
Sebuah kata SAH yang terdengar dari para saksi dan tamu undangan, menjadi bukti jika kini status Larei dan Sakya sudah berubah.
Mereka sudah menjadi pasangan suami-istri yang diikat oleh ikatan suci. Dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata.
Larei mencium tangan Sakya, sesuai dengan yang diucapkan oleh penghulu dan Sakya pun mencium kening Larei.
"Sekarang waktunya pasangan pengantin untuk sungkeman, pada orang-tua, meminta doa agar kelak kehidupan mereka selalu dilimpahkan dengan kebaikan, juga mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa mereka yang telah merawat dan membesarkan mereka hingga jadi seperti ini."
Larei dan Sakya pun mulai beranjak dari kursi yang dijadikan tempat ijab qabul itu, mendekati ke empat orang-tua mereka yang tengah duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka.
Seperti acara-acara sungkeman pada umumnya, dimana di dalamnya ada sebuah rasa haru yang tidak terelakkan.
"Tolong jaga anakku dengan baik, jika nanti kamu memang merasa tidak bisa lagi bersamanya, jangan menyakitinya, tapi segeralah pulangkan dia ke rumahku," ucap Aditya pada Sakya dengan serius.
"Papi tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik, seperti Papi dan Mami menjaganya," sahut Sakya dengan yakin.
"Baguslah, aku harap kamu bisa menepati apa yang kamu katakan ini," ucap Aditya tersenyum tipis.
Setelah Sakya selesai, kini giliran Larei yang bersimpuh di depan papinya, dia menatap papinya dengan dalam, lalu kembali menangis.
"Jangan nangis Nak, sekarang seharusnya menjadi hari bahagiamu," ucap Aditya berusaha tersenyum pada anak perempuannya itu.
Meskipun sebenarnya, dia juga ingin menangis akan melepaskan tanggung jawab dirinya terhadap anaknya, kepada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Larei memeluk Aditya yang membungkuk itu dengan erat, baginya 25 tahun itu terasa sangat singkat. Rasanya baru saja kemarin dia selalu menangis, ketika menginginkan sesuatu pada orang-tuanya.
Namun, kini dia sudah akan meninggalkan kedua orang-tuanya, memulai hidupnya yang baru, mulai dadi sekarang juga perjalanan hidup yang sebenarnya akan mulai dia tapaki.
"Maafkan Larei Pi, sampai saat ini Larei belum bisa menjadi anak yang baik buat Papi dan Mami, selama ini Larei hanya bisa menyusahkan kalian saja," ucap Larei dalam pelukan papanya dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Tidak, Nak. Kamu tidak pernah menyusahkan papi dan Mami, kamu selalu jadi anak yang baik untuk kami, sebenarnya papi tida rela melepaskan kamu begini, tapi kamu juga harus memiliki kehidupanmu sendiri, beserta keluargamu kelak."
Aditya menepuk punggung Larei dengan perlahan, diikuti oleh Davira yang berada di sisinya, sambil menangis.
"Doa kami selalu menyertaimu Nak, jalanilah hidup dengan baik bersama suamimu dan anakmu kelak, ketika ada masalah, berusahalah untuk menyelesaikan masalah di saat keadaan tenang," ucap Aditya melepaskan pelukan mereka, menatap anaknya dengan lamat.
"Iya Pi," sahut Larei mengangguk.
Setelah itu, Larei pun berjalan ke arah Haira, dia melakukan hal yang sama seperti pada kedua orang-tuanya.
"Selamat datang di keluarga kami Nak, semoga nanti kehidupan kalian selalu berjalan dengan baik, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk mengatakan semuanya pada mama dan Papa ya," ucap Haira dengan tersenyum ramah.
"Aamiin Ma, makasih karena sudah menerima Larei dan maaf untuk apa yang terjadi ini," ucap Larei.
"Seharusnya kami yang minta maaf padamu Nak, maaf karena anak kami, kamu harus mengalami hal itu," ucap Haira dengan menyesal.
"Semuanya sudah jalannya Ma," sahut Larei berusaha tersenyum.
"Semoga kamu bisa merubah Sakya menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Haira mengusap pundak Larei.
"Iya, semoga saja Ma," ucap Larei dengan tersenyum tipis.
