Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 19


.


.


.


"Kemana dia?" Dengan tangan yang menyeka keringat didahinya, Bilton mengatur nafasnya. Berlari selama bermenit-menit mengelilingi seisi sekolah memang melelahkan. Apa lagi jika dilakukan di Nada Gakuen. Tentu saja ia memiliki tujuan, mencari kekasihnya.


Saat Miku menyeka sudut bibirnya waktu di kantin, Chely langsung menghilang entah kemana. Atap, kelas, perpustakaan, taman belakang, UKS, sudah Bilton lihat. Namun hasilnya nihil.


"Sial." Ia merogoh ponselnya.


Hime Calling.


"Sorry the number_"


"Shit!"


Klik.


Ia lupa kalau ponsel kekasihnya low.


Bilton berdecak, dengan sapphire yang menajam. Dengan kaki yang dihentakkan ia melangkah menuju kelasnya. Sapphire birunya kini memicing. Ia menghela nafas.


"Chely?"


Chely menoleh, ia menemukan Bilton yang berjalan kearahnya dengan sorot mata khawatir. Ia berkedip, tubuhnya berbalik menghindari kekasihnya.


Entah kenapa ia jadi kesal saat melihat Bilton dengan Miku. Seperti... Ada yang mengganjal. Apa Bilton menyembunyikan sesuatu?


Kepalanya menggeleng.


Tapi sikap anehnya memang perlu diperhitungkan.


Grep!


"Dari mana saja?" Cekalan pelan ditangannya membuat Chely berbalik.


"To-toilet."


Iya, kalau itu Bilton juga tahu. Karena Chely baru saja keluar dari toilet. Tapi kenapa sampai tak kepikiran oleh Bilton jika Chely ke toilet?


Ah. Saat sedang panik memang pikiran selalu melayang pada hal-hal jauh.


"Kau marah?"


Chely menggeleng.


"Lalu, jika tidak marah. Kenapa kau tidak mau menatap ku."


"Na-nanti aku pegal, jika mendongak. Bi-Bilton-kun'kan tinggi."


Bilton menghela nafas. "Tidak logis." Jika Chely pegal, lalu kenapa ia selalu menatap Bilton jika dikeadaan normal? "Oke kau tidak marah, hanya kesal, atau... Kau cemburu?"


Skakmat!


Chely mengangkat kepalanya dengan kening yang berkerut. "A-aku tidak marah, kesal atau ba-bahkan... Cemburu." Lavendernya memerah.


"Mata mu kenapa?"


"A-aku kelilipan."


"Sini aku lihat." Bilton mendekat, ia melihat manik lavender Chely. "Ada debunya. Dari mana saja?"


"Toilet."


"Diam. Aku akan meniupnya, pelototkan mata mu."


Chely menurut, ia memelototkan matanya.


Wangi.


Nafas Bilton enak untuk di cium.


"Sudah, atau mau aku_" Bilton menyeringai, lalu berbisik.


"Hentai!"


"A-aw sakit Chely." Pekiknya setelah menerima cubitan. Tak lama kemudian, Bilton tersenyum. "Ini baru Chely ku." Bilton mencubit pipi Chely.


Wajahnya merona. "Apa? Jangan cubit lagi, rasanya sakit."


"Kau jelek kalau marah. Pipi mu tambah tembam saja."


Chely mendelik. "A-aku tidak marah." Ia berbalik menuju kelas.


"Hey!" Bilton mencoba mengimbangi langkah Chely yang entah kenapa menjadi lebar. "Iya... Iya... Kau tidak marah." Tangannya merangkul bahu Chely.


"Hu'um."


"Kau hanya cemburu."


"Bilton-kun!"


Dan itu sukses membuat Bilton tertawa.


.


.


.


.


Istirahat kali ini dihabiskan Chely diperpustakaan, ia sedang mencari novel terbaru.


Lalu? Kemana Bilton yang selalu nempel padanya?


Jawabannya hanya satu, latihan basket. Ya, karena empat hari lagi Nada Gakuen akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan Ame Gakuen. Tentunya dengan Nada Gakuen sebagai tuan rumah. Tadinya Bilton sangat malas latihan, ia berniat bolos kembali seperti hari kemarin.


Namun ancaman Chely yang bilang akan marah selamanya ternyata sangat ampuh bagi Kapten Basket itu.


Yah...


Jadilah Chely disini, menghabiskan waktu sendirian diperpustakaan.


Lavendernya melihat-lihat jajaran rak yang menyimpan kamus terjemahan. Chely tersenyum, ia mengingat saat Bilton mengambil Kamus Bahasa Korea. Dan menyuruhnya tidak mengikat rambutnya.


Ia tersenyum kecil. "Bilton-kun seperti orang bipolar."


Cgely kembali melangkah menuju jajaran rak matematika. Ia bertekad akan pintar di pelajaran itu.


"Pintar Matematika." Gumamnya dengan mata berbinar, setelah menemukan buku yang dicarinya. Tangannya berniat mengambil buku di rak.


"Eh?"


"Oh, sorry. Aku juga mau pakai yang ini." Sebuah tangan terulur pada rak mengambil buku incarannya.


