CEO Melankolis

CEO Melankolis
Bab 115: Sesuai Janjiku, Aku akan menikahi Rhea!


Dua hari nyaris berlalu. Rakhan duduk gelisah di atas kursi kerjanya . Tengat waktu yang di berikan papa Rhea pada Rakhan tinggal 3 jam lagi. Namun ,sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar dari lab Nevada.


Dia yakin Rhea menempelkan sesuatu di atas jasnya. Tapi kenapa lab Nevada belum menemukan buktinya?


Tuk...tuk ..dia mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan pena. Seakan menghitung detik detik waktu yang telah berlalu tanpa kepastian.


****


Chayra membolak-balik badannya di atas ranjang. Dia merasa sangat gelisah. Hari ini adalah batas waktu yang di berikan oleh papa Rhea untuk klarifikasi peristiwa malam itu.


Sejak dia di bawa pulang, dia tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Rakhan. Ponsel yang di berikan Rakhan juga sudah di sita kakeknya.


Dia bahkan tidak di perbolehkan lagi keluar rumah sampai akhir Minggu ini. Entah apa yang di rencanakan kakeknya .


***


Rhea duduk gelisah di atas sofa di ruang duduk. Dia melirik mamanya yang tengah membaca majalah fashion berulang kali. Mamanya terlihat santai dan tenang. Seakan tidak memiliki beban pikiran.


Apakah mama lupa hari ini hari apa? gumamnya dalam hati.


" Berhenti memperhatikan mama," kata mama Rhea sembari menutup majalah yang tengah di baca nya. "Apa yang mau kamu tanyakan?" lanjut beliau. " Masalah bubuk kristal putih itu?" tebak beliau lagi.


Rhea mengangguk. " Iya ma, apa benar bubuk kristal putih itu tidak akan terdeteksi?" tanyanya harap harap cemas.


" Tenang saja," balas mama Rhea sembari menepuk bahu anaknya.


" Bubuk kristal putih itu adalah penemuan terbaru dari lab nya Efron. Katanya terdiri dari campuran sodium karbonat yang larut dalam udara dan powder Phong sanaeh yafaet yang merupakan bubuk pemikat powder effect," jelas beliau untuk menenangkan anaknya.


Sodium karbonat adalah bahan putih yang tidak berbau , bubuk tanpa warna yang menyerap embun dari udara.


"Jadi, lab secanggih apapun, entah itu lab Nevada yang merupakan lab tercanggih di dunia tetap tidak akan menemukan noda dari bubuk kristal putih itu," sambung beliau lagi.


"Are you sure mam? ( apakah kamu yakin ma?)" tanya Rhea berusaha menyakinkan dirinya.


"One hundred persen," timpal mama Rhea menyakinkan. " Buktinya sampai sekarang belum ada berita dari Rakhan kan? Sisa waktu tinggal sekitar 2 jam lagi."


"Iya," angguk Rhea. Sisa 2 jam 11 menit 10 detik lagi, batinnya sambil menatap jam tangan bertabur berlian 24 karat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Ya sudah, kamu tenang saja," kata mama Rhea seraya membuka kembali majalah fashion di tangannya.


Sebenarnya beliau juga merasa gelisah namun tidak di tampakkan karena takut anaknya menjadi gelisah melihatnya.


"Ya," angguk Rhea. Bagaimana tidak gelisah, jika bubuk kristal putih itu terdeteksi oleh mikroskop di lab Nevada, dia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan di terima nya dari papa dan Rakhan.


****


Tok ...tok ...pintu kamar Chayra di ketuk seseorang dengan sopan.


"Siapa?" tanya Chayra malas.


"Andin , kak Chayra," jawab orang yang mengetuk pintu.


Andin adalah salah satu asisten rumah tangga di kediaman Pak Bisma.


"Ada apa? Kalau di suruh ke ruang makan, aku tidak mau!" balas Chayra kesal.


Sejak pulang dari rumah Rakhan dua hari yang lalu, dan kakeknya melarang dia untuk keluar rumah. Dia bahkan tidak di izinkan untuk pergi ke kampus. Untuk menunjukan perasaan marahnya, dia memutuskan untuk tidak akan keluar kamar.


