CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 113. Berpisah di Ujung Ngarai


Di pagi buta, Usai pemakaman raja, sebuah kereta kayu keluar dari istana harem, di depan gerbang Harem selir Huan dengan pakaian berkabungnya, kain linen putih bertudung menunggu kereta itu menjemputnya.


Xinxin menatap nyonyanya itu dengan sayu, dia sedari tadi berdiri di belakang Selir Huan memeluk sebuah guci yang berisi potongan rambut panjang pangeran Nan Yuhuai.


Seperti aturan di Niangxi, setiap orang yang meninggal bunuh diri di anggap jiwanya tak bersih. Jasad orang bunuh diri akan di bakar jika dia orang awam supaya bisa berinkarnasi kembali. Karena Nan Yuhuai seorang pangeran tentu saja jasadnya tak oleh di hancurkan, untuk membuatnya layak ikut ke tangga langit maka harus di sucikan.


Tradisi Niangxi dalam penyucian keluarga raja, rambutnya akan di potong dan di bawa ke kuil untuk di biarkan selama 7 tahun di sana, sementara jasadnya boleh di kuburkan lebih dulu, 7 tahun kemudian rambutnya akan di bawa kembali ke kuburannya untuk di satukan sehingga dia di anggap suci kembali.


Atas permintaan secara pribadi Selir Huan dengan dasar pernah satu tempat tinggal di kuil yang sama kepada Puteri Nan Luoxia dan tentu saja persetujuan pejabat sementara pangeran Nan Feng, rambut Nan Yuhuai akan di simpan di kuil Beiyu di mana dia di besarkan. Dan yang mengantarkannya adalah selir Huanjin.


Perdana menteri Yang Liujun sama sejali tak ambil perduli pada jasad pangeran Nan Yuhuai karena di anggapnya menantunya itu memalukan dan mencoreng nama baik keluarganya. Mati bunuh diri adalah sifat yang tidak ksatria serta memalukan di Nanxing.


Xinxin memegang ujung jubah majikannya itu lalu berkata dengan pelan, "Nyonya, kita akan segera berangkat."


Selir Huan tak bersuara, untuk terakhir kalinya, ia memandangi gerbang istana Harem, jauh di belakang bangunan itu, aula Wanxiang berdiri kokoh seperti bayang-bayang yang penuh kabut.


Ingatan sejenak terhenti pada kemeriahan aula tempat raja yang selalu menjadi tempat Yang Mulia Nan Chen menyelenggarakan pesta itu. Dia pernah berbulan-bulan menari di sana, memainkan kecapi untuk raja dalam rasa benci yang dalam dan pada akhirnya setelah menjadi penari favorit raja, dia di nobatkan jadi selir kesayangan.


Perjalanan itu sungguh tak mudah, dia berkorban hingga berdarah-darah untuk masuk ke dalam istana meski akhirnya setiap jengkal dendamnya hanyalah fatamorgananya sendiri. Dia gagal membalaskan dendam tetapi malah di hukum untuk jatuh cinta pada raja itu.


Sekarang dia memeluk guci porselen yang berisi rambut lelaki yang mencintainya sampai akhir, hatinya berantakan. Cinta mereka seperti jalan yang berkelok bahkan tak bertemu ujung, terpisah bukan di persimpangan tetapi di ujung ngarai yang buntu.


"Xinxin, biarkan aku melihat sebentar." Ucapnya lirih.


"Nyonya, bukankah setelah mengantar rambut Tuan pangeran kita akan kembali ke istana?" tanya Xinxin pelan.


Selir Huan menggelengkan kepalanya.


"Di sini bukan lagi rumahku, bukan pula tujuanku lagi, Xinxin. Semua orang yang ku cari telah pergi. Aku mungkin akan menetap di Beiyu, menjaga rambut kekasihku hingga dia suci kembali." Selir Huan berucap bergetar.


Perlahan, satu cun demi satu cun, ia berbalik, bayang-bayang di menara tembok kota itu ganas, bagai seekor harimau atau binatang buas yang membuka lebar-lebar mulutnya yang suka memangsa manusia, hendak merampas sisa-sisa kebebasannya. Sungguh, istana ini bukan lagi tempat yang dia tuju lagi.


