Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
215. Kencan?


Fajri tersenyum manis di dalam kamar. Sambil menatap indahnya langit malam yang bertabur dengan bintang-bintang. Ia mengingat bagaimana keberaniannya untuk mencium Safira tadi.


"ah, apa Bunda marah kalau tau aku kembali mengulangi hal itu?" ucap Fajri terkekeh.


"Aku merindukannya!" ucap Fajri dengan wajah yang merona.


Ia segera mengambil ponsel yang sudah di berikan oleh Ivanna dan segera menghubungi Safira. Beruntung pada dering pertama. gadis itu langsung mengangkatnya.


"Halo, kak?" ucap Safira, yang berhasil membuat senyum Fajri semakin melengkung.


"halo, sayang! apa aku mengganggu?" tanya Fajri dengan suara lembutnya.


"eng-enggak, kak," ucap Safira gugup.


"Kita makan di luar yuk!" Ajak Fajri.


"Aku sudah makan, kak,"


"temani aku saja kalau begitu!"


"baiklah!"


"Aku akan segera datang!"


tut,...


Fajri segera bergegas untuk menjemput Safira di rumahnya. Padahal Fajri sudah makan malam, namun ia tidak tau harus mencari alasan apalagi untuk mengajak gadis itu.


"Bunda, Abang pergi sama Safira, ya!" ucap Fajri mengecup kening Fajira.


"kemana, bang? ini sudah malam!" tanya Fajira mengernyit.


"Jalan-jalan aja, Bunda! daah," dari berlari menuju mobilnya.


Sementara Fajira hanya menggeleng melihat kelakuan putranya. Ia hanya sendiri di ruang keluarga saat ini, karna Irfan dan Ivanna tengah membuat cemilan di dapur.


🌺🌺


Apa aku hanya berhalusinasi? dari tadi siang, aku mendengar kak Fajri memanggilku dengan sebutan sayang!.Ya tuhan, semoga dia tidak mempermainkanku!. Batin Safira termenung setelah panggilan itu berakhir.


Ia segera bersiap-siap, mematut dirinya agar terlihat cantik dan pantas untuk bersanding dengan Fajri. Begitu banyak baju yang ada di dalam lemari, tidak membuat Safira merasa cocok sama sekali.


"duh, aku harus memakai apa?" ucap Safira frustrasi.


"Gak usah terlalu memikirkan pantas atau tidaknya kakak jalan sama, Abang! yang jelas, kakak hanya butuh baju yang simpel dan matching. Udah, itu aja!" ucap Ivanna menjelaskan bagaimana agar Fajri bisa nyaman dengan orang sekitarnya.


Safira memilih celana coklat panjang dengan baju putih dan jaket yang senada dengan celananya. Rambut yang tergerai lurus, dan make up tipis membuat gadis itu terlihat sangat cantik malam ini.


ddrrtt,... ddrrtt,...


Fajri kembali memanggil Safira ketika ia sudah berada di depan rumah. Tanpa menunggu lama, gadis cantik itu segera keluar dari rumah dan menemui Fajri.


Peria tampan yang tengah mengenakan kemeja coklat kotak-kotak dan celana putih, itu terkejut ketika melihat outfit yang di pakai oleh Safira.


"ternyata kita memang sehati!" ucap Fajri dengan senyum yang mengembang.


Ia segera keluar dan menyambut Safira dengan senyum terbaiknya dan sukses membuat gadis itu terpana, bahkan juga merasa kesulitan untuk menelan ludahnya.


"Kamu, cantik!" ucap Fajri gemas.


"Kakak, juga tampan!" ucap Safira malu.


"apa kita punya telepati?" tanya Fajri dengan senyuman yang selalu menghiasi di wajahnya.


Safira menengadah, Ia terkejut ketika menyadari jika baju mereka berwarna senada.


"Bisa jadi, kak!" ucap Safira menunduk sambil menggigit pelan bibir bawahnya.


"kita pergi sekarang?" tanya Fajri sambil menggaruk tengkuknya.


"boleh!"


Tanpa menunggu lama, tangan nakal Fajri menggandeng Safira dan membukakan pintu untuk wanitanya. Setelah memastikan Safira masuk ke dalam mobil barulah ia menyusul, dan segera menjalankan mobil.


"kamu suka gunung atau pantai?" tanya Fajri.


"Aku suka dua-duanya, kak!" ucap Safira tersenyum.


"baiklah!"


Sepanjang perjalanan Fajri tak hentinya tersenyum, begitu juga dengan Safira.


Ah. kencan yang begitu indah! ini baru jalan, belum lagi nongkrong!. batin Fajri tak kalah senang


Fajri memilih untuk berhenti di cafe yang berada di tepi pantai setelah berkendara selama 20 menit. Cafe yang mengangkat tema rooftop itu sudah di pesan privat oleh Fajri, agar Safira bisa nyaman tanpa dilirik oleh orang lain.