"M-Miku-san?" Chely tersenyum. "Iya silahkan aku bisa cari yang lain." Ia melangkah kembali menuju rak yang lain.


'Kenapa setiap berdekatan dengan Miku-san aku serasa gelisah?'


Meski sering di sebut tidak peka oleh sahabatnya, tapi kini Chely peka terhadap keadaan disekitarnya. Apa lagi kalau bukan Miku yang mengikutinya sambil menatapnya. Bukan, bukannya Chely narsis tapi langkah Miku dibelakangnya sangat terdengar jelas.


Chely berbalik. "A-ano_"


"Apa?" Dan benar saja, Miku sedang menatapnya dengan pandangan angkuh dari jarak lima langkah.


"Apa... Miku-san cari buku yang lain?"


"Tidak." Miku mendekat sampai hanya ada jarak satu langkah diantara mereka. "Aku sedang mencari apa istimewanya diri mu."


Kening Chely berkerut. "Apa maksudnya?"


"Mirip dengan ku."


.


.


"Ah... Pegal sekali." Maykel merenggangkan badannya yang terasa remuk akibat selesai mendrible bola basket.


"Lembek."


Mata Maykel berkilat tajam, ia menunjuk Bilton. "Apa kata mu?!"


"Kau tidak dengar, aku bilang. Lem-bek."


"Hey! Kitsune! Lelah itu wajib bagi orang normal."


"Aku saja yang normal tidak lebay."


"Iss... Terserah kau saja." Maykel menghempaskan tubuhnya di kursi panjang ruang ganti. "Hausnya, minta Rio."


"Ini." Pemuda pucat yang di panggil Sai oleh Maykel melemparkan satu minuman kaleng.


"Lawan kita Ame Gakuen."


Bilton menoleh, ia menatap Orlan yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk. "Hn. Aku tahu, ku dengar mereka hebat dalam basket."


"Kemarin saja katanya menang melawan Kiri." Onyx Aron menatap sapphire Bilton.


"Ya. Lawan yang cukup kuat. Tapi tentunya kita lebih kuat dan hebat."


"Wow! Wow! Wow!" Maykel bertepuk tangan. "Kapten Basket yang bijak."


"Bilton memang bijak, tidak seperti mu Maykel."


"Rio, mulut mu tajam sekali."


"Terima kasih Maykel."


Ceklek.


"Bilton-kun?"


Hening.


Semua kepala menoleh ke arah pintu ruang ganti, tepatnya menatap seorang gadis berambut pirang pucat, anak baru kelas 2-1, Miku. Tepatnya mantan kekasih Bilton 2 tahun yang lalu.


"Mau apa kau kemari?" Nada bicara Bilton terdengar tidak bersahabat, ia beranjak dari duduknya menghampiri Miku di ambang pintu.


Maykel menggertakkan giginya, untuk apa Bilton menghampiri Miku. Harusnya si pirang menghindar, benar, kan?


Miku tersenyum, ia menyerahkan kotak bekal yang dibawanya. "Ini makan siang untuk mu Bilton-kun. Kau pasti belum makan, kan?"


Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Ya, aku memang belum makan." Ia menerima kotak bekal yang diberikan Miku. "Sekarang kau bisa pergi." Bilton kembali berbalik sembari menutup pintu, tidak peduli jika Miku masih ada disana dan terkena dorongan pintu.


"Kenapa kau menerima barang darinya?" Suara Maykel lah yang pertama kali menyambutnya kala ia sampai kehadapan teman-temannya.


"Tidak baik menolak rezeki."


"Tapi dia mantan mu, Bilton." Koreksi Rio.


"Kau masih menyukainya?"


"Orlan?!"


"Kalau begitu lepaskan Chely."


"Teme! Apa yang kau bicarakan?!"


"Aku benci orang yang menyakiti wanita." Maykel melengos, entah pergi kemana.


Suasana jadi hening setelah Maykel pergi. Jarang-jarang Maykel jadi bijak.


Terdengarlah Orlan menghela nafas. "Jangan plin-plan. Ingatlah siapa dia, jangan buat masalah. Kau itu laki-laki. Dan jangan lupakan fakta bahwa kau itu jenius, orang cerdas menggunakan otak bukan mulut. Aku yakin kau punya pilihan yang tepat, jangan sampai merugikan dirimu atau bahkan Chely."


"Aku tahu Shikamaru. Dan aku yakin Chely pilihan ku. Bukan Miku." Bilton tersenyum.


"Ya, kami percaya pada mu. Dobe."


.


.


"Indah-chan, a-ada apa?" Chely gugup di tatap Ino dari tadi, entah apa yang ada dipikiran gadis pirang yang kini duduk dihadapan Chely di kantin.


Bukannya menjawab, Indah malah menoleh ke arah Wulan. "Forhead?"


"Apa Pig? Kau jangan menatap Chely-chan seperti itu. Kau seperti lesbi."


Indah meringis. "Is! Bukan begitu, kau tidak merasa Chely-chan mirip dengan seseorang?"


