Aisyah Bukan Istri Mandul

Aisyah Bukan Istri Mandul
BAB 99


Sudah menjadi hukum alam jika rasa penyesalan akan datang dikemudian hari. Kenapa, kenapa dan kenapa harus mengambil jalan yang salah. Dan andaikan saja mau bersabar untuk sebentar lagi, mungkin rasa bahagia itu bisa dirasakan detik ini juga. Namun, sayangnya nasi telah menjadi bubur. Terlambat untuk disesali.


Dalam relung hati, terbesit rasa sesal yang teramat mendalam. Rasa bersalah yang tidak bisa diucapkan hanya dengan kata maaf, karena telah menghancurkan pondasi kecil yang baru saja hendak dibangun. Semua itu karena sebuah ambisi untuk memiliki harta warisan seutuhnya. Padahal dulu rasa cinta dan kasih itu dicurahkan pada Ais.


“Apakah ini karma untukku? Kenapa tidak dari dulu Ais hamil? Kenapa bukan anak Azam yang dikandung oleh Ais. Kenapa... kenapa Ais bisa hamil anak pria lain? Apakah Azam yang bermasalah? Tidak! Itu tidak mungkin karena aku sudah memeriksa kesehatan Azam dan dia baik-baik aja!” Mama Maya terlihat sangat frustasi saat melihat kandungan Ais sudah besar dan sebentar lagi akan melahirkan.


Sementara dirinya hanya bisa menggigit jari, ketika wanita yang digadang-gadangnya bisa memberikan cucu anaknya, tetapi memilih untuk berpisah dari Azam, karena tak ada cinta didalam pernikahan mereka.


Sebenarnya tanpa cinta keduanya bisa mencetak anak. Namun, Azam yang belum bisa melupakan Ais sama sekali tidak mau menyentuh istri barunya dan malah nekat untuk melanjutkan studinya lagi di luar negeri tanpa ingin memikirkan bagaimana rasa malunya untuk menghadapi orang-orang yang pernah dia sakiti. Bahkan dalam keadaan seperti ini Azam sama sekali tidak peduli dengan ibunya.


“Ais ... maafkan Mama yang telah egois. Tak seharusnya Mama memisahkan kamu dengan Azam. Semua ini salah mama.”


Mama Maya bisa melihat dengan jelas bagaimana raut kebahagiaan yang sedang terpancar di wajah menantunya itu, karena saat ini mama Maya memang sedang memantau Ais dari jarak dekat. Rasanya ingin sekali berlutut di kaki Ais dan meminta wanita itu untuk kembali kepada anaknya. Namun, rasanya sangat mustahil, karena luka yang pernah digoreskan tidak akan mudah untuk disembuhkan.


“Ais, kayaknya setiap tadi ada yang memperhatikan kita, deh!” bisik Jelita pada Ais yang sudah memilih beberapa perlengkapan untuk bayinya.


Ais langsung menoleh ke sekeliling untuk memastikan siapa orang yang telah memperhatikannya. “Mana, Lit?”


Nam, saat Jelita ingin menunjukkan dimana wanita itu berada, tiba-tiba saja sudah tak ada di tempatnya lagi. Jelita sangat yakin jika wanita tadi sedang memperhatikan mereka berdua.


“Tadi ada di sebelah sana!” Jelita menunjuk di mana wanita tadi berdiri.


“Enggak ada tuh! Mungkin itu hanya perasaanmu aja. Udah, enggak usah dipikirin!”


Jelita mengangguk dengan pelan dan melanjutkan kembali tangannya untuk memilih perlengkapan untuk babynya Ais.


Cukup lama Ais dan juga Jelita mengelilingi Mall dan kini saatnya mereka untuk pulang. Karena Ais sudah menghubungi suaminya dia pun memilih untuk menunggu sampai sang suami datang. Padahal jika mau Ais bisa pulang bersama dengan cerita akan tetapi Ais memilih untuk menunggu suaminya.


“Lit, kamu pulang aja dulu Aku masih nungguin Mas Hanaf,“ ujar Ais.


“Enggak bisa gitu dong, Ais! tadi kan kita ke sini sama-sama. Jadi pulang pun juga sama-sama. Ya udah aku tungguin kamu sampai pak Hana datang, ya!”


Ais tidak merasa keberatan jika Jelita mau menemaninya untuk menunggu suaminya. karena saat ini Hanafi masih sedang dalam perjalanan Ais memutuskan untuk kembali lagi ke dalam mall. Namun, saat Ais berbalik badan tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya.


Buuurrkk


“Aduh ... !“ Ais mengadu karena bahunya terasa sakit.


“Maaf,” ucap wanita yang baru saj menabraknya.