Sehingga, setiap jadwal makan sehari tiga kali, Andin akan mengantarkan makanan ke kamarnya.


" Kakek Bisma ingin kak Chayra menemui beliau di ruang kerja," jawab Andin menjelaskan.


Kakek ingin bertemu aku? Chayra mencibir dalam hati. Pasti akan membicarakan atau mungkin lebih tepatnya menyuruhnya untuk segera menikah dengan Damon, batinnya kesal.


Sejak dia memutuskan untuk tidak keluar kamar, Pak Bisma belum sekalipun mengajaknya bicara.


Hal itu membuatnya kesal. Dia merasa telah di penjara dan di abaikan oleh kakeknya sendiri.


"Katakan pada kakek, aku tidak mau!" tolak Chayra.


"Ada Mas Damon juga Kak," kata Andin memberitahu.


Huh, dia lagi, dengus Chayra. Dengan adanya Damon malah membuat dia bertambah malas untuk keluar kamar.


"Aku akan memberikan apa yang kamu mau," suara seorang laki laki tiba tiba terdengar dari depan pintu.


Damon? batin Chayra. "Benarkah?" katanya sambil membuka pintu kamar.


"Ya," angguk Damon. " Asal kamu mau keluar menemui kakek," lanjutnya.


"Apapun itu?" tegas Chayra pada laki laki yang berdiri di hadapannya.


"Apapun itu," ulang Damon tegas.


"Termasuk tidak menikah dengan kamu?" kata Chayra lagi.


"Termasuk tidak menikah dengan aku," timpal Damon.


"Baiklah. Aku pegang janji kamu," sahut Chayra dengan wajah sumringah.


"Iya," angguk Damon dengan tegas.


Tapi pak Bisma tidak akan membiarkan itu terjadi, batinnya dalam hati.


****


Rakhan masih duduk di kursi kerjanya. Waktu terus berjalan. Namun, belum ada telepon dari Nevada .


Aku sudah tak tahan lagi, geram nya dalam hati. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Telepon Lab Nevada, tanyakan kemajuan hasil penelitian jas itu," perintahnya begitu Taksa mengangkat telepon.


"Baik, CEO," sahut Taksa.


Tanpa membuang waktu ,Taksa segera menelepon pak Thomson, kepala Lab Nevada. Begitu tersambung, dia menanyakan hasil penelitian jas yang di kirim dua hari yang lalu.


Jawaban dari Pak Thomson membuat pucat wajah Taksa. Setelah mematikan sambungan telepon,dia buru buru keluar dari ruang kerjanya menuju ruang kerja CEO.


****


"Sudah hampir waktunya," kata Rhea sambil berdiri dari sofa.


Dia sudah tidak sabar untuk mendengar hasil penelitian lab Nevada.


"Kamu mau kemana?" tanya mama Rhea tajam.


"Tentu saja ke kantor CEO Rakhan, aku ingin tahu ..."


"Apa kamu tidak mendengar kata papa tadi pagi? " potong mama Rhea. "Kamu tidak perlu ikut ke kantor Rakhan, cukup papa saja," sambung beliau mengingatkan.


"Tapi ma ...." Rhea mencoba membantah.


"Sekali ini dengarkan mama. Jangan mengacau lagi," potong mama Rhea tegas.


"Iya," kata Rhea menurut. Dia duduk dengan wajah cemberut.


*****


Kret....pintu ruangan CEO terbuka dari luar.


Papa Rhea masuk di temani Aquila. Rakhan berdiri dari kursi untuk menyambutnya. Biar bagaimanapun situasinya, dia tetap menghargai orang yang lebih tua.


"Sudah waktunya kan?" kata Papa Rhea dengan wajah serius.


Rakhan mengangguk. Wajahnya suram.


" Bagaimana hasilnya?" tanya Papa Rhea cepat. Dari gelagat Rakhan sepertinya berita baik untuk Rhea, batin beliau.


"Sesuai janjiku, aku akan menikahi Rhea!" jawab Rakhan suram.


****


Maaf ya readers, otor telat up. Sedang banyak kesibukan di real life 🙏