"Hah?" Wulan yang merasa aneh dengan pertanyaan Indah, ikut menatap wajah manis Chely. Bahkan Tena juga ikut-ikutan menatapnya dengan mulut yang penuh ramen.


Emerald Wulan memicing, Tena mengerucutkan bibirnya, sedangkan Indah mengerutkan kening. Chely malah gugup di tatap tiga orang sahabatnya, sekarang malah mereka bertiga yang mirip lesbi.


"Ah, kau benar Pig!"


"Indah-chan benar!"


"Ya! Aku juga bilang apa?"


Chely makin bingung. "A-apa yang kalian bicarakan?"


"Itu... Orang yang mirip Chely-chan." Indah menyeruput jus jeruknya. "Tapi siapa ya...?"


Ting!


Wulan menaruh sendoknya kasar. "Miku-san!"


"Ah, ya! Ya! Ya! Miku-san." Indah dan Tena memekik girang.


'Mirip denganku.'


"Mi...ku-san?" Tanya Chely ragu. Kepalanya berputar mengingat perkataan Miku saat istirahat tadi siang.


"Lihat, Chely-chan. Gaya rambut, mata, hampir sama. Hanya saja beda warna."


Dalam hati Chely mengiyakan perkataan Indah.


"Oh, ya. Chely-chan sudah tahu belum?"


"A-apa?" Chely menatap Wulan ragu.


"Itu, Miku-san mantan pacarnya Bilton-san."


Deg!


"Forhead. Kau bodoh ya?! Jelas Chely-chan tidak tahu dia'kan waktu Junior High di sekolah khusus putri."


Iya, Chely memang berbeda sekolah. Tapi persahabatan mereka sejak Sekolah Dasar tidak putus begitu saja.


"Aku lupa Pig."


"Ma-mantan pacar?"


"Iya, mantan pacar. Chely-chan baru tahu?" Tena menatap Chely khawatir, seharusnya Chely sudah tahu hal ini semenjak pacaran dengan Bilton. Tapi... Sepertinya mulut ember mereka bertiga tidak bisa dikondisikan.


Chely mengangguk.


"A-astaga. Maafkan kami Chely-chan, ku kira ini masalah pribad_"


"Tidak apa Wulan-chan. Lanjutkan saja."


Wulan menatap Indah dan Tena bergantian. Melihat temannya yang berkata lewat tatapan seperti apa-boleh-buat-nasi-sudah-menjadi-kerak.


"O-oke." Wulan berdehem ringan. "Dari gosip yang kami dengar, Bilton-san pacaran dengan Miku-san hanya satu bulan. Setelahnya mereka putus entah karena apa. Setelah putus dengan Miku-san, Bilton-san tidak sekolah selama satu minggu. Dan... Yang ku dengar dia berubah dalam waktu satu minggu."


.


.


Chely mencuci wajah di kamar mandi, ia mendongak menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah basah karena air, tapi hatinya gelisah.


Chely menghela nafas. Ia mengingat penjelasan Wulan tadi saat di kantin. Setelah mendapat penjelasan mendadak mengenai masa lalu kekasihnya, Chely izin ke kamar mandi.


Ia bingung, sungguh. Ada rasa takut dihatinya. Apa lagi mendegar bahwa Miku mantan kekasih Bilton. Banyak pertanyaan dikepalanya.


Apa Bilton hanya menjadikannya palampiasan karena mirip dengan Miku?


Apa Bilton masih mencintai Miku?


Kenapa Bilton berubah setelah putus dengan Miku?


Apa yang menyebabkannya putus?


Apa Miku sangat berharga, sehingga merubah Bilton?


Dan... Yang terpenting, kenapa Bilton merahasiakan ini padanya?


Bukankah dia kekasih Bilton, seharusnya Bilton bercerita. Bukannya menutupinya. Jangan lupakan sikap kekasihnya semenjak kedatangan Miku, tangan Bilton selalu bergetar, sorot maniknya juga khawatir. Ada apa sebenarnya?


Kenapa Chely tidak tahu?


Dan... Kenapa sikap Bilton aneh?


"Apa Bilton-kun sudah tidak peduli lagi pada ku?"


Drrrttt... Drrrttt...


Getaran di saku roknya membuat Chely mengalihkan pandangannya.


Bilton-kun Calling.


"Hallo?"


"Is! Sudah ku bilang jangan formal."


Chely tersenyum. "Maaf. Ada apa Bilton-kun?"


"Apa? Aku tidak boleh menelepon mu?"


"Bukan begitu." Chely menyandar pada tembok.


"Aku merindukan mu." Chely merona. "Istirahat kali ini, aku hanya di beri waktu 15 menit. Is! Dasar Guy-sensei! Seharusnya dia mengerti bahwa Kapten Basketnya rindu kekasihnya. Dasar tidak peka."


Chely tertawa. "Mungkin permainan Bilton-kun buruk."


"Enak saja." Koreksinya. "Aku lapar~"


Eh?


Apa Chely tidak salah dengar, suara Bilton terdengar... Merajuk.


"Ka-kalau begitu makan."


Decakkan terdengar. "Kalau ada makanan ya ku makan. Kau tidak peka sekali."


"Iya.. Maaf. Bilton-kun ingin makan apa?"


