
"Terima kasih ya sayang selalu mendampingi dan menyemangati aku. Tanpamu aku pasti rapuh," ucap Adrian pada Annete.
"Iya Mas suami istri kan memang harus saling mendukung agar bisa mencapai kebahagiaan bersama."
"Bagaimana kalau untuk merayakan kebahagian keluarga kita, aku mau syukuran. Aku mau bagi-bagi makanan untuk anak-anak di panti asuhan?"
"Ide yang bagus Mas, bagaimana kalau kita minta bantuan Angel saja? Kebetulan kita kan udah lama tidak bertemu dengannya."
"Boleh nanti kita langsung pesan makanannya di cafe Yuna saja tapi sebelum ke sana kita mampir ke kontrakan dulu untuk menjemput Angel."
"Oke siap Mas tapi bagaimana dengan kerjaan Mas Adri?"
"Oh iya ya saya hampir lupa. Besok kan hari Minggu, jadi kita ke sana besok saja. Hari ini aku mau telepon Yuna dulu biar dia nyiapin pesanan kita."
"Oke Mas, tapi Mas Adrian makan dulu ya kita susah-susah loh masakin kok malah dicuekin."
"Ah iya." Adrian langsung membuka rantang dan menyendok makanannya namun sebelum memakannya dia terlebih dahulu menyuapi Annete dan Adel terlebih dahulu. Akhirnya makanan yang diperuntukkan Adrian dinikmati bertiga dan makanan tersebut langsung tandas karena makan bersama ternyata terasa tiga kali lebih nikmat.
Esok hari Adel sudah siap dengan pakaiannya, begitupun Annete dan Adrian. Sebelum ke cafe mereka terlebih dulu menjemput Angel. Sampai di sana Angel sudah siap menunggu mereka di depan pagar rumah karena Annete sudah terlebih dahulu menelponnya.
"Ayo Gel masuk!" perintah Annete saat melihat Angel sudah berdiri di depan mobil. Angel pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Sampai di cafe Yuna sudah menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana Yun sudah disiapkan pesananku?" Tanpa basa-basi Adrian langsung menanyakan pesanannya.
"Beres Dri, biar aku suruh anak buahku mengangkutnya ke dalam mobilmu."
"Tante Yuna!" Adel segera berlari ke arah Yuna dan memeluknya.
"Wah ada apa nih keponakan Tante kok kayaknya senang banget?"
"Iya Tante hari ini Adel senang banget," ucap Adel dengan senyum yang terus mengembang.
"Oh gitu ya, pasti karena udah punya bunda Annete ya."
"Iya salah satunya."
"Semoga Adel bahagia terus ya sayang."
"Makasih Tante."
"Iya sama-sama."
"Oke ini kunci mobilnya." Adrian melempar kunci tersebut pada Yuna dan Yuna langsung menangkapnya. Setelah itu dia langsung beranjak dan memerintahkan anak buahnya.
Selagi anak-anak buah Yuna mengangkut nasi kotak ke dalam mobil Adrian. Adrian, Yuna, Annete dan Adel serta Angel bercakap-cakap sebentar.
"Oh ya Dri, aku punya undangan untuk kalian semua. Tunggu dulu ya, aku mau ambil dulu."
Yuna beranjak dari tempat duduknya dan pergi mengambil surat undangan. Beberapa saat kemudian dia kembali ke tempat duduknya.
"Ini Dri, Gel."
Adrian mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Jadi kalian sudah mau menikah?"
"Iya Dri."
"Berarti Tante udah ngerestuin kalian?"
Yuna menghembuskan nafas berat kemudian menggeleng. "Belum Dri, mama tetap ngotot mau jodohin aku sama anak temannya. Jadi aku nekad aja yang penting papa kan ngerestui."
"Aku mendukungmu Yun, palingan nanti kalau kalian dah punya anak tante bakal ngerestui juga. Yang penting untuk saat ini om Robert sudah merestui kalian."
"Iya Dri terima kasih atas dukungannya."
" Ia Yun."
"Eh kamu sama Louis gimana Gel katanya kemarin-kemarin kalian memutuskan untuk menikah?" Adrian beralih bertanya pada Angel.
"Kata siapa Dri?"
"Tuh!" tunjuk Adrian pada Annete.
"Net!" protes Angel pada Annete.
"Tunggu-tunggu, bukankah kamu punya hubungan sama Edrick ya," heran Yuna.
"Tidak kok Mbak kami hanya berteman saja," jawab Angel.
