Black Ice Dragon Legend

Black Ice Dragon Legend
bab 7 sebuah kesalahan pahaman


Setelah mendengar itu, raja menggertakkan giginya. Dia semakin kesal dan marah dengan Gadis yang tidak tahu diri di depannya ini. Dia tanpa sadar memukul sisi samping singgasana. Suaranya sangat keras membuat dua penjaga yang berada di depan pintu terkejut dan memandang raja.


“Aku tanya sekali lagi! Kalian dari mana!?” suara raja terdengar sangat keras dan mengandung kemarahan yang berapi-api. Setelah berkata, Raja mengambil nafas lebih cepat.


Rina dan Chan lebih takut. Mereka langsung berdiri di belakang Delisa dengan tubuh gemetar. Mereka tidak pernah menyangka Delisa berani mempermainkan seorang raja. Mereka berdua seolah seperti anak kecil yang bersembunyi di balik ibunya.


Meski Raja berteriak, Delisa tidak gentar sedikit pun. Dia dengan tenang menatap raja. Bahkan sedikit tersenyum.


“kami berasal dari kerajaan radia.”


“kerajaan Radia?” raja terlihat lebih tenang setelah mendengar nama itu.


Delisa mengangguk. “kami datang hanya untuk melewati tempat ini. Tidak ada tujuan lain selain melewatinya.”


“Kau pikir aku bodoh? Sebutkan apa mau kalian memanipulasi putriku! Cepat Jawab!”


“memanipulasinya?”


“Apa maksudnya?”


“jangan bertindak bodoh. Cepat katakan! Jika tidak aku tidak akan berbelas kasihan.”


“Tidak ada yang bisa aku jawab. Putri anda yang ingin bergabung bersama kami yang mulia. Kami tidak memanipulasinya. Jangan bertindak seperti ini jika belum ada buktinya.”


“Buktinya kalian yang telah membawa putriku. Cepat katakan!”


“aku tidak bisa menjawab apa pun.”


“Pengawal! Cepat bawa dua anak buahku!”


“Baik yang mulia.” Dua penjaga langsung mengangguk dan pergi dari sana.


Delisa menggertakkan giginya menatap raja. Dia sudah memberikan jawaban yang benar, tetapi raja tidak mempedulikannya.


“Yang mulia, anda terlalu cepat mengambil keputusan.”


“Aku melakukan ini hanya untuk putriku. Apa saja yang mengancam keselamatannya, aku akan membasminya.”


“jika begitu, aku akan membunuhmu terlebih dahulu!”


Delisa mengentakkan kakinya, kemudian melesat ke depan. Di tangan kanannya muncul bola api ungu yang panas.


Raja tidak bergerak sedikit pun, dia hanya berseru, “lancang!”


Tepat ketika Delisa hendak mencapai raja, tiba-tiba sesuatu bayangan muncul menghalanginya. Delisa refleks melompat mundur ke belakang. Ketika Delisa melihatnya, dia adalah seorang pria berotot botak membawa pedang besarnya.


“tuan, aku akan memberikannya pelajaran hari ini,” kata Pria itu sambil tersenyum ke arah Delisa.


“restuku selalu bersamamu.”


“hahaha! Mari kita bermain-main!” Pria itu mengentakkan langkahnya ke depan, kemudian melompat ke arah Delisa. Lantai yang di pijakinya hancur.


Wuss bomm!”


Dalam sekali ayunan, lantai yang berada di tempat Delisa terbelah menjadi dua. Sementara Delisa sendiri melompat ke samping.


“ayo kita bermain-main!” pria itu mengayunkan pedangnya ke samping, tepat ke arah Delisa.


Delisa melompat ke atas, tetapi siapa yang tahu, pedang itu berbalik ke atas. Delisa terkejut, dan dengan refleks melempar selendangnya ke salah satu pilar dan menarik tubuhnya.


Tepat saat itu juga, dia melempar beberapa bola api.


Delisa mengeluarkan sebuah pedang yang telah lama dia simpan di penyimpanannya, kemudian mengalirkan api ke bilahnya. Kemudian dia melesat mengayunkannya ke arah Pria itu.


Mereka sama-sama menggunakan pedang. Meski di sini Delisa yang lebih kecil dan sangat tidak diuntungkan, dia bisa memberikan perlawanan yang sengit kepada pria itu. Saat ini barulah muncul angin di sekitar bilah pedang pria itu. Dia melakukannya demi menjaga tubuhnya agar tidak terbakar akibat serangan Delisa.