"Makan kamu."


"E-eh!" Chely makin merona. "A-aku serius!"


"Aku juga serius!"


"Y-ya sudah aku tu_"


"Hey! Dasar, begitu saja marah. Makanan apapun asal tidak beracun."


"Em... Sayuran?"


"Itu beracun Chely. Yang lain."


"Roti?"


"Ramen."


"Roti!"


"Ramen."


"Roti, atau tidak sama sekali."


Bilton menghela nafas lagi. "Iya, iya. Cerewet. Bawa ke atap, jika lama. Kau yang ku makan."


"Bilton-kun!"


"Bye."


Klik.


Sambungan telepon terputus, menyisakan wajah Chely yang merona. Ia jadi ragu, ternyata Bilton peduli padanya. Tapi... Kenapa sikapnya saat bertemu Miku jadi aneh?


"Aku harus menanyakannya."


.


.


Klik.


Bilton tersenyum setelah memutuskan sambungan telepon. Perutnya tambah keroncongan. Tadi ia memang menerima makan siang dari Miku. Bilton memang membawanya, tapi ia berikan pada Chou. Teman sekelasnya yang rakus.


Ah.


Jika tidak ingat pesan Ibunya yang mengatakan jangan buang-buang makanan, Bilton pasti sudah melemparnya.


"Lama sekali." Ia menggerutu. Tangannya mengelus perutnya yang dilapisi seragam basket.


Ceklek.


Bilton menoleh. Bibirnya mencebik sebal.


"Aku hampir saja mati."


"Berlebihan." Chely duduk di kursi panjang samping Bilton. "Ini." Ia menyerahkan bungkusan berisi roti dan susu coklat.


"Tidak ada vodka?"


"Bilton-kun!"


Bilton tertawa. "Bercanda. Em, arigatou."


"Doita na..."


Hening.


Bilton menikmati makan siangnnya. Dan Chely menatapnya dengan raut wajah seribu satu pertanyaan. Jika di lihat-lihat, Bilton memang seperti tidak memiliki beban, tapi, siapa yang tahu bukan? Zaman sekarang banyak orang yang menyembunyikan beban dengan sebuah senyuman.


Dan hal itu...


Berlaku bagi Bilton.


"Wah, saat makanpun aku sangat tampan ya? Sampai lupa berkedip."


Kedip. Kedip. Kedip. "A-apa?" Chely memalingkan wajahnya ke depan. Gugup.


"Kau malu ya?"


"Si-siapa yang malu?"


"Aron."


"Hah?" Chely menoleh dengan kening berkerut.


"Tentu saja kau."


Tak!


"Sakit..."


Bilton tersenyum. "Makanya jangan memandangi ku diam-diam. Kalau mau, tatap aku sepuasnya."


Mereka bertatapan. Dan Chely adalah orang yang memutuskan kontak mata dengannya.


Chely diam.


Kening Bilton berkerut, ada yang jangal disini. Chelynya aneh. "Kau baik-baik saja?" Ia menyentuh bahu Chely.


"Te-tentu."


"Kau bohong."


Bilton-kun yang bohong!


"Tidak."


"Apa yang kau sembunyikan? Seperti ada yang kau sembunyikan."


Bilton-kun yang banyak menyembunyikan sesuatu dari ku!


"Ti-tidak ada."


Pertanyaan yang Chely susun tadi, hilang entah kemana. Ia juga bingung.


"Aku merindukan mu." Bilton memeluk bahu Chely dari samping, kepalanya disandarkan di bahu kekasihnya.


"Aku tahu..."


Sapphirenya terpejam. "Maaf... Kita tidak akan sering bertemu. Pertandingannya empat hari lagi, dan aku dengan teman-teman ku harus berlatih keras."


"Iya tidak apa-apa." Chely tersenyum, tangannya digunakan untuk mengusap helaian pirang kekasihnya. "Bilton-kun yang semangat. Jangan kalah ya..."


"Aku tidak akan kalah." Ekor matanya melirik Chely. "Chely?"


Chely menoleh. "Ya?"


"Tanyakan saja, aku tahu kau sedang bingung."


Deg!


Gelisah. Duduk Chely jadi tidak nyaman, terbukti dari tubuhnya yang bergerak-gerak.


Bilton menyadarinya, ia pindahkan tangannya menjadi memeluk pinggang sebelah kiri Chely. "Katakan. Aku tidak akan marah, jika bisa aku akan menjawabnya."


"Be-benarkah?"


Bilton mengangguk.


"I-ini mengenai Mi_"


Drrrttt... Drrrttt...


"Ck, kuso!" Bilton merogoh saku ponselnya.


Aron Teme Calling.


"Apa?!"


Nada semburan Bilton, membuat Chely menghela nafas.


"Kau dimana, hah? Istirahat sudah lewat 5 menit."


Seakan tak percaya dengan pernyataan Aron, Bilton melirik jam tangannya. "Iya! Iya! Aku ke bawah, dasar Ayam."


"Sialan kau Dobe Kit_"


Klik.


