rizal selaku guru olahraga sudah menunggu mereka ditengah lapangan.
Para siswa kelas dua belas C akhirnya membuat barisan. Ketua kelas menyiapkan barisannya. Setelah itu pak Rizal berbicara di depan mereka.
"Selamat pagi anak-anak?" sapa pak Rizal dengan serius.
"Selamat pagi Pak guru,"jawab mereka dengan serempak.
"Sudah tahu tidak, materi kita kali ini?"
"Renang pak."
"Senam pak."
Satu persatu meneriakkan keinginannya. Namun hanya satu yang menjadi keputusan pak Rizal.
"Baiklah...hari ini kita akan melakukan basket. Bapak akan mencatat berapa nilai kalian di olahraga ini."
Ada yang setuju ada pula yang menolak. Nadia merupakan salah satu siswa yang menyetujuinya. Setelah itu pak Rizal membagi siswanya menjadi beberapa kelompok.
Nadia masuk dalam kelompok 3. Sedangkan Mella dan kawan-kawan berada di kelompok satu.
Karena semua siswa berjumlah tiga puluh enam, maka setiap kelompok terdiri dari enam orang.
Pak Rizal membagi kelompok itu secara asal. Sehingga terdapat enam siswa di setiap kelompok.
"Baiklah...mari kita mulai pertandingan ini," ucap pak Rizal yang masih
Pertandingan pun dimulai. Para siswa yang menonton di pinggir lapangan.
Kelompok satu melawan kelompok tiga. Nadia bertanding dengan semangat.
Bukan hanya pak Rizal yang terpukau dengan penampilan. Teman-temannya pun tidak pernah menyangka Nadia sangat pandai bermain basket.
Kelompok Nadia mendapatkan kemenangan telak. Mereka sangat senang akhirnya bisa mengalahkan kelompok Mella.
"Daebak!gua nggak menyangka jika lo pandai basket," puji saskia dengan tersenyum.
"Biasa saja. Kamu juga pandai."
"Tapi gerakanmu lebih baik dariku."
"Karena aku sering berlatih," jawab Nadia.
Selesai olahraga mereka mengganti seragamnya. Kemudian melanjutkan pelajaran.
Sepulangnya dari sekolah, Nadia pergi ke Mall terdekat . Banyak barang yang ia butuhkan. Termasuk baju dan sepatu.Nadia merasa tidak nyaman menggunakan baju Nadia terdahulu.
Nadia pulang sambil menenteng beberapa kantong belanjaan . Ada sepatu, sandal, Semua sesuai selera nya.