Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Manjanya Arsy


Tak lama dari acara lamaran, suara adzan maghrib berkumandang. Membuat mereka semua kembali ke vila untuk sholat magrib berjamaah. Kali ini giliran Simon yang menjadi imam sholat buat mereka semua, seusai sholat mereka lanjut dinner dan pesta barbeque .


Arsy terus menempel pada Simon sampai membuatnya tak bisa ikut memanggang makanan.


"Arsy, Daddy bantuin Paren (Papa Reno) panggang makanan dulu, ya sayang."


Bukannya turun, Arsy justru mengeratkan pelukannya kepada Simon. Entah kenapa dari dulu ketika bersama Simon, Arsy selalu saja manja seperti ini.


"Arsy, gendong Mami aja, ya. Biar Daddy bantuin Paren dulu." El) ia mencoba untuk mengambil Arsy dalam gendongan Simon, tapi dia tak mau lepas dari Simon.


"Daddy cini aja, lagian Palen udah gede macak gak bica cendili."


"Udah gapapa, Aku bisa sendiri kok! Orang tinggal sedikit panggangannya," pungkas Reno.


Setelah barbeque nya matang semua, mereka duduk bersama di meja makan yang juga sudah tersedia menu makan malam lainnya.


Di karenakan Arsy tak mau turun dalam gendongannya, terpaksa Simon makan sambil memangku Arsy.


" Arsy mau Daddy suapi? "tawarnya.


Arsy mengangguk, kemudian simon menyuapi Arsy dengan sabar. Melihat Simon yang tak sempat makan karena menyuapi Arsy, jadi gantian Elia yang menyuapinya.


Jingga, Reno, dan Runi termenung menatap mereka bertiga. Belum menikah saja, mereka sudah terlihat seperti sebuah keluarga kecil. Menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian, membuat Elia merasa berhenti.


"Kalian kenapa gak makan? Malah bengong! Keburu dingin makanannya, nanti nggak enak," ujar Elia.


"Ck ... ck ... Kita hanya sedang menikmati keromantisan sebuah keluarga, kok! Biar nanti bisa jadi referensi,"pungkas Runi.


" Iya, lagian kalian kayak gak tau tempat saja. Bersikap romantis di sini, tega banget ... " timpal Jingga.


Simon tersenyum." Mangkanya mbak, cepat cari pasangan, biar gak jomblo terus! Lihat nih, aku aja yang paling muda udah gak jomblo lagi. " Simon memperlihatkan kepada Jingga gandengan tangan mereka berdua.


" Apaan sih, gak usah pamer deh! Mentang-mentang udah di terima, seenaknya meledek yang masih single! "


Simon, Elia, Runi, dan Reno tertawa bersama saat mendengar ucapan Jingga.


"Mangkanya cepetan nikah Jingga, biar gak di ledekin terus!" ujar Reno.


"Apa kamu gak iri dan pengen punya pasangan seperti kita?" timpal Runi.


"Belum, because I'm very happy to be alone, there is no burden at all."


Jingga kembali menyantap makanannya. Sebenarnya bukan tidak mau, lebih tepatnya dia tidak ingin terluka, karena Jingga sempat menjalani sebuah hubungan. Awalnya dia mengira nasibnya akan jauh lebih baik dari ibunya, namun ternyata sama, kandas dengan sebuah perselingkuhan. Jadi sejak saat itu, dia benar-benar belum bisa untuk menjalin sebuah hubungan bersama pria lagi.


Tanpa sadar, ternyata Arsy sudah tertidur dalam pelukan Simon. Mungkin dia kecapekan karena seharian ini, dia terus bermain tanpa henti.


"Oh ya, aku bawa Arsy ke kamar dulu ya. Kasihan sudah tidur daei tadi," pungkas Simon.


"Oke."


Setelah itu, Simon dan Elia undur diri, begitupun dengan Runi dan Reno. Mereka berdua juga ikut pergi karena perut Runi sudah mulai kram.


Jingga menghembuskan nafas panjangnya, ketika tinggal dia sendirian menatap langit malam yang hanya di sinari oleh ribuan bintang.


Saat Jingga masih tenggelam dalam lamunannya menatap langit berbintang, tiba-tiba ada seseorang yang datang membuat lamunan itu buyar.


"Kamu sendirian?" sapa seorang pria.


Jingga hanya menoleh sebentar, lalu tak menghiraukannya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Pria itu.


"Duduk saja, tapi mejanya masih kotor! Lagian aku juga sudah mau pergi." Jingga beranjak bangun dari tempat duduknya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ada yang mencekal tangannya.


"Lepaskan, atau kamu akan menyesal!" gertaknya.


"Jangan pergi dulu, aku saja baru datang, dan jangan galak-galak. Nanti cantiknya hilang loh," bisik pria itu yang mencoba untuk mendekat ke telinga Jingga.


Dan tanpa berpikir panjang dan banyak bicara. Jingga langsung memelintir tangan pria itu, dan memukul punggungnya, membuat dia terjatuh di tanah.


" Auh .. ampun ... lepaskan! " seru pria itu yang mencoba menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya.


"Mangkanya, gak usah sok kurang ajar dan memegang tangan orang lain!"


Setelahnya, Jingga melepaskan tangan pria itu dan berlalu pergi.


Pria itu tersenyum saat melihat sikap Jingga yang jauh berbeda dari para wanita yang mendekatinya. Bahkan dia hanya menoleh sebentar ke arahnya, lalu seakan tidak peduli.


