ANAK GENIUSKU

ANAK GENIUSKU
Bab 49


Margot Evans terlihat masih berbaring di atas tempat tidur dengan selang infus terpasang di tangan.


Wajah Margot Evans pucat tetapi menunjukkan kesembuhan yang mulai tampak dari wajahnya yang cantik.


Udara segar masuk ke dalam ruangan kamarnya dari arah jendela yang terbuka.


Angin berhembus menyibakkan tirai-tirai tipis yang menghias jendela kamar, membuat udara masuk ke dalam ruangan kamar lebih terasa.


Margot Evans membuka kedua belah matanya yang tertutup perlahan-lahan lalu memiringkan kepalanya ke arah jendela.


Rupanya dia telah kembali pulang ke mansion mewah yang disewa oleh Lee Ryder saat mereka di Anaheim.


Diusapnya wajahnya yang putih pucat dengan lembutnya lalu beranjak bangun lalu bersandar di bahu tempat tidur.


''Ternyata aku sudah pulang ke mansion...'', gumam Margot Evans.


Diliriknya jam di atas meja yang ada di kamar kemudian mendesah pelan.


''Ah..., aku kesiangan...'', ucap gadis muda itu.


Margot Evans memperhatikan arah selang infus yang terpasang di tangannya.


''Aku masih mengenakan selang infus lalu kenapa aku tidak menyadari kalau aku dibawa kemari...'', gumam Margot Evans.


Margot Evans hanya bisa terdiam sambil bersandar tanpa bisa pergi kemana-mana dari atas tempat tidurnya.


Terdengar suara pintu kamar terbuka lebar dan masuk Bibi Gerenda bersama seorang perawat perempuan ke dalam kamar dengan membawa sebuah kereta dorong.


TAP... TAP... TAP...


Langkah mereka menggema cukup keras dari dalam kamar mansion mewah.


Bibi Gerenda berdiri di dekat tempat tidur dengan sikap tegak lalu mempersilahkan perawat perempuan yang masuk bersamanya untuk membantu Margot Evans membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih.


''Silahkan bantu nona Margot Evans !'', ucap Bibi Gerenda.


''Baik, Bibi Gerenda'', sahut perawat perempuan.


Perawat perempuan lalu menghampiri Margot Evans seraya membantunya berdiri.


''Nona Margot, silahkan bangun dan membersihkan diri anda ke kamar mandi !'', kata perawat perempuan.


''Baik, perawat'', sahut Margot Evans.


Perawat perempuan lalu membawa tiang infus yang terpasang di tangan Margot Evans seraya melangkah menuju ke kamar mandi.


''Hati-hati jalannya, nona !'', kata perawat perempuan.


''Iya, terimakasih...'', sahut Margot Evans.


''Pelan-pelan kalau melangkah masuk, biar saya yang melepaskan pakaian nona !'', kata perawat perempuan.


''Iya...'', jawab Margot Evans.


Kedua perempuan itu lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Selang berapa lama kemudian, Margot Evans telah keluar dari dalam kamar mandi dengan berganti pakaian yang baru sedangkan perawat perempuan berjalan bersamanya dan kembali keluar kamar.


''Nona Margot Evans ! Kau terlihat sangat segar sekali !'', ucap Bibi Gerenda.


Wanita separuh baya itu tersenyun lebar seraya merentangkan kedua tangannya ke arah samping lalu berjalan menghampiri Margot Evans.


''Bagaimana keadaanmu sekarang ?'', tanya Bibi Gerenda.


''Aku baik-baik saja, Bibi Gerenda... Terimakasih...'', sahut Margot Evans seraya tersenyum.


''Tuan Lee Ryder membawamu dari rumah sahabatnya, Tuan Brandon William kemari saat anda terlelap tidur setelah anda meminum obat bagi kesembuhan anda'', kata Bibi Gerenda.


''Tadi malam ?'', ucap Margot Evans.


''Benar sekali, tuan membawa anda dan tuan Aaron Lee pulang ke mansion ini saat tengah malam'', kata Bibi Gerenda.


''Pantas saja, aku tidak merasakan apa-apa saat Lee Ryder membawaku pulang ke mansion ini'', sahut Margot Evans.


''Anda dalam keadaan terlelap tidur saat tuan pulang ke mansion dan membawa kalian berdua tepat jam dua belas malam'', kata Bibi Gerenda.


''Bagaimana keadaan Aaron Lee sekarang ini ?'', tanya Margot Evans.


''Tuan muda sedang beristirahat sekarang di kamarnya bersama Tuan Lee Ryder disana'', jawab Bibi Gerenda.


''Syukurlah, dia baik-baik saja..., aku sangat mencemaskan keadaannya karena aku tidak sempat melihatnya sejak malam pesta itu...'', kata Margot Evans.


Perawat perempuan menghampiri Margot Evans yang duduk di atas tempat tidur lalu memberikannya sepiring sarapan hangat.


''Permisi, Nona Margot Evans... Silahkan nona menikmati sarapan anda pagi ini !'', kata perawat perempuan.


''Terimakasih'', jawab Margot Evans.


