Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Seandainya


Sementara Lestari sudah tiba di rumah sakit. Melihat putrinya datang, Rose berdiri dari kursi menyambut anak semata wayangnya itu.


"Sayang!" Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Lestari lalu mengecup ujung kepala Lestari.


"Bunda!" Lestari membalas memeluk Rose.


"Terima kasih, sayang. Akhirnya, kamu datang juga," lirih Rose, suaranya hampir saja tidak kedengaran karena air matanya lebih dulu menetes, "Bunda, takut sekali,"


Lestari mengangguk. Dia tau bundanya sedang menangis. Lestari mengelus punggung Rose untuk menenangkan wanita paruh baya itu.


"Tenang, Bunda. Di mana Ayah, sekarang?" Lestari masih berusaha tetap tenang.


Namun, sesungguhnya Lestari juga sedang kwatir. Dia takut ada hal buruk terjadi dengan Filipo. Apalagi, saat ini sidang keduanya sedang berlangsung, entah apa hasilnya dan Rico hadir atau tidak, Lestari tidak memikirkan itu. Untuk saat ini Lestari hanya berharap ayahnya sembuh.


Filipo sosok Ayah yang bertanggung jawab, penuh kasih. Filipo selalu mengajarkan untuk bersabar menghadapi masalah apapun. Namun, sosok itu kini sedang berbaring lemah di ruang ICU.


Lestari tersenyum, dia berusaha menahan butiran bening itu. Berharap jangan sampai jatuh membasahi pipinya. Jika, jatuh dia semakin membuat Bundanya sedih.


"Ayahmu, di ICU sayang. Ayo kita pergi jenguk.Tadi, Bunda habis bertemu dengan dokter Johan ahli bedah jantung. Dia mengatakan, Ayah belum bisa operasi karena keadaan belum memungkinkan untuk dioperasi." Rose menggandeng Lestari. Kedua wanita beda usia itu berjalan menuju ruang ICU.


Di dalam ICU Filipo berbaring lemah dengan semua alat sudah menempel ditubuhnya. tampak grafis monitor jantung bergerak begitu lambat.


"Ayah, Tarimu datang," gumam Tari. Dia menatap Ayahnya melalui batas kaca. Tangan kurusnya ia tempelkan di kaca, seakan dia ingin Ayahnya merasakan kehadirannya


Akhirnya air matanya pun jatuh. Lestari ingin sekali memeluk Filipo meminta maaf, atas semua masalah yang selama ini dia sembunyikan dari Filipo. Namun, karena kondisi Filipo yang masih lemah, dokter masih melarang untuk tidak mengunjungi pasien dulu.


Sementara mobil putih mewah itu sudah berhenti tepat didepan lobby. Dia segera keluar dari mobilnya.Tidak lupa paper bag dan dua file ia bawa juga. Bruce disambut oleh security rumah sakit, dia di kawal masuk menuju ruangan khusus nya.


Dalam perjalan menuju ruangannya. Dia mengedarkan pandangannya, saat melewati koridor area ICU. Bruce menghentikan langkahnya.


Dia menatap wanita yang sedang duduk lemas di kursi yang tersedia di koridor itu. Wanita itu meremas-rema jari-jari kurusnya. Air matanya terus membasahi pipinya. Rose duduk bersebelahan dengan Lestari sembari menceritakan kejadian awalnya Filipo jatuh.


"Bunda itu lagi minum air di ruang makan. Bunda dengar, Ayah sempat marah." Cerita Rose.


Lestari mengangkat wajahnya. Dia menatap Rose, " Maksud Bunda?" tanya Lestari.


"Iya, bunda sempat dengar Ayahmu bilang, kalau dia tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga putrinya."Rose menyentuh kedua bahu Lestari, dia memajukan tubuhnya sedikit untuk menghadap Lestari.


"Tari... Bunda curiga jangan-jangan Rico dibalik semua ini? Jujur Bunda sangat kwatir." Rose menunduk dia sebenarnya tidak ingin membebani pikiran Lestari.


Bruce mengepal, dia sudah berdiri dibatas koridor itu. Dia sedang menyimak semua percakapan Lestari dan Rose. Dia juga, ingin bertemu Lestari namun Bruce harus menahan diri karena Lestari dan Rose sedang berbicara serius.


"Kalau Rico, Tari belum yakin.Karena, tadi malam Rico masih menelpon Tari, dia mengatakan kemarin Ayah menitipkan perusahaan untuk dia." Tari menghentikan ucapannya, dia sesunggukan.


Rose menarik napas, "Lalu? Bagaimana dengan sidang perceraian kamu?" Rose berdir dari kursi, dia berdiri membelakangi Lestari.


"Hari ini sidang kedua kami, Bun." Mendengar itu Bruce semakin bingung.


Kenapa baru seminggu dia hilang kabar dari Lestari.Semua berubah begitu cepat? Apakah secepat itu waktu berputar? Bisa kah, Bruce memutar kembali waktu? Seandainya!