
"brum..." suara mobil terdengar di depan rumah Bondan.
"sepertinya mas Rudi sudah pulang...!" kata Ana dan langsung berlari membuka pintu menyambut suaminya pulang.
Terlihat Rudi pulang bersama Anita. Anita tersenyum pada Ana saat memasuki rumah.
"tumben Anita tersenyum pada ku" batin Ana. "kesambet apa dia?" bertanya dalam hati. "apa dia salah makan?" Ana heran. karena, tidak biasanya Anita tersenyum padanya.
"letakkan tas ini dikamar" kata Rudi.
seketika Ana menatap Rudi "baik mas".
"tunggu!" Rudi menghentikan Ana. "nanti pas makan malam, berpakaian lah yang rapi" kata Rudi. "makanlah bersama kami, kita makan bareng-bareng, ok."
"tumben mas, memang ada apa?" tanya Ana sedikit bingung sekaligus penasaran. "biasanya...!"
"sudah lah...!" Rudi menyela. "turuti saja apa kataku"
"tapi, apa mama tau soal ini?" tanya Ana.
"mama biar aku yang urus" jawab Rudi. "kamu urus saja pekerjaan mu"
"iya mas" kata Ana.
sore ini Ana terlihat senang, karena tidak biasanya suaminya bersikap lembut padanya. Tapi dia juga bingung dengan sikap Rudi, dia juga bingung dengan Anita.
Ana bertanya-tanya dalam hati "ada apa sebenarnya?". batin Ana "kenapa mereka tiba-tiba berubah." lalu Ana menggelengkan kepala
setelah meletakkan tas dikamar Rudi. Ana kembali memasak di dapur untuk makan malam. Dengan semangat Ana memasak berbagai macam hidangan ada ikan bakar, capcay, udang krispi dan sup iga. Tak lupa Ana menyiapkan buah juga.
selesai memasak Ana langsung bersih-bersih dapur kemudian mandi. Ia tak lupa dengan pesan suaminya untuk memakai pakaian yang rapi.
menu makan malam sudah tersaji di meja makan. sofi, Bondan dan Firman sudah menunggu di meja makan. tapi Ana, Rudi dan Anita belum ada di sana.
"malam semua" sapa Anita dengan tersenyum pada semua orang yang sudah menunggunya.
Anita terlihat cantik dengan rambut lurus pendek memakai dress warna merah dan bibir yang merah.
"sayang kamu cantik sekali malam ini" puji sofi.
"makasih ma!" jawab Anita tersenyum
Firman tersenyum melihat Anita. tapi, tidak ada kata-kata pujian untuk Anita dari mulut Firman.
"malam, kalian sudah lama menunggu!" kata Rudi. "mana Ana?, kenapa belum kesini?" tanya Rudi.
"maaf terlambat" jawab Ana dari tempat yang agak jauh sambil jalan terburu-buru karena takut di marahi.
"bagus kamu sudah datang" kata Anita.
Firman tersenyum melihat Ana. Bagai mana tidak, Ana terlihat sangat cantik meski tanpa make up dengan rambut panjang yang terurai, memakai dress biru dongker dengan sedikit kombinasi warna putih di bagian atas.
Rudi tanpa henti memandangi Ana tanpa sadar dia terpesona oleh kecantikannya.
Anita jengkel melihat tingkah tingkah Rudi dan Firman langsung berdiri menghampiri Ana dan mengajak duduk.
"Ana, kamu jangan berdiri saja!, mari duduk sini" ajak Anita.
"kenapa aku duduk di sebelah mas Firman?" tanya Ana. "bukannya kamu yang harusnya duduk disini?"
"sudah, tidak apa" kata Anita. "biar aku duduk di sebelah Rudi" jelasnya
"kenapa begitu?" saut Firman dan Ana secara bersamaan lalu saling menatap sejenak. mereka berdua terlihat bingung dengan sikap Anita.
"sudah jangan banyak protes" kata Sofi.
"sebenarnya ada apa ini, kenapa Ana ikut makan bersama kita?" tanya Bondan. "bukannya Rudi dan mama tidak suka Ana makan bersama kita?" Bondan mengerutkan keningnya
"udah papa diam aja, nanti juga tau!" kata Sofi. "baik lah!, sebaiknya kita makan dulu!, ok".
"ayo, aku juga sudah lapar!, tolong ambilkan nasi dengan lauknya" kata Bondan
"iya pa" kata Sofi. "Ana...tolong nasinya."
"ini nasinya mmm... nyonya!" Ana terbata-bata bingung mau panggil mama tapi akhirnya panggil nyonya.
Sofi tersenyum pada Ana.
"huuhf..." Ana merasa lega setelah membuang nafas pelan.
"jangan tegang" bisik Firman pada Ana.
"bagai mana tidak tegang, tidak biasanya aku makan bersama kalian kan?" kata Ana berbisik dengan Firman. "sini piringnya mas, biar Ana Ambilkan nasinya."
