
Setelah Zaidan mengantarku. Aku tidak menyangka jika Dia berniat bermalam di rumahku.
"Kenapa Kamu tidur di sini?" tanyaku.
"Pulang saja, nanti dicari oleh Ibumu" kataku.
"Aku lelah sekali. Tenagaku telah habis untuk digunakan pulang" kata Zaidan.
"Alasan" kataku.
"Memang kenapa jika Aku menginap dengan istriku? Nggak ada yang nglarang. Toh sudah halal" kata Zaidan.
"Halal sih halal. Tapi ya, kalau ada yang iri dan cemburu sampai segitunya. Mending dikembalikan saja kan?" kataku.
Tanpa mendengarkan ocehan ku. Zaidan tetap menghempaskan tubuhnya di ranjang. Hingga ranjang itu bergoyang.
"Hah,,,, enak sekali" kata Zaidan.
"Kau!!!" pekikku tertahan.
"Ah sudahlah. Terserah saja" kataku.
"Ternyata Kamu punya lelah juga" kata Zaidan lirih dengan matanya yang terpejam. Dan senyum tipis terlukis di wajahnya.
"Dasar laki-laki egois" gumamku.
Tak lama, Zaidan telah hilang dari kesadarannya. Dia sudah masuk ke alam bawah sadar. Tertidur dengan sangat pulas.
Graha juga sudah tertidur pulas. Ini waktu yang tepat untukku beristirahat pula.
Aku menghempaskan badanku ke ranjang sebelah Zaidan. Tentu rasa kesal pada Zaidan membuatku menjaga jarak sejauh-jauhnya saat Kami tidur.
Aku memilih posisi yang paling pinggir dan menempel ke tembok. Tak lupa juga di tengah Aku batasi oleh sebuah guling.
Sedangkan Graha tidur di tempat box khusus bayi.
"Huh, andai saja orang ini bisa kutendang. Pasti akan ku tendang keras-keras" gumamku kesal saat melihat wajah Zaidan yang sudah tertidur.
"Untung saja, Kamu tampan. Kalau tidak pasti akan Aku tinju habis-habisan" gumamku dengan mengarahkan tangan yang mengepal di sebelah pipi Zaidan tapi tidak sampai menyentuhnya.
Lalu Aku berbaring ke ranjang lagi dan bersiap untuk tidur.
"Aku harus bisa terlelap sebelum Graha bangun" gumamku.
Mata Aku pejamkan.
Pikiran Aku kosongkan.
Ototku Aku lemaskan dan rileks.
Dengan kedua tanganku yang kulipat di atas perut seperti orang mati. Sedikit memiringkan badan menghadap barat. Tak lupa juga membaca do'a sebelum tidur.
Dalam waktu 30 menit, Aku telah terlelap dan hilang. Mulai menyusuri alam bawah mimpi.
Dalam tidurku selama 2 jam. Graha menangis.
"Oek, oek, oek" tangisan Graha.
Mata yang masih ingin terpejam. Badan yang terasa lelah yang masing ingin berbaring. Keinginan-keinginan itu, terpaksa harus Aku singkirkan. Demi memberikan Asi kepada Graha.
Aku bangun dan segera menggendong Graha. Dan duduk untuk menyusuinya.
Aku harus beronda seperti demikian. Hingga Graha berumur 2 tahun.
...****************...
Waktu telah berjalan...
Sudah saatnya Graha harus sapih. Dia sudah berumur 2 tahun.
Proses penyapihan anak ini juga tidak mudah. Di sini rasa tega atau tidaknya orang tua dipertanyakan untuk anaknya.
Tega untuk kebaikan. Atau tidak tega untuk memanjakan anak.
Perang batin antara rasa dan pikiran di sini tentu berkecambuk.
Seorang Ibu, siapa yang tidak tega melihat anaknya menangis karena meminta Asi padahal sudah waktunya Dia lepas.
Pada akhirnya, Aku harus mengkokohkan niatku. Dan harus memiliki rasa tega demi kebaikan sang anak.
Perlahan-lahan Aku harus menjauhkan Graha dengan Asi. Dan mengganti asupan makanannya menjadi nasi yang diberi kuah.
Tentu saat menyapih Graha, Dia terlihat menangis histeris bagaikan anak yang tidak diberi makan selama berminggu-minggu.
Bagaimana tidak? Yang tadinya sangat kecanduan bahkan bergantung hidup pada ASi, kini harus dipaksa untuk meninggalkan.
Memang tidak tega, tapi ini adalah jalan yang terbaik untuknya.
