Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 75


Keesokan paginya ....


Dilihat dari penjuru atau sisi mana pun, gedung itu pasti terlihat. Sangat tinggi dan mewah menantang langit.


Dan Lin Mu, berada di dalamnya, di sebuah ruangan milik Direktur Wang, pria yang kemarin memberinya kartu nama.


Keberadaannya di tempat itu tentu saja berkaitan dengan kontrak film yang mereka bicarakan kemarin malam.


Lin Mu dan Direktur Wang kini duduk berhadapan tersekat meja kerja milik pria direktur itu.


"Tuan Lin, silahkan lihat kontraknya. Jika tidak ada masalah, silahkan tanda tangan di belakang," ujar Direktur Wang seraya menyodorkan sehelai kertas dengan deretan ratusan huruf di dalamnya.


Untuk beberapa saat Lin Mu membaca, mengamati dan mencerna, lalu berkata sesaat kemudian, "Direktur Wang, tidak ada masalah dengan kontrak, dan kondisinya sangat wajar." Usai berujar demikian, pena bertinta hitam dicoretkannya pada kertas itu membentuk tanda tangan atas namanya.


Nampak kepuasan di wajah Direktur paruh baya berkumis tipis itu, menanggapi cakap Lin Mu.


"Baiklah, semoga kerja sama kita berjalan baik." Ia mulai berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Lin Mu.


Yang lalu diterima Lin Mu dengan turut mengangkat tubuhnya berdiri, meraih tangan Direktur itu dengan senyuman. "Terima kasih, Direktur Wang sudah memberiku kesempatan."


Di saat bersamaan, Yao Xianxian muncul dari balik pintu diikuti pria sutradara berkacamata. "Lin Mu, nanti ada tes kamera. Tidak apa-apa, 'kan?" tanya wanita itu seraya berjalan mendekat pada pemuda yang dipanggilnya.


Lin Mu membalik badan lalu menjawab, "Tentu. Kalian atur saja."


"Kalau begitu kita mulai sekarang," sambut Sutradara itu antusias.


Di ruangan yang telah ditentukan.


Beragam peralatan, yang terdiri dari kamera, lampu sorot, dan lainnya tengah disiapkan oleh beberapa orang yang bertindak sebagai crew di belakang layar.


"Lampu penerangan di posisi." Seorang pria berseru lantang pada satu rekannya.


"Kamera tiga di posisi." Disambut lainnya juga dengan suara tak kalah lantang.


Lin Mu sudah berdiri di samping Yao Xianxian, menatap orang-orang yang sibuk di dalam ruangan itu.


"Tuan Lin, ini naskahnya. Coba mainkan karakternya."


Sehelai kertas diberikan pria itu pada Lin Mu.


"Dalam proses akting, kamu dapat mencoba mencari tahu pemikiran para karakternya," lanjut Sutradara itu memberitahu.


Lin Mu menatap helai putih berisi teks itu dengan raut serius, kemudian menyunggingkan senyuman tipis tanpa setitik pun keraguan.


Meskipun aku belum pernah berakting, tapi aku telah mengalami banyak hal di dunia pertapaan. Dan emosional dalam naskah ini, seharusnya adalah hal kecil, bukan?


"Sudah bisa dimulai?" Sutradara mempertanyakan. Lin Mu menatap pria itu beberapa jenak, lalu kembali mengamati naskah di tangannya.


"Jangan tegang. Aku percaya kamu pasti bisa." Yao Xianxian meluncurkan kalimat penyemangatnya sembari melakukan tepukan kecil di punggung pemuda tampan itu.


Tiga puluh menit kemudian ....


"Jangan tinggalkan aku ...." Lin Mu bersimpuh dengan tangan melambai ke depan seolah mencegah seseorang untuk pergi. Ekspresinya cukup rapuh terlihat. Mata dibingkai alis tebal miliknya berkaca-kaca. Setelah itu dia merunduk dengan sedikit isakan tangis yang tertahan.