Meskipun dalam hati, dia tidak meyakini akan hal itu, dia tidak yakin jika dirinya bisa membuat Sakya berubah dan menghilangkan sikap yang buruknya itu.
Setelah selesai dengan Haira, Larei berlanjut lagi ke Fahar, hingga akhirnya acara ijab qabul dan sungkeman itu pun selesai dilakukan.
Sakya dan Larei pun, diminta untuk berganti pakaian terlebih dahulu, untuk acara selanjutnya, yaitu acara resepsi yang akan diadakan di ballroom hotel milik Fahar.
"Ayo Non, saya bantu anda untuk ganti baju selanjutnya," ucap seorang wanita dari pihak MUA.
Larei menghentikan sejenak langkahnya, menatap pintu yang pernah dia masuki itu, masih tergambar dengan jelas rasanya, ketika dia keluar dari pintu itu dengan rasa marah yang ada di hatinya.
"Kenapa cuma berdiri aja di sini, ayo masuklah, para tamu undangan sudah nungguin kita," ucap Sakya sambil membuka pintu, membuat Larei kembali ketarik dari lamunannya.
Dia tidak mengeluarkan suaranya, hanya anggukan samar yang dia tunjukkan, sambil mencoba mengatur napas dan mulai melangkah mengikuti langkah Sakya.
Larei memindai seluruh sudut kamar yang begitu mewah itu, beberapa waktu yang lalu dia tidak terlalu memperhatikan kondisi kamar itu, jadi dia tidak menyadari jika kamar itu memang mewah.
"Aku mau ganti baju di kamar mandi, kamu perbaiki dulu riasannya," perintah Sakya pada wanita yang dari tadi mengikuti mereka.
"Baik," sahut wanita mengangguk patuh.
Sakya mengambil satu setel pakaian yang berada di ranjang king size itu, lalu membawanya memasuki kamar mandi.
"Mari Non," ucap MUA, menuntun Larei untuk duduk di kursi yang ada di depan cermin.
Larei hanya menurut, dia duduk dengan tenang, melihat MUA yang mulai membuka sebuah tas yang berisi make-up lengkap, untuk memperbaiki make-upnya yang sudah berantakan karena acara sungkeman tadi.
Baru saja Larei mulai didandani lagi, Sakya sudah kembali dengan setelan jas dan celana yang berwarna gold, dia segera mendudukkan dirinya di ranjang, tepat di belakang Larei yang tengah didandani.
"Apakah masih lama?" tanya Sakya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Hanya lima menitan lagi Tuan," sahut MUA itu.
"Baiklah," sahut Sakya mengangguk.
Tak lama kemudian Larei pun selesai didandani, MUA mulai mengambil gaun yang masih berada di manekin dan meminta Larei untuk memakainya.
"Maksudnya aku harus memakai ini di sini Mbak?" tanya Larei menatap heran MUA itu.
"Iya Non, soalnya kalau ganti di kamar mandi takutnya malah jadi basah, soalnya gaun ini menjuntai ke bawahnya," terang MUA itu.
Larei tidak langsung menyahutinya, dia menatap ke arah Sakya yang juga menatapnya dengan heran.
"Apa?" tanya Sakya.
"Balik badan," perintah Larei.
"Tinggal ganti aja, apa susahnya," sahut Sakya dengan santai.
"Sakya!" tekan Larei.
"Iya, iya." Sakya memutar matanya malas, lalu berpindah tempat dan membelakangi Larei.
Setelah memastikan Sakya tidak melihatnya, Larei pun meminta MUA itu untuk membantunya melepaskan gaun sebelumnya dan menggantinya dengan yang baru.
"Jangan ngintip, kalau ngintip aku sumpahin matanya belekan terus," ketus Larei yang badannya hanya lapisi oleh daleman saja.
"Siapa yang mau ngintip sih Rei, lagian buat apa ngintip, toh nanti juga bisa ngeliatnya dengan puas." Sakya memelankan ucapan terakhirnya, hingga Larei tidak dapat mendengarkannya.
Sementara Larei dan MUA masih sibuk dengan gaunnya yang ternyata cukup berat, begitu gaun itu melekat di tubuhnya yang masih ramping karena kehamilannya belum terlihat.