"Silahkan, Nyonya Fajri!" ucap Fajri membantu Safira untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


"te-terima kasih, kak!"


Mereka duduk berhadap-hadapan dan saling menatap satu sama lain. Fajri menjadi kikuk karna tidak tau harus membahas apa dengan gadis yang terlihat sangat cantik malam ini.


"Bukankah malam ini terasa begitu romantis?" ucap Fajri dengan wajah yang merona.


"Iya, kak! sepertinya langit juga merestui!" ucap Safira malu.


Aduh, kaku banget sih. Ayo Fajri kemana mulut manis kamu!. Batin Fajri.


Canggungnya, huaa. aku lupa bertanya kepada Ivanna, apa yang harus aku lakukan? kencan pertama ini begitu membuatku malu!. bathin Safira menjerit.


Fajri memanggil waiters dan memesan beberapa makanan untuk makan malam ke duanya kali ini.


"sayang, mau pesan apa?" tanya Fajri lembut.


"Apa saja, kak. Asal jangan banyak-banyak!" ucap Safira tersenyum manis.


Bukan hanya Fajri, waiters laki-laki itu juga ikut gemas melihat pasangan viral ini.


Oh tuhan, mimpi apa aku semalam? aku bertemu dengan pasangan yang begitu sempurna ini! Tuan Fajri yang begitu tampan dan calon istri yang begitu cantik. Aku melihatnya! mereka ada di depan mataku saat ini!. Batin waiters itu dengan tangan yang gemetaran.


Fajri berhenti di cafe, mungkin lebih tepat di sebut dengan restoran yang menyediakan beberapa menu seafood. Ia mengetahui jika Safira juga menyukai seafood dari Ivanna. Sehingga disinilah mereka, duduk saling berhadapan di temani angin laut yang sedikit lebih tenang di bandingkan biasanya. Bulan yang bersinar dengan begitu terang, membuat wajah Safira begitu terlihat cantik.


"Safira?" panggil Fajri.


"i-iya kak?"


"Apa yang kamu rasakan, ketika kita dekat seperti ini?"


"hmm? Aku, aku merasa aman jika berada di dekat kakak. Terkadang, aku juga merasa minder dengan perempuan yang ada di sekitar kakak, karna aku bukan siapa-siapa," ucap Safira tersenyum.


"Safira, Bukankah aku sudah mengatakan, jangan pernah minder ataupun berfikir kamu tidak pantas! Aku yang memilihmu, berarti kamulah yang terbaik dari mereka semua! Apa kamu juga akan meninggalkanku karna merasa tidak pantas?" ucap Fajri lembut dengn wajah sendunya.


"Jangan ngomong gitu, kak! bagaimana aku bisa berfikir pantas, bahkan asal-usulku gak jelas, siapa orang tuaku, dimana asalku. Berikan satu alasan, agar aku bisa merasa pantas berada di samping kakak!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak ada alasan apapun agar kamu terlihat pantas, kamu berada di sini karna aku yang memilihmu, aku yang mengingikanmu. Sayang, nikah yuk!" ucap Fajri.


Deg!!


"kak, jangan bercanda!" ucap Safira kesal.


"Aku serius! hmm,..." Fajri memeriksa sakunya, ia tersenyum masam ketika melupakan cincin yang biasa di gunakan untuk melamar kekasih.


"Aku gak bawa cincin!" ucap Fajri menggaruk tengkuknya.


"Kakak!" panggil Safira lirih.


"Iya, sayang?"


"Aku belum memikirkan hal ini, bukankah kita sudah membicarakannya?" ucap Safira.


"Apa aku di tolak?"


"Aku bukan menolak, kak. Tapi masih banyak hal yang harus aku lakukan sendiri!" sergah Safira cepat.


"Sayang!" ucap Fajri berjongkok di hadapan Safira.


"kak, jangan seperti ini! bangunlah!"


"Dengarkan aku sebentar! Aku hanya menginginkanmu untuk menjadi istriku, Aku tidak ingin memberikan kamu waktu yang banyak untuk berfikir, karna semakin lama aku menunggu, akan semakin banyak orang yang membuat kamu jauh dariku!" ucap Fajri lirih.


"Kak, aku,..."


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Aku nulis ini senyum terus, sampai tegang pipiku. Gak tau readers bacanya gimana πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Eh itu Safira bakalan ngomong apa lagi ya? apa Fajri akan merasakan sakitnya di tinggal atau ada hal lain yang membuat Safira semakin terikat? πŸ˜‚πŸ˜‚


koment di bawah gais 😍😍