cinta yang tertangguh

cinta yang tertangguh
Marissa katrina


disuatu pagi yang hening didalam sebuah rumah sederhana besar,seorang wanita sedang memasak sarapan pagi untuk keluarganya dia adalah Marissa Katrina baru berusia 24 tahun sudah menikah dengan Rashid selama 4 tahun tapi belum dikurniai anak


;Mas berangkat dulu nanti ada pegawai mau datang untuk periksa ladang;


;baik Mas,;


katanya sambil mencium punggung tangan suaminya penuh takzim dan Rashid mencium kening isterinya itulah rutinnya setiap hari namun siapa sangka itu adalah ciuman terakhir Rashid sebelum dia pergi untuk selamanya akibat kemalangan


;YA-ALLAH!!!!;


bunyi siren ambulans dan peronda polis kedengaran terlihat Rashid dimasukkan ke dalam ambulans


di rumah sakit


tit..tit.tit


bunyi mesin bantuan pernafasan


;Mas...aku tahu kamu kuat.. segera Sadar ya,aku kangen senda tawamu Mas..;


begitulah setiap hari Marisa akan menjaga suaminya yang masih tak sadarkan diri


setelah dua minggu dirawat akhirnya Rashid pergi untuk selamanya meninggalkan Marissa untuk menghadap sang pencipta


di tanah perkuburan


jenazah Rashid telah selamat dikebumikan sementara di rumah Marisa yang masih bersedih hanya mampu pasrah atas ketentuan ALLAH pada diri nya,semtara itu Kalsum ibu Rashid tak terima anaknya telah meninggal dunia dia menyalahkan Marissa atas apa yang terjadi pada putranya itu


seminggu telah tidak mahu terus larut dalam kesedihan Marissa terus menjalani hidupnya dengan menjaga mertuanya Kalsum,seperti sekarang Marisa sedang membuatkan mertuanya itu kopi untuk minum petang bersama "sila kan diminum ibu;


kata Marisa lembut tapi Kalsum malah menyimbah kopi itu pada Marisa


;kau pembunuh...


kau yang membunuh anakku aku benci melihat kau disini;


ucap Kalsum dadanya turun naik kerana emosi matanya menatap tajam wajah Marissa yang sedang menahan airmatanya dari menitis


;keluar kau dari rumah ini aku tak mahu tengok kau lagi ;


kata Kalsum,Marisa yang terkejut dengan perkataan Kalsum pun mula menangis airmata yang cuba ditahan sejak tadi mengalir deras membasahi wajahnya,


;ibu aku akan tetap disini..ini rumah suamiku..aku sudah berjanji pada Mas rashid tak akan meninggalkan rumah ini,; ucap marisa


marah dengan apa yang dikatakan Marisa sebuah tamparan keras Kalsum layangkan pada Marisa


;plak!!;


;keluar!!!;


jerit Kalsum sambil menyeret Marisa kedepan pintu Marisa ditolak hingga tersungkur didepan rumah


Marisa yang telah diusir itu pun hanya mampu menatap pintu yang sudah tertutup rapat dan dikunci oleh Kalsum


terbayang diingatan Marisa kenangan antara dia dan Rashid dirumah itu, Marisa memejam kan matanya


;maafkan aku Mas..aku terpaksa pergi;


kata Marisa dalam hati


dengan berat hati Marisa melangkah meninggalkan perkarangan rumah itu


baru beberapa langkah Marisa berjalan tiba tiba ia merasakan sakit kepala


perlahan penglihatan Marisa semakin kabur


Marisa semakin kehilangan kesadaran nya


burgh!!Marisa pingsan


segalanya menjadi gelap


perlahan Marisa membuka matanya kepalanya masih terasa sakit


ia melihat sekitar ruangan ini asing baginya


saat Marisa mencuba untuk bangun tiba terdengar bunyi pintu dibuka


ceklek!


muncul seorang gadis mendekati Marisa


;mbak sudah bangun;kata gadis itu


Marisa tersenyum ia mengenal gadis itu Hani anak pak hakim salah satu warga di kampung itu


perlahan ia ingat bahawa Kalsum telah mengusirnya


air matanya jatuh cepat diseka dengan jari.