Beberapa menit kemudian dia naik ke kereta di mana sebagian barang pribadinya telah di kemas untuk di bawa menuju gunung Beiyu. Dia bahkan melewatkan penguburan Nan Yuhuai juga setelah sehari kemarin tak menghadiri pemakaman raja Nan Chen.


"Pemakaman apa yang kuhadiri, Yang Mulia Nan Chen tidak pernah mati." Ocehan itu di ucapkannya pada Xinxin saat mempertanyakan nyonyanya itu.


Debu berterbangan dengan ringan di bawah kakinya bersama matahari pagi yang mulai naik di angkasa, seekor burung besar mementang sayapnya yang berwarna hitam, dengan demikian, kereta itu keluar dari lingkungan istana Nan seakan keluar dari sebuah gua berlumpur yang dalam dan senyap.


Di depan sana dia akan menuju sebuah padang belantara yang liar di luar kota raja Nanxing, lebih jauh lagi, menuju Gunung Beiyu di wilayah utara Niangxi yang menjulang.


Perjalanan itu akan melewati sebuah kota yang dulunya ramai tetapi kini menjadi sepi karena berkabung dan perang, setelah itu gerbang-gerbang perbatasan. Perjalanan masih jauh.


Bukit dan sungai terbentang sejauh selaksa li di pinggiran kota , sebuah tanah air yang indah, akhirnya dirinya melarikan diri dari pagar yang membatasi kehidupan manusia, terombang-ambing bagai bunga teratai di permukaan danau.


Dia masih terngiang pembicaraan terakhirnya dengan Puteri Nan Luoxia.


"Kakakku Nan Yuhuai mati karena pilihannya dan kakakku Nan Chen hidup kembali karena keinginannya. Tetapi semua ini yang terbaik untuk Niangxi."


Dan, pembicaraan selanjutnya membuat Selir muda itu menutup mulutnya, sebesar itu rahasia istana yang tak dia tahu dan sekarang dia mengerti mengapa rasa dendamnya sudah tak berguna lagi.


"Biarlah aku yang akan membalas dendammu, selir Huan, karena yang membunuh seluruh keluargamu bukan kakakku Yang Mulia raja Nan Chen tetapi orang yang kini bertanggung jawab terhadap kematian banyak orang termasuk kematian kakakku Nan Yuhuai. Suatu saat jika saatnya tiba aku akan memanggilmu ke istana, dan memulihkan nama baik keluarga Jiu. Dan pada saat itu kamu tak akan perlu bersembunyi lagi. Kamu akan berdiri di atas tanah orangtuamu sebagai Jiu Huanjin."


SELIR HUANJIN


...***...


Malam baru saja turun, sebuah kereta kuda dengan tenang berhenti di bawah tembok kota, Lin Hongse mengenakan jubah hitam, luar biasa tampan, dengan sikap penuh hormat, ia berdiri di sampingnya.


Melihat Xue Xue dalam Pakaian biasanya, dengan tutup kepala dari kain motif sisik naga dan bukan menggunakan jubah puteri Nan Luoxia keluar dari arah aula Wanxiang, kediaman raja dan bersiap menaiki kereta itu entah bendak kemana, dengan suara sedikit keras Lin Hongse berkata, "Xue Lian, aku mencarimu. Bolehkah aku ikut denganmu untuk berbicara sebentar?".


Lelaki ini biasanya mengenakan jubah serba hijau tetapi semenjak dia di kurung dalam istana keluarganya akibat perbuatan kakaknya Lin Fangyin, dia selalu menggunakan jubah hitam gelap dari sutra nomor dua.


"Kenapa kamu keluar dari istanamu, Hongse. Itu berbahaya untukmu, kamu bisa di anggap melanggar peraturan istana." Tegur Xue Xue dengan suara tegas tanpa menunjukkan keterkejutan atas kehadiran lelaki yang biasanya menemaninya di garis depan, sebagai tangan kanan jenderal Qui bertopeng.


"Aku ingin menemuimu sebagai temanku. Kita harus bicara." Sahut Lin Hongse cepat. Dia meloncat ke dalam kereta tepat setelah menangkap pergelangan tangan Xue Xue dan menariknya ke dalam juga.


(Ayok yang belum vote mari di vote, untuk memberi dukungan buat novel ini🙏🥰 Jangan lupa ya, kembang, like, komen, gift-giftnya dalam bentuk apa saja termasuk nonton iklan😅 Dukungan kalian adalah semangat author😘 I luv U all🥰🥰🥰)