Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 25


"Kalau begitu kabulkan satu permintaan Bapak. Segeralah nikah dengan Nak Panji."


Tiwi hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Aku harus berangkat Pak, nanti terlambat," ucap Tiwi tubuhnya bangkit dari duduk.


"Kenapa tidak dihabiskan makanannya?"


"Sudah kenyang Pak," jawab Tiwi dengan melangkah ke wastafel menaruh piring bekas pakainya dan punya bapak. Setalah mencuci piring itu Tiwi berpamitan pada bapaknya.


Mobil yang Tiwi kendarai kini melaju membelah jalanan kota yang biasa akan ramai karena saling bergegas menuju tempat kerja masing-masing.


Tiwi memarkirkan mobilnya kemudian turun dari mobil setelah menempuh waktu 40 menit.


Ada sambutan hangat ketika Tiwi masuk ke ruang kerjanya. Senyum dari lelaki yang dalam minggu ini menjadi dilema dalam hidupnya membuat hati Tiwi bergetar.


"Pagi Wi," sapa Panji masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Pagi," jawab Tiwi gugup lalu mendudukkan pantatnya di kursi.


"Aku ada jadwal chek ke SPBU cabang, apa kamu mau menemaniku?" tawar Panji.


Tiwi sekilas menatap lelaki yang duduk di depan meja kerjanya. Dia ragu untuk menjawab tawaran Panji. Setiap bulan pasti dia menemani Panji untuk chek SPBU cabang, entah satu atau dua kali dia lakukan. Namun kali ini, dia sudah bukan siapa-siapa walaupun Panji masih sikekeh untuk tidak menerima keputusan Tiwi untuk berpisah.


"Maaf, aku... banyak kerjaan," jawab Tiwi.


"Kalau begitu selesaikanlah hari ini, baru besok kita pergi," titah Panji tanpa mendengar jawaban Tiwi dia langsung melangkah ke ruang kerja.


Sementara, Anisa masih duduk di ruang tamu menunggu mobil pesananya.


Tadi pagi ketika sarapan, Anisa sudah pamit ke Panji untuk bertemu dengan temannya, Tika. Panji sempat ragu untuk memberikan izin karena takut terjadi sesuatu menimpa Anisa. Namun, Anisa meyakinkan Panji agar mengizinkannya. Panji pun mengalah.


"Hebat, kamu benar-benar gadis yang hebat! Sudah morotin duitnya cucu ku, sekarang tinggal menghambur-hamburkan," sindir oma Sartika.


Anisa menoleh ke arah sumber suara kemudian lanjut memandang layar ponselnya tanpa menghiraukan ucapan oma Sartika.


"Aku kira kamu hanya gadis ingusan tapi...ternyata kamu tidak kalah liciknya dengan wanita miskin itu!" ejek oma Sartika. Namun, lagi-lagi Anisa tidak menyahuti ucapan nenek lampir di depannya. Anisa fokus saja menatap layar ponselku by.


"Mobilnya sudah di depan, aku pergi dulu Oma. Assalamualaikum," pamit Anisa meraih tangan Oma dan mencium punggung tangan itu lalu langsung melangkah pergi. Anisa tidak menghiraukan kalau nenek lampir yang ditinggalkannya begitu geram dengan sikap Anisa yang pura-pura tidak mendengarkan ucapan si nenek lam p*r.


Anisa terkekeh ketika mobil yang dia naiki sudah jalan. Dia merasa menang bisa membalas keangkuhan sang oma hanya dengan sikap diamnya.


Huftt


Napas panjang Anisa hempaskan perlahan. Mobil kemudian berhenti di sebuah kosan yang dimaksud Anisa.


Di depan kosan sudah berdiri gadis berjilbab seumuran Anisa yang terlihat cantik, modis, dan tersenyum mengarah ke mobil yang berhenti di depannya.


"Assalamualaikum cantik," sapa Anisa.


"Waalaikum salam cantik," jawab Tika dengan membenarkan posisi duduknya.


Lima belas menit mereka tempuh dan sampailah di kampus yang menjadikan kebanggaan bagi mahasiswa yang bisa masuk ke universitas tersebut.


Anisa menatap takjub ketika menurunkan kakinya di universitas tersebut. Matanya memutar memandang universitas yang sebenarnya menjadi cita-cita nya untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, angan itu harus dia pupus karena biaya.


Ada getaran di hatinya dan rasa terharu walaupun hanya menapaki kakinya di universitas tersebut.


"Aku merinding Tik," ucap Anisa dengan bergetar.