Pertarungan terus berlanjut. Sementara di sekitar mereka beberapa prajurit muncul dan mengelilingi mereka. Ketika ingin terjun dalam pertarungan, raja memerintahkan untuk menangkap Rina dan Chan dulu.


Rina dan Chan tidak menyerah begitu saja, meski terdesak. Mereka berlari-larian mengelilingi aula dan melempar apa saja yang ada untuk menyerang.


Kembali ke Delisa. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya Delisa memilih menjaga jarak dengannya. Pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dan nafasnya tidak beraturan. Orang di depannya memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat. Dan, dengan pedangnya, dia mampu mengeluarkan kekuatan yang lebih kuat lagi.


“Maaf, aku terlambat.”


Tiba-tiba pria berpakaian hitam muncul di samping pria berotot.


“kau tidak muncul, tidak apa-apa. Gadis ini sangat menarik.”


“oh, benarkah? Baiklah, aku akan mencobanya.” Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian menariknya kembali. Tiba-tiba muncul dua pistol di tangannya.


“Heh, baiklah, ayo kita bermain-main.” Pria itu mengarahkan dua moncong pistolnya ke arah Delisa. “Saudaraku, mari kita bersama-sama menangkap kelinci ini.”


“tentu saja!” Pria botak memegang erat pedang kemudian melesat maju, tepat ketika pria berpakaian hitam menembakkan kedua pistolnya.


Delisa melengkungkan Tubuhnya ke belakang untuk menghindari dua peluru. Tetapi siapa yang tahu, tiba-tiba dua peluru itu berubah arah ke bawah menyerang Delisa. Delisa terkejut. Dia langsung menghalangi serangan itu dengan pedangnya.


Tang! Draggg!


Kekuatan dua peluru itu sangat kuat, membuat tubuh Delisa tertekan ke bawah dan membuat hancur lantai ke bawah.


“kekuatan anginku memang mengagumkan.” Pria berpakaian hitam tersenyum dan memuja dirinya sendiri.


“Hahaha! Biarkan aku yang menambahkannya!” Pria botak berbicara setelah melompat ke atas. “rasakan ini gadis kecil!”


Dang!!!!!


Pedang besar membelah lantai sangat dalam. Tetapi Untungnya Delisa mampu menghindar dengan selendangnya. Hal itu mampu membuatnya menarik nafas sejenak sebelum pria berpakaian hitam menembakkan pelurunya dan pria botak menyerangnya.


Pertarungan terus berlanjut. Aula indah sebelumnya kini sudah berantakan. Raja yang dari tadi duduk di singgasana merasa kesal. Dia berujar, “Kalian berdua! Cepat tangkap mereka! Jangan menghancurkan istanaku!”


“tenang saja rajaku.” Pria berpakaian hitam menjawab. Dia kemudian mengarahkan moncong pistolnya ke arah Chan dan Rina. “kelinci kecil, lihat ini!”


Dua peluru melesat.


Rina dan Chan yang melihatnya sangat khawatir. Mereka berdua kini di apit kedua sisi oleh para prajurit. Sementara Delisa harus bertarung dengan pria berotot. Dia tidak bisa mencegah serangan itu. Pria berotot terus menyerangnya dengan intens.


Namun, tiba-tiba pedang melesat dari langit dan memotong dua peluru itu seperti memotong keju. Aura hitam, merah dan putih keluar dari bilah pedangnya.


“B-bagaimana bisa!?” pria berpakaian hitam sangat terkejut dengan kemunculan pedang itu. Pelurunya sangat kuat, tetapi di potong begitu saja.


Delisa yang melihatnya merasa lega, akhirnya bantuan datang kepadanya. Sementara Chan dan Rina bisa duduk dengan lega. Nyawa mereka akhirnya selamat.


Tetapi, raja beranjak berdiri setelah merasakan tekanan yang kuat dari pedang itu.


“yang mulia, ini sebuah kesalah pahaman!” simo muncul dari pintu utama bersama dua gadis yang telah menyerangnya.


“Kau! Akhirnya kau datang juga!”


“yang mulia.” Simo memberi hormat. Orang-orang yang ada di sekitar menghentikan aktivitas masing-masing.


“ini hanya sebuah kesalah pahaman. Kami tidak berniat buruk kepada tuan putri. Sebaliknya, kami selalu melindunginya. Jika yang mulia tidak percaya, yang mulia bisa memanggil tuan putri ke sini dan menjelaskannya.”