Seketika Ais mendongak untuk menatap siapa yang baru saja menabraknya. Betapa terkejutnya Ais ketika melihat siapa yang ada di depannya saat ini.


“Maa ... mama Maya .... ”


Ya, wanita yang baru saja menabrak Ais adalah mama Maya, mantan Mama mertuanya. Ais masih tidak percaya dengan penglihatannya dan mencoba untuk memastikan berharap memang tidak salah orang.


“Masya Allah ini mama Maya kan? Maaf tadi Ais jalan enggak hati-hati. Mama kok bisa ada disini? Apakah sedang ada tugas disini? Bagaimana kabar mama Maya?” tanya Ais bertubi-tubi, karena saking terkejutnya.


Mama Maya hanya tersenyum kecil saat melihat ekspresi Ais ya sama sekali tidak menunjukkan wajah kebenciannya dan masih bisa untuk mengucap kata maaf sekalipun dimasa lalu dia telah tersakiti.


Seketika Ais hanya bisa menelan kasar salivanya saat wanita yang tak lain adalah mantan Mama mertuanya itu benar-benar meminta maaf kepada dirinya dan menyesali apa yang telah dia lakukan. Meskipun pernah terlukai dan rasa sakit itu masih bersarang di dadanya, tetapi Ais tetap tidak bisa untuk membenci wanita itu. Bagaimanapun dulu wanita itu pernah menyayangi dirinya.


“Ma ... semua sudah berlalu dan Ais juga sudah menutup luka yang pernah tergores. bahkan Ayah juga sudah memaafkan apa yang telah terjadi, jadi tolong jangan ungkit lagi luka itu. Ais sudah ikhlas dengan ketetapan takdir dari Allah, karena Ais percaya jika Ais dan juga mas Azam tidak berjodoh. Tolong mama jangan menyalahkan diri mama.”


Mata Mama Maya terasa sangat panas karena embun di matanya ingin menetes tetapi berusaha untuk ditanya agar tidak terjatuh di depan.


“Tetap saja mama merasa sangat bersalah kepadamu karena telah memisahkan kamu dengan Azam. Andaikan saja saat itu Mama mencoba untuk sedikit bersabar, mungkin saat ini Mama akan mendapatkan apa yang mama inginkan. Tapi ..... ” Mama Maya tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya lagi. Dia pun mencoba membuang napas panjangnya, agar dadanya tidak terasa sesak.


Di saat waktu yang tepat, sosok handphone langsung datang untuk menghampiri Ais yang sedang berdiri di depan pintu masuk Mall.


“Ais ... ” sapanya yang kemudian menggenggam tangan Ais.


“Mas Hanaf.”


Karena Hanafi sudah datang Mama Maya memilih untuk pergi membuat Hanafi hanya bisa menawarkan kedua alisnya. “Siapa dia?” tanya Hanafi dengan heran.


“Em ... itu—”


“Ais, berhubung pak Hanaf udah datang aku duluan ya.” Jelita memotong ucapan Ais.


“Oh ya! Makasih ya udah menyempatkan diri untuk menemaniku berbelanja hari ini.”


“Dengan senang hati aku akan selalu ada untukmu.”


Sepeninggal Jelita, Ais dan juga Hanafi pun juga meninggalkan tempat itu. Hanafi merasa heran dengan Ais yang beberapa hari ini suka berbelanja untuk persiapan bayinya. Padahal waktunya masih tiga bulan lagi.


“Aku lihat akhir-akhir ini mood kamu sangat baik, sehingga kamu membeli berbagai macam perlengkapan untuk bayi kita. Apakah kamu sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangannya?”


Ais tersenyum kecil. Tentu saja dia sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan baby twins yang pasti akan mengubah hidupnya. Bahkan Ais juga sudah mempersiapkan mental untuk menjadi ibu muda.


“Tentu saja, Mas. Ais bener-bener sudah tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba. Kira-kira mirip Sis atau mirip Mas Hanaf ya?”


“Sudah pasti akan mirip denganku karena aku yang membuatnya. Sudahlah, tidak usah membahas masalah pembuatan karena saat ini kita masih di jalan. Nanti kita lanjutkan pembahasan ini di kamar saja. Tapi ngomong-ngomong kamu udah makan siang belum?”


Ais mengangguk dengan pelan karena memang dia sudah makan siang bersama dengan Jelita.


“Tadi udah makan, tapi kalau mau diajak makan lagi sih nggak papa. Perut Ais masih bisa menampungnya kok.”


“Baiklah, kalau begitu kita singgah sebentar untuk mengisi perut. Kamu mau makan apa?”


“Ais nurut aja sama Mas Hanaf.”


...###...


...( BAB 100 tamat ya )...