Bilton menyeringai, mematikan telepon saat orang lain mengumpat adalah hobinya. Sapphire birunya menatap Chely yang menatapnya. "Tentang apa? Maaf, ucapan mu terputus."


Chely tersenyum. "Lain kali saja karena_" Aku percaya pada Bilton-kun. "_Waktu istirahatnya sudah habis."


Bilton mengangkat tangannya, ia mencubit pipi Chely. "Ah, aku rindu pipi bakpao mu. Tiga hari aku tidak mencubitnya. "


Memang selama tiga hari ke belakang Bilton sibuk latihan basket. Begitupun untuk hari ini dan tiga hari ke depan.


"Is... Le-lepaskan."


Bukannya menurut, Bilton malah menatap lavender Chely dalam. "Jangan nakal ya di kelas."


"Iya... Iya..."


"Jangan selingkuh!"


Bilton-kun yang seharusnya jangan kembali dengan Miku-san.


"Tentu saja. Sana Bilton-kun pergi."


Bilton menggandeng lengan Chely, ia berdiri. "Antar sampai koridor."


.


.


.


.


Hari ini hari Rabu, hari diumumkannya nilai fisika di papan pengumuman. Banyak murid kelas 2-1 yang berdesakkan, ingin melihat siapa yang akan mengepel koridor lantai dua.


"Yah! Nilai ku pas KKM."


"Nah, Lee. Pel sampai bersih ya."


"80. Yey... Tidak sia-sia aku belajar sampai jam 3 pagi." Maykel mengepalkan tangannya ke udara.


"Yey... Kita lulus. Lihat kenapa nilai kita bertiga bisa sama ya?" Wulan, Indah, dan Tena berpelukkan.


Chely cemberut, padahal nilainya bisa dikatakan tinggi. 92, ini adalah nilai fisika terbesarnya. Biasanya hanya di bawah 90. Ini merupakan sebuah prestasi. Tapi_


"Nilai Bilton-kun sempurna."


"Yah... Orlan-kun dapat 98."


"Rio-kun juga 97."


"Atap."


Chely merinding mendengar bisikkan di telinga kanannya. Ia menoleh menatap Bilton yang menyeringai.


Glek.


"I-iya..."


"Aku tunggu, awas kalau kau telat."


Chely mengangguk ragu. "I-iya, aku akan tepat waktu."


.


.


"Lama!" Bilton mendengus. Ia mengalihkan pandangannya pada jam tangan yang kini melingkar manis di tangan kirinya.


Bilton berniat menagih janjinya pada Chely.


Ingat kesepakatan yang di buat saat akan menjelang ujian fisika?


Ya.


Bilton ingin menagih hadiahnya.


Ia menyeringai. Membayangkan apa yang akan dilakukannya pada Chely.


"Jangan-jangan dia bertemu Sasori. Ck, merepotkan."


"Atau... Ia malah pergi makan siang dengan orang lain?"


Bilton mengerang frustasi. Waktu istirahatnya hampir habis karena menunggu Chely.


Ceklek.


"Ma-maaf aku terlambat."


Sapphire Bilton menatap tajam Chely yang menunduk. "Iya, iya. Aku maafkan."


Dalam hati Chely menghela nafas lega.


Sengaja?


Iya, Chely mengakuinya. Mana mau Chely berlama-lama dengan Bilton yang akan meminta hadiahnya.


Berbahaya.


Kekasihnya itu memang bermuka datar, tapi dalam kedataran wajahnya tersimpan banyak misteri... Salah satunya permintaan yang kini Bilton akan ajukkan pada Chely.


"Sini." Bilton melambaikan tangan. "Waktu istirahat ku hanya 10 menit lagi."


"Ma-maaf."


"Ck, lagi pula kenapa lama?"


Chely duduk di samping Bilton. "Aku... Itu, makan siang dulu."


"Apa? Kau makan dan aku menunggu mu dengan perut keroncongan? Astaga..."


Chely mengangguk polos. "Hu'um."


"Iya. Terserah kau saja." Bilton tersenyum jahil. "Kau tidak lupa, kan?"


"Ah... Lupa apa?" Kelopak matanya berkedip.


Bilton gemas dengan tingkah Chely. Ia merubah posisi duduknya, menjadi menghadap si gadis. "Kalo lupa, permintaannya jadi tiga kali lipat."


Lavender Chely membulat, ia menatap Bilton yang menyeringai. "Apa?"


"Jadi... Yakin masih lupa?"


"A-aku ingat kok."


Bilton mengangguk. "Oke... Perminta_"


"Aku juga punya pe-permintaan."


"Hah?" Kening Bilton berkerut. "Sebenarnya siapa yang menang?"


"Bilton-kun."


Jawaban polos Chely makin membuat Bilton gemas. "Oke. Hanya satu, ingat. Hanya satu."


Chely tersenyum, ia mengangguk. "Hai. Pe-permintaan ku adalah... Bilton-kun jangan melipatgandakan permintaan."


"..."


"..."


"Ah, curang namanya."


Pipi Chely menggembung. "Cu-curang? Bilton-kun yang mau curang."


"Iya, iya. Aku hanya akan meminta tiga permintaan. Puas?"


"Tentu saja."