Rudi yang tidak tahan melihat tingkah mereka berdua langsung mengambil piringnya dan memberikan pada Anita.
"tolong ambilkan nasinya untuk ku" pinta Rudi sambil menyodorkan piringnya di depan Anita.
"baik lah" jawab Anita. "biar aku ambilkan nasinya."
mereka pun menikmati makanan yang sudah tersaji dari tadi.
"ok, malam ini ada yang ingin ku sampaikan" kata Rudi mengawali pembicaraan setelah makan. "aku ingin menceraikan Ana".Rudi mengatakannya dengan penuh keyakinan
Ana melotot. "yang benar mas?" Ana kaget sekaligus senang. karena, memang ini lah yang di inginkan Ana dari dulu.
"ya" Sofi menjawabnya. "tapi, setelah kamu cerai dengan Rudi kamu tidak boleh keluar dari rumah ini!" kata sofi.
"kenapa begitu nyonya?" tanya Ana. "jika aku sudah bercerai dengan mas Rudi artinya aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kan!" kata Ana. "lalu kenapa aku harus tinggal di rumah ini?" tanya Ana terlihat bingung.
"karena kamu harus mengerjakan pekerjaan rumah ini" jawab Rudi. "dan kamu!, harus menikah dengan kakak ku Firman" jelasnya.
"mana mungkin bisa seperti itu!" jawab Firman. "aku kan sudah menikah dengan Anita" pungkasnya. "apa yang sebenarnya ada di kepala kalian?, apa kalian sudah gila?" kata Firman marah merasa di permainkan.
"tenang saja mas...!" kata Anita. "aku juga akan minta cerai kok, sama kamu!"
"kalian ini kenapa...?" tanya Firman dengan nada tinggi. "kenapa kalian begitu kejam...?" lalu dengan bingung Firman menatap Anita
aku ini kau anggap apa Anita? bentak Firman kepada Anita. "aku ini suamimu" kata Firman. "kau tidak bisa mengambil keputusan dengan seenaknya".
"aku sudah muak jadi istri kamu mas! kata Anita. "kamu itu lumpuh, kamu itu tidak berguna!" pungkasnya. "kamu sadar diri dong." kata Anita dengan senyum sinis.
"sebenarnya ada apa ini?" tanya Bondan. "kenapa jadi begini?" Bondan terlihat bingung karena tidak memang dia tau sama sekali.
"sudah papa diam saja" jawab Sofi tegas. "biar ini jadi urusan kami" pungkasnya. "papa tidak perlu ikut campur! cukup simak aja ya!" kata sofi melembut menenangkan bondan dengan tersenyum.
"kenapa kamu tega sekali mas!" kata Ana. "belum cukupkah kamu menyakiti aku selama ini?" tanya Ana dengan mengerutkan dahi.
"belum, aku belum puas membuat kamu menderita!" kata Rudi. "gara-gara kamu aku tidak bisa menikah dengan wanita yang aku cintai, dan sekarang dia menikahi laki-laki lain" jelasnya. "aku harus menuruti kemauan kakek untuk menikahi mu!, hanya karena, kamu menolong kakek!."
"aku juga sebenarnya tidak mau menikah dengan laki-laki seperti mu mas" kata Ana membalas. "lelaki jahat yang gak mau menganggap aku sebagai istrimu dan tidak pernah menghargai aku sedikit pun" kata Ana menatap Rudi dengan tajam. "aku juga ingin bebas!" mengubah raut wajahnya dan tatapan matanya. "aku juga tidak mau tinggal di rumah yang seperti neraka buatku" kata Ana menegaskan.
"kalian itu, tidak bisa dibiarkan." kata Firman tegas seperti ingin melakukan sesuatu. Dia tidak terima dengan semuanya dan tidak tega melihat Ana diperlakukan seperti itu.
"kamu mau apa Firman?" tanya Rudi. "kamu itu laki-laki cacat yang tidak berguna!, masih mending mama mau menampung kamu di sini!" Kata Rudi sinis. "aku dan mama ingin kamu tetap disini, karena kami pikir...!, kamu masih berguna suatu hari nanti!" kata Rudi.
"kalau bukan karena kakek tua itu sebenarnya aku juga tidak mau mengangkat kamu jadi anakku" kata Sofi. "tapi setelah kamu lulus kuliah dan bekerja, ternyata ada gunanya juga!" Sofi menyeringai. "kamu bisa menghasilkan uang dan memberi uang bulanan buat mama" jelasnya "sayang-Nya kamu sekarang lumpuh, hahahaha...!" sofi tertawa sinis.
"baik kalau itu mau kalian!" kata Firman. "setelah aku menikah dengan Ana, aku akan bawa Ana keluar dari rumah ini." Firman penuh dengan keyakinan.
...****************...