Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 49


Arend mendorong Alena masuk dengan sedikit kasar, kemudian pria itu pun segera menutup pintu.


"Apaan sih, Mas? sakit tahu!" ucap Alena dengan nada yang sangat kesal.


"Apa maksud kamu senyum-senyum tadi sama Kama? mau cari perhatian kamu? ucap Arend dengan nada yang sedikit tinggi.


"Apaan sih? Kamanya nanyain keadaanku, ya aku jawab dong dan gak mungkin kan aku jawab pakai muka yang cemberut?"


"Tapi gak harus pakai senyum-senyum juga!" Aren tidak mau kalah.


"Aku baik-baik saja Kama, tidak perlu khawatir," Alena mempraktekkan mengucapkan kalimat itu dengan memasang wajah datar.


"Aneh gak sih? aku terlihat seperti robot yang sedang berbicara kan?" ucap Alena.


"Kamu jangan banyak protes! bukannya aku sudah pernah bilang, kalau kamu jangan dekat-dekat dengan Kama!" Arend berbalik dan mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Dia kan sepupu kamu. Kenapa aku tidak bisa dekat? lagian kapan kami dekat-dekat? kan gak mungkin ...." Alena menggantung ucapannya, begitu melihat tatapan Arend yang sangat tajam.


"Kan gak mungkin, kalau aku bicara sama Kama dari jarak jauh? emang harus dekat kan?" gumam Alena yang mengira kalau dia sedang berbicara di dalam hati, ternyata suaranya masih keluar dan masih bisa didengar oleh Arend.


"Ehemm! apa kamu masih mau terus protes? apa kamu tidak mengerti maksud dekat yang aku maksud? kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" suara Arend terdengar dingin.


"Hmm, aku tahulah, Mas. kalau dekat kan begini," Alena duduk di samping suaminya, "kalau jauh ituuuu," Alena beranjak dan berdiri agak jauh dari Arend, "begini. Kamu di sana dan aku di sini," ucap Alena dengan polosnya, hingga membuat Arend berdecak kesal.


"Aku capek bicara dengan kamu. Sekarang aku lapar, ambilkan makan siang untukku!"


"Ya udah, aku akan minta pelayan buat antar ke ruangan ini," Alena hendak merebut telepon dari atas meja, tapi Arend langsung menahannya.


"Aku maunya kamu yang masak dan bawa untukku. Jangan menyuruh pelayanan karena yang istriku itu kamu," Alena mengerucutkan bibirnya, kesal dengan ucapan Arend.


"Baiklah! aku ambilkan untukmu," pungkas Alena sambil beranjak keluar dari ruang kerjanya dengan bibir yang menggerutu. Sementara itu Arend hanya bisa mengulum senyumnya melihat kepergian Alena


Alena masuk ke dalam dapur dan mengambil bahan-bahan masakan yang dia perlukan, yang tentunya hanya tinggal dimasak saja.


"Bu, mau masak apa? biar saya aja, Bu." ujar seorang pria muda yang berpakaian koki.


"Oh, gak pa-pa, Man. Suamiku maunya aku yang masak. Kamu kerjakan saja pesanan pelanggan yang lain!" ucap Alena pada salah satu kokinya yang bernama Rahman itu.


"Tapi, Bu ...." Rahman merasa tidak enak hati.


"Bukannya istriku sudah mengatakan kalau suaminya mau makan yang dimasak olehnya? apa kamu tidak bisa mengerti kalimat?" tiba-tiba Arend sudah berdiri di depan pintu dapur dengan sorot mata yang berkilat-kilat, marah. Entah setan apa yang merasukinya, hati pria itu, tiba-tiba tidak merasa tenang begitu melihat Alena keluar dari ruangan tadi. Bayangan Kama yang mendekati Alena tiba-tiba berkelebat di pikirannya, karena dia tahu kalau Kama masih ada di luar bersama dengan yang lainnya.


"Ma-maaf, Tuan!" pria bernama Rahman itu membungkukkan tubuhnya dan langsung berlalu pergi dengan tubuh yang sedikit gemetaran.


"Kamu ngapain datang ke sini, Mas? kamu lihat pegawaiku jadi ketakutan," ucap Alena Dengan ekor mata yang melirik jengah.


"Kenapa? apa aku tidak bisa datang ke sini? aku cuma mau memastikan, kalau kamu tidak memasukkan racun ke dalam makananku," jawab Arend asal sambil menyenderkan tubuhnya di dekat kompor dengan tangan yang bersedekap di dada.