Dalam hati Bilton mengumpat, bagaimana bisa Chely tahu bahwa ia akan meminta dilipatgandakan permintaannya, di salah satu keinginannya.


"Permintaan ku yang pertama adalah..."


Glek.


Chely menelan ludahnya sudah payah. Bohong jika ia tidak takut.


"Cium aku." Bilton menyeringai.


Hah?!


Tuh, kan?


Chely menggeleng. "Ti-tidak mau!"


"Mana bisa, aku yang minta. Kau harus mengabulkannya."


Lavender Chely memantap Bilton memelas. "Ya-yang lain saja ya, Bilton-kun."


'Shit!' Bilton mengumpat, ia harus tahan dengan tatapan memelas Chely. Wajahnya berpaling ke depan. "Tidak."


"Ya-yang lain ya." Chely masih belum menyerah, ia bahkan mendekat dan menggoyangkan lengan kiri Bilton.


"Tidak." Sapphirenya melirik jam tangan di pergelangan kirinya. 6 menit lagi waktu istirahatnya berakhir.


Putar otak Bilton... Putar otak...


Ah! Dapat.


Bilton kembali menatap wajah Chely, Chely yang kaget karena jarak wajahnya yang begitu dekat refleks mundur. "Oke, jika kau tidak mau. Ada sanksinya."


"Kenapa begitu? Seminggu yang lalu Bilton-kun tidak bilang begitu."


"Aku bilang sekarang."


"Aaa... Curang."


"Ini namanya cerdas."


Chely menggigit bibir bawahnya, ia tarik nafasnya dalam-dalam. "Ka-kalau begitu. Aku juga punya permintaan lagi."


"Hah? Chely kau sudah minta tadi satu."


"Aku mau dua."


"Satu."


"Dua."


"Satu."


"Dua."


"Oke, dua. Kau mau apa?" Jika saja dihadapannya Maykel, dari tadi Bilton sudah buat kepalanya jadi benjol.


Untung sayang.


Ah!


Dihadapan wanita, pria memang selalu kalah.


"Bilton-kun jangan mi-minta permintaan ini lagi." Senyum Chely mengembang.


Bilton mengangkat kedua bahunya. "Tergantung."


"A-apa?"


"Ya, jika 'tempatnya' tepat aku tidak akan minta lagi."


"Bi-Bilton-kun!"


"A-aw. Sakit Chely." Bilton mengelus pinggang kirinya yang terasa ngilu akibat cubitan kekasihnya. "Oke, kabulkan permintaan ku."


Chely menarik nafasnya. Ia gugup setengah mati. "Tu-tutup mata Bilton-kun."


Bilton mengangkat sebelah alisnya. "Kau tidak akan kabur, kan?"


Chely mendelik, yang malah membuat Naruto ingin tertawa. "Aku tidak akan kabur."


"Oke." Bilton memegang lengan kanan Chely.


Chely menatap lengan kanannya yang di pegang Bilton. Lavendernya seakan berkata, kenapa-di-pegang?


Seakan bisa menjawab pertanyaan Chely lewat tatapannya. Bilton mengangkat bahunya—lagi. "Jaga-jaga jika kau kabur."


Sepertinya Chely banyak sekali menghela nafas kali ini. Buktinya ia menghela nafas lagi. "Tutup ma-mata Bilton-kun."


Bilton mengangguk patuh, ia tutup kelopak matanya.


Chely menatap Bilton yang memejamkan matanya, kalo menurut seperti ini Bilton-kun terlihat manis. Pikirnya.


Apa lagi jika sapphire birunya yang selalu menatap tajam semua orang itu terpejam.


"Ah. Cepat." Rengekkan Bilton menyadarkan Chely. "Kau tidak kabur, kan?"


"Ti-tidak."


"Lalu, kenapa lama?" Bilton sedikit membuka matanya yang tertutup. Dilihatnya Chely tidak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya. "Chely..."


"A-ah. I-iya. Tutup mata dulu."


Bilton menutup mata lagi. "Sudah."


Chely mengangguk, meski tidak bisa di lihat Bilton. Ia mendekatkan wajahnya dengan jantung yang bergemuruh.


Nafas hangat Chely menggelitik permukaan wajahnya. Membuat Bilton berdebar, sama dengan Chely.


Berusaha menertralkan degup jantungnya yang mendadak menggila, Chely mendekatkan wajahnya.


Cup.


Manis.


Chely menjauhkan wajahnya yang memerah.


Bilton membuka matanya, ia sadar jika pipinya ikutan memanas. Apa lagi ia masih merasakan bibir Chely yang menempel pada keningnya.


Bilton berdehem. "Sekarang permintaan ku yang kedua."


Chely menoleh, ia menatap Bilton. "Se-secepat ini?"


"Iya. Permintaan ku adalah, kau jangan meninggalkan aku."


Bilton-kun yang jangan meninggalkan aku.


Chely diam. Ia tertawa kecil. "Tentu saja aku tidak akan meninggalkan Bilton-kun."


"Janji?"


Chely mengangguk. "Janji."


Bilton tersenyum.


Grep!


