
"AAAww Sakiiiittthhh!!!" teriak Helen dengan menancapkan kuku-kuku jari tangannya di punggung berotot milik Cakra.
"Tahan...sayang, ini...sedikit susah..." ucap Cakra terbata-bata dengan nafas yang tak beraturan pula.
"A... aw... Tu... tuan stop! perihhh!!" Meringis kesakitan Helen memejamkan netra indahnya yang sudah berlinang air mata.
"Seb... bentar... lagi..." sahut Cakra dengan terus berusaha mendorong masuk.
"Kenapa sulit sekali? Bukankah dulu sudah pernah masuk?" batin Cakra bingung.
Terlihat Cakra berhenti dengan pusaka yang masuk setengah, ia melihat istrinya yang berlinang kan air mata.
Ingin hati segera menyudahi namun melihat lekuk indah yang tergolek lemas di bawah kungkungan nya kini gairah Cakra semakin membara.
Terlihat Cakra menarik nafas seolah bersiap untuk tenaga yang lebih besar, dan... KREK!! JLEB!!
"Aaaaaaaahhhh..." suara jeritan mereka berdua terdengar tak kala pusaka keramat itu berhasil melesak masuk kedalam.
Terlihat Helen yang menahan sakit luar biasa, gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan air mata yang sudah menghiasi wajahnya bahkan kedua tangan dengan jemari lentik itu mencakar lengan Cakra hingga berbekas.
Berhenti sejenak berusaha beradaptasi, Cakra menatap sayu wajah istrinya yang terlihat sangat kesakitan itu.
"Maaf, aku janji setelah ini tidak akan sakit." bisik nya kemudian ia mengecup kembali bibir yang sedikit bergetar menahan rasa sakit itu.
Kembali bertaut kedua benda kenyal nan manis itu, perlahan Cakra menarik dan kembali memasukkan benda pusaka itu.
Lagi dan lagi, jeritan kesakitan kini berganti suara lenguh, desah manja yang mengisi ruangan itu.
Belum berganti-ganti gaya seperti yang dilihatnya di vidio-vidio situs dewasa, Cakra masih takut jika istrinya masih merasakan sakit.
"Ouh yeah... emh... haaaaahhh... lebih dalam sayang... aaaaahhh..." racauan tidak jelas mulai terdengar dari bibir Helen malam itu.
"Baik baby, terima ini." Mendengar permintaan sang istri, Cakra semakin semangat menggerakkan tubuhnya.
Setelah keringat membasahi tubuh keduanya, cairan tanda cinta meluber kemana-mana, akhirnya pergulatan panas itu berakhir dengan Helen yang tidur di dalam dekapan Cakra.
Keduanya kini tidur dibawah selimut yang sama, tanpa pembatas guling ditengahnya, Helen tidur beralaskan lengan kekar suaminya.
"Tidurlah." bisik Cakra dengan mendekap tubuh sintal nan seksi itu di dalam pelukannya.
Tak butuh waktu lama Helen kini sudah terlelap kedalam, dunia bawah sadarnya.
Sedangkan Cakra otaknya traveling ke masa dimana mereka baru saja bertemu, dan untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan itu.
"Bukankah dulu kita sudah pernah melakukannya? Kenapa tadi masih terasa sangat sulit? Seperti pertama kali saja." gumam Cakra dengan menatap langit-langit kamarnya.
Kemudian perlahan serpihan ingatan-ingatan malam kelam itu muncul di dalam otak genius CEO Frans Group itu.
Kejadian malam itu...
Di dalam bath up keduanya saling mencumbu dengan gairah yang sama besarnya, Cakra terus mengecup tengkuk juga punggung mulus yang ada di hadapannya itu.
Sedangkan tangan nakal Helen tanpa ia sadari menelusup membuka kepala gesper yang ada di belakang pinggangnya.
Keduanya saling terbakar gairah nafsu yang mulai memuncak, Cakra membalikkan tubuh Helen agar menghadap padanya kemudian kembali bertaut kedua bibir yang saling mengecap itu.
Posisi Helen duduk di atas pangkuan Cakra dengan tangan yang memainkan benda tegak nan keras di bawah sana.
Sedangkan Cakra tak mau berdiam diri, sebelah tangannya pun menelusup masuk kedalam lembah amazon yang masih rumpun dengan rumput yang sangat halus itu.