"Oh."
"Terus sama Louis gimana kelanjutannya, masa sih Annete bohong sama aku tentang kalian?"
"Nggak sih Dri, waktu itu Louis memang ngajak aku nikah dan aku menyanggupi tapi sampai saat ini belum ada kabar selanjutnya dari Louis. Ya sudah aku cukup tahu diri kok Dri siapa aku. Barangkali Louis berpikir ulang dan dia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Itu lebih baik buatnya daripada harus menanggung beban yang tidak seharusnya dia tanggung."
"Angel." Louis bergumam sendiri mendengar suara Angel. Hari ini dia sedang memesan makanan untuk acara minggu depan di kantornya pada Yuna. Karena kebetulan dia belum sarapan jadi dia memutuskan untuk sarapan dulu di tempat ini. Sedangkan Yuna menganggap Louis sudah keluar dari tempat ini karena tadi sudah izin untuk pergi namun kenyataannya pria itu berbalik.
Setelah membayar bonnya ke kasir Louis langsung menghampiri Angel. "Gel!" panggilnya.
Semua orang menoleh ke arah Louis. "Louis."
Angel terperanjat dia takut Louis mendengar pembicaraannya tadi. Angel merasa tidak enak. "Kamu di sini Lou?"
"Iya aku baru saja makan."
"Ku pikir kamu tadi sudah pergi Lou," ucap Yuna.
"Iya tadinya aku langsung mau pergi tapi akhirnya berbalik soalnya perutku keroncongan minta diisi," ucapnya.
"Gel aku mau ngomong," ucapnya pada Angel dan Angel hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Louis ke meja yang lain yang pastinya jauh dari tempat duduk Annete dan Adrian.
"Maafkan aku ya Gel, akhir-akhir ini aku beneran sibuk jadi nggak sempat ke tempat kamu. Ngomong-ngomong soal pernikahan aku mau tanya sekali lagi apakah kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu?"
"Kenapa kamu jadi meragukan ku Lou?"
"Maaf aku tidak sengaja mendengar perbincangan kamu dengan Edrick waktu itu. Sepertinya dia sudah menyesali perbuatannya Gel. Maaf Aku menyimpulkan kamu masih mencintainya jadi alangkah baiknya kamu beri dia kesempatan untuk kembali padamu lagi."
Angel menghembuskan nafas kasar. "Terima kasih nasehatnya Lou dan terima kasih atas semua kebaikanmu padaku. Kalau kamu tidak bisa menikahi ku aku tidak apa-apa. Aku cukup sadar diri kok." Angel langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke luar cafe.
"Gel tunggu dulu, bukan begitu maksudku, aku benar-benar tulus mencintai kamu tapi aku hanya ingin kau bahagia dengan pilihanmu." Sayangnya Angel sudah berlalu pergi dan masuk terlebih dulu ke mobil Adrian.
"Yun kita permisi dulu ya!" ucap Annete sambil menarik pergelangan tangan Adrian.
Sampai di mobil Annete melihat Angel menangis sesenggukan.
"Gel kenapa kamu malah menangis?" Angel tak mau menjawab.
"Ada apa sih dengan kalian?" Angel semakin kuat menangis.
"Gel cerita dong!" Angel langsung mendekap tubuh Annete. "Mengapa ya Net semua pria terkesan mempermainkan ku?"
"Maksudmu?"
"Ucapan mereka semuanya palsu."
Adrian langsung menelpon Louis melihat Angel terus saja menangis.
"Halo Bro."
"Halo Lou kamu harus bertanggung jawab." Adrian langsung to the poin.
"Tanggung jawab apa Bro?"
"Kamu telah membuat Angel menangis sedari tadi."
Ya Tuhan, apa perkataan ku menyakitkannya? Ataukah dia memang lagi sensitif karena kehamilannya?
"Katakan padanya Dri aku akan menikahinya minggu depan."
"Apa? Kamu gila ya Lou, kamu...."
Tut tut tut. Sambungan telepon terputus karena Louis langung mematikan ponselnya.
"Tuh anak kebiasaan." Adrian geram sedang Louis di sana malah termenung.
*Ya Tuhan semoga ini jalan terbaik. Aku berharap suatu saat Angel bisa mencintaiku sebesar cintanya pada Edrick. Walaupun sesakit apapun Edrick telah menorehkan luka ternyata tidak pernah membuat perasaannya cintanya berubah sedikitpun.
Bersambung*....