Ia memeluk Chely. "Apapun yang terjadi... Jangan tinggalkan aku. Aku takut, kita pasti bisa menghadapinya bersama." Sapphirenya terpejam.


"Aku tidak akan meninggalkan Bilton-kun. Harusnya_" Bilton-kun yang berjanji. "Kita memang menghadapinya bersama."


Bikton melepaskan pelukannya. "Ah, aku jadi makin semangat untuk menang."


"Bagus. Ganbatte!"


"Iya."


"Permintaan Bilton-kun yang ketiga apa?"


"Ah... Kapan-kapan saja."


Alis Cheky mengernyit. "Kenapa?"


"Rahasia, Baby."


.


.


.


.


Suara riuh penonton menggema di lapang in-door Nada Gakuen. Ya, inilah pertandingan yang paling di tunggu oleh kedua belah pihak.


Nada Gakuen vs Ame Gakuen.


Bangku penonton sampai penuh oleh para siswa kedua sekolah tersebut.


Apa lagi jika yang bermain adalah X5, kumpulan pemuda tampan yang selalu di nanti.


"Bilton! Ambil!" Maykel mengover bola pada Bilton.


"Yo! Disini Maykel!"


Hap.


Dug... Dug... Dug...


Syutt..


"Masuk!"


"Nada Gakuen is the winner."


"Good all!" Bilton berlari ke tengah lapangan. Ia menghampiri teman-temannya yang penuh keringat.


Keringat kemenangan.


Tadi itu adalah point terakhir yang dicetaknya di menit terakhir.


"Kita menang." Bilton tersenyum.


Aron mengangguk. "Pointnya beda tipis."


"Yosh! Aku menanti hadiah dari Guy-sensei." Maykel tertawa.


"Aku lelah ingin tidur."


"Aku akan menyelesaikan lukisan ku."


Tidak mempedulikan teriakkan penonton, mereka malah berunding tentang kegiatan yang akan mereka lakukan setelah pertandingan.


"Omedato." (Selamat)


Serempak, lima kepala berbeda warna menoleh.


"Arigatou Toneri." Bilton maju selangkah, menemui sang lawan.


Toneri tersenyum. "Kalian hebat."


"Kau juga hebat."


"Arigatou Aron."


"Ah, ya. Sebaiknya kita abadikan moment ini dalam foto."


"Setuju, Rio."


Chely yang melihat itu di bangku penonton ikut tersenyum.


...


Bilton menyandarkan dirinya di tembok luar kelas, ia lelah dan haus. Dari tadi ia belum minum. Karena hanya ingin Chely yang mengantarnya, keringatnya bahkan belum di lap.


Hampir 2 menit Chely belum datang, dan tidak membalas pesannya.


Bilton tersenyum. Ah... Chely memang selalu membuatnya tenang. Hanya mengingat namanya saja senangnya bukan kepalang.


Ia menegakkan badannya. Menghadap arah koridor.


Di peluk Chely pasti romantis, pikirnya.


Grep!


Sebuah lengan melingkar diperutnya.


"Chely?"


Perkataannya di respon dengan gerakkan di punggungnya.


"Kenapa memelukku?"


Pelukkannya mengerat.


Sapphire Bilton terpejam. Jarang-jarang Chely mau memeluknya duluan. Ini patut dimanfaatkan.


Brak!


Suara itu mengagetkan Bilton. Sapphirenya terbuka.


"Ma-maaf mengganggu."


Deg!


Jantungnya serasa jatuh ke perut.


Hati Bilton ngilu bukan main.


Chely...


Berdiri disana dengan botol air mineral dan handuk yang jatuh di lantai. Kaget, Chely kaget.


"Se-sekali lagi maaf." Chely membungkuk, ia mengambil satu langkah ke belakang dan berbalik. Hatinya ngilu.


"Shit!" Bilton mengumpat. Ia melepaskan pelukkan yang diberikan entah oleh siapa itu.


Ia berbalik. Sapphirenya menajam. "Sialan!" Setelahnya ia pergi menyusul Chely yang menghilang begitu cepat.


"Akhirnya bertengkar juga." Miku menyeringai.


...


Chely melangkah menuju gedung utama, ia berniat pergi ke_


Ah.


Chely bahkan tidak tahu mau pergi kemana.


Yang Chely tahu sekarang ia harus menghindari Bilton.


Ternyata Bilton hanya menjadikannya pelampiasan karena ia mirip dengan Miku.


Ternyata Bilton masih mencintai Miku.


Ternyata Bilton berubah setelah putus dengan Miku karena ia masih mencintai gadis itu.


Ternyata Miku sangat berharga bagi Bilton.


Bilton merahasiakan semuanya karena ia takut Miku tidak akan menyetujuinya jika ia akan kembali dengan Miku.


Sikap Bilton aneh, karena ia gugup bertemu dengan Miku. Gugup karena cinta.


Pertanyaan yang ingin Chely tanyakan pada Bilton, malah ia jawab sendiri.


Kecuali pertanyaan tentang Bilton putus dengan Miku. Itu, Chely juga tidak tahu.


Masa bodo! Chely tidak peduli.