Membelajarinya cara memakan nasi. Saat umur 6 bulan diberi bubur. Hingga 2 tahun Dia sekarang Nasi.
Awalnya Dia pasti akan muntah karena ini adalah hal baru untuknya.
Jadi tanganku harus bergerak cepat untuk membersihkan bercak muntah di bajunya, di lantai, meja bisa juga di ranjang lalu menyuapinya lagi.
Di sini seorang Ibu harus menjadi Wonder Women.
Walau rasa lelah sedang berjulur di semua otot, Aku harus mengajarinya dengan penuh kasih sayang.
Walau lelah, tapi sungguh pengalaman yang berharga.
Saat Graha telah besar. Dia mulai semakin mandiri. Tapi masih belum mengerti tentang salah dan benar.
Yang ada dalam dirinya adalah rasa penasaran pada sekelilingnya.
Dan Dia tidak bisa diam selain Dia sudah tidur.
Seperti mengacak-acak buku di meja, bisa juga menyenggol gelas hingga pecah, dan menyobek kertas yang menurut Aku penting.
Dan di sinilah kesabaranku teruji lagi.
Antara rasa gemas dan kadang juga merasa marah.
Suatu hari, Graha menyobek kertas catatan hasil lemburku semalam.
"Graha,,, eh jangan nak. Ini penting" kataku.
"Ibu menyelesaikannya hingga tidak tidur. Tapi Kamu sobek hingga menjadi bubur seperti ini?" kataku.
"Astaga, cukup Graha. Itu penting nak! Jangan dirobek lagi!" Omelku.
Dan pada kenyataannya Graha tidak merespon apapun. Graha justru melanjutkan kegiatannya tadi dengan sangat senang. Baginya, kertas itu adalah mainan. Karena Dia masih belum mengerti. Tentang arti tidak boleh atau boleh.
Aku yang merasakan demikian tentu emosiku yang jadi lawannya.
Melihat anak yang keinginannya tidak sesuai dengan pikiran orang dewasa. Membuat perasaanku seketika menjadi kesal.
Walau merasa kesal, Aku harus menahan mulutku agar tidak mengatakan perkataan yang buruk kepada Graha.
Setelah itu, kertas sudah menjadi potongan banyak. Kesabaranku teruji di sini.
Dengan emosi yang berusaha Aku stabilkan, Aku harus mengerjakan ulang. Itu saja sempat di saat Graha telah tertidur.
Beberapa menit kemudian, emosiku akan kembali stabil dan tidak merasa dendam apapun kepada Graha.
...****************...
Di tempat kerjaku. Hari ini kebetulan bosku ada rencana meeting dengan anggota Manager PT. Search.
Hal ini bertujuan untuk mengajak perencanaan dalam hal bisnis dan kontrak kerja sama.
Membuat Zaidan diundang untuk datang ke tempat kerjaku.
Para anggota Manager PT. Search datang bersamaan dalam satu mobil. Terdiri dari 5 orang yang datang. Mulai dari Manager bagian perencanaan pemasaran, Manager perencanaan lokasi, Manager perencanaan Keuangan, Manager Pengelolaan Perawatan dan Manager Design Interior dan Exterior Dari ke lima orang Manager itu, salah satunya adalah Zaidan.
Dalam balik kaca ruangan kantor, Aku melihat pemandangan demikian.
Mereka semua berjalan masuk dan memiliki power tersendiri saat berjalan.
Tangan kananku saat itu sedang memegang sebuah pensil. Saat Aku berkata pada diriku sendiri, dalam tidak sadar, ujung pensil yang Aku pegang itu patah karena Aku tekan terlalu keras. Sebagai tanda luapan emosi batinku.
"Benar, Ibu mana yang rela anaknya direbut oleh orang lain. Apalahi jika anaknya telah sukses dan nyaris sempurna" pikirku.
"Kesalahanku adalah, menerima Dia dalam hidupku" batinku.
"Sudah resiko, pastinya itu yang akan Aku dapat" gumamku.
"Tringg!!!"
"Tringg!!"
Tak lama ponselku berdering. Saat Aku melihat di layarnya, panggilan itu dari bosku.
Segera Aku memgangkatnya.
"Halo, Mil. Tolong siapkan makanan hidangan dan cemilan untuk meeting!" perintah bosku.
"Baik Pak" jawabku.
Segera Aku menyelesaikan perintah bosku. Lalu Aku menyuruh Rena untuk mengantarnya ke ruang Meeting.
"Bisa gawat jika Zaidan tahu Aku bekerja di sini" gumamku.
...----------------...