Tika tersenyum. "Bilang sama suamimu yang kaya itu, setelah melahirkan kamu minta kuliah di sini." Saran Tika karena dia tahu, universitas ini adalah universitas yang dicita-citakan Anisa.


Lagi Anisa tersenyum.


"Yuk, ah masuk," ajak Tiwi.


Anisa mengangguk dan melangkah di samping Tika.


"Aku tunggu di perpustakaan boleh?"


"Boleh, kalau begitu kita ke gedung sebelah."


"Yuk," semangat Anisa.


"Kamu pakai kartu perpustakaan ku kalau mau pinjam buku," ujar Tika sambil menyodorkan kartu tersebut.


"Thanks Tik," jawab Anisa.


"Aku masuk kelas dan kamu jangan kemana-mana sebelum aku ke sini."


"Ok!"


"Lagian aku tahu, kamu kalau sudah berhadapan dengan buku mau satu hari pun tidak akan bergeming dengan hal lain," ledek Tika.


"Sudah sana pergi." Dorong Anisa dengan melemparkan senyum.


Anisa masuk ke ruang perpustakaan itu. Lagi-lagi mata Anisa takjub menatap fasilitas yang ada di universitas tersebut.


"Masya Allah...bukunya banyak sekali, tempatnya bersih dan tertata rapi," batin Anisa dan kini kakinya sudah melangkah di barisan rak-rak buku. Tangannya meraba satu persatu buku itu memilih buku yang menarik menurutnya.


Tangan itu berhenti manakala ada tangan lain memegang buku yang sama dengannya. Hingga dua mata bersitatap karena merasa lebih dahulu memegang buku itu. Namun, bukan marah melainkan Anisa dan orang itu saling tunjuk dan menampakkan senyum bahagia bertemu secara tidak sengaja dengan sahabat masa SMA.


"Bisa kebetulan seperti ini," ucap Anisa.


Lelaki itu tersenyum menanggapi ucapan Anisa.


"Bagaimana kabar kamu?"


"Seperti yang kamu lihat, aku sehat wal afiat," jawab Anisa.


"Kamu juga sepertinya sama,"


Lagi, lelaki itu tersenyum.


"Kamu...?"


"Aku cuma ikut Tika ke kampusnya bukan kuliah di sini." ucap Anisa mengurai rasa penasaran lelaki di depannya.


Hussttt


Salah satu pengunjung memperingati Anisa dan lelaki tersebut agar diam karena mereka berada di ruang perpustakaan.


"Kita ke kantin saja," ajak lelaki itu.


"E... maaf, aku sudah janji pada Tika untuk menunggu di sini," jawab Anisa gugup.


"Kamu kan bisa kirim pesan ke dia untuk menemui kamu di kantin," ucap lelaki itu berharap bisa mengobrol lebih banyak dengan Anisa.


"Maaf, aku...tetap di sini." Kekeh Anisa selain sudah janji dengan Tika untuk tetap menunggu di perpustakaan dia juga ingat dengan statusnya yang sekarang sudah bersuami walaupun hanya status tanpa berperan sebagaimana mestinya.


Anisa melangkah ke meja baca sambil membawa buku. Lelaki itu mengekor dan ikut duduk di depan Anisa.


Mata lelaki itu sesekali menatap Anisa yang tengah fokus membaca buku. Senyum mengembang dari wajah lelaki tampan dan mendekati sempurna ketampanannya itu. Lelaki yang menjadi idola sepanjang dia menjadi siswa di SMA X.


Bagaimana tidak diidolakan, selain wajahnya yang nyaris sempurna, dia juga cerdas selalu mendapat peringkat 1 paralel. Menjabat sebagai ketua OSIS menambah nilai kepopularitasannya. Belum lagi orang tuanya yang tajir melintir menjadikannya lelaki idola yang tiada tanding. Baik adik tingkat, kakak tingkat, maupun siswa satu tingkatannya siapa yang tidak mengenalnya, bahkan ingin memilikinya. Namun sayang lelaki tampan yang nyaris sempurna ini telah menambatkan hatinya pada gadis yang tidak pernah membalas cintanya. Gadis yang menolaknya dan lebih memilih untuk menikah setelah lulus dari SMA.


malam menyapa🤗, like, komen, komen, komen loh...vote hadiah juga mau😍😘🥰


terima kasih untuk kalian yang sudah mendukung karya ku tanpa kalian apalah arti karya ini.pokokna lope lope deh buat kalian❤️❤️❤️❤️❤️