Karena semakin tinggi nafsu keduanya Helen melepaskan semua kain yang melekat pada tubuh nya dan tiba-tiba gadis yang masih di bawah pengaruh alcohol itu berdiri kemudian keluar dari bath up dengan menarik lengan kekar Cakra.
Ya masih teringat jelas di dalam otak Cakra saat itu Helen menariknya keatas ranjang empuk dan pergulatan panas, mereka lanjutkan di sana.
"No... No... ini sangat sakit!!" teriak Helen dengan menendang dada Cakra.
Akhirnya Helen mengambil alih, gadis itu duduk di atas Cakra, dengan menggesekkan pusaka tegang itu ke arah lembah basah itu keduanya saling mengerang.
Saat Helen hendak mencapai puncak ia mengeratkan genggamannya pada benda pusaka itu dan mempercepat pula gerakkannya.
Hingga keduanya mengeluarkan ****** ***** yang meluber membasahi perut keduanya.
Ya... sampai di situ Cakra baru mengingat jika saat itu ia gagal membobol Helen, keduanya hanya main diluar saja.
Cakra menatap istrinya yang kini sudah terlelap di pelukannya, dikecupnya pucuk kepala Helen dengan lembut, kemudian Cakra segera melarutkan diri kedalam alam mimpi yang siap menanti.
...πππππ...
Pagi ini kedua sejoli itu masih asik di dalam selimut tebal yang hangat itu.
"Enghhhh..." Menggeliat Helen dan, "Ssshhhhh awww...." Gadis itu mengurungkan niat untuk bangun ketika ia merasa nyeri di bagian pangkal pahanya.
Terbangun Cakra yang mendengar rintihan sang istri, "Kenapa sayang?" terbuka mata Cakra yang menyipit itu.
"Sakit." lirih Helen dengan berusaha bangun dari tidurnya. Cakra yang merasa bersalah segera mengenakan celana nya dan membantu istrinya itu, "Mau kemana?" tanyanya penuh perhatian.
"Mau ke kamar mandi." sahut Helen malu, tanpa aba-aba Cakra langsung menggendong tubuh Helen untuk dibawanya masuk kedalam kamar mandi.
"Tu... tuan, mau apa?" Gelagapan gadis itu namun dengan tangan yang stay merangkul pundak suaminya.
"Diam lah, biar ku bantu." sahut Cakra.
Di atas toilet duduk, Cakra menurunkan Helen, istri cantiknya itu terlihat meringis ketika buang air kecil.
"Genggam tangan ku jika sakit." ucap Cakra dengan memegang kedua tangan Helen yang saling meremas di atas paha, seolah Cakra tau jika Helen tengah menahan rasa perih di sana.
"Sebentar aku bantu siram dulu ya." ucap Cakra yang meraih sebuah gayung yang berisikan air hangat.
Perlahan dan dengan telaten Cakra membersihkan bagian inti yang semalam telah memanjakannya itu.
"Aw... ssshhhh..." Merintih Helen memegang pundak Cakra.
"Masih sakit?" tanya Cakra dengan memandang wajah istrinya.
Mengangguk pelan Helen, "Mau di panggilkan dokter saja?" tanya Cakra lagi.
Menggeleng Helen, "Jangan Tuan, kan saya malu." lirih gadis itu dengan menunduk.
"Ya sudah, berdiri dulu sebentar." ucap Cakra membantu Helen berdiri kemudian kembali ia mendudukkan istrinya di atas kloset duduk yang sudah ditutup.
"Coba buka sedikit." Menurut Helen dengan perintah yang diucapkan suaminya itu.
"Maaf ya?" lirih Cakra ketika melihat lengkungan senyum di pangkal paha itu terlihat memerah dan sedikit membengkak.
"Tidak apa-apa, lagi pula itu sudah kewajiban saya, dan..." Helen terhenti sejenak merasakan kompresan air hangat yang diberikan Cakra kepadanya.
"Dan apa?" tanya Cakra yang penasaran dengan kelanjutan ucapan istrinya itu.
"Tuan jangan kapok menyentuh saya." lirih Helen dengan menatap Cakra yang fokus mengompres lembah kenikmatannya.
Terkejut Cakra mendengar penuturan istrinya itu, ia pun memandang Helen, hingga kedua netra itu bertemu kembali...
Yuk diramaikan like dan komentarnya,π₯°π₯°π₯°