"Kamu mencurigaiku? aku buka orang bodoh yang __"


"Sudah, kamu jangan bicara terus! kamu masak aja, aku sudah lapar!" potong Arend sambil memasukkan potongan wortel ke mulut wanita itu, untuk menghentikan celoteh Alena.


Alena mengembuskan napas kesal, tapi tidak berani untuk protes lagi. Dia memilih untuk melakukan perintah Arend.


"Kalau masak itu, jangan cemberut! kamu terlihat tidak ikhlas. Apapun pekerjaan yang kamu lakukan, kalau tidak ikhlas hasilnya tidak akan bagus," sindir Arend yang melihat bibir Alena yang mengerucut.


"Kamu mau makan di sini, atau di ruanganku?" tanya Alena dengan wajah yang datar.


"Di sini saja," jawab Arend, santai.


"Lebih baik di ruanganku saja. Kalau di sini, para karyawanku tidak akan merasa nyaman." ucap Alena keberatan.


"Kamu yang menyuruhku memilih, tapi kenapa kamu yang memutuskan? tahu gitu tadi, kamu gak usah bertanya dan langsung aja bawa ke ruangan kamu," Wajah Arend terlihat sangat kesal.


Alena tidak menjawab sama sekali. Dia lebih memilih untuk mengangkat nampan yang berisi masakannya dan berlalu melewati Arend.


"Kenapa Mas masih berdiri di sana? apa Mas tidak melihat kalau aku tidak bisa membuka pintu ini?"ucap Alena yang menunggu inisiatif pria itu untuk membuka pintu.


Arend tersadar dan langsung membukakan pintu untuk Alena.


Sesampainya di ruangan, Alena langsung meletakkan nampan itu di atas meja.


"Kamu makanlah!" ucap Alena yang langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Wajah wanita itu terlihat sangat lelah.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Arend sembari memasukkan makanannya ke dalam mulut.


Alena tidak menyahut, tapi wanita itu menggelengkan kepalanya, menanggapi pertanyaan Arend.


"Kenapa kamu belum makan? apa kamu merasa kalau kalau kamu itu robot yang tidak memerlukan makan?" Arend terlihat marah.


"Kamu kenapa sih? kenapa kamu berubah cerewet seperti ini? dan lagian kenapa tiba-tiba kamu datang hari ini?" tanya Alena dengan beruntun membuat Arend hampir tersedak, karena kaget dengan pertanyaan Alena.


Arend langsung menyambar gelas yang berisi air putih dan meneguknya sampai tandas.


"Bisa tidak kamu bertanya satu-satu? apa salah aku datang ke sini? aku hanya ingin melihat apakah restoran kamu rame atau tidak," jawab Arend, berbohong. Sebenarnya orang suruhannya yang ditugaskan mengawasi Alena dari jauhlah, yang menginformasikan tentang kedatangan dua orang wanita yang menghina Alena.


Beruntungnya jarak kantornya dan restoran Alena tidak terlalu jauh, makanya dia bisa datang tepat waktu.


"Nih, buka mulutmu!" Arend mengangkat sendok dan mengarahkannya ke mulut Alena.


"Ti-tidak perlu, Mas. Aku bisa suruh pelayanan untuk ambil makananku sendiri," tolak Alena gugup.


"Kamu buka mulut kamu! atau kamu jijik satu sendok denganku?" tanya Arend dengan tatapan sangat dingin, dan aura mengintimidasi.


"Bu-bukan seperti itu ... iya, ini aku makan," Alena membuka mulutnya menerima suapan dari tangan Arend.


Setelah menyuapkan makanan ke mulut Alena, Arend juga kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri, begitulah seterusnya sampai makanan di dalam piring itu habis.


"Mas Arend, kenapa kamu tadi mengakui kalau kamu itu suamiku? bagaimana nanti kalau kita tiba-tiba bercerai? orang-orang pasti __"


Ting ...


Arend meletakan sendok ke atas piring dengan sangat keras. Pria itu langsung menatap Alena dengan sorot mata yang memerah dan sangat tajam, hingga membuat tenggorokan Alena seperti tercekat, dan kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang dikatakan papa, kalau aku tidak akan menceraikanmu? atau kamu benar-benar mau bercerai denganku?"


Tbc