Padahal selama ini, banyak para wanita yang jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengannya karena ketampanan yang ia miliki.


"Lumayan juga tuh cewek, tenang saja sebentar lagi kita akan bertemu lagi!" pria itu bermonolog seraya terus menatap kepergian Jingga.


***


Simon sedikit menundukkan kepalanya. " Sudah malam, mbak istirahat ya. Soalnya besok kita pulang, biar gak terlalu capek. Selamat malam dan mimpi indah, sayang." Simon mengusap pipi Elia sebelum pergi. Sedangkan Elia, hanya diam membeku saat mendengar Simon memanggilnya dengan sebutan sayang.


Elia hanya bisa tersenyum, ketika mengingat ekspresi Simon saat mengucapkan panggilan itu kepadanya.


***


Hari yang penuh cerita telah pergi meninggalkan sebuah kenangan yang indah, dan hari baru telah datang kembali untuk menuliskan cerita baru.


Saat mencuci wajahnya, tanpa sadar Elia melihat bahwa jari manisnya, kini telah kembali terpasang cincin berlian yang begitu cantik. Elia tersenyum ketika mengingat kembali, bagaimana Simon memasangkan cincin itu kepadanya sebagai simbol bahwa mereka telah bertunangan.


"Ini adalah awal dari kisah kita di mulai, dan semoga bisa langgeng selamanya. Aku berharap bahwa kamu adalah yang terakhir, karena aku tak ingin kecewa untuk kedua kalinya. Cukup sekali aku merasakan hancur dan rasa sakit teramat dalam karena Cinta." Elia bermonolog seraya menatap cincin di jari manisnya.


Mencintai seseorang boleh saja, tapi ingat jangan bodoh karena cinta. Cinta seharusnya membawa sebuah kebahagiaan, bukan rasa sakit. Cintai dirimu sendiri, sebelum kamu mencintai orang lain. Jika kamu sudah mencintai dirimu sendiri, kamu tidak akan membiarkan dirimu terluka.


Masa lalu jadikan sebagai pelajaran untuk membuatmu menjadi lebih kuat, bisa melangkah maju ke depan, bukan kembali menengok ke belakang. Apalagi jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Saat Elia keluar dari kamar mandi, ternyata putri kecilnya sudah bangun.


" Mami, Daddy mana? "tanya Arsy.


" Daddy di kamarnya sayang, "jawab Elia.


" Acy pengen ketemu Daddy. "


" Iya, habis ini kita ketemu Daddy, ya. Tapi Arsy mandi dulu, biar gak bau acem! "


Arsy mengangguk.


Elia tersenyum, lalu menggendong Arsy menuju kamar mandi untuk memandikannya.


Selesai bersiap, Simon keluar dari kamarnya menuju kamar Arsy dan Elia. Mendengar ada suara ketukan pintu dari luar, Elia segera berjalan untuk membukakan pintu.


"Simon."


"Selamat pagi calon istriku yang cantik," sapanya.


Lagi-lagi Simon membuatnya bersemu merah dengan sikap manisnya.


"Selamat pagi juga."


"Arsy sudah bangun, mbak?"


"Sudah, dan tadi langsung mencarimu," ungkap Elia.


Mendengar ada suara Simon datang, Arsy segera berlari keluar dan menghambur memeluk Simon.


"Daddy," seru Arsy yang masih berbalut handuk.


Simon segera menggendong Arsy."Selamat pagi little princess Daddy, baru selesai mandi, ya? Tapi kok belum ganti baju?" tanyanya.


"Karena masih mau ganti baju, kamu sudah ketuk pintu duluan!" sahut Elia.


"Daddy kenapa cemalam gak jadi bobok cama Acy dan mami?" protesnya dengan melipat tangan di depan dada serta bibir manyun.


Sebelumnya Arsy sempat meminta tidur bersama dengan simon dan dia jawab dengan sebuah anggukan agar Arsy tak merengek.


Simon merasa gemas saat melihat wajah lucu Arsy, sedangkan Elia malu karena pagi-pagi Arsy sudah membahas soal itu.


"Karena mami sama Daddy belum resmi menikah, jadi kita belum bisa bobok bareng sayang. Tunggu mami sama Daddy menikah dulu ya, nanti baru deh kita bobok bertiga."


"Yaudah kalo gitu, Mami cama Daddy cepetan menikah aja!" ujar Arsy dengan polosnya.


Simon tersenyum saat mendengar dia mendapatkan dukungan keras dari putrinya.


"Kalau Daddy siap-siap saja, hari ini pun Daddy siap! tinggal Maminya aja, mau nggak?" goda Simon sambil menatap Elia yang kini wajahnya sudah memerah.


"Mami mau?" tanya Arsy.


"Arsy sudah, kita ganti baju dulu."


Elia mencoba mengalihkan pembicaraan, lalu mengambil Arsy dari gendongan Simon dan membawanya masuk ke dalam untuk berganti pakaian.


...****************...


Si berondong mah, makin pepet terus... Si Arsy juga ya...


Oh ya, di sini ada yang pro dan kontra dengan alur cerita novel ini. Karena Elia tidak bersatu lagi dengan Rigel, dan justru bersama Simon. Ada juga yang mengatakan bahwa Elia egois Karena tega memisahkan Rigel dan Arsy.


Semua itu akan terjawab di bab selanjutnya, apa alasan Elia melakukan hal itu semua. Jadi, ikuti terus cerita ini. Oke👌👌


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...