Hatinya tambah ngilu, melihat sendiri bahwa kekasihnya terang-terangan berselingkuh dihadapannya. Oh! Good! Apa sekarang kesetiaan itu hanya sebuah permainan?


Ia memegang dadanya yang entah kenapa semakin ngilu. Sikap manis Bilton, perhatiannya, kasih sayangnya, bahkan cintanya, hanya semata-mata karena Chely mirip mantan kekasihnya? Begitu?


Sakit.


Hatinya ngilu.


Chely percaya, bahwa kebahagiaan itu tidaklah gratis. Kebahagiaan haruslah di bayar dengan kesedihan entah itu sebelum atau sesudah kebahagiaan itu terjadi.


Lihat, bahkan Bilton tak mengejarnya. Sebegitu senangkah mereka. Mungkin mereka berdua sedang bermesraan.


Nafas Chely sesak, ia berjalan setengah berlari. Dadanya juga sakit, bahkan lavendernya sudah berair.


"Chely!"


Chely menggeleng. Ia terus berjalan.


Bilton berdecak, tenaganya hampir habis. Ia haus, lelah, kakinya bahkan lemas. Bahkan ia belum minum. Mengejar Cheky saja susah. Permainan basket tadi menguras tenaganya.


"Chely! Berhenti!"


"..."


"Shit." Bilton mengumpat pelan.


"Berhenti! Chely Hyuu! Ku bilang berhenti!"


Tap.


Deg!


Jantung Chely berdetak cepat, hatinya tambah sakit. Ini pertama kalinya Bilton membentaknya.


Berhasil. Chely berhenti di tengah lapangan parkir. Ia menghampiri kekasihnya dengan sisa tenaganya.


"Chely?" Bilton memegang lengan kirinya. "Kau sa_"


Chely berbalik. Ia menatap sapphire kekasihnya. Senyuman ia berikan. "Ka-kalau Bilton-kun ingin kembali de-dengan Miku-san, a-aku setuju kok..." Chely bisa merasakan air mata mengalir dipipinya. "Kalau beg_"


"Chely. Dengar kau salah pah_"


Chely menggeleng. Ia berusaha melepaskan cengkraman Bilton. Bibirnya ia gigit. "A-aku melihatnya, da-dan tahu semuanya."


"Kabulkan permintaan ku yang ketiga."


Chely menggeleng.


"Kabulkan permintaan ku yang kedua. Itu keinginan ku untuk permintaan ku yang ketiga."


"Kem-kembalilah dengan Miku-san ak_"


"Kau salah paham."


"A-aku... Da_"


"Chely dengar_"


"Dan lepaskan aku."


Deg!


Bisa Chely rasakan cengkraman Bilton ditangannya perlahan mengendur.


"Kau bercanda, kan?"


"A-aku serius."


"Chely"


"Sayonara, Bilton-kun." Chely berbalik.


Ia berjalan menuju gerbang, hatinya sakit. Ia sebenarnya tidak serius dengan perkataannya. Lihat! Jika Bilton mencintainya, pasti Bilton akan mengejarnya. Tapi pemuda itu malah diam. Chely ingin tertawa, ia merasa sangat menyedihkan. Bahkan menangispun sulit.


Ckittt...


"Hey!" Si pengendara motor berteriak, ia hampir saja menabrak orang di depan gerbang. "Chely?"


Chely mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk. Memperlihatkan wajahnya yang menahan tangis.


"Kau... Menangis? Kenapa?" Sasori melepaskan helmnya.


"Se-Senpai..."


"Kau kenapa?"


"A-antar aku pulang."


Sasori mengangguk. Ia memakai helmnya.


Brumm...


...


'Lepaskan aku.'


'Sayonara, Bilton-kun.'


Bilton terdiam, ia bukan tidak mengerti apa yang baru saja Chely katakan. Ia jenius, bukan orang *****.


'Apa Chely mengakhiri hubungan ini?' Bilton menggeleng. Ia masih saja berdiri.


Hati kecilnya sakit, ia bahkan pernah mengatakan air mata Chely sangat berharga. Namun kenyataannya, Bilton baru saja membuatnya menangis. Ini semua gara-gara Miku. Salah paham sialan!


Brumm...


Bagai sebuah alarm, suara gas dari motor sport menyadarkan Bilton. Ia menatap ke arah gerbang. Chelynya berboncengan dengan Sasori.


"Shit!"


Bilton merogoh saku celananya. "Shit!" Ia lupa jika ini seragam basket, mana mungkin Bilton menyimpan kunci motornya disini.


Kembali, Bilton berlari.


Sesak.


Nafasnya sesak.


Tidak peduli bahwa rasa lelah menderanya, Bilton terus berlari.


Chely tidak kelihatan sama sekali.


Ponsel?


Ah, itu dia.


Bilton berhenti dengan nafas sesak. Ia merogoh saku celananya. "Shit! Ponsel ku diruangan ganti." Ia kembali berlari. "Chely... Kau salah paham..."


Sesak.


Lelah.


Lemas.


Pandangan Bilton mulai kabur.


Dan...


Semuanya gelap.


.


.


.


.


To Be Contuned.


Huhuhuu.......


nyesek yaaa:')