;mbak makan dulu ya,ini sudah malam,mbak menginap saja disini ya; kata Hani sambil meletakkan mapan berisi makan diatas nakas samping tempat tidur


;terima kasih Hani; ucap Marisa


Hani hanya tersenyum sambil menutup kembali pintu kamar yang ditempati Marisa


sungguh hati Marisa terasa sedih


ia menggenggam kalung yang ia pakai


;Mas,aku kangen kamu;lirih Marisa


pagi pun tiba setelah membereskan tempat tidur Marisa turun ke dapur untuk membantu Hani dan bu Anis, isteri pak hakim untuk membuat sarapan


setelah sampai di dapur nampak Hani yang sedang berkutat membuat nasi goreng


;selamat pagi Hani,ada yang mbak bisa bantu?; tanya Marisa pada Hani


;enggak papa mbak,udah mau selesai kok.;kata Hani mendengar itu Marisa tidak enak hati


;maaf ya mbak telat bangun,:kata Marisa


;tidak masalah kok mar,lagian kan mar masih sakit;ucap bu Anis yang sedang membuat teh untuk diminum pagi itu


;ayo mbak,kita sarapan nasi gorengnya sudah jadi NIH;


;ya ayo;kata Marisa mengikuti Hani dan bu anis


ke meja makan untuk sarapan


:pak hakim nya ke mana bu?;tanya Marisa Kerna sejak tadi tak melihat pak hakim di mana mana


;pak hakim nya sudah keluar pagi sekali jadi tidak ikut sarapan;kata bu Anis,Marisa hanya mengangguk kecil tanda mengerti


usai sarapan Marisa duduk di bawah pohon mangga disamping rumah pak hakim


ditemani Hani


sedang Marisa ngobrol dengan Hani,mobil pak hakim pun memasuki perkarangan rumah


melihat Marisa dan Hani disitu pak hakim berjalan mendekati mereka


melihat ayahnya mendekat Hani langsung berdiri dan menyalami tangan ayahnya dicium penuh hormat


;apa rencanamu setelah ini?;tanya pak hakim pada Marisa


mendengar pertanyaan pak hakim itu Marisa tidak langsung menjawab terlihat Marisa seperti berfikir,melihat Marissa diam saja pak hakim pun berkata


;jangan salah mengerti,bukan bapak ingin mengusir mu;


;saya mau mencari pekerjaan di kota pak;jawab Marisa


;apa kau sudah habis pikur nak?;tanya pak hakim ingin memastikan


;iya pak; jawab Marisa yakin


;baiklah,kapan kau rencana mu berangkat ke kota?;tanya pak hakim lagi


;sejujurnya aku belum tahu pasti pak,soalny aku harus mengumpulkan uang dulu;jawab Marisa jujur


;kalau soal uang,bapak bisa bantu,kebetulan bapak pernah pinjam uang dari almarhum suami mu,anggap saja bapak membayar hutang bapak pada almarhum


mendengar itu Marisa merasa lega dan bersyukur


;kalau begitu aku berangkat besok saja pak;kata Marisa pada pak hakim


pagi itu Marisa ke kota menaiki bas,sebelum berangkat Marisa berpamitan dengan pak hakim,bu Anis juga Hani ;hati hati ya nak;


kata bu Anis diangguki pak hakim,Hani memeluk Marisa erat


;jaga diri ya mbak;kata Hani sebelum meleraikan pelukannya Marisa tersenyum manis membalas pelukan Hani


;kamu juga ;kata marisa


mereka mengantarkan Marisa dengan sorotan mata dari mula Marisa menaiki bas hingga bas itu tak terlihat oleh mereka


didalam bas Marisa sedang duduk sambil memikirkan apa yang akan dilakukan di kota nanti