
"Aku akan membantumu untuk akrab dengan mamaku," ucap Mona dengan menggenggam kedua tangan milik Arita. Tatapan wanita itu, seolah meyakinkan bahwasannya ia akan benar-benar menemani Arita.
"Sepertinya saya tidak akan berani, Bu. Lebih baik tid–"
"Kita coba dulu, okey? Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Ar. Lagipula aku bisa menjamin jika mama akan menyukaimu," potong si wanita dengan cepat, lantaran tak ingin mendengar penolakan dari Arita.
"Niat adikku memang serius, Ar. Jika kau belum bisa mempercayainya, kau bisa melihat usahanya beberapa waktu ke depan. Kita lihat sama-sama, apakah dia memang serius atau hanya sekedar omong kosong," tutur Mona dengan menatap punggung sang adik.
"Mengapa Bu Mona mendukung keputusannya? Ibu tahu sendiri kan, siapa saya?" tanya Arita dengan ragu, sembari menatap pahatan sempurna di wajah cantik itu dari arah samping.
"Aku yakin, kau adalah perempuan yang tepat untuk adikku. Aku tahu persis, bagaimana perempuan-perempuan sebelumnya yang mendekatinya. Mereka semua hanya mencintai harta dan tahta milik Gibran. Namun, aku tahu jika kau berbeda," ucapnya dengan tulus yang terdengar begitu menenangkan di telinga Arita.
"Kita baru saja kenal, apakah ibu tidak takut jika saya melakukan hal yang serupa?" tanya ibu satu anak itu, yang membuat Mona tertawa singkat. Bukannya merasa was-was, justru Mona merasa geli oleh ucapan staffnya itu.
Arita mengerutkan keningnya lantaran merasa aneh oleh respon sang atasan. Kemudian, Mona memanggil agar adiknya mendekat ke arah ruang tamu. Begitupun dengan Baron, yang mengekori Gibran dengan senandung kecil di bibirnya.
"Ada apa, kak?" tanya Gibran singkat.
Yang mengejutkan, ternyata Gibran mengajak Baron untuk membuatkan beberapa gelas berisikan teh hangat. Setelah menyerahkannya pada Arita, Gibran lantas mendudukkan tubuhnya di atas karpet yang ada di ruang tamu tersebut. Tentunya dengan Baron, yang kini berada di pangkuannya.
"Tidak usah merepotkan diri sendiri, seharusnya aku yang melakukan itu. Tapi, terima kasih untuk minum hangatnya," ucap Arita dengan tak enak hati, yang direspon sebuah senyum tipis oleh Gibran.
"Apakah kau percaya jika Arita adalah perempuan licik seperti diluaran sana?" tanya Mona dengan sisa tawa yang masih saja menggelitik perutnya.
"Maksudnya?" tanya Gibran sekali lagi.
"Apakah kau percaya jika kelak kalian menikah, Arita akan membawa kabur semua hartamu? Kau percaya itu, Gib?" ujar Mona yang membuat Arita mendelik tak percaya. Entahlah, ia tak habis pikir oleh atasannya itu.
"Hei apakah kau mendengar itu, boy? Ibumu bukan orang jahat, kan?" ucap Gibran dengan menundukkan kepalanya berniat untuk memandang wajah Baron. Namun, yang ia dapatkan hanyalah wajah nyaman dari si bocah, yang sudah menyenderkan kepala di bahunya.
"Sstt, jangan berisik. Dia sudah mengantuk," peringat Mona dengan jari telunjuk yang berada di bibirnya. Hal itulah yang membuat si pria mulai menepuk pantat dan punggung si kecil, yang saat ini di posisi memeluknya.
"Sepertinya dia sangat lelah. Pulang sekolah langsung aku ajak kerumah, terus dari siang sampai malem gini, dia nungguin kamu membaik, kan?" ucap Gibran dengan menatap hangat ke arah Arita.
Entah mengapa, Arita merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Tatapan tulus dari Gibran yang tertuju pada sang putra, berhasil membuat atensinya tertarik.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, kak?" ucap Gibran lantaran masih merasa penasaran. Kemudian, ia mendapati sang kakak yang menghadapkan wajah ke arah Arita, kemudian kembali menyemburkan tawanya.
"Arita bilang, bagaimana jika ternyata dia sama saja dengan perempuan-perempuan yang mendekatimu. Yang hanya menginginkan hartamu saja," aku Mona yang membuat Arita menepuk pintas lutut wanita itu.
"Oh ... Aku tidak keberatan sama sekali. Jika perlu, bawalah saja semaumu. Tapi dengan satu syarat, kau tinggalkan Baron sebagai jaminannya," sahut Gibran dengan begitu entengnya.
"Karena sekarang, dia lebih prioritas daripada yang lainnya,"