''Saya akan menunggu disini sampai jam makan siang anda, nona'', kata perawat perempuan.


''Baiklah, saya pamit keluar karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, Nona Margot Evans'', pamit Bibi Gerenda.


''Iya, Bibi Gerenda'', jawab Margot Evans.


Wanita paruh baya itu lalu berjalan keluar kamar setelah berpamitan dengan Margot Evans.


Perawat perempuan duduk di kursi dekat jendela kamar seraya menikmati sarapannya dan menunggu Margot Evans menyelesaikan sarapan paginya.


''Apa aku masih harus meminum obat sampai berapa hari, perawat ?'', tanya Margot Evans.


''Mungkin selama tiga hari ke depan, nona diharuskan meminum obat untuk memulihkan kesehatan anda, Nona Margot'', sahut perawat perempuan.


''Tiga hari !? Lalu selang infus ini sampai kapan aku harus memakainya ?'', kata Margot Evans.


''Sampai kekuatan tubuh anda kembali pulih serta tubuh nona segar seperti sediakala, nona Margot'', sahut perawat perempuan.


''Ah, aku mengerti, tapi aku harus masuk sekolah lagi karena tidak mungkin aku berlama-lama absen dari pelajaran'', kata Margot Evans.


''Masalah itu, hanya Tuan Lee Ryder yang mengerti dan saya disini hanya bertugas merawat anda sampai nona sembuh'', jawab perawat perempuan.


''Aku tahu itu...'', gumam Margot Evans.


Margot Evans menyelesaikan sarapan paginya lalu meletakkan piring kosong ke atas nampan perak yang terletak di atas tempat tidur.


Perawat perempuan beranjak berdiri menghampiri Margot Evans sembari membersihkan ranjang tidur dengan tissu basah kemudian mengambil nampan perak yang ada di dekat Margot Evans duduk.


''Sekarang nona dapat kembali beristirahat setelah meminum obat, saya akan pergi sebentar untuk memindahkan kereta dorong ini ke dapur kemudian saya akan kembali lagi ke kamar ini sampai jam makan siang nanti'', kata perawat perempuan.


''Yah, baiklah, aku mengerti... Terimakasih...'', sahut Margot Evans.


Gadis muda berparas cantik jelita itu lalu meminum obatnya hingga habis serta dibantu oleh perawat perempuan untuk beristirahat kembali dengan menyandarkan badannya ke bahu tempat tidur.


''Saya pergi dulu, dan saya akan kembali lagi kemari setelah menaruh kereta ini di dapur mansion'', kata perawat perempuan.


''Hmmm..., yah, terimakasih'', sahut Margot Evans.


Perawat perempuan lalu berjalan pergi dari kamar tidur mansion yang khusus diperuntukkan bagi Margot Evans sambil membawa kereta dorong menuju keluar kamar.


Tinggal Margot Evans yang hanya duduk bersandar sendirian di atas tempat tidur setelah membersihkan dirinya serta menyelesaikan sarapan paginya.


Margot Evans berusaha memejamkan kedua matanya tetapi dia tidak bisa melakukannya karena dia baru saja bangun dari tidurnya.


Gadis muda itu menoleh ke arah meja disampingnya.


Tersedia beberapa tumpukan buku novel di atas meja kecil di dekat tempat tidur lalu diraihnya sebuah buku novel yang berjudul ''Love Affairs'', dibukanya novel yang cukup tebal halamannya itu lembar demi lembar halaman.


Margot Evans hanya membaca sekilas sinopsis ceritanya tanpa bermaksud menyelesaikan bacaan novelnya karena dia merasa tidak bersemangat.


Ditutupnya kembali novel di tangannya lalu meletakkan buku tentang kisah cinta itu disampingnya.


''Aku tidak berselera membaca saat ini tapi aku juga tidak merasa lelah setelah bangun dari tidurku...'', gumam Margot Evans.


Margot Evans mengusap tangannya yang teepasang oleh selang infus sembari memperhatikannya.


Jam berdetak cepat di dalam ruangan kamar, menemani Margot Evans yang sendirian berbaring di atas tempat tidurnya.


''Apa aku harus menghabiskan waktuku selama tiga hari hanya berbaring di atas tempat tidur ?'', ucap Margot Evans.


Margot Evans menghela nafasnya kemudian melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.


''Bagaimana keadaan Aaron Lee sekarang ?'', ucap Margot Evans seorang diri dengan wajah sendunya.


Gadis muda nan cantik itu hanya bisa bergumam sendirian kemudian dia segera mengingat ponsel pribadinya.


Margot Evans terus mencari-cari ponsel pribadinya yang dia lupa menaruhnya lalu teringat kembali bahwa dia tidak membawanya saat pesta malam itu.


''Aku lupa dimana aku menyimpan ponsel pribadiku itu ?'', ucap Margot Evans.


Margot Evans mengedarkan pandangannya ke arah sekitar kamar tidur mansion yang sangat luas.


Teringat bahwa dia menyimpan ponsel miliknya di dalam tas sekolahnya yang tertinggal di rumah Lee Ryder. Dan dia tidak membawa tas sekolahnya bersama dengannya ke Anaheim saat ini.