Benar, saat ini Lin Mu sedang memperagakan adegan di dalam naskah film yang beberapa puluh menit lalu dipelajarinya.


Pria sutradara yang berdiri di depannya dibuat tercengang dalam keadaan mata melebar dan mulut menganga menatapnya tak percaya. Sedekap tenang sepasang tangannya bahkan terlerai tanpa disadarinya.


"Lin Mu ...." Tak terkecuali Yao Xianxian. Mata berkaca-kaca! Dia ... melakukannya dengan sangat sempurna.


"Bagaimana aktingku tadi?" tanya Lin Mu setelah satu adegan itu berhasil dilaluinya. Ia sudah berdiri di depan Sutradara dan juga Yao Xianxian.


"Jenius!" puji Sutradara berkacamata itu seraya menepuk bahu Lin Mu dengan wajah takjub. "Jenius yang layak! Penampilan yang luar biasa!"


"Terima kasih," ucap Lin Mu rendah tersenyum, lalu mengalihkan wajahnya pada Yao Xianxian yang berdiri dengan wajah tak jauh berbeda dengan sutradara pria itu. "Nona Yao, bagaimana menurutmu? Apakah aku layak beradu peran denganmu?"


Bibir kecil Xianxian menyabit senyuman manis. "Lin Mu, pada dasarnya kamu adalah seorang aktor. Dengan kemampuan aktingmu yang seperti ini, kamu bisa beradu peran dengan siapa saja."


****


Saat ini di rumah Lin Mu dan ketiga gadisnya.


"Wang Shaokun!" Song Yuru berseru terkejut seraya menyumbatkan telapak tangannya di depan bibir. "Dia adalah investor film dan televisi paling terkenal di China. Dan film yang dia suka pasti selalu terjual habis. Kali ini Lin Mu akan menjadi populer!"


Dia dan kedua temannya kini tengah duduk santai di ruang tengah lantai satu, rumah bertingkat dua yang mereka huni beramai-ramai.


"Wang Shaokun ini memiliki penglihatan yang unik. Tidak tahu bagaimana caranya ia menemukan Lin Mu." Xuanrong menimpal tak kalah terkejut, namun masih terlihat cukup santai, sesuai pembawaannya seperti biasa.


Dalam sekejap, ekspresi takjub Song Yuru berubah rapuh. Tatapan matanya berganti sirat perasaan cemas. "Benar. Lin Mu bukan dari jurusan film dan pertelevisian, juga tidak memiliki kegiatan dalam lingkaran dunia hiburan. Apakah ada maksud jahat di baliknya?"


"Lin Mu berkata bahwa Yao Xianxian secara pribadi merekomendasikannya. Dan wanita itu adalah seorang bintang. Jadi tidak mungkin jika dia hanya bermain-main dengan seorang mahasiswa." Xuanrong mengeluarkan asumsinya.


Yang lalu ditimpal Zixi dengan wajah tak sedap. "Ada begitu banyak pria tampan di industri hiburan, mengapa dia memilih Lin Mu? .... Mereka pasti ada sesuatu." Pikiran gadis ber-oppai gembul itu mulai merambah ke sana-kemari. "Kalian jangan lupa, dia dulu pernah pergi memenuhi undangan pribadi Xianxian lama sekali."


Xuanrong menanggapi dengan senyuman miring. "Zixi, bukankah kamu penggemar berat Yao Xianxian? Bagaimana kamu bisa meragukan idolamu?" godanya seraya menatap sahabatnya itu dengan tampang mencela.


"Karena itu aku semakin curiga! Jika Lin Mu berani mengkhianati kita, aku pasti akan memukulnya!"


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Mohon maafkan Dede untuk slow update-nya. ๐Ÿคง


Sedikit kena mental karena sesuatu yang mengacaukan konsentrasi